로그인Melihat pesan tulus dari Bagas, aku langsung mengetik balasan.[Bisa, tapi mungkin sore nanti, kabari saja. Sekalian aku juga ada yang ingin aku bicarakan.]Tak butuh waktu lama, Bagas langsung membalasnya kembali.[Ok deh Kak, besok sore kita ketemu di depan kampusku ya.]Aku mengunci layar ponsel. Besok jadwal pergerakanku cukup padat. Aku ingin bertemu dengan Bu Rahma, lalu sorenya bertemu dengan Bagas, sementara aku sendiri belum tahu pasti jam berapa Nikita dan rombongannya akan tiba. Aku harus memikirkan alasan yang masuk akal agar aku tidak ikut terlibat langsung dalam acara pembongkaran rahasia Ayah yang akan dilakukan Nikita di depan media nanti.Pagi harinya, suasana di rumah mewah ini terasa sangat sepi dan hening. Tidak seperti pagi-pagi biasanya saat rumah ini masih ramai oleh pertengkaran atau ocehan sinis. Di rumah sebesar ini sekarang hanya ada aku dan Bi Inah saja, pantas saja terasa sangat senyap.Meskipun Marni dan para karyawan di toko bunga serta gym sudah tahu
Marni mengenakan gaun santai warna krem yang membuatnya tampak sangat cantik dan anggun. Wajahnya merona gembira setiap kali menatapku."A Aris kelihatan cape banget hari ini... Ada masalah lagi ya, A?" tanya Marni lembut sembari memegang jemari tanganku di atas meja.Aku menyunggingkan senyum hangat, meremas jemari tangannya yang halus. "Cuma cape pikiran saja, Mar. Tapi begitu melihat kamu, rasa capenya langsung hilang semua."Marni tertawa manja, pipinya memerah. "A Aris pinter banget bikin Marni meleleh..."Kami memesan dua cangkir kopi dan beberapa piring makanan ringan. Kami menghabiskan waktu sore hingga malam beranjak melintasi obrolan-obrolan hangat, tawa ringan, dan gurauan manis. Marni menceritakan kejadian-kejadian lucu di showroom selama aku tidak ada, sementara aku menikmati setiap detik suara merdunya yang seolah menghempas seluruh bayangan hitam laboratorium bawah tanah dari kepalaku.Saat malam makin larut dan kerlap-kerlip lampu kota menghiasi jalanan, kami berjalan
Selain foto dan video dokumentasi horor yang tak sanggup kuputar sampai habis, komputer tua ini juga menyimpan bukti lengkap penggelapan pajak puluhan miliar, rekayasa kepailitan perusahaan rekanan, jalur penyelundupan obat-obatan terlarang jenis narkotika sintetis, hingga daftar rekening penampungan gelap di luar negeri yang memakai nama-nama samaran.Seluruh rekam jejak kejahatan Ayah dan kelompoknya terdokumentasi dengan sangat rapi dan detail di dalam PC tua ini!"Sial... aku harus menyalin semua data ini!" batinku.Aku teringat pada Pak Andri yang kabur tadi. Aku mendekati pintu kayu di dekat lemari, memutar gagangnya, dan melangkah masuk ke dalam lorong semen dengan lampu dinding remang-remang. Lorong ini cukup panjang dan menanjak. Di ujung lorong, terdapat sebuah pintu kayu berengsel besi yang terkunci dari dalam.Dengan sentakan halus tenaga dalam, selot besi itu terbuka. Kudorong pintunya keluar, dan cahaya matahari sore menyengat mataku.Aku terperanjat kaget begitu melihat
Bahkan Vira dan Tasya, yang sewaktu aku pertama kali kembali ke rumah ini selalu bersikap dingin, menghina, memfitnah, dan menganggapku sebagai benalu, rupanya rela bersikap manis di depan Ayah hanya agar kran uang dan fasilitas mewah tetap mengalir ke tangan mereka!Gagasan bahwa Nikita dan kedua anaknya adalah korban murni yang polos seketika runtuh di dalam kepalaku. Mereka semua pada dasarnya sama saja; sama-sama haus akan harta kekayaan Ayah!Awal aku pergi dari rumah ini dulu adalah karena aku tidak tahan dengan perlakuan jahat, fitnah, dan hinaan Nikita serta Tasya dan Vira. Jika nanti Ayah berhasil ditangkap dan dijebloskan ke penjara, tidak menutup kemungkinan Nikita akan berusaha menguasai seluruh aset tersebut dan berusaha menyingkirkanku agar harta Ayah tidak jatuh ke tanganku!"Aku tidak boleh percaya begitu saja pada Nikita..." batinku menegaskan rasa waspada. "Di dunia gila ini, tidak ada aliansi yang murni tanpa kepentingan."Namun untuk saat ini, target utamaku adala
Kubuka kedua paha mulusnya lebar-lebar, memposisikan ujung si Gatot yang panas di bibir intimnya yang licin. Dengan satu sentakan pinggul bertenaga, kuhantamkan si Gatot amblas menembus bagian intinya yang paling dalam!JLEBBB-PLOKKK!"AAAAAGHHH! A ARISSS!" jerit Marni melengkungkan punggungnya, membiarkan buah dadanya membalun indah di udara saat rahimnya kembali tertembus sempurna.Aku memacu pinggulku secara bertahap. Gerakan awal yang pelan dan dalam perlahan berubah menjadi dorongan-dorongan bertenaga tinggi yang sangat cepat dan brutal. Suara gesekan kulit dan hantaman paha kami menggema memenuhi seluruh sudut kamar.PLOK... PLOK... PLOK... PLOK!"Ahh... Ahh... Ahh! Hajar terus, A! Tumbuk terus di dalam!" raung Marni mencengkeram sprei kencang-kencang, matanya terpejam dalam kepuasan tiada tara.Penyatuan gila ini berlangsung sangat panas dan menguras stamina. Kami tidak berhenti hanya pada satu posisi. Dari missionary, kami berganti ke posisi doggy style, hingga duduk mema
Bi Inah yang melihat kehadiran Marni bersikap sangat ramah dan membawakan dua cangkir teh hangat untuk kami.Di tengah perbincangan hangat kami bertiga di ruang tengah, ponselku kembali bergetar pelan. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk, berisikan sebaris kalimat dan lampiran titik lokasi:[Aris, ini Mama. Mama, Tante Rina, Tasya, dan Vira sekarang ada di tempat aman di luar kota. Mama lihat berita TV, bersyukur kamu selamat dari Budi. Ini alamat rumah aman kami. Kalau situasi sudah memungkinkan, kamu datang ke sini ya. Ada hal yang sangat penting yang ingin Mama bicarakan.]Membaca pesan dari Nikita tersebut, membuat lega. Seenggaknya mereka semua aman, jangan sampai Ayah tahu jika mereka tidak pergi ke luar negeri.Sementara itu, aku senang ada Marni yang menemaniku malam ini."Tapi apa kamu sudah izin pada orangtuamu?" tanyaku menatap mata Marni yang jernih."Mmm sebenarnya aku izin mau ke rumah teman, A. Aku kepikiran Aa terus dari kemarin. Aku sudah lihat tentang berita







