INICIAR SESIÓN”Jadi sekarang Dara ini membantu pekerjaan Pram, begitu?” tanya Pak Herman memastikan, mengalihkan pandangannya dari Pram ke arah Dara yang duduk dengan sikap anggun dan santun di sebelah pria tegap itu. Sepasang mata tua yang bijaksana tersebut menatap lekat-lekat, mencoba memahami dinamika hubungan baru yang terjalin di antara generasi penerus para sahabat karibnya.Pram memperbaiki posisi duduknya, menyandarkan punggung bidangnya pada sofa kulit sembari mengulas senyuman tipis yang penuh arti sebelum memberikan penjelasan mendalam.”Jadi begini, Om. Sebelum aku menemukan dokumen warisan dan kotak rahasia itu, seluruh perusahaan domestik dan aset peninggalan keluarga Husodo sudah dilanjutkan pengelolaannya oleh Sisil setelah Pak Cipto wafat. Beruntungnya, takdir membawa jalan yang unik. Aku malah sempat bekerja menjadi pelayan pria di rumah Sisil, sehingga tanpa kami sadari, garis keturunan Husodo dan Cipto sebenarnya tidak pernah terpisah jauh sejak awal,” terang Pram membuka tabi
”Saya adalah Pramono Edi Husodo. Tentu Bapak tahu siapa pemilik nama belakang saya tersebut,” ucap Pram dengan nada suara bariton yang berwibawa, tenang, dan sarat akan penegasan garis keturunan. Pria tegap itu berdiri dengan sikap sempurna, menatap langsung ke dalam manik mata pria tua di hadapannya tanpa ada keraguan sedikit pun, membiarkan nama besar sang ayah menggema memutus keheningan ruang tamu beratap tinggi tersebut.Mendengarnya, Pak Herman langsung datang mendekat dengan langkah kaki yang mendadak berubah cepat dan bergetar hebat. Sepasang matanya membelalak lebar, diliputi oleh rasa tidak percaya yang teramat sangat sekaligus haru yang membubung tinggi ke dada. Dengan tangan yang gemetar karena faktor usia dan gejolak emosi, ia mengangkat kedua telapak tangannya, lalu meraba wajah Pram. Ia meneliti setiap garis rahang, tatapan mata yang tajam, hingga guratan alis tebal Pram yang begitu identik dengan sosok mendiang sahabat karibnya di masa lalu.”Husodo! Kamu... kamu b
Menggunakan sebuah mobil sewa hotel, Pram dan Dara bergerak menuju rumah Pak Herman. Kendaraan SUV mewah berwarna abu-abu metalik itu melaju dengan sangat tenang membelah jalanan aspal kota Amsterdam yang rapi dan dikelilingi oleh kanal-kanal air yang jernih. Pram duduk di balik kemudi dengan ekspresi wajah yang sangat fokus dan berwibawa, sementara Dara duduk manis di sebelah kanan bos idolanya sembari memegang ponsel pintar dengan kedua tangan halusnya.Melalui koordinat lokasi yang diberikan Pengacara Buan, letak rumah Pak Herman berada di pinggiran kota Amsterdam, sekitar 1 jam perjalanan dari hotel tempat mereka menginap. Semakin menjauh dari pusat keramaian kota, pemandangan di kanan dan kiri jalan berubah menjadi hamparan padang rumput hijau yang luas, diselingi oleh deretan pepohonan rindang dan beberapa kincir angin ikonik yang berdiri megah di kejauhan di bawah langit sore Eropa yang mulai meredup.”Belokan kedua di depan nanti ke kiri, Mas,” kata Dara sambil memperhatika
Pram mengedikkan bahunya dengan santai, menatap sisa saus steik di piringnya sebelum menyeka bibirnya dengan serbet kain. ”Aku juga tidak tahu, Ra. Apakah nama Pak Herman ini memang sengaja disembunyikan oleh ayahku, ataukah ada komdisi lain di luar sepengetahuan kita atau bahkan tak diketahui Pak Cipto.“Dara mengangguk paham, merapikan letak tas kecilnya di atas meja restoran setelah mereka menyelesaikan santap siang yang mewah itu. Melihat jam tangan mahalnya masih menunjukkan waktu yang cukup lengang sebelum beranjak sore, ia menatap Pram dengan tatapan penuh perhatian.”Ya udah yuk kita balik kamar dan istirahat bentar sambil nunggu sore. Badanku juga masih agak kaku setelah duduk belasan jam di pesawat tadi, Mas,” ajaknya kemudian, memberikan usulan yang langsung disetujui oleh Pram dengan anggukan kepala.Mereka pun bangkit dari kursi restoran hotel, berjalan beriringan menaiki lift eksekutif untuk balik kamar di lantai atas. Sepanjang koridor hotel yang sunyi dan dilapisi ka
Dara tersenyum manis, seulas senyuman menantang yang justru terlihat sangat menggemaskan di wajah cantiknya yang merona merah. Ia sama sekali tidak gentar mendengar gertakan sensual mengenai ketahanan fisik Pram yang legendaris di atas ranjang. Dengan berani, kedua tangan halusnya merayap naik, melingkar lembut di leher kekar Pram sembari jemarinya memainkan ujung rambut di tengkuk sang pria kesayangannya itu.”Kita lihat saja nanti, Mas, apa aku sanggup atau enggak melayani seluruh energimu itu seorang diri,” jawab Dara dengan nada suara yang berbisik serak, sengaja menempelkan dada padatnya yang membusung ke dada bidang Pram yang keras bagai batu karang.Pram menyipitkan matanya yang tajam, merasa darah jantannya tertantang hebat oleh keberanian gadis muda di hadapannya ini. Seringai di wajah tampannya semakin melebar, sementara tangan kanannya merosot turun ke bawah, meremas belahan pantat Dara yang semok di balik gaun tipisnya hingga membuat gadis itu melenguh tertahan.”Mau co
Waktu perjalanan pun usai. Setelah menempuh belasan jam penerbangan yang melelahkan melintasi beberapa zona waktu, roda-roda pesawat berbadan lebar yang mereka tumpangi akhirnya menyentuh landasan pacu dengan mulus. Mereka tiba di Amsterdam. Hembusan angin musim panas Eropa yang berhawa sejuk langsung menyambut langkah kaki Pram dan Dara begitu mereka keluar dari garbarata menuju area kedatangan Bandara Schiphol yang megah dan sibuk.Pram yang telah mendapatkan waktu tidur yang cukup selama di pesawat kini tampak jauh lebih segar. Sisa-sisa pegal di pinggangnya akibat gempuran ranjang maraton bersama para wanitanya di Indonesia telah sepenuhnya hilang, mengembalikan vitalitas jantannya ke dalam kondisi prima. Sembari menarik koper besar milik mereka, Pram mengajak Dara memesan kamar hotel bintang lima yang terletak di pusat kota Amsterdam, memilih akomodasi terbaik untuk memastikan kenyamanan mereka selama menjalankan misi pengambilalihan aset peninggalan almarhum ayahnya.Sebuah t
"Bi, permisi, aku mau bikin jus jeruk. Tari tadi minta dianterin ke atas," ucap Pram sambil melangkah masuk ke area dapur yang harum oleh aroma bumbu masakan.Bi Surti yang sedang merapikan rak piring segera menoleh, lesung pipitnya menyembul saat ia memberikan senyuman manis pada pria itu. "Eh, Ma
"Tunggu dulu, Tan! Jangan buru-buru," ucap Pram sambil menahan bibir Intan dengan telunjuknya, menghentikan gerakan gadis itu yang sudah hampir menempelkan bibir panasnya ke bibir Pram.Intan mengerjap kaget, matanya yang sayu karena demam menatap Pram dengan bingung. "Ada apa sih, Mas? Kok pake di
"Aduh, siapa sih yang telepon jam segini? Ganggu aja orang lagi nyembuhin demam," keluh Intan sambil mengusap sudut bibirnya yang masih tersisa jejak putih.Pram segera bangkit dan meraih ponselnya, matanya membelalak saat melihat nama yang tertera di layar. "Waduh, Tan... ini dari Bu Sisil!""Hah?
"Aduh! Sori, sori Mas! Aku beneran nggak sengaja, lupa kalau masih megang pisau," seru Intan sambil segera menarik tangannya dari leher Pram dan mundur beberapa langkah dengan wajah yang nampak menyesal sekaligus cemas.Pram menghela napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang sempat ber







