LOGIN"Aman, semua berjalan sesuai rencana. Mama kalian juga makin stabil di rumah sakit," jawabku sembari menghempaskan tubuh di tepi tempat tidur.Setelah berbincang cukup lama mengenai perkembangan situasi dan memastikan stok logistik mereka aman, aku beranjak berdiri untuk berpamitan pulang karena hari sudah semakin malam."Ya sudah, aku pulang dulu ya. Kalian tetap di dalam kamar dan jangan keluyuran," kataku merapikan kemeja.Saat aku hendak melangkah ke arah pintu, Vira mendadak menahan lenganku. Gadis cantik berambut panjang itu menatap mataku lekat-lekat dengan binar mata yang penuh gairah dan kerinduan terpendam. Tanpa mengucapkan sepatah kata, Vira menyusupkan kedua tangannya melingkari leherku, lalu memeluk tubuhku erat-erat."Kak Aris... jangan pulang dulu..." bisik Vira dengan intonasi suara yang begitu manja dan mendesah di dekat telingaku. "Kami takut dan kesepian di sini. Peluk kami malam ini, Kak..."Tasya yang berdiri di sofa ikut melangkah mendekat. Tatapan matanya mema
Saat Gunawan sibuk berjalan menuju bagasi mobil, aku memanfaatkan kesempatan itu dengan cepat. Aku menyusup masuk melewati pintu samping menuju ke ruang panel listrik utama yang berada di dekat dapur.Tanpa membuang waktu, aku membuka kotak panel lalu menurunkan sakelar utama yang mengaliri arus listrik ke sistem DVR CCTV rumah. Seketika itu juga, lampu indikator merah pada kamera CCTV yang menempel di sudut-sudut plafon padam total!Setelah memastikan sistem CCTV mati, aku melangkah cepat menyusuri koridor lantai dasar menuju ke depan pintu ruang kerja Nikita.Aku merogoh kunci besi kecil pemberian Ayah dari saku celanaku. Aku memasukkan kunci itu ke dalam lubang selot pintu kayu, lalu memutarnya pelan*KLIK!*Gagang pintu berputar mulus. Aku mendorong pintu kayu itu hingga terbuka, lalu melangkah masuk ke dalam ruang kerja Nikita yang gelap dan dingin.Aku menutup pintu rapat-rapat dari dalam lalu menguncinya. Mengandalkan cahaya lampu senter dari ponselku, aku mengarahkan sorotan
Aku mengambil paket itu lalu membawanya masuk ke dalam ruang pribadiku. Setelah mengunci pintu, aku duduk di sofa dan membuka bungkusan kertas cokelat itu dengan hati-hati. Begitu dus terbuka, dadaku seketika terasa dingin.Di dalam dus itu terdapat selembar kertas berisi tulisan cetak:*'Kalau kamu masih sayang nyawa dan ingin hidup tenang, tutup tempat gym ini, tutup bengkelmu, dan tutup toko bungamu! Pergi dari kota ini sekarang juga!'*Bukan cuma surat ancaman, di dalam kardus itu juga ada foto wajahku yang dicoret-coret menggunakan spidol merah, serta sebuah boneka kain kecil yang ditusuk beberapa jarum pentul di bagian dadanya.Aku meremas kertas ancaman itu dengan geram. Aku yakin paket misterius ini dikirim oleh pria berbekas luka yang kutemui di jalan tadi. Apa sebenarnya mau orang itu? Dia menyuruhku pergi meninggalkan keluargaku, tapi dia juga menekan dan menerorku untuk menutup semua usahaku.Aku melempar boneka dan foto itu ke dalam tempat sampah, lalu berjalan ke kama
Pak Mustakim menghembuskan napas berat, bersandar di sandaran kursi. "Ratna... Ya Tuhan, sudah lama sekali nama itu tidak pernah terdengar... Aris, kenapa kamu mendadak mencari keberadaan Tante Ratna?""Aris sedang berusaha mengumpulkan kebenaran dan bukti-bukti tentang penyebab pasti kematian Ibu saya, Pak," tegasku tanpa ragu. "Aris tahu... Tante Ratna memegang kunci rahasia penting soal kejahatan Ayah saya."Pak Mustakim terdiam membisu selama beberapa detik, mengusap wajahnya yang berkerut. "Dugaanmu tidak salah, Ris... Dulu, setelah Ibumu meninggal secara misterius, Ratna itu memang datang menemui Bapak dalam kondisi sangat ketakutan. Dia bilang, Gunadi dan Yanto mengancam akan membunuhnya kalau dia berani buka suara ke polisi atau media."Dadaku bergemuruh kencang. "Lalu ke mana Tante Ratna pergi waktu itu, Pak?"Pak Mustakim merogoh laci meja kayunya, mengambil sebuah buku catatan lama bertepuk kusam. Beliau membuka lembar demi lembar catatan tua itu di bawah temaram lampu meja
"Bu, apakah jalan raya Padalarang ini maksudnya tempat Bu Ratna tinggal sekarang?" tanyaku menatap cemas baris tulisan tangan di balik foto lusuh itu.Bu Rahma menghembuskan napas panjang, merapikan cangkir teh yang mengepul halus di atas meja. "Itu tempat tinggalnya dulu, Ris. Beberapa tahun lalu Ibu sebenarnya pernah mencoba mencari alamat itu, tapi kata tetangga sebelahnya, Bu Ratna sudah lama pindah dari sana. Menurut informasi yang Ibu dapat, Bu Ratna itu sengaja sering berpindah-pindah tempat tinggal... sepertinya untuk menghindari ancaman dari ayahmu."Aku meremas pinggiran foto tua itu, membayangkan ketakutan dan penderitaan Tante Ratna yang harus hidup terasing dalam bayang-bayang kejaran Pak Gunadi demi menyelamatkan nyawanya."Tapi coba kamu cari tahu lagi saja, Ris," sela suami Bu Rahma menepuk pelan paha atas saya. "Kalau enggak, coba kamu tanyakan pada Pak Mustakim."Aku mengernyitkan dahi, memutar ingatan. "Pak Mustakim? Siapa itu Pak Mustakim, Pak?""Bukannya dia tingg
"Maka dari itu, Mar... Di depan orang-orang, kita harus pura-pura berduka dan tidak tahu apa-apa," kataku meremas jemari tangan Marni di atas meja. "Aku cerita ini sama kamu karena kamu orang yang paling aku percaya saat ini."Marni menatap mataku lekat-lekat, membalas genggaman tanganku erat. "Makasih ya, A, sudah percaya sama Marni... Marni bakal jaga rahasia ini rapat-rapat. A Aris harus hati-hati ya, tetap waspada."Sentuhan dan dukungan tulus Marni membuat rasa lelah di jiwaku menguap seketika. Kami menikmati makan siang bersama dalam suasana yang hangat dan mesra, saling bertukar perhatian sebelum akhirnya kembali ke aktivitas masing-masing.---Selesai makan siang dan mengantar Marni kembali ke showroom, aku meluncur menuju ke toko bunga Kamaris Garden. Aku hanya mampir sebentar untuk mengecek kesiapan dua karyawan baru yang mulai bekerja hari ini. Sinta melaporkan bahwa toko berjalan sangat kondusif dan pasokan bunga mawar segar melimpah.Setelah memastikan Kamaris Garden ama







