Share

Hasutan Iblis

Author: i'mdream
last update publish date: 2026-08-02 19:16:21

"Ce-cewek kacamata?" Chelsea tergagap, matanya melirik ke segala arah kecuali ke mata Dani. "Emm, yang mana sih? Gue nggak tahu tuh."

Ia buru-buru menoleh ke arah Tian, tangannya meraih lengan kekasihnya itu dengan gerakan sedikit terburu-buru. "Sayang, kamu sewa jasa cleaning service kan?!" tekannya, suaranya sengaja dikeraskan seolah ingin memastikan jawaban itu didengar semua orang di meja.

"Iya, sayang," balas Tian dengan senyum manisnya, tangannya terulur mengusap kepala Chelsea lembut, se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Selalu Disalahkan

    Sempat terlintas di pikiran Tian bahwa hubungan Dani dan Anya mungkin hanya hubungan palsu.Mungkin Dani hanya berpura-pura menjadi pacar Anya.Namun, semua keraguan itu seakan terjawab hari ini.Kontak Anya di ponsel Dani bahkan sudah diberi nama Pacar.Bukan hanya itu. Bahkan ketika Anya tidak datang ke sekolah, Dani tetap berniat mendatangi rumahnya hanya untuk mengantarkan sebuket bunga.Tian memijat pelipisnya dengan dua jari.Bukan ini rencananya.Alurnya seharusnya tidak seperti ini.Anya tidak boleh berpacaran dengan sahabatnya sendiri.Terlebih lagi, dengan Dani.“Kenapa semuanya jadi rumit begini?” gumamnya lirih.Otak Tian dipenuhi berbagai pertanyaan.Bagaimana bisa Dani memiliki perasaan kepada cewek cupu seperti Anya?Apa yang menarik dari gadis itu?Menurut Tian, Anya tidak memiliki sesuatu yang istimewa sedikit pun.Namun, semakin ia memikirkannya, semakin kepalanya terasa pusing.*Mereka sudah berpacaran. Pasti bakal semakin dekat, kan?!*Tian mengembuskan napas kasar

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Buket

    Suara riuh tepuk tangan langsung menyambut kedatangan tim basket bersama piala bergilir yang berhasil mereka bawa pulang.Mereka memang mendapat sambutan khusus dari pihak sekolah. Begitu memasuki area sekolah, sorakan dan tepuk tangan seolah tidak ada habisnya.Satu per satu anggota tim mendapatkan sebuket bunga sebagai bentuk penghargaan atas kemenangan mereka.Kepala sekolah bahkan tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat dan terima kasih.“Selamat atas kemenangan kalian. Kalian sudah berjuang keras dan berhasil mengharumkan nama sekolah hingga ke kancah internasional. Ini bukan hanya kebanggaan bagi kalian, tetapi juga bagi seluruh sekolah.”Senyum bangga terpancar dari wajah kepala sekolah.Setelah acara penyambutan selesai, acara dilanjutkan dengan makan bersama.Namun, ada satu pemandangan yang cukup mencolok.Chelsea dan Tian tidak duduk bersama.Tumben.Bahkan sangat jarang terjadi.Atau mungkin... belum pernah sama sekali.Tian memilih duduk bersama anak-anak basket, sem

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Salting Vs Ngambek

    “Aduh, sakit banget,” keluh Dani sambil memegangi lengannya. “Mana tangan ini yang aku pakai buat main basket.”Ia memasang wajah sedih yang dibuat-buat.“Kalau aku nggak bisa main basket lagi, gimana?”Anya yang awalnya hanya menatapnya datar akhirnya menghela napas kecil.Ia tahu Dani sedang pura-pura.Namun, melihat Dani terus mengeluh tentang tangannya, tiba-tiba muncul sebuah ide kecil di kepalanya.Mungkin... kalau tangannya diberi sesuatu yang bisa membuatnya merasa lebih baik, Dani tidak akan mengeluh lagi.Anya pun meraih tangan Dani yang tadi ia pukul.Dani sempat mengernyit bingung.“Mau ngapain?”Anya tidak menjawab.Ia hanya menggenggam tangan itu dengan kedua tangannya, lalu menundukkan kepala dan mengecup punggung tangan Dani dengan cepat.Cup!“Nah,” ucap Anya pelan setelahnya. “Biar nggak sakit lagi.”Setelah mengatakan itu, Anya langsung menarik tangannya dan memalingkan wajah. Pipinya seketika memerah karena baru menyadari apa yang baru saja ia lakukan.Dani seketik

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   What?!

    Kalimat Dani tadi seperti mantra yang terus berputar-putar di kepala Tian.Kenalin, pacar gue. Zefanya namanya.Tian ingin memejamkan mata, berharap bisa sedikit menghindar dari semua itu. Namun, bukannya tenang, justru muncul bayangan Dani dan Anya yang bergandengan tangan.Tian berdecak kesal.Mereka sudah berada di dalam pesawat. Tian sebenarnya ingin sekali tidur, tetapi adegan Anya dan Dani terus mengganggu pikirannya.Bahkan Chelsea yang sedari tadi duduk di sampingnya, merengek meminta ini dan itu, sama sekali tidak digubris.“Sayang, aku mau—”Tidak ada jawaban.“Sayang...”Tetap tidak ada respons.Bahkan ketika Chelsea mulai meminta penjelasan tentang hubungan Anya dan Dani, Tian hanya memberinya tatapan tajam.“Kenapa mereka bisa pacaran?” tanya Chelsea lagi.Tian mengembuskan napas kasar, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela.Entah kenapa, tetapi sahabatnya itu terasa seperti sudah berkhianat kepadanya.Harusnya dari awal bisa gue cegah. Nggak sampai mereka pacaran

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Zefanya Namanya

    Hari kepulangan pun tiba.Chelsea, Clara, dan Tres, beserta Tian dan Liam, sedang menunggu salah satu teman mereka, Dani.Anggota cheers dan basket sudah lebih dulu berangkat. Mereka memang geng bisnis class, makanya memilih penerbangan terpisah.Sebenarnya mereka tidak ingin terpisah dari anggota tim lainnya. Tapi, sudah tahu kan, ini idenya siapa?Yeps, Chelsea.Si Queen dramatis itu tidak mau dan memaksa gengnya, beserta Tian dan gengnya, untuk naik bisnis class.Mereka berdiri di area parkiran bandara sambil menunggu satu orang lagi.“Dani ke mana, sih? Lelet banget, deh.” Chelsea menggerutu dengan wajah yang sudah sangat muram.“Nggak tahu apa ini lagi panas banget?” lanjutnya sambil mengipas-ngipaskan tangan di depan wajah.Liam yang berdiri tak jauh darinya langsung menirukan gaya bicara Chelsea. Bibirnya dibuat menye-menye, lengkap dengan ekspresi wajah yang sengaja dilebih-lebihkan.Tian hanya melirik dengan ekor matanya.Namun, satu lirikan tajam itu sudah cukup membuat Liam

  • Pelayan Cupu Sang BadBoy   Masih Topik yang Sama

    “Emang menurut lo piala itu nggak berarti?”Tian sedikit berteriak.Tatapannya menajam ke arah Liam.“Bego lo!”Liam langsung membalas, tidak mau kalah.“Lo pikir dengan jadiin piala sebagai alasan buat ngebully orang itu bener?”Kali ini pertengkaran mereka benar-benar memanas.Bedanya, Liam bukan tipe orang yang mudah mengandalkan otot seperti Tian dan Dani. Ia cenderung lebih kalem dan berpikir sebelum bertindak.Namun, untuk kali ini, kesabarannya benar-benar habis.“Lo kira latihan nggak capek sampai gue bilang piala itu nggak berarti buat gue? Hah?!”Suara Liam meninggi.“Pikir pakai otak!”Ia menunjuk dada Tian.“Piala itu juga berarti buat gue. Kita dapetinnya dengan kerja keras.”Liam mengembuskan napas kasar.“Tapi nggak secupu itu sampai dijadiin alasan buat ngebully orang.”Damn.Kalimat Liam terasa seperti pisau yang ditancapkan tepat ke tubuh Tian.Wajah Tian seketika kehilangan auranya.Tidak ada lagi tatapan mematikan seperti biasanya.Tidak ada pula senyum sinis yang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status