Share

5. Tawaran Kuliah

Penulis: Yuli F. Riyadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-21 18:50:34

Dapur di pagi menjelang siang lebih sibuk dari biasanya. Semua tangan tidak menganggur, mengerjakan bagiannya masing-masing. Termasuk Serena yang saat ini tengah membantu Lety mengiris buah-buahan.

"Kalian tahu, apa yang terjadi pagi tadi?"

Suara Lety menarik perhatian beberapa pelayan yang ada di dapur. Sambil mengerjakan tugas, mereka pun memasang telinga baik-baik.

"Tuan Max, yang biasanya dingin dan senggol dikit bacok itu tiba-tiba melunak di depan Serena," infonya penuh kegirangan.

"Maksudnya gimana?" tanya pelayan lain menimpali.

"Waktu aku sama Serena touring mansion, nggak sengaja gadis bodoh ini." Lety menunjuk Serena yang masih sibuk di sebelahnya. "malah menabrak Tuan Max. Aku pikir dia akan dimaki, nggak tahunya Tuan Max membantu dia berdiri sambil bilang 'ada yang sakit' ajaib kan?"

"Masa sih?"

Berbagai macam reaksi terlihat dari wajah para pelayan di sana. Ada yang ikut kehebohan seperti Lety, ada juga yang mencibir.

"Alah, itu mah karena dia sedang beruntung saja," komentar pelayan lain yang sedang membersihkan piring.

"Iya, mungkin mood Tuan Max lagi bagus," timpal lainnya.

Tak terkecuali Nina, yang terus memasang wajah masam saat Lety bercerita. Dia menatap sengit ke arah Serena yang terlihat masih diam saja seraya memotong buah.

"Nggak! Aku tebak Tuan Max punya perasaan khusus sama si bodoh ini!" bantah Lety, sambil melirik sebal Serena. Dia masih kesal karena pelayan itu tidak peduli dengan sarannya.

Helaan napas berat Serena terdengar. Dia tidak berkomentar apa pun. Terlalu lelah untuk mengoreksi pemikiran Lety.

"Apa mulut kalian tidak bisa diam saat sedang bekerja?"

Keributan di dapur sontak hening saat Jessica datang. Dengan mata tajamnya kepala pelayan itu memperhatikan anak buahnya di dapur.

"Fokus dan kerjakan tugas kalian. Sebentar lagi memasuki jam makan siang. Jangan sampai Tuan Max marah karena kalian telat menyajikan makanan!" seru Jessica lagi dengan lantang.

"Baik, Bi!" Kompak mereka semua menjawab.

Kemunculan Jessica menyelamatkan Serena dari bahan gibah. Entah gibah macam apa yang dilakukan di depan orangnya langsung?

"Apa Serena Gilbert ada di sini?"

Semua serentak menoleh saat mendengar suara seorang pria. Kecuali Jessica dan Serena semua mata di sana tampak berbinar melihat kemunculan pria itu. Pria bermata biru yang selalu mengumbar senyum menawan, Calvin.

Jessica maju dan tersenyum. "Anda ada perlu dengan Serena, Tuan Calvin?"

"Ya!" Mata Calvin hampir lepas melihat para pelayan berpenampilan menarik di depannya. Saat itulah dia menemukan Serena di antara mereka. "Serena! Come here!"

Yang jadi objek tidak langsung menuruti perintah asisten Max itu. Serena malah melirik Jessica, seolah meminta persetujuan.

Jessica yang paham sinyal itu lantas mengangguk. Mengizinkan Serena ikut dengan Calvin.

"Selamat bekerja kembali, Wanita-wanita cantik," ucap Calvin sambil mengedipkan mata genit sebelum menjauh bersama Serena.

**

"Anda yakin Tuan Calvin?"

Serena masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Mata cokelatnya terbelalak. Calvin memberinya formulir untuk mendaftar ke perguruan tinggi. Sejak lulus sekolah, bermimpi untuk melanjutkan kuliah saja tidak berani.

Pria bermata biru di depan Serena tersenyum. "Ya. Tuan Max berbaik hati menyekolahkan kamu lagi."

Meski sangat senang keraguan masih mengusik hati Serena. Banyak pertanyaan yang berjejalan di kepala. Baginya nasib baik ini terasa janggal.

"Ada apa? Kamu tidak ingin lanjut kuliah?" tanya Calvin saat melihat keraguan di mata cokelat Serena.

Menekan sedikit rasa bahagianya, Serena menatap tenang pria itu. "Tuan Calvin, kenapa Tuan Max ingin saya bersekolah lagi? Bukankah saya hanya gadis yang dia beli? Apa dia—"

"Jangan terlalu berpikir buruk tentang Tuan Max. Dia memang sudah membelimu, tapi bukan berarti kamu akan dijadikan wanitanya," potong Calvin seakan tahu isi hati gadis itu. Dia memutar badan lantas berjalan ke arah jendela ruangan. "Tuan Max tidak sekejam itu menjadikan gadis di bawah umur sebagai wanitanya."

Pernyataan itu tidak membuat hati Serena lega. Masih saja ada hal yang mengganjal hatinya. "Apa ... Apa ada yang harus saya berikan sebagai timbal baliknya?"

Ya, Max Evans seorang pebisnis. Tidak mungkin dia rela melakukan hal tanpa imbalan yang sesuai. Siapa pebisnis yang mau rugi dan membakar uang secara percuma?

Kecurigaan Serena seolah terjawab saat Calvin berbalik menghadapnya lagi dengan senyum yang sulit diartikan.

"Tentu saja, Serena. Ada harga yang harus kamu bayar mahal untuk setiap kebaikan yang Tuan Max beri padamu."

Gadis itu sedikit tertegun. Di dunia ini tidak ada yang gratis. Tatapannya bergulir ke kertas di tangannya. Ini kesempatan bagus, setidaknya dia bisa menaikkan level dirinya, meskipun ujung-ujungnya jatuh juga ke tangan Max Evans.

"Isi formulir itu pelan-pelan. Kalau sudah selesai, kamu bisa kembali temui saya," tutup Calvin sebelum beranjak pergi.

Kembali Serena membaca deretan huruf di selembar kertas tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Calvin memilih perguruan tinggi yang terkenal bergengsi di kota ini. Yang uang masuknya membuat Serena menelan ludah seketika.

"Kertas apa itu?"

Badan Serena agak terdorong ke depan ketika Lety tiba-tiba datang dan menyenggol lengannya lalu mengintip kertas di tangan Serena.

"Apa? Formulir pendaftaran kuliah?" Mata Lety membola, tidak percaya apa yang dia baca. "Siapa yang kasih itu ke kamu?!"

Suara keras Lety bisa mengundang perhatian penghuni mansion. Cepat-cepat Serena menutup mulut wanita itu dengan tangan dan mendorongnya memasuki tempat yang agak sepi.

Lety jelas tak terima. Dia mengempaskan tangan kurang ajar Serena dan mendelik. "Kamu—"

"Kak Lety, please, bisa tenang nggak?" potong Serena menekan nada suaranya.

"Nggak bisa. Itu—" Lety menunjuk kertas itu. "Kamu mau kuliah? Gimana bisa? Kamu itu cuma pelayan di sini, Tuan Max nggak akan mengizinkan kamu keluar, dia—"

"Dia yang memintaku kuliah," jawab Serena memangkas ocehan perempuan seksi itu.

Mulut Lety ternganga. Pangkal alisnya menyatu. "Jangan bercanda!"

Serena mengangkat bahu, lantas kembali menatap kertas yang dia pegang.

"Heh, bocah!" Lety memicingkan mata, memajukan wajahnya. "Kamu melakukan apa sampai Tuan Max bisa baik begini?"

"Aku nggak melakukan apa-apa."

"Jangan bohong! Aku yang sudah bekerja di sini tahunan saja nggak sekali pun Tuan Max melirikku. Sementara kamu?" Mata Lety memindai Serena dari bawah ke atas. "Bahkan badan kamu nggak ada bagus-bagusnya. Sangat kurus."

Serena tersenyum geli. Meskipun mulutnya menyebalkan, tapi Lety bukan wanita jahat.

"Mungkin karena aku kurus, jadi Tuan Max kasihan padaku," sahut Serena asal, lalu berbalik badan meninggalkan Lety.

"Hei, Serena! Tunggu."

Serena membiarkan pelayan seksi itu mengejarnya. Dia yakin sebelum mendapat jawaban yang memuaskan Lety akan terus menghujaninya dengan berbagai macam pertanyaan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Vie Agustine
Kecemburuan sosial nih terjadi di sesama pembantu ya .
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   159. Malam Panjang

    "Ada apa? Kenapa kamu menatap kami, Boy?" tanya Max heran sembari menatap balik putranya. Tangannya meraih gelas berisi air putih. Mata bulat Luke mengerjap. Dia menoleh ke samping, tempat di mana Calvin duduk tengah menikmati makan malam juga. "Uncle Calv bilang, Mom and Dad sedang membuat adonan adik bayi." Wajah Luke kontan mengerut saat melihat ibunya tersedak, ayahnya mematung, dan Calvin terbatuk hebat. Orang dewasa benar-benar aneh. "Kenapa kalian tidak mengajakku? Mom tahu aku dan dad biasa membuat adonan di dapur." Wajah Calvin yang sudah memerah makin merah lantaran mendapatkan tatapan tajam dari Max dan juga Serena. Setelah berhasil mengatur kondisi diri, dia berusaha menenangkan para tuannya itu. "Serena, Tuan. Saya bisa jelaskan—" jantung Calvin seakan mau lepas ketika Max mengangkat tangannya. "Kalau kamu bosan menerima gaji dariku bilang saja, Calv." Calvin terperanjat, lantas menggeleng dengan perasaan tak enak. "Saya janji tidak akan bicara sembarangan lagi," kat

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   158. Luke Evans

    Untuk pertama kalinya Luke melihat rumah besar ayahnya. Tangan mungilnya menggandeng erat tangan Serena begitu turun dari mobil, sambil terus memandangi mansion Evans. Kepalanya lantas menoleh ketika sang ayah menyusul keluar dari mobil. "Welcome to our home, Son," ucap Max seraya mengambil berdiri di sisi kanan sang anak. "Home? I think it's a big palace." Komentar Luke membuat Max tertawa dan Serena tersenyum kecil. Kepolosan yang sangat lucu. Serena jadi ingat pemikirannya dulu juga sama dengan Luke. Entah untuk siapa Max membangun rumah semewah ini. "Kamu benar. My home, my palace, right?" Luke menyentak tangan ayahnya. "Then..." mata abu bulatnya menyisir satu per satu orang-orang yang berbaris rapi menyambut kedatangannya. Bagi Luke ini masih aneh. "Who are they?" Semua pelayan yang menyambut kedatangan ketiga tuannya masih memasang senyum. Berbaris rapi di bawah kepemimpinan Lety yang sekarang menjadi kepala pelayan. Mereka terlihat gemas melihat wujud bos kecilnya. Terle

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   157. Happy Graduation

    3 TAHUN KEMUDIAN...===================="That's Mom!""You're right!" Max dengan seorang anak laki-laki di gendongannya bergerak mendekati Serena yang tengah mengobrol dengan rekan sesama wisudawan di halaman Senator House. Anak dua tahun di gendongannya membawa buket bunga pilihannya sendiri.Keduanya tidak langsung mendekat dan berhenti melangkah. Membiarkan Serena menyelesaikan urusannya selama beberapa saat. "Mom kamu cantik, kan?" "Yes, Dad! She's the most beautiful woman in the world.""Kamu benar." Senyum Max mengembang dikuti senyum menawan anak di gendongannya. "Put me down, Dad." Kaki kecil itu bergerak meminta sang ayah menurunkan. Dia tidak sabar untuk menemui Serena.Dan begitu kaki kecil berbalut sepatu menapak di tanah halaman, anak itu berlari kecil. "Mom!"Seolah sadar, wanita yang sedang berbincang tak jauh dari posisinya, menoleh. "Luke! No, don't run!"Serena segera meninggalkan teman-temannya dan berlari menyongsong anak dua tahun itu. Dia sontak berjongkok d

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   156. Papa

    Serena mengepak semua pakaiannya tanpa peduli lagi dengan larangan suaminya. Sampai detik ini, Max masih membujuknya untuk tetap tinggal. Serena tidak habis mengerti. Apa yang tidak dia turuti selama ini? Bahkan diburu-buru untuk menikah saja dia patuh. Dan dari awal dia sudah bilang akan kembali ke Cambridge sesuai jadwal. Kehamilannya bukan penghalang. Ketukan pintu membuat Serena menoleh. Dia melihat kepala Lety menyembul dari balik pintu, memamerkan deret giginya yang putih karena rajin perawatan. "Boleh masuk?" tanya wanita itu meringis. Saat Serena mengangguk, dia pun menguak pintu lebih lebar dan berjalan masuk. Mata bulatnya memindai kamar yang cukup berantakan. Tumpukan pakaian, tas, dan sepatu berserakan. "Ini mau dibawa semua?" tanya Lety dengan alis terangkat. "Enggak. Aku cuma lagi milih aja. Mau bantu?" Urusan pakaian dan tetek bengek lainnya, Lety paling suka menanganinya. "Dengan senang hati," katanya sembari menyambar sebuah gaun cantik berwarna maroon. "Aku su

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   155. Pertengkaran

    Kontras dengan wajah Serena yang tampak murung, Max terlihat begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Serena. Dokter bilang usia kandungan Serena sudah memasuki minggu ke-13 dengan kata lain benar-benar sudah menginjak tiga bulan. Bagaimana bisa Serena tidak merasakan tanda-tandanya? Bahkan anggota tubuh janin sudah terbentuk sempurna. "Kalau dibawa terbang jauh nggak masalah kan, dok?" tanya Serena. Karena itulah yang dia pikirkan. Dia ingin tetap bisa kembali ke Cambridge meskipun sedang mengandung. "Melihat kondisi ibu dan janin, saya yakin akan baik-baik saja. Anda tidak mengalami efek kehamilan yang berlebihan kan?" Serena menggeleng. Jangankan efek, tahu dirinya hamil saja tidak. Dia tampak lega saat dokter memberinya izin. "Serena, kamu beneran akan kembali ke Cambridge meskipun sedang hamil?" tanya Max tak percaya. Max cukup tahu kesibukan Serena di sana. Membiarkan dia kembali sangat berisiko. Jika sedang sibuk, Serena bahkan lupa waktu makan. "Aku nggak mungkin mengh

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   154. Tidak Mungkin

    "Dia memang pantas mendapatkannya." Ucapan sadis itu diucapkan seorang wanita sehalus Helen. Kabar Thomas yang tertikam dengan cepat sampai ke telinganya. Terdengar kejam, tapi Helen tampak puas mendengar kabar itu. "Ma," tegur Serena. Lantas menarik napas panjang. Dia tahu ibunya itu masih menyimpan dendam tapi rasanya keterlaluan mengucapkan hal itu saat seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Serena menarik lembut tangan ibunya. "Aku tahu Mama masih sangat kecewa dan benci sama dia. Tapi, dia seperti itu karena menyelematkan nyawaku, Ma. Kalau nggak ada dia, mungkin aku yang sedang terbaring di sana. Ah, nggak. Bahkan mungkin mama sedang menangisiku karena aku nggak mungkin bisa bertahan hidup.""Kamu bicara apa sih, Sayang." Helen terlihat tak terima. Dia meremas tangan Serena dengan wajah masam. "Sudah sewajarnya dia melindungi kamu. Mama rasanya apa yang dialami cukup sepadan atas apa yang sudah dia lakukan ke kita.""Tapi Mama tetap nggak boleh bicara begitu."

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status