Share

Bab 27. Perhatian Risma

last update publish date: 2026-03-01 23:12:41

Tangan Risma yang hangat, menyentuh dadaku. Si Gatot terkulai lemas merasa puas. Aku benar-benar tertidur pulas setelah permainan kami yang cukup panas.

Aku terbangun dengan sentakan kaget, jantungku berdegup kencang saat menyadari aku berada di kontrakan bersama seseorang.

Aku menoleh ke samping.

Di sana, Risma masih tertidur pulas dengan sisa-sisa kelelahan yang tergambar jelas di wajah cantiknya.

Sarung yang membungkus tubuhnya sedikit berantakan. Mengingat apa yang terjadi semalam, penyatua
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 386. Ajakan gila

    Di tengah kepungan polisi dan status buronan, Ayah dan Pak Yanto masih bisa tertawa lepas sambil pesta minuman keras dan membawa wanita ke kontrakan kusam ini."Kalian lanjut saja, aku mau istirahat di dalam kamar," kataku berdiri dan melangkah masuk ke dalam kamarku tanpa mempedulikan godaan mereka.Saat aku hendak berbaring, suara ketukan pintu dan suara panggilan memecah keheningan kamar."Aris sini, kok malah tidur? Masa jam segini sudah mau tidur, sini kita senang-senang dulu!" Itu suara Ayah dari balik pintu."Nggak, Yah, aku lagi gak enak badan," kataku menolak dari dalam kamar."Justru bakal hilang! Ayo sini, biasanya juga kan kita suka main bareng. Aneh sekali tiba-tiba gak mau," kata Ayah memaksa dari balik pintu.Aku teringat semua kejadian gila bersamanya akibat pengaruh cairan aneh itu. Kami sekeluarga memang memiliki libido tinggi. Aku ingat saat bermain dengan Vira ataupun Tasya, aku dan Ayah bergantian bermain dengan mereka. Semua kegilaan itu dulu membuatku semakin

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 385. Mengundang perempuan nakal

    Aku memutuskan kembali dan berjalan pelan kembali ke kasurku di dalam kamar. ]Di sepanjang malam, suara rintihan wanita itu dan benturan kasar tidak kunjung berhenti, ditambah suara guncangan dari Ayah yang seolah tidak peduli sedikit pun dengan keberadaanku di kamar sebelah atau keadaan sekitar.Hingga akhirnya pagi hari tiba. Saat aku terbangun dan melangkah keluar kamar, wanita seksi itu sudah tidak ada di dalam kontrakan. Sepertinya dia sudah diam-diam pergi sebelum matahari terbit. Ayah terlihat bersikap biasa saja pagi ini, seolah tidak pernah terjadi apa-apa dan tanpa ada rasa berdosa sedikit pun. Aku pun memilih tidak membicarakan kejadian semalam.Sesuai instruksi kemarin, Ayah menyuruhku segera pergi untuk menyerahkan berkas-berkas laporan palsu itu. Ayah juga mewajibkanku untuk tetap tinggal bersamanya di kontrakan ini dan melarangku pulang ke rumah dulu. Sebenarnya aku sudah sangat tidak betah berada di tempat ini, apalagi melihat kelakuan bejat Ayah dari dekat. Namun

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 384. Rintihan di kamar sebelah

    Ayah membuka map cokelat tersebut, menyodorkan beberapa lembar kertas berisi salinan surat transaksi dan dokumen laporan keuangan palsu kepadaku."Ini bukti-buktinya!" tegas Ayah menunjuk lembaran kertas itu. Entah dari mana Ayah dapat berkas ini, yang jelas ini bukti kuat kalau Nikita yang melakukan penggelapan dan bisnis haram itu atas nama perusahaan Ayah! "Besok, Ayah minta kamu bawa berkas-berkas ini ke pengacara dan buat laporan bukti ke polisi. Ini semua bukti kuat kalau Nikita lah yang merupakan dalang di balik ini semua. Dengan begitu, nama Ayah bersih dan tidak perlu bersembunyi seperti ini lagi! Kita harus segera menghentikan Nikita dan menyeretnya ke penjara."Aku menerima berkas-berkas itu, membolak-baliknya dengan raut wajah pura-pura percaya dan mengangguk-angguk paham. Di dalam hatiku, aku tahu persis bahwa seluruh dokumen yang disodorkan Ayah ini adalah rekayasa mentah buatannya sendiri untuk memfitnah Nikita dan menyelamatkan nyawanya sendiri."Siap, Yah. Besok aka

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 383. Menemui Ayah

    Aku menatap Bagas dengan pandangan bingung. "Kakak minta pendapatmu, Gas. Menurutmu, Kakak harus gimana? Kakak masih bingung... Apakah Kakak harus percaya pada Nikita dan memihaknya, atau bagaimana?"Bagas mengusap wajahnya yang tegang, menarik napas dalam-dalam untuk menguasai emosinya. Dia berpikir sejenak, mengamati keadaan dengan cermat sebelum akhirnya menatapku lurus."Kak Aris... saran Bagas, Kakak sebaiknya bersikap netral," tegas Bagas dengan nada dewasa."Netral?" tanyaku menaikkan alis."Iya, Kak. Jangan memihak Gunadi, tapi jangan juga memihak Nikita secara penuh," jelas Bagas lancar. "Saat Kakak bicara dengan Nikita, bersikaplah seolah-olah Kakak berada di pihaknya dan mendukung rencananya. Begitu juga sebaliknya, kalau Gunadi menghubungi Kakak, berpura-puralah Kakak masih anak penurut yang membantunya. Hanya dengan cara berdiri di tengah-tengah seperti ini, Kakak bisa tahu semua rahasia dan rencana tersembunyi dari kedua belah pihak. Dari sana, Kakak baru bisa tentukan l

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 382. Minta pendapat Bagas

    Aku menatap Bu Rahma dengan tatapan mantap tanpa keraguan. "Maafkan Aris, Bu... Tapi Aris tidak akan pernah tenang jika hanya berdiam diri dan menyerahkan Ayah ke polisi. Ayah harus merasakan sendiri penderitaan yang dirasakan Ibu dan korban-korban lainnya."Meskipun Bu Rahma berkali-kali melarang dan memohon agar aku membatalkan niat nekadku itu, keputusanku sudah bulat dan tak bisa digoyahkan lagi.Setelah mengobrol cukup lama dan merasa mendapat pencerahan, aku berpamitan pada Bu Rahma. Beliau melepas kepergianku dengan raut wajah cemas dan doa yang tak putus-putus.Aku melangkah keluar dari rumah Bu Rahma dan menaiki sepeda motor. Saat aku memeriksa jam di layar ponsel, jarum jam baru menunjukkan pukul sebelas siang.Masih ada waktu beberapa jam sebelum jadwal bertemuku dengan Bagas sore nanti. Aku menelpon nomor Bagas untuk memastikan jadwalnya."Halo, Gas? Kamu lagi di mana sekarang?" tanyaku."Halo, Kak Aris! Ini aku lagi ada di kampus, Kak... Ada dua mata kuliah sampai jam dua

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 381. Pergi ke rumah Bu Rahma

    "Oh... jadi karena jasa itu Bibi selalu melindungi Ayah," gumamku mengerti. "Dari awal aku kira akar dari semua kekacauan di rumah ini adalah Nikita, tapi ternyata Ayah dan Nikita itu sama saja. Apa Bibi tahu kalau Nikita mau menikahi Ayah itu karena dia ingin balas dendam karena adiknya, Mirna, jadi korban Ayah? Dia bersikap begitu karena benci pada Ayah, tapi aku juga belum tahu pasti apa tujuan utamanya selain harta."Tak terasa, sembari kami mengobrol panjang lebar, Bi Inah sudah menyelesaikan seluruh masakannya dan menghidangkannya di atas meja makan."Tapi menurut Bibi, sebaiknya Den Aris tetap hati-hati sama Nyonya Nikita. Jangan terlalu percaya sama dia," saran Bi Inah serius. "Aden sebaiknya makan dulu, Bibi mau ke belakang nyuci pakaian.""Makasih ya, Bi... Oh ya, Bibi sudah tahu kalau hari ini Nikita, Vira, dan Tasya mau pulang ke rumah ini?" tanyaku menahan langkah Bi Inah.Bi Inah mendadak menghentikan langkahnya, menatapku heran. "Astaga! Bukannya Non Tasya sama Non Vira

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status