LOGINRasa muak, kecewa, dan sakit hati yang teramat sangat membakar seluruh saraf tubuhku. Aku tidak menyangka... Marni, satu-satunya wanita yang paling kupercaya dan kucintai, tega mengkhianatiku di belakangku!Arah kendaraanku melaju tanpa tujuan pasti. Motorku membawaku membelah jalanan pedakian menuju ke daerah perbukitan yang sepi di pinggiran kota.Tiba di sebuah tebing bukit yang terisolasi, aku mematikan mesin motor dan turun dengan langkah gemetaran. Aku berjalan mendekati tepi jurang bukit, menghadap ke arah hamparan pepohonan rindang di bawahnya yang membentang luas dengan pemandangan kota di kejauhan."ARRRRGHHHHHH!"Aku berteriak sekeras-kerasnya ke arah lembah kosong! Suara eranganku menggema memecah heningnya bukit.Air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya menetes basah membasahi pipiku. Dadaku terasa sesak luar biasa, seolah diremas oleh cengkeraman besi yang dingin. Hidupku terasa benar-benar hancur dan berantakan. Ibu kandungku tewas dibunuh secara keji oleh Ayahku sen
Pikiranku benar-benar kalut memikirkan Danu. Tempat ini begitu luas, dan aku tidak tahu harus mencari sepupuku itu ke mana lagi. Danu adalah tipe orang yang impulsif dan mudah tersulut emosi. Jika dia sampai berhasil menemukan keberadaan Ayah dalam kondisi kalap seperti itu, pertumpahan darah yang sangat buruk pasti tidak akan bisa terhindarkan.Aku meminggirkan sepeda motorku di tepi jalan raya yang agak lengang, melepas helm, lalu mengusap wajahku yang basah oleh keringat dingin.Memikirkan situasiku saat ini, aku menyadari satu hal: aku tidak bisa terus-terusan bersembunyi di balik penyamaran. Sebagian orang di luar sana mungkin berpikir aku bersekongkol dengan Ayah atau ikut melarikan diri darinya. Jika aku terus menghilang dan bersembunyi dari publik, tindakan itu justru akan membuat mereka semakin yakin bahwa aku memang bersalah.Namun, untuk kembali dan tinggal di rumah besar milik Ayah juga sudah tidak mungkin lagi bagiku. Rumah itu dipenuhi kenangan kelam, intrik, dan ba
Pergumulan panas ini berlangsung cukup lama dan menguras stamina. Suara gesekan kulit dan hantaman paha kami menggema memenuhi seluruh ruangan. Hingga akhirnya, puncak pelepasan gairah yang tak tertahankan meledak bersamaan."Mar... aku mau keluar!" raungku parau seraya memeluk pinggulnya erat."Keluarkan di dalam, A! Tumpahkan semuanya di dalam Marni!" jerit Marni histeris.CRUUUTTT! CRUUUTT! CRUUTT!Semburan benih kental hangat meluncur kencang bertubi-tubi, membanjiri bagian dalam Marni. Kami berdua terkulai lemas berpelukan di atas tempat tidur, bermandikan peluh keringat. Penyatuan kami sore itu terasa sangat emosional dan menenangkan jiwa, melepaskan seluruh beban berat yang kurasakan selama ini.---Setelah menyelesaikan urusan di gym dan Marni pamit pulang dengan aman, aku menunggangi sepeda motorku untuk menemui Danu. Sudah saatnya aku bertemu dengannya. Aku tahu Danu selama ini bergerilya sendirian mencari keberadaan ibunya, Tante Ratna.Kami berjanji bertemu di sebuah keda
Aku melangkah masuk ke dalam kamar hotel, melepaskan topeng silikon serta riasan penyamaran kakek tua yang menempel di wajahku. Setelah membersihkan diri dengan air hangat, rasa lelah akibat ketegangan di kelab malam tadi perlahan menguap. Aku menyandarkan punggung di tepi kasur, menatap langit-langit kamar sembari menyusun kembali langkahku selanjutnya.Belum sempat aku memejamkan mata, ponsel di atas meja nakas bergetar nyaring. Nama Nikita muncul di layar. Aku menghela napas pelan sebelum menggeser tombol hijau."Aris! Kamu di mana sekarang?!" cecar Nikita langsung tanpa basa-basi. "Mama, Tasya, Vira, dan Tante Rina sekarang ada di apartemen Tante Rina. Kamu cepat ke sini! Kita harus membicarakan langkah untuk membongkar semua kejahatan ayahmu!"Aku mengatur intonasi suaraku agar terdengar tenang dan wajar. "Maaf, Ma. Aku belum bisa ke sana sekarang. Aku lagi sibuk banget mengurus berkas dan pekerjaan kantor di luar yang tidak bisa ditinggal.""Pekerjaan apa lagi sih, Aris?! Ini
Tangan mulusnya merayap naik ke dada kemejaku, mengusapnya pelan sementara bibirnya mendekat membelai pipiku yang keriput."Kakek... wangi banget ya, beda sama kakek-kakek lain. Badan Kakek juga kerasa kekar dan keras banget di balik kemeja ini," puji Laras berbisik nakal, matanya berkilat gairah saat meraba dada berototku di balik kain kusam.Laras makin merapatkan posisinya, mengangkat satu kakinya yang mulus tanpa celana ketat menumpuk di atas pangkuanku, hingga aroma parfum manis bercampur hawa tubuhnya yang hangat menusuk hidungku dari jarak sangat dekat."Kakek... mau main sama Laras di kamar VIP atas tidak? Laras bisa bikin Kakek merasa muda lagi malam ini..." bisiknya dengan nada mendesah penuh pancingan syahwat.Dalam hati, aku menyeringai. Reaksi alami tubuhku sebagai pria muda berotot sempat tergerak oleh sentuhan mulus dan buah dada padat Laras yang terus menggesek lenganku. Tapi dengan kontrol olah napas tenaga dalam yang kupelajari, aku menekan gelombang gairah itu hingg
Tapi di sisi lain, aku tidak boleh hanya duduk berdiam diri di kamar hotel ini. Aku harus tetap bergerak mengintai pergerakan Ayah, Pak Yanto, Pak Andri, serta Nikita dari jarak dekat.Untuk menjalankan pengintaian ini tanpa memicu kecurigaan siapa pun, aku butuh penyamaran yang benar-benar tidak terduga. Penyamaran hanya seperti biasanya sudah terlalu biasa. Kali ini, aku memutuskan untuk menyamar menjadi seorang kakek-kakek tua yang bongkok.Aku merogoh tas ranselku, mengeluarkan peralatan rias khusus, topeng silikon tipis pengubah tekstur kulit, pewarna rambut abu-abu perak, serta pakaian kusam berukuran agak longgar. Menggunakan cermin di kamar mandi, aku mulai memoles wajahku. Kulit mulusku kuubah menjadi keriput bergaris-garis tegas, rambutku kupoles menjadi penuh uban, dan kupluk rajut tua kupasang di kepala. Tak lupa, kumasukkan sedikit kain khusus di pipi dalam untuk mengubah bentuk rahang dan membuat suaraku terdengar serak gemetaran khas pria lansia.Aku mengenakan kemeja







