Share

111. Rongrongan Diri

Auteur: Leva Lorich
last update Dernière mise à jour: 2026-02-28 09:05:35

"Tenang saja, Bu Sisil. Bu Sisil aman di sini sama saya. Nggak akan ada yang berani ganggu Bu Sisil malam ini," bisik Pram lembut, mencoba memberikan rasa aman pada sang nyonya majikan.

Namun Pram tak menanggapi permintaan Sisil sebelumnya, membuat sang nyonya majikan yang cantik itu sedikit vemberut dan muram.

Sisil menatap Pram dengan mata yang rumit, seolah mengharapkan agar ia benar-benar dimanjakan oleh pelayan kesayangannya malam itu.

Ia tidak berkata apa-apa, melainkan langsung menarik t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   124. Puncak Imajinasi

    "Sekarang nggak ada yang boleh ganggu, pintu sudah aku kunci rapat. Waktu ini cuma milik kita berdua, Mas Pram," bisik Sisil sambil menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu jati tersebut.Matanya menatap Pram dengan binar yang sangat berbeda, bukan lagi tatapan majikan yang sedang tertekan, melainkan wanita yang sedang haus akan belaian.Ia melangkah mendekat, membiarkan jemarinya yang lentik merambat di kemeja Pram lalu memeluk pinggang pria itu dengan erat. Wajahnya ia benamkan di dada Pram yang bidang. "Makasih banyak ya, Mas. Makasih karena Mas Pram selalu ada di garda terdepan buat jagain aku dari orang-orang jahat kayak tadi."Pram mengelus rambut Sisil yang halus, menghirup aroma wangi shampoonya. "Sudah jadi tugas saya sebagai pelayan buat memastikan Bu Sisil selalu aman dan nyaman, Bu."Sisil mendongak, bibirnya yang merah merekah membentuk lengkungan genit. "Kalau gitu, apa Mas Pram bisa bantu aku satu hal lagi siang ini? Aku bener-bener butuh bantuanmu, Mas...""Bantu

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   123. Sudah Kering

    "Tadinya saya cuma mau beralasan ambil dompet biar Pak Rekan ini tahu diri dan sadar kalau saya masih mengawasi,” tutur Pram lirih. “Tapi karena Pak Relan malah menghardik saya, mending saya blak-blakan aja sekarang. Saya beneran nggak suka lihat tingkah genit Pak Rekan pada Bu Sisil tadi!" ucap Pram dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman.Pak Rekan yang merasa harga dirinya diinjak-injak oleh seorang pelayan di depan kliennya yang cantik langsung kehilangan kendali. Wajahnya memerah padam, urat lehernya menonjol, dan tanpa babibu ia melayangkan sebuah tinju mentah ke arah wajah Pram. "Kurang ajar kamu! Berani-beraninya ceramahi saya!"Namun, Pram bukan pria sembarangan. Sebagai pria yang sarat akan pengalaman, refleksnya jauh di atas manusia rata-rata. Dengan gerakan yang sangat lincah, Pram menangkap kepalan tangan Pak Rekan di udara sebelum menyentuh pipinya. Tak butuh waktu lama, Pram langsung memutar pergelangan tangan pria berkacamata itu dan memelintirnya k

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   121. Diskusi Sok Penting

    "Iya Pak, siap. Ayo Bi, kita berangkat sekarang biar Pak Rekan nggak kelamaan nunggu rokoknya," ucap Pram dengan nada yang dibuat patuh, sambil menyambar dua lembar uang merah itu dan menarik lembut lengan Bi Surti keluar dari rumah.Begitu mereka sampai di luar gerbang dan memastikan posisi mereka tidak terlihat dari jendela ruang tamu, Pram langsung menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Bi Surti yang nampak bingung. "Bi, Bibi pergi sendiri aja ya ke supermarket depan. Ini uangnya bawa semua, sisa kembaliannya buat Bibi aja, saya nggak usah."Bi Surti mengerutkan kening, lesung pipitnya nampak tenggelam karena rasa heran. "Lho, kok gitu Mas Pram? Kan tadi pesannya kita berdua yang disuruh pergi. Kenapa Mas malah nyuruh saya sendirian belinya?"Pram mendekatkan wajahnya, berbisik serius di telinga Bi Surti yang masih menyisakan aroma keringat asmara mereka tadi. "Saya beneran nggak sreg sama pengacara itu, Bi. Matanya liar banget dari tadi liatin Bu Sisil. Saya mau balik ke da

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   120. Hati-hati, Bu

    "Lho, Bu Sisil, kok sudah pulang? Saya kira bakal sampai sore di pengadilan," sapa Pram sambil melangkah mendekat ke arah pintu mobil yang baru saja terbuka.Sisil turun dengan anggun, meski wajahnya nampak sedikit lelah karena urusan birokrasi yang menguras emosi. "Iya, Mas Pram. Ternyata berkas surat gugatan cerai yang disiapkan Pak Rekan sudah sangat lengkap dan rapi, jadi tadi proses administrasinya cepat banget diterima pihak pengadilan."Pram mengangguk, namun matanya tak lepas memperhatikan gerak-gerik Pak Rekan yang turun dari kursi kemudi. Lagi-lagi, pria berkacamata itu melirik ke arah dada Sisil dengan tatapan rakus yang sangat tidak sopan, seolah ingin menembus blazer yang membungkus sepasang timun suri ranum milik nyonya majikannya itu. Pram mengepalkan tangannya di samping paha, merasa geram melihat tingkah laku pria yang seharusnya profesional itu."Apa ada tugas lagi buat saya setelah ini, Bu?" tanya Pram, mencoba mengalihkan perhatian.Sisil menoleh ke arah Pak Rek

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   119. Melipur Lara

    "Goyang lebih kencang lagi, Bi! Teriak yang kenceng, desah aja yang liar mumpung sepi!" pinta Pram dengan suara yang berat dan serak, tangannya meremas pinggul Bi Surti yang lebar untuk membantunya menghentak lebih dalam.Bi Surti semakin menggila dalam bergoyang di atas tubuh Pram. Napasnya terengah-engah, peluh mulai bercucuran dari dahi dan lehernya, namun semangatnya seolah tidak ada habisnya. Dua buah granat tangan raksasanya berguncang hebat ke atas dan ke bawah mengikuti setiap gerakan liar pinggulnya yang menghantam tubuh Pram. Bunyi gesekan kulit yang basah oleh keringat dan cairan asmara terdengar sangat jelas di kamar kecil itu."Hhaahh... hhaah... Mas Pram, enak banget... Bibi sudah beberapa tahun nggak ngerasain yang sekeras ini sejak menjanda. Rasanya kayak melayang saking nikmatnya!" racau Bi Surti sambil memejamkan mata rapat-rapat, menikmati gesekan meriam Pram yang memenuhi setiap sudut relung curamnya yang sempit.Pram mendongakkan kepalanya, urat-urat di leherny

  • Pelayan Gagah Milik Nyonya Majikan   118. Kuda Sembrani

    "Tanggung banget kalau cuma daster aja yang dibuka. Buat apa celana dalamnya disisakan, Bi? Lepas semuanya aja biar saya bisa memandang keindahan tubuh Bi Surti seutuhnya," pinta Pram dengan suara serak, matanya menatap liar ke arah kain terakhir yang masih menempel di pangkal paha Bi Surti.Bi Surti yang darahnya sudah mendidih karena gairah yang tertahan sejak di dapur tadi segera menuruti perintah itu. Dengan tangan sedikit gemetar, ia meloloskan sisa penutup terakhirnya hingga jatuh ke lantai kamarnya. Kini, Bi Surti benar-benar polos di hadapan Pram, memamerkan keindahan tubuh matangnya yang tersembunyi selama ini.Pram menarik napas panjang, matanya menjelajahi setiap inci tubuh wanita di depannya. "Luar biasa, Bi. Dada Bibi ini bener-bener besar, jauh lebih mantap daripada yang saya bayangin. Perut Bibi juga masih ramping begini, pinggulnya apalagi... bener-bener indah buat dipandang," puji Pram dengan jujur.Mendengar pujian itu, Bi Surti yang dulu saat di rumah sakit hanya

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status