Share

Bab 48. Rumah Risma

last update publish date: 2026-03-18 15:57:02

"Kita ke wahana permainan ya, Ris. Kamu harus senang-senang hari ini," kataku sambil menggenggam tangannya saat kami sudah berada di dalam mobil.

Risma hanya mengangguk malu-malu, matanya terus berbinar menatap interior mobil.

Begitu sampai di pusat kota, aku membawanya ke sebuah taman hiburan besar.

Suara musik yang ceria, teriakan pengunjung di wahana ekstrem, dan aroma kembang gula menyambut kami.

Kami mencoba hampir semua wahana, mulai dari komidi putar yang romantis hingga roller coas
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 409. Marni di culik

    Marni yang ketakutan langsung meneleponku dengan suara bergetar sambil menangis histeris. Mendengar kabar itu, aku langsung meninggalkan urusanku di gym dan meluncur kencang menuju showroom dalam waktu kurang dari lima belas menit.Sesampainya di ruangan Marni, aku mendapati wanita itu sedang duduk memeluk lututnya di sofa kantor, wajahnya pucat pasi dengan air mata yang membasahi pipinya. Kotak berisi boneka mengerikan itu masih tergeletak di atas meja."Mar, tenang... ada apa? Coba cerita sama aku," kataku merengkuh tubuhnya yang gemetaran ke dalam pelukanku.Marni menyerahkan secarik kertas ancaman itu kepadaku. "A... A Aris... Marni takut... Ada orang yang terus meneror Marni sejak beberapa hari lalu. Dia suruh Marni menjauh dan putusin Aa..."Aku membaca tulisan di kertas itu dengan tatapan mata yang menyipit tajam. Amarah yang sempat padam akibat kedamaian hidup baru kami mendadak tersulut kembali. Ada seseorang di luar sana yang sengaja ingin merusak kebahagiaan kami dan mene

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 408. Ancaman pada Marni

    Ciuman lembut itu seketika berubah menjadi luapan gairah yang membakar. Tanganku merengkuh pinggangnya erat, mengangkat tubuh Marni dengan mudah, membawanya melangkah menaiki anak tangga menuju kamar utama di lantai dua.Suasana malam di rumah baru kami terasa begitu sunyi dan privat, menjadi saksi bisu atas puncak kerinduan yang selama ini kami pendam.Setibanya di dalam kamar yang diterpa temaram lampu tidur, aku membaringkan tubuh molek Marni di atas kasur empuk yang tertata rapi. Tanpa membuang waktu, tangan kami saling bergerak cepat, melepaskan setiap helai pakaian yang menempel di tubuh masing-masing. Dalam hitungan detik, pakaian kami terlempar berserakan ke lantai, meninggalkan tubuh kami berdua polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi kulit.Kutatap lekuk tubuh Marni di bawahku. Kulitnya yang putih bersih, dadanya yang padat berisi, serta lekukan pinggulnya yang indah membuat mataku dimanjakan oleh keindahan visual yang luar biasa."Ahhh A Aris... mmmhh terus A," des

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 407. Dia milikku

    "Sudah, Nak Aris tidak perlu berkecil hati memikirkan hal itu," hibur ibu Marni penuh pengertian. "Meskipun orang tuamu tidak ada, anggap saja Bapak dan Ibu di sini sebagai orang tuamu sendiri. Nanti urusan perwakilan keluarga saat lamaran resmi, serahkan saja pada kami. Kami yang akan mengurus semuanya."Rasa haru yang luar biasa menghantam dadaku. Aku mengangguk hormat, merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan keluarga Marni yang begitu luas hati dan penuh kasih sayang.Menjelang siang, kami berenam menikmati makan siang bersama di ruang makan dengan menu masakan rumahan buatan ibu Marni yang sangat lezat. Obrolan hangat terus mengalir sepanjang makan siang.Selesai makan siang dan mengobrol cukup lama, aku meminta izin kepada kedua orang tua Marni untuk membawa putri mereka keluar berjalan-jalan sebentar."Silakan, Nak Aris. Bawa Marni jalan-jalan dulu biar tidak jenuh di rumah," izin ayah Marni tersenyum.Marni berpamitan pada orangtunya, lalu kami berdua melangkah keluar menuj

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 406. Menemui orang tua Marni

    Keputusan telah bulat di dalam benakku. Aku akan menyerahkan urusan perburuan Ayah sepenuhnya kepada pihak kepolisian dan interpol. Memaksakan diri mengejarnya sampai ke Johor Bahru hanya akan mengorbankan masa depan dan hidupku yang baru saja mulai tertata rapi. Dendam itu tidak ada gunanya lagi jika harus dibayar dengan kehancuran diriku sendiri.Aku memutuskan untuk melepaskan beban kebencian itu. Biarlah hukum dan takdir yang mengadili kejahatan Ayah. Kini, hidupku bukan lagi tentang pelarian, rasa cemas, atau balas dendam. Hidupku adalah tentang masa depan, kedamaian, dan orang-orang tulus yang masih bertahan di sisiku terutama Marni.Hari Minggu tiba dengan cuaca yang sangat cerah. Pagi itu, sekitar pukul sembilan pagi, aku memacu mobilku menuju ke kediaman Marni. Berbeda dari hari-hari sebelumnya di mana aku hanya mengantarnya sampai di gerbang depan rumah atau sudut jalan saja, kali ini aku membulatkan tekad untuk melangkah masuk secara resmi. Aku mengenakan kemeja rapi

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 405. Info persembunyian Ayah

    "Saya memutuskan untuk menjual seluruh aset bersih, menyelesaikannya secara likuidasi, dan menutup perusahaan ini secara permanen," tegas keputusanku. "Semua dana hasil penjualan aset yang tersisa nanti akan kita gunakan untuk membayar hak pesangon penuh seluruh karyawan yang mengundurkan diri, melunasi kewajiban utang tersisa, dan sisanya akan kita salurkan sepenuhnya ke lembaga amfial serta yayasan panti asuhan atas nama para korban."Para staf rapat terdiam membisu, lalu satu per satu mengangguk setuju dengan raut lega atas keputusan bijaksana tersebut."Keputusan yang sangat tepat, Mas Aris," kata Pak Deni menghela napas lega. "Dengan begitu, tidak ada lagi beban utang atau masalah yang menggantung.""Mengenai rumah milik Ayah yang saat ini disegel polisi," lanjutku berdiri dari kursi rapat, "setelah proses pemeriksaan polisi selesai nanti, saya juga berniat untuk menjual tanah dan bangunan rumah itu sepenuhnya. Saya tidak mau ada satu pun peninggalan Ayah yang menyisa di dalam hi

  • Pelayan Ibu Tiri dan Dua Putri Cantiknya   Bab 404. Bisnis Ayah bangkrut

    "Danu gak apa-apa, Nek... Danu sudah sembuh," bisik Danu dengan suara parau.Aku melangkah mendekati mereka seraya membawakan tas pakaian Danu. Nenek Hana mengusap air matanya, lalu menatap raut wajahku dengan pandangan bertanya."Nek, kenalkan... ini Aris," kata Danu memperkenalkan. "Aris ini anak dari almarhumah Tante Kamila... Dialah yang merawat dan mengurus Danu selama di rumah sakit."Mendengar nama 'Kamila', mata Nenek Hana seketika berbinar haru yang luar biasa. Beliau memegang kedua tanganku dengan jemarinya yang hangat dan gemetaran."Gusti... Anak dari Kamila..." ucap Nenek Hana terenyuh, memeluk bahuku sekilas. "Wajahmu mirip sekali dengan ibumu sewaktu muda, Nak... Terima kasih banyak ya, Aris, kamu sudah menjaga Danu..."Nenek Hana memanggil kami berdua masuk ke dalam rumah panggungnya yang sangat bersih dan harum oleh aroma rempah-rempah kue basah.Sembari menyajikan teh manis hangat dan piring berisi soto ayam mendidih serta kue-kue tradisional yang lezat, Nenek Hana m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status