LOGIN"Maka mulai hari ini dan seterusnya, posisi CEO utama perusahaan akan beralih pada Pak Pram. Segala keputusan tertinggi akan berada di bawah kuasa beliau sepenuhnya," tegas Sisil mengakhiri pengumumannya dengan sebuah kepatuhan mutlak yang nampak sangat jelas dari gestur tubuhnya.Meskipun Pram nampak sangat sederhana tanpa balutan jas mewah, namun gurat ketampanan yang tegas serta ketenangan sikapnya yang berwibawa membuat para petinggi itu merasakan aura pemimpin sejati yang sangat kuat dari dalam diri anak kandung mendiang Husodo tersebut.Namun, di tengah rasa takjub yang menyelimuti ruangan, seorang pria paruh baya berkacamata tebal di ujung meja rapat nampak mengangkat tangannya dengan ragu."Bu Sisil, bukankah Ibu adalah pemilik saham keseluruhan perusahaan ini sejak peninggalan Pak Cipto dulu?" tanya manajer keuangan dengan dahi berkerut dalam, mencoba mencari kejelasan atas perubahan struktur yang teramat mendadak tersebut.Sisil mengangguk. “Ayah saya memang yang mengelola p
"Ya sudah, tapi belinya saat pulang saja. Saya sudah terlanjur rapi dengan kemeja ini," kata Pram sembari merapikan kembali lipatan lengan kemejanya yang membungkus otot lengannya yang kekar dan kokoh.Sisil menatap penampilan Pram dari atas sampai bawah dengan binar mata yang terpesona.Kemeja biru muda itu melekat ketat di tubuh bidang Pram, mencetak jelas bentuk dada bidangnya yang tegap. Sisa kehangatan semalam seolah masih membekas di antara mereka, membuat Sisil sempat melirik ke arah bawah Pram yang nampak padat berisi di balik celana kainnya."Boleh, Mas," kata Sisil mengangguk patuh sembari memberikan senyuman paling manisnya.Mereka pun segera turun dan bergabung dengan yang lain untuk sarapan.Di meja makan, hidangan nasi goreng buatan Bi Surti sudah tersaji hangat. Dara, Intan, dan Bunga sudah duduk rapi di tempat masing-masing. Begitu Pram melangkah masuk ke ruang makan, pandangan ketiga gadis muda itu langsung tertuju padanya tanpa berkedip."Wihhh, Mas Pram keren ama
Sisil melakukan tugasnya dengan teramat telaten dan penuh variasi gerakan yang mematikan. Karena ukuran knalpot Pram yang teramat kekar dan panjang, rahang Sisil terpaksa meregang maksimal hingga pipinya nampak mencuat kencang menahan beban diameter yang besar. Sisil melumat bagian ujung kembang api itu dengan lidahnya, memilinnya berulang kali di dalam mulut dengan ritme yang lambat namun sangat dalam, menghisapnya layaknya sedang menikmati es lilin di siang hari yang teramat terik.Suara hisapan basah yang nyaring bercampur decapan dari dalam mulut Sisil memenuhi keheningan kamar tidur utama tersebut. Sisil menggerakkan kepalanya maju mundur, berusaha melahap batang kokoh Pram lebih dalam lagi hingga pangkal hidung mancungnya sesekali menyentuh kulit paha atas Pram yang berkeringat. Setiap kali mulut Sisil menjepit erat batang senjata tersebut, syaraf Pram seolah diperas habis-habisan oleh kehangatan dinding mulut yang basah oleh air liur.Pram mencengkeram erat seprai ranjang d
Sisil benar-benar kehilangan seluruh keanggunannya sebagai seorang ibu di depan anak-anak angkatnya. Di dalam kamar yang remang ini, ia sepenuhnya berubah menjadi wanita matang yang teramat genit dan haus akan kepuasan dari pria yang kini menjadi majikannya. Setiap kali ujung meriam Pram menyenggol titik terdalam di ujung lembah curam miliknya, seluruh tubuh Sisil tersentak hebat, matanya mendongak dengan bibir yang terus mengeluarkan desahan-desahan parau yang pasrah.Pram tidak memberi ampun sedikit pun. Mengingat bagaimana lekukan daging bawah pinggul Sisil selalu memikatnya sejak dulu, Pram semakin mempercepat tempo genjotannya. Hantaman tubuh mereka menjadi semakin brutal dan liar, menumbuk pusat kenikmatan Sisil tanpa jeda hingga keringat mereka bercampur menjadi satu, membasahi kasur sutra di bawah mereka.“Ohhh... Mas Pram... pasak bumimu... ahh, bikin aku gila... mmmhh... terus Mas... jangan berhenti... ahh, ahh, sedikit lagi... oohhh!” jerit Sisil dengan suara yang semaki
Pram meremas kedua belahan daging bawah pinggul Sisil dengan sangat kuat menggunakan kedua telapak tangannya yang besar, membantu mendorong pinggul Sisil agar hujaman di dalam kawah gelap itu semakin dalam dan bertenaga. Suara khas dari peraduan kulit mereka yang basah oleh cairan kenikmatan terdengar bersahutan memenuhi ruangan, bercampur dengan desahan-desahan mesum yang lolos dari bibir tipis Sisil.“Ohhh... Mas... ahh... terus Mas... remas bokongku yang kuat... mmmhh... enak banget... gila, punyamu nusuk sampai ke dalam banget, Mas Pram... ahh, ahh!” jerit Sisil berulang kali dengan suara yang tertahan menahan kenikmatan yang luar biasa dahsyat mengguncang seluruh raganya.Permainan malam itu berlangsung semakin cepat dan brutal. Sisil mempercepat gerakan genjotannya, menaik-turunkan bantalan belakangnya yang montok dengan tempo yang menggebu-gebu seiring dengan dinding lorong labirin miliknya yang mulai menjepit dan memeras batang tongkat baseball Pram dengan sangat ketat dan be
“Nanti agak malam nunggu anak-anak tidur saja, Bu,” bisik Pram sembari mencuri kecupan singkat di bibir tipis Sisil, membuat wanita matang itu tersenyum manis sebelum melangkah masuk ke dalam rumah.Pram menepati janjinya. Ketika jam dinding besar di lorong lantai dua sudah menunjuk ke arah angka satu malam dan suasana rumah besar itu benar-benar sunyi senyap, Pram perlahan membuka pintu kamarnya. Dengan langkah tanpa suara, ia menyelinap masuk ke dalam kamar utama Sisil yang berada tepat di sebelahnya. Di dalam kamar yang luas itu, lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan pendar redup dari lampu tidur di sudut ranjang king size yang memancarkan cahaya kekuningan yang remang-remang.Sisil ternyata sudah menunggu di atas tempat tidur dengan posisi bersandar pada tumpukan bantal. Penampilannya malam ini benar-benar merangsang gairah purbawi Pram. Ia hanya mengenakan daster satin merah tipis yang sangat longgar. Tanpa adanya lapisan penyangga dada, sepasang melon kembar milik S
"Bi, permisi, aku mau bikin jus jeruk. Tari tadi minta dianterin ke atas," ucap Pram sambil melangkah masuk ke area dapur yang harum oleh aroma bumbu masakan.Bi Surti yang sedang merapikan rak piring segera menoleh, lesung pipitnya menyembul saat ia memberikan senyuman manis pada pria itu. "Eh, Ma
“Ada apa, Mas?“ Bunga kaget."Bunga, mending kamu nggak usah pijat aku deh. Tadi siang aku sempat pijat pelipis Intan pas dia demam, eh malah panasnya pindah semua ke aku. Aku nggak mau kamu ketularan juga gara-gara nyentuh aku," ucap Pram dengan suara parau, mencoba memperingatkan gadis lembut di
"Tunggu dulu, Tan! Jangan buru-buru," ucap Pram sambil menahan bibir Intan dengan telunjuknya, menghentikan gerakan gadis itu yang sudah hampir menempelkan bibir panasnya ke bibir Pram.Intan mengerjap kaget, matanya yang sayu karena demam menatap Pram dengan bingung. "Ada apa sih, Mas? Kok pake di
"Aduh, siapa sih yang telepon jam segini? Ganggu aja orang lagi nyembuhin demam," keluh Intan sambil mengusap sudut bibirnya yang masih tersisa jejak putih.Pram segera bangkit dan meraih ponselnya, matanya membelalak saat melihat nama yang tertera di layar. "Waduh, Tan... ini dari Bu Sisil!""Hah?