Share

Hasutan Iblis

Author: i'mdream
last update publish date: 2026-08-02 19:16:21

"Ce-cewek kacamata?" Chelsea tergagap, matanya melirik ke segala arah kecuali ke mata Dani. "Emm, yang mana sih? Gue nggak tahu tuh."

Ia buru-buru menoleh ke arah Tian, tangannya meraih lengan kekasihnya itu dengan gerakan sedikit terburu-buru. "Sayang, kamu sewa jasa cleaning service kan?!" tekannya, suaranya sengaja dikeraskan seolah ingin memastikan jawaban itu didengar semua orang di meja.

"Iya, sayang," balas Tian dengan senyum manisnya, tangannya terulur mengusap kepala Chelsea lembut, se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Kabur!

    Gugup banget dilihat sama cowok-cowok itu ya Tuhan. Ini boleh ngilang dulu nggak sih, batin Anya frustrasi.Saat ini ia sedang sibuk memungut bola basket yang terlempar jauh ke sudut lapangan. Namun ia bisa merasakan tatapan-tatapan menusuk dari sekeliling ruangan, seolah menggores pelan setiap jengkal tubuhnya.Ini kapan selesainya sih? batinnya lagi, benar-benar sudah tidak tahan.Hingga tiba-tiba saja tatapannya terpaku pada salah satu cowok di ruangan itu. Sama seperti dirinya, cowok itu pun balas menatap ke arahnya.Satu hal yang Anya sadari—tatapan mata itu berbeda dari yang lain. Bukan tatapan hina, bukan pula tatapan jijik seperti yang biasa ia dapatkan dari cowok-cowok lain di ruangan ini.Anya seakan tersihir oleh sepasang mata itu, pandangannya sulit teralihkan, hingga tanpa sadar cowok tersebut sudah berdiri tepat di depannya.JIRR... dari kapan dia di sini? Perasaan dia nggak gerak dari tempatnya deh? Duh, mana masih natap gue lagi.Ini kalo gini gue harus gimana? Pura-pu

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Jepang

    "ARRGH!"Anya terbangun mendadak dari mimpinya, napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi keningnya. Mimpi itu terasa begitu nyata—terlalu nyata untuk sekadar diabaikan begitu saja.Entah kenapa gue ngerasa mimpi ini bakal jadi kenyataan, batinnya, masih berusaha menenangkan detak jantung yang belum sepenuhnya reda."Hufft, mungkin karena kepikiran mulu makanya kebawa mimpi," gumamnya lirih pada diri sendiri, mencoba menenangkan diri. "Takut banget gue," bisiknya, bergidik ngeri setiap kali potongan mimpi itu kembali terlintas di kepalanya.Ia melirik jam di meja belajar—pukul 06.07. Tanpa membuang waktu lagi, Anya bangkit, merapikan tempat tidurnya, lalu berjalan ke kamar mandi untuk bersiap.Setelah selesai, ia mengenakan hoodie kebesarannya seperti biasa, tak lupa menyampirkan tas selempang kesayangannya. Ia menarik koper kecilnya, lalu melangkah menuruni tangga."Bibi, Anya berangkat dulu ya," pamitnya begitu sampai di lantai bawah."Iya, Non. Hati-hati ya di sana, sama j

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   TOLONG!!!

    Anya melepas perban di siku dan kepalanya. Ia baru selesai mandi dan merasa luka-luka tersebut sudah tidak terlalu sakit. Hanya bagian lutut yang masih terasa nyeri, jadi ia menggantinya saja.Setelah selesai, matanya beralih pada novel-novel yang ia dapatkan tadi siang.Ia kembali teringat pada perilaku Tres kepadanya hari ini.Namun, kejadian di toko buku tadi membuat hatinya sedikit lega.Entah kenapa, ia merasa sedikit... bahagia?Tok. Tok. Tok.“Non, ayo makan malam.”“Iya, Bi.”Anya meletakkan bukunya di lemari, kemudian menyusul Bibi War. Ya, karena kecintaannya terhadap buku, terutama novel, Anya memiliki sebuah lemari kecil yang cukup untuk menampung koleksi-koleksinya.Sesampainya di meja makan, Papa dan Mama Anya sudah berada di sana.Anya menarik kursi dan duduk. Ia mengambil nasi beserta beberapa lauk.“Anya?”Anya langsung menatap papanya.Sangat jarang papanya membuka percakapan di meja makan.Dan benar saja, kalimat berikutnya yang keluar dari mulut papanya seketika me

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Kantong Kresek

    “Ti-Tian,” ucap Tres dengan wajah yang langsung memucat.Bagaimana Tian bisa muncul di sini?! batin Tres.Tatapan Tian tajam menusuk ke arahnya.Entah kesialan apa yang menimpanya hari ini.Anya menatap keduanya secara bergantian."Aww!"Anya langsung memegang kepalanya yang baru saja terkena lemparan kantong kresek dari Tres.Kesambet apa, sih, dia? Tiba-tiba lemparin kresek ke kepala gue. Mana kepala gue kena botol susu stroberi lagi.“Lo tuh udah cupu, nggak tahu diri lagi! Lo kira gue bakal nerima makanan murahan lo itu?” tunjuk Tres kepada Anya.Anya mengerutkan kening.Maksudnya apa, coba? Kan yang bawa barang itu dia. Kenapa malah bilang kebalikannya?Baru saja Anya ingin tersanjung karena berpikir Tres sengaja membawakan susu stroberi kesukaannya.Ternyata ia salah.Aneh banget.Sementara itu, Tres sudah meninggalkan tempat tersebut.Kini hanya tersisa Anya dan Tian.“Mana?”“Apanya?” tanya Anya balik, masih bingung dengan kejadian barusan.“Yang tadi!” ucap Tian datar.Anya y

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Tidak Lagi!

    Suara alarm yang bising membangunkan Anya dari tidurnya.Memang, itu tujuan alarm, kan?Namun, tetap saja Anya masih mengantuk.Dengan mata setengah tertutup, ia berjalan mengambil handuk, lalu menuju kamar mandi.Hari ini ia harus masuk sekolah, walaupun kondisinya belum sembuh total.---Anya menuruni tangga dengan tas sekolah sudah berada di punggungnya.Matanya langsung tertuju pada dua orang yang sudah duduk rapi di tempat masing-masing.Papanya duduk di kursi single yang berada tepat di bagian tengah, sedangkan mamanya duduk di kursi pertama di samping papanya.Anya menghela napas pelan.Entah kapan mereka datang.Semalam, setelah makan malam, Anya kembali ke kamarnya dan menghabiskan waktunya di sana.Ia kembali teringat obrolannya dengan sang kakak terakhir kali mengenai oleh-oleh yang dititipkan untuknya.Ya sudah, aku nggak akan minta. Kalau mereka kasih, baru aku terima.“Selamat pagi, Pa. Selamat pagi, Ma.”Tidak ada jawaban.Hanya anggukan kecil dari mamanya tanpa menoleh

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Panggilan Tak Terduga

    Pukul 06.00 tepat, Anya selesai membersihkan dirinya. Ia merapikan pakaian dan barang-barangnya.Dengan langkah tertatih, ia menuju sofa tempat Bibi War masih tertidur pulas.Saking pulasnya, Anya sampai tidak tega untuk membangunkan bibinya.Mereka masih berada di rumah sakit.Semalam, Anya memaksa ingin pulang. Namun, Bibi War tidak kalah kerasnya. Melihat kondisi Anya yang cukup parah, Bibi War memaksa agar mereka baru pulang pagi-pagi sekali.Anya menggoyangkan pelan tubuh Bibi War hingga wanita itu terbangun.Sepertinya, Bibi War cukup lelah karena menjaganya sepanjang malam.Akhirnya, Bibi War terbangun. Matanya langsung tertuju pada semua barang bawaan mereka yang sudah rapi dan tersusun pada tempatnya.Tidak perlu ditanya lagi.Sudah pasti Anya yang membereskannya.Bibi War menatap Anya dengan bangga.Walaupun kondisinya sedang tidak baik, gadis itu tetap tidak mau terlalu merepotkan dirinya.“Terima kasih, Non,” ucap Bibi War.“Sama-sama, Bibi sayang,” balas Anya dengan senyu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status