LOGINNapas yang sesak serta gejolak mual di dadaku berusaha kukendalikan. Aku bergegas membalikkan badan, melangkah menaiki anak tangga dalam remang senter ponsel, lalu keluar dari rongga ruang bawah tanah yang mengerikan itu. Kumasukkan engsel pintu besi, memutar selot kunci duplikat rapat-rapat, lalu merapikan karpet kusam di atasnya.Aku keluar dari gudang belakang, mengunci pintu kayunya, lalu melangkah cepat melewati dapur menuju ke kamar di lantai dua. Di depan cermin, kuusap keringat dingin yang membasahi dahi dan leherku. Kubuka kaos polos yang berdebu, berganti dengan kemeja kasual yang rapi, lalu merogoh kunci mobil dari atas meja.Beberapa menit kemudian, mobilku sudah melaju membelah jalanan kota Bandung. Suasana lalu lintas siang itu terasa sangat padat dan merayap. Di sepanjang jalan utama, klakson kendaraan saling bersahutan menembus kemacetan.Namun, bukan hanya kepadatan kendaraan yang menarik perhatian warga. Di papan reklame digital persimpangan dan layar televisi
"Yanto, Andri... ayo kita jalan sekarang. Berkas-berkas notarissnya sudah siap di kantor," kata Ayah penuh semangat keserakahan.Ayah lalu menoleh padaku. "Aris, kamu pulang ke rumah dulu saja atau urus toko. Nanti kalau ada perkembangan pengalihan aset ini, Ayah kabari.""Baik, Yah. Hati-hati di jalan," sahutku mengangguk kaku.Ayah dan kelompoknya melaju pergi menaiki mobil SUV hitam mereka. Aku bisa menebak dengan pasti bahwa saat ini Ayah dan Pak Yanto sedang bergegas menuju ke kantor notaris untuk mengeksekusi pengalihan seluruh aset dan perusahaan milik Nikita secara ilegal, mumpung mereka mengira Nikita sudah lumpuh dan terbang ke luar negeri.Aku menaiki mobilku lalu melaju membelah jalanan kota menuju kembali ke rumah Ayah. Aku ingin berganti pakaian yang lebih santai dan merapikan beberapa barang di kamar.Suasana kediaman Ayah terasa sangat hening saat mobilku bersandar di halaman. Hanya ada Bi Inah yang sedang menyapu pekarangan samping. Aku melangkah masuk, naik ke lant
"Iya, kamu tenang saja," kataku menatap Marni lembut, berusaha menyalurkan rasa tenang ke dalam hatinya.Marni mengangguk pelan, jemari tangannya meremas kencang bahuku yang bertelanjang. Di bawah temaram lampu kamar, kecantikan Marni tampak begitu nyata dan memabukkan. Tubuh polosnya yang kencang, mulus, dan harum memancarkan aura kepolosan murni yang sangat berbeda dari wanita manapun yang pernah dekat denganku.Aku menundukkan kepala, memulainya dengan ciuman lembut di atas bibir tipisnya. Marni memejamkan mata, membalas lumatan bibirku dengan canggung namun penuh kepasrahan. Perlahan, kecupan itu menyusur turun melintasi leher jenjangnya yang harum, merayap ke dada, lalu melumat sepasang buah dadanya yang indah dan kencang."Mmmhh... A Aris... ssshh..." desah Marni tersengal-sengal, dadanya melengkung ke atas menikmati gigitan-gigitan kecil dan sentuhan lidahku pada puting merahnya yang mendadak mengeras tegang.Aku tidak mau terburu-buru. Tangan dan bibirku terus bergerak mem
"Makasih banyak ya, Aris..." bisik Nikita berkaca-kaca."Tapi aku dan Nikita tidak akan terus bersembunyi dan benar-benar menghilang, Aris," pangkas Tante Rina tegas. "Kami akan menyamar dan tetap tinggal di Bandung. Kami tidak akan pernah berhenti sebelum keberadaan Mirna ditemukan!"Mendengar nama Mirna terucap, aku merasa ini adalah saat yang tepat untuk membongkar temuan laboratorium rahasia bawah tanah kepada mereka.Setelah dokter pamit melangkah keluar kamar, aku mendekati ranjang Nikita dan berbisik rapat."Ibu... Tante Rina... Sebenarnya ada hal yang belum aku ceritakan. Mengenai temuanku di ruang bawah tanah itu, mungkin sebaiknya kita bicarakan disini saja. Sepertinya malam ini cukup aman, mengenai tante Mirna juga aku menemukan informasinya."Nikita dan Tante Rina tersentak, menatapku tanpa berkedip."Apa Aris, tolong katakan apa yang kamu temukan di sana?" tanya Tante Rina tidak sabar."Di sana... ada barisan patung manekin, tumpukan baju wanita, dan ratusan kantong klip
"Kamu jauh lebih beruntung dari aku, Gas," kataku dengan suara agak bergetar. "Kita berdua sama-sama anak Gunadi, tapi dari Ibu yang beda. Bedanya, Ibumu masih ada di sampingmu. Sementara Ibuku... Ibuku udah meninggal secara misterius bertahun-tahun lalu. Aku hidup sendirian, Gas. Nggak ada siapapun yang bisa aku percaya. Aku gak punya saudara lagi... cuma kamu satu-satunya saudaraku saat ini."Bagas tertegun membisu. Tatapan matanya yang tadi tegang perlahan melunak, memancarkan rasa iba yang mendalam."A Aris..." gumam Bagas lirih. Dia menghela napas panjang, seolah luluh oleh kejujuranku. "Ya udah, A. Nanti aku aturin biar Aa bisa ketemu sama Ibu. Tapi ingat, jangan bawa kendaraan pribadi milik Aa pas ketemu Ibu, takutnya keberadaan Ibu terendus sama si Gunadi.""Aku paham, Gas. Makasih banyak," jawabku lega. "Tapi... bisa ketemunya besok?""Bisa, besok aku kabarin," sahut Bagas.Aku merapikan posisi dudukku, menatap Bagas serius. "Gas, sebenarnya... seberapa jauh kamu tahu soal Ay
Di sepanjang perjalanan menuju Cikajang, ponselku bergetar nyaring berturut-turut. Nama Ayah berkilat-kilat di layar. Aku menghela napas, menggeser tombol hijau, lalu mengangkatnya dengan nada tenang."Aris! Kamu di mana?! Katanya mau serahkan dokumen itu pagi ini ke Ayah?" bentak Ayah di seberang telepon."Maaf banget, Yah... Tiba-tiba ada urusan bisnis mendadak di luar kota yang harus aku selesaikan pagi ini," alibiku santai. "Tapi Ayah tenang saja, dokumennya sudah di tanganku dan sangat aman. Ini aku kirimkan foto beberapa lembar berkasnya dulu ke HP Ayah sebagai bukti."Aku segera Mengirimkan foto beberapa lembar berkas dokumen rekayasa hasil buatan orang-orang Tante Rina ke pesan Ayah.Berkas ini kelihatan sangat meyakinkan. Cepat selesaikan urusanmu dan pulang, Ayah tunggu dokumen fisiknya!""Pasti, Yah. Nanti sore aku langsung pulang," jawabku sebelum menutup telepon.Tiba di kediaman Ibu Hj. Salmah di Kampung Cikajang, suasana rumah panggung kayu itu terasa sangat sejuk. Bu







