แชร์

6. Keributan Kecil

ผู้เขียน: Yuli F. Riyadi
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-10-21 21:55:28

Gosip Serena kuliah dengan cepat menyebar. Sejak kedatangannya, gadis itu kerap menjadi topik hangat di kalangan pelayan mansion Max Evans. 

Tanggapan mereka bermacam-macam. Ada yang hanya sekedar iri, ada juga yang benci karena merasa tersaingi. 

Kening Serena mengerut ketika datang ke area dapur dan melihat para seniornya menatapnya tajam. Dia berusaha mengabaikan dan lanjut berjalan menuju sink untuk membersihkan peralatan makan bekas Max Evans. 

"Oh, jadi ini pelayan yang katanya menarik hati Tuan Max?" 

Serena baru saja meletakan piring kotor di sink saat salah seorang pelayan menegurnya dengan nada sinis. Gadis itu hanya bisa menghela napas berat lalu menyalakan kran air. Tidak menghiraukan. 

Namun baru satu piring dia cuci, seseorang menarik bahunya sehingga piring itu terlepas dan jatuh ke sink. Menimbulkan bunyi peraduan piring yang nyaring. 

"Ups, jatuh ya? Sori, sengaja." Lalu tawa mengejek mereka terdengar. 

Namun Serena tetap tidak bereaksi. Dia kembali meraih piring itu. Tapi...

"Kamu tuli ya!" Seorang pelayan yang Serena tahu bernama Nina mencengkeram bahunya tiba-tiba. "Jangan berlagak sombong kamu di sini! Kamu itu nggak ada bedanya dengan kita. Bahkan lebih murahan! Kami datang ke sini karena mengikuti seleksi ketat. Sementara kamu di sini karena dibeli oleh Tuan Max. Menjijikan sekali!" Nina mendorong Serena hingga pinggang gadis itu membentur pinggiran dapur. 

Serena meringis nyeri. Dia lelah harus menghadapi perundungan seperti ini lagi. Tidak bisakah sekali saja hidupnya bisa bernapas tenang? 

Selain Nina ada tiga pelayan lain berwajah seram mengelilingi dirinya. 

"Dan sekarang kamu mau kuliah?! Yang benar saja! Gadis seperti kamu nggak pantas menerima kebaikan Tuan Max! Dengar, mulai hari ini kamu harus mengerjakan tugas kami berempat!" 

Mata cokelat Serena menatap tajam mereka berempat. Tidak terima dengan perlakuan semena-mena itu. "Aku nggak mau." 

"Berani melawan kamu?! Kami di sini lebih senior, jadi kamu harus patuh apa kata kami!" 

Rahang Serena mengetat. Dia memang tidak berdaya dan tidak berani melawan perbuatan jahat ayahnya, tapi di luar dia tidak selemah itu. 

"Memang kenapa kalau kalian senior? Status kalian tetap sama denganku. Sama-sama pelayan!" 

Kemarahan Nina makin memuncak saat Serena berani melawannya. Dia segera mengangkat tangan, dan tak segan menarik rambut Serena. Hingga gadis itu terpekik.  

"Kamu benar-benar minta dikasih pelajaran! Biar aku kasih tahu bagaimana cara menghormati senior!" 

Serena menjerit ketika rambutnya ditarik. Nina, disoraki pelayan lain, menyeret Serena keluar dari dapur. Mereka merasa aman berbuat sesuka hati karena Jessica, si kepala pelayan sedang tidak ada di mansion. Namun mereka lupa bahwa Max Evans masih ada di sana.

"Sedang apa kalian?!" 

Suara berat dan dingin itu mengejutkan mereka yang membuat kegaduhan. Nina kontan melepas jenggutannya dari rambut Serena. Sementara tiga pelayan lain yang bersorak kehebohan langsung bungkam dan menunduk  melihat kemunculan Max Evans bersama Calvin. 

"Kalian sedang membuat pertunjukan ya?" sindir Calvin tersenyum lebar. Namun tidak ada yang berani menyahutinya. 

Mata tajam Max memindai situasi. Terutama keadaan Serena. Lalu pelayan lain yang bersama gadis itu. "Kekacauan apa yang kalian buat?" tanya Max dengan rahang mengetat. 

"Tuan Max, maaf kalau kami mengganggu Anda. Kami hanya sedang menegur Serena karena dia tidak mau mendengar arahan kami," sahut Nina dengan suara yang dibuat lemah lembut. Wanita itu tampak begitu percaya diri dan sama sekali tidak terlihat merasa bersalah setelah membuat kegaduhan. 

Ujung mata Serena melirik perempuan itu. Jika di depannya tidak ada Max Evans mungkin dia sudah memutar bola mata mendengar kebohongan Nina. 

"Menegur? Dengan menarik rambut rekanmu seperti tadi?" Max Evans menyipitkan mata, terlihat muak. Urusannya begitu banyak dan dia harus melihat adegan para pelayan mengacaukan mansion.

Nina di tempatnya tidak berani buka suara lagi. Wajah Max Evans cukup membuatnya paham bahwa pria itu sedang menahan kesal. Dia memilih cari aman dengan menundukkan kepala. 

"Aku paling tidak suka ada yang membuat keributan di mansion ini apalagi sampai melakukan tindakan kekerasan seperti tadi. Jika sudah tidak betah di sini, kalian berempat bisa angkat kaki." 

Wajah Nina sontak mendongak mendengar ancaman itu. Hatinya merasa tak terima karena tuannya lebih membela orang baru di sini. "Kami tidak berani, Tuan. Kami hanya—"

"Jika aku melihat kejadian seperti ini lagi, kalian tidak akan aku maafkan," potong Max tanpa basa-basi. Ujung matanya melirik Serena yang sejak dirinya muncul, tidak bersuara. "Serena, kamu ikut aku," perintahnya lalu kembali mengayunkan langkah bersama Calvin. Serena pun tanpa bertanya segera mengekorinya. 

"Tapi Tuan Max!" 

Suara lantang milik Nina menghentikan langkah pria jangkung itu. Tanpa menoleh, dia menunggu kelanjutan ucapan pelayan itu. 

"Apa hebatnya perempuan itu sehingga bisa menarik perhatian Tuan dibandingkan kami yang sudah lama ikut dengan Tuan?" 

Calvin di sisi Max Evans menyeringai geli mendengar ucapan konyol pelayan itu. Iri hati membuatnya lancang melempar kalimat sembarangan. 

Sementara tiga pelayan lain di sisi Nina mendadak panik. Ucapan Nina barusan akan menjadi musibah bagi mereka. Mereka mengumpat dalam hati. 

"Calvin." Suara berat Tuan Max memanggil. "Kamu urus sampah tidak berguna itu," ucapnya sebelum kembali melangkah. 

*** 

"Ada yang luka?" 

"Saya nggak apa-apa, Tuan." 

Hanya jambakan kecil tidak ada artinya bagi Serena. Dia bahkan sering mendapat kekerasan lebih dari ini dari ayahnya. 

Dalam hati dia meringis pilu jika mengingat penderitaannya selama ini. 

Max menarik napas panjang seraya menatap gadis di depannya. Dia baru tahu jika kedatangan Serena memicu ketidak-sukaan para pelayan lain. 

"Lain kali jangan diam saja saat orang lain menindasmu." 

"Saya nggak diam. Kalau Tuan Max tadi nggak datang, saya bisa melawan mereka," jawab Serena terdengar percaya diri. 

Namun Max Evans yang kini berdiri di balik meja kerjanya menyeringai kecil, seolah mengejek. "Terdengar pemberani. Kenapa keberanianmu tidak digunakan untuk melawan ayahmu? Kamu tidak akan berakhir di sini kalau berani melawan dia."

"Itu—" 

Serena kehilangan kata-kata. Ucapan Tuan Max memangkas habis rasa percaya dirinya. Dia akui tidak bisa melawan Jack Gilbert. Tiap kali ingin melawan, Serena akan teringat ibunya. 

Melawan artinya menambah penderitaan sang ibu. Tanpa sadar Serena meremas tangan. Dadanya mendadak sesak mengingat selama hidup, ibunya tidak pernah mengecap kebahagiaan. Namun yang mengherankan dulu ibu sama sekali tidak mau meninggalkan ayahnya. Bahkan cenderung menasehati Serena agar tidak membenci pria jahat itu.

Entah apa yang wanita itu harapkan dari suami pemabuk dan penjudi itu. Jika ibu bisa menyaksikan langsung Jack Gilbert menjualnya ke pria kaya, mungkin dia tidak akan pernah memberi nasehat itu. 

"Bagaimana persiapan kuliah kamu?" tanya Max, mengalihkan topik pembicaraan saat melihat ketidaknyamanan di wajah bersih Serena. 

Bibir Serena melengkung samar. "Saya sudah menyerahkan formulir pendaftaran ke Tuan Calvin. Tapi saya perlu mengikuti ujian masuk lebih dulu." 

Max bisa melihat semangat besar di netra cokelat gadis itu. Dia mengangguk. "Good. Aku beri kamu kesempatan untuk mempersiapkan diri. Setelah pukul lima sore kamu tidak perlu bekerja lagi. Untuk sementara Jessica yang akan mengurus keperluanku." 

Mendengar itu Serena terdiam. Masih bingung dengan sikap Max Evans padanya. Setelah membelinya bahkan pria itu menyekolahkannya. Belum lagi soal tempat tinggal. Dia diperbolehkan tinggal di mansion, sementara pelayan lain tidak. Serena tidak mengerti.

Perbedaan itu Serena sadari dengan jelas. Tidak heran jika para pelayan lain menaruh iri dan kebencian padanya. 

Namun seperti apa yang Calvin katakan padanya bahwa ada harga yang harus dia bayar mahal untuk setiap kebaikan yang Tuan Max beri padanya.

"Tuan...." Serena ingin menanyakan kegundahan hatinya. "Terima kasih karena Anda sudah memberi saya kesempatan bersekolah lagi," ujarnya sembari menautkan tangan, lalu meremasnya. Dia mengumpulkan keberanian yang tersisa untuk bertanya satu hal. "Tapi Tuan, apakah ... apakah setelah lulus nanti saya ... saya akan jadi milik Anda?" 

Dua alis tebal Max naik mendengar pertanyaan konyol itu. Ingin rasanya tertawa geli, tapi bibirnya menolak bergerak. 

Pria itu keluar dari rongga antara meja dan kursi lantas berjalan mendekati Serena yang saat ini tampak tegang. 

Ketika berdiri tepat di hadapan gadis itu, tangannya terangkat, meraih dagu runcing milik Serena hingga tatapan mereka bertemu pada satu titik.

"Sejak ayahmu menerima uangku, kamu memang sudah menjadi milikku, Serena." 

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   159. Malam Panjang

    "Ada apa? Kenapa kamu menatap kami, Boy?" tanya Max heran sembari menatap balik putranya. Tangannya meraih gelas berisi air putih. Mata bulat Luke mengerjap. Dia menoleh ke samping, tempat di mana Calvin duduk tengah menikmati makan malam juga. "Uncle Calv bilang, Mom and Dad sedang membuat adonan adik bayi." Wajah Luke kontan mengerut saat melihat ibunya tersedak, ayahnya mematung, dan Calvin terbatuk hebat. Orang dewasa benar-benar aneh. "Kenapa kalian tidak mengajakku? Mom tahu aku dan dad biasa membuat adonan di dapur." Wajah Calvin yang sudah memerah makin merah lantaran mendapatkan tatapan tajam dari Max dan juga Serena. Setelah berhasil mengatur kondisi diri, dia berusaha menenangkan para tuannya itu. "Serena, Tuan. Saya bisa jelaskan—" jantung Calvin seakan mau lepas ketika Max mengangkat tangannya. "Kalau kamu bosan menerima gaji dariku bilang saja, Calv." Calvin terperanjat, lantas menggeleng dengan perasaan tak enak. "Saya janji tidak akan bicara sembarangan lagi," kat

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   158. Luke Evans

    Untuk pertama kalinya Luke melihat rumah besar ayahnya. Tangan mungilnya menggandeng erat tangan Serena begitu turun dari mobil, sambil terus memandangi mansion Evans. Kepalanya lantas menoleh ketika sang ayah menyusul keluar dari mobil. "Welcome to our home, Son," ucap Max seraya mengambil berdiri di sisi kanan sang anak. "Home? I think it's a big palace." Komentar Luke membuat Max tertawa dan Serena tersenyum kecil. Kepolosan yang sangat lucu. Serena jadi ingat pemikirannya dulu juga sama dengan Luke. Entah untuk siapa Max membangun rumah semewah ini. "Kamu benar. My home, my palace, right?" Luke menyentak tangan ayahnya. "Then..." mata abu bulatnya menyisir satu per satu orang-orang yang berbaris rapi menyambut kedatangannya. Bagi Luke ini masih aneh. "Who are they?" Semua pelayan yang menyambut kedatangan ketiga tuannya masih memasang senyum. Berbaris rapi di bawah kepemimpinan Lety yang sekarang menjadi kepala pelayan. Mereka terlihat gemas melihat wujud bos kecilnya. Terle

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   157. Happy Graduation

    3 TAHUN KEMUDIAN...===================="That's Mom!""You're right!" Max dengan seorang anak laki-laki di gendongannya bergerak mendekati Serena yang tengah mengobrol dengan rekan sesama wisudawan di halaman Senator House. Anak dua tahun di gendongannya membawa buket bunga pilihannya sendiri.Keduanya tidak langsung mendekat dan berhenti melangkah. Membiarkan Serena menyelesaikan urusannya selama beberapa saat. "Mom kamu cantik, kan?" "Yes, Dad! She's the most beautiful woman in the world.""Kamu benar." Senyum Max mengembang dikuti senyum menawan anak di gendongannya. "Put me down, Dad." Kaki kecil itu bergerak meminta sang ayah menurunkan. Dia tidak sabar untuk menemui Serena.Dan begitu kaki kecil berbalut sepatu menapak di tanah halaman, anak itu berlari kecil. "Mom!"Seolah sadar, wanita yang sedang berbincang tak jauh dari posisinya, menoleh. "Luke! No, don't run!"Serena segera meninggalkan teman-temannya dan berlari menyongsong anak dua tahun itu. Dia sontak berjongkok d

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   156. Papa

    Serena mengepak semua pakaiannya tanpa peduli lagi dengan larangan suaminya. Sampai detik ini, Max masih membujuknya untuk tetap tinggal. Serena tidak habis mengerti. Apa yang tidak dia turuti selama ini? Bahkan diburu-buru untuk menikah saja dia patuh. Dan dari awal dia sudah bilang akan kembali ke Cambridge sesuai jadwal. Kehamilannya bukan penghalang. Ketukan pintu membuat Serena menoleh. Dia melihat kepala Lety menyembul dari balik pintu, memamerkan deret giginya yang putih karena rajin perawatan. "Boleh masuk?" tanya wanita itu meringis. Saat Serena mengangguk, dia pun menguak pintu lebih lebar dan berjalan masuk. Mata bulatnya memindai kamar yang cukup berantakan. Tumpukan pakaian, tas, dan sepatu berserakan. "Ini mau dibawa semua?" tanya Lety dengan alis terangkat. "Enggak. Aku cuma lagi milih aja. Mau bantu?" Urusan pakaian dan tetek bengek lainnya, Lety paling suka menanganinya. "Dengan senang hati," katanya sembari menyambar sebuah gaun cantik berwarna maroon. "Aku su

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   155. Pertengkaran

    Kontras dengan wajah Serena yang tampak murung, Max terlihat begitu bahagia mendengar kabar kehamilan Serena. Dokter bilang usia kandungan Serena sudah memasuki minggu ke-13 dengan kata lain benar-benar sudah menginjak tiga bulan. Bagaimana bisa Serena tidak merasakan tanda-tandanya? Bahkan anggota tubuh janin sudah terbentuk sempurna. "Kalau dibawa terbang jauh nggak masalah kan, dok?" tanya Serena. Karena itulah yang dia pikirkan. Dia ingin tetap bisa kembali ke Cambridge meskipun sedang mengandung. "Melihat kondisi ibu dan janin, saya yakin akan baik-baik saja. Anda tidak mengalami efek kehamilan yang berlebihan kan?" Serena menggeleng. Jangankan efek, tahu dirinya hamil saja tidak. Dia tampak lega saat dokter memberinya izin. "Serena, kamu beneran akan kembali ke Cambridge meskipun sedang hamil?" tanya Max tak percaya. Max cukup tahu kesibukan Serena di sana. Membiarkan dia kembali sangat berisiko. Jika sedang sibuk, Serena bahkan lupa waktu makan. "Aku nggak mungkin mengh

  • Pelayan Cantik Sang Presdir   154. Tidak Mungkin

    "Dia memang pantas mendapatkannya." Ucapan sadis itu diucapkan seorang wanita sehalus Helen. Kabar Thomas yang tertikam dengan cepat sampai ke telinganya. Terdengar kejam, tapi Helen tampak puas mendengar kabar itu. "Ma," tegur Serena. Lantas menarik napas panjang. Dia tahu ibunya itu masih menyimpan dendam tapi rasanya keterlaluan mengucapkan hal itu saat seseorang yang sedang berjuang antara hidup dan mati. Serena menarik lembut tangan ibunya. "Aku tahu Mama masih sangat kecewa dan benci sama dia. Tapi, dia seperti itu karena menyelematkan nyawaku, Ma. Kalau nggak ada dia, mungkin aku yang sedang terbaring di sana. Ah, nggak. Bahkan mungkin mama sedang menangisiku karena aku nggak mungkin bisa bertahan hidup.""Kamu bicara apa sih, Sayang." Helen terlihat tak terima. Dia meremas tangan Serena dengan wajah masam. "Sudah sewajarnya dia melindungi kamu. Mama rasanya apa yang dialami cukup sepadan atas apa yang sudah dia lakukan ke kita.""Tapi Mama tetap nggak boleh bicara begitu."

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status