LOGINSetelah menyantap nasi goreng buatan Bi Inah yang gurih, aku, Dani, dan Joni duduk bersila di teras belakang yang masih berupa tanah galian.Sebatang rokok kretek kunyalakan, membiarkan asapnya menari di udara pagi yang mulai menghangat.Dani memperhatikanku dengan dahi berkerut, lalu menyikut Joni. "Eh, Jon, lihat si Aris. Asa beda nya?"Joni mengangguk mantap sambil mengembuskan asap rokoknya. "Enya, bener. Wajahna mani seger kitu, potongan rambutna ge jadi gaya. Maneh tas ti mana bieu peuting, Ris? Meuni rapih kieu."Aku terkekeh, berusaha menutupi kegugupanku. "Ah, biasa weh, hayang ganti suasana. Masa kuli pelabuhan kucel terus.""Tapi beneran, Ris. Gagah euy, moal aya nu nyangka maneh teh kuli. Geus jiga bos muda," tambah Dani dalam bahasa Sunda yang kental.Tak lama kemudian, kesunyian rumah kembali pecah. Suara mesin mobil terdengar dari depan. Nikita, Vira, dan Tasya mulai bersiap pergi dengan urusan mereka masing-masing.Hanya Bi Inah yang tertinggal di rumah, sibuk dengan t
"Ahhh Aris, puaskan Ibu malam ini!" rintihnya, tangannya meremas kejantananku yang sudah mengeras.Gairah yang tersulut di kamar vila itu meledak tanpa kendali. Sebelum permainan dimulai, Nikita sempat merogoh tasnya dan memberikan sebuah pil kecil berwarna biru kepadaku."Telan ini, Aris. Aku ingin malam ini kita habiskan dengan bersenang-senang. Kamu yang pegang kendali malam ini, bikin aku lemas!" bisiknya dengan mata yang berkilat nakal.Aku menelan pil itu tanpa banyak tanya.Efeknya bekerja sangat cepat.Seluruh saraf di tubuhku terasa bergetar, dan kejantananku menegang dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Aku menarik tubuh Nikita, membenamkan wanita itu ke atas kasur empuk dengan kasar. Antara nafsu yang memuncak dan rasa amarah yang terpendam, aku tidak memberikan ampun sedikit pun.Aku membuka kakinya lebar-lebar, bagian intinya walaupun sudah terlihat longgar tetap membuatku bernafsu.Aku mulai mengambil ancang-ancang, benda pusakaku sangat keras seperti
Aku melangkah masuk ke kamar dengan pikiran yang masih menerawang. Setelah keringat di tubuhku kering, aku segera mengguyur tubuhku dengan air dingin.Aku tidak tahu rencana gila apa lagi yang ada di kepala Nikita, atau ke mana dia akan membawaku pergi.Selesai mandi, aku memilih kaos polo pemberian Nikita yang pas di tubuhku dan celana jeans panjang.Saat aku melangkah keluar kamar menuju koridor, aku berpapasan dengan Tasya yang juga hendak turun.Seperti biasa, dia hanya melirikku sekilas tanpa bicara, lalu berjalan mendahuluiku menuruni tangga."Aris!"Suara Nikita memanggil dari arah kamarnya.Langkahku terhenti.Pintu kamar utama terbuka, dan Nikita muncul dengan penampilan yang sangat mencolok. Dia mengenakan dress mini ketat yang menonjolkan lekuk tubuh rampingnya.Riasan wajahnya tampak lebih tebal dari biasanya, rambutnya diikat tinggi memberikan kesan elegan sekaligus nakal.Tanpa ragu, dia mendekat dan langsung merangkul lenganku. Jantungku berdesir, bukan karena apa, tapi
Bayangan Vira yang sedang berlutut dan melayani pria misterius itu terus berputar-putar di kepalaku seakan tidak ingin pergi.Aku mendengus kesal, berusaha memejamkan mata tapi percuma. Rasa penasaran bercampur gairah yang muncul tadi membuat sekujur tubuhku panas."Sial, kalau begini terus aku nggak bakal bisa tidur," gumamku.Aku bangkit dari kasur dan memastikan pintu kamar sudah terkunci rapat. Aku tidak mau kejadian memalukan dengan Vira atau Nikita terulang lagi.Aku mengambil botol minyak zaitun dari dalam tas, lalu duduk di tepi ranjang. Aku membuka ponselku, mencari file tersembunyi yang berisi koleksi video biru favoritku.Pikiranku berkecamuk, lebih baik aku memuaskan diriku sendiri malam ini daripada harus berurusan dengan Nikita.Wanita itu memang sangat seksi dan menggoda, tapi kelicikannya membuatku muak.Aku memutar video paling panas.Suara erangan wanita di layar ponsel mulai memenuhi ruangan. Aku melumuri si Gatot yang sudah menegang keras dengan minyak zaitun.Sens
Aku memacu motorku dengan perasaan yang sulit digambarkan.Malam ini, Aku akan pergi berkencan untuk yang pertama kalinya. Aku merasa gugup sekaligus senang, setelah sekian lama akhirnya aku bisa mengajaknya jalan.Aku berhenti tepat di depan warung kopi, tempat di mana Risma sudah menungguku.Begitu mataku menangkap sosoknya, aku terpukau. Risma terlihat begitu cantik dan segar malam ini. Dia mengenakan blus berwarna pastel yang dipadukan dengan celana jeans yang pas di tubuhnya, sangat sopan namun tetap memperlihatkan aura cantiknya.Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai indah, sesekali tertiup angin malam. Dia benar-benar bunga desa yang diidamkan banyak pria, dan malam ini, dia menungguku."Sudah lama, Ris?" sapaku sambil mematikan mesin motor.Risma menoleh dan tersenyum malu-malu. "Baru sebentar, A. Aa... rapi sekali malam ini.""Tentu dong, kan malam ini spesial. Ayo, aku ajak kamu makan malam," ajakku.Dengan uang pemberian Nikita yang cukup di dompet, aku membawanya
"JANGAN MIMPI... Aku gak sudi punya kakak gembel seperti kamu. Lihat aja nanti, kau akan menyesal!" ucapnya membentakku sambil memalingkan wajah yang sedikit memerah, lalu dia berjalan cepat melewatiku.Aku mengabaikan gerutuan Vira di lorong tadi. Biarkan saja dia besar kepala sekarang, karena cepat atau lambat, kesombongannya itu akan runtuh juga di hadapanku.Setelah semua barang-barangku dipindahkan ke kamar baru, aku segera merebahkan diri di atas kasur yang empuk.Rasanya luar biasa.Dulu, kamarku memang seperti ini sebelum nenek sihir itu datang dan mengusirku. Kini, aku kembali ke tempat yang seharusnya, meski dengan status yang memuakkan sebagai "pemuas" ibu tiriku.Sambil menatap langit-langit kamar, aku memutar otak.Nikita belum tahu kalau rencananya mencelakai Ayah di rumah sakit tadi gagal total.Aku harus tetap waspada.Bukti rekaman percobaan pembunuhan memang sudah di tanganku, tapi Nikita itu licik. Dia punya Gunawan dan kekuasaan untuk memutarbalikkan fakta.Aku but







