Teilen

Bab 35

last update Veröffentlichungsdatum: 14.04.2026 21:50:32

Emily memacu kudanya beberapa langkah di belakang Kael, sementara matanya terus waspada memperhatikan punggung tegap sang Duke.

Tidak ada obrolan. Kael bukan tipe pria yang suka berbasa-basi saat berburu; baginya, ini adalah tugas efisiensi, bukan rekreasi.

Kael tiba-tiba mengangkat tangan, memberi isyarat agar Emily berhenti. Ia turun dari kuda dengan gerakan yang sangat halus, hampir tanpa suara. Tanpa sepatah kata pun, ia mengambil busur besar dari pelana dan memasang satu anak panah.

Sekita
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 88

    Jantung Emily serasa berhenti berdetak saat jemarinya baru saja menyentuh tepian kertas yang kasar dan berbau sangit itu.Belum sempat ia membuka lipatan yang menyimpan rahasia tersebut, suara debuman pintu yang menghantam dinding membuyarkan segalanya.“Apa yang kau lakukan, Elian?! Kau pikir kamar ini tempat untuk melamun?”Ben, pelayan senior yang dikenal dengan kedisiplinannya yang tiran, melangkah masuk. Wajahnya yang kemerahan tampak semakin garang di bawah cahaya lampu dinding. Ia memegang kemoceng bulu ayam seolah itu adalah tongkat komando.“Maaf, Tuan Ben. Saya hanya... saya sedang merapikan jas Tuan Duke,” sahut Emily dengan suara yang diusahakan tetap stabil, meski telapak tangannya mulai berkeringat dingin.Ia mencoba melipat jas itu sedemikian rupa agar kertas di sakunya tertutup kain wol tebal tersebut.Ben mendengus kasar, langkah botnya berdentum di atas lantai kayu ek saat ia mendekat.“Merapikan? Kau sudah berada di sini selama hampir satu jam! Aku sudah menyelesaik

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 87

    Sinar matahari yang pucat menerobos melalui celah gorden beledu berat, menciptakan garis-garis debu yang menari di atas lantai kayu ek yang dipoles hingga mengilap.Emily melangkah masuk ke dalam kamar pribadi Duke Kael dengan langkah yang diredam, membawa ember kayu dan kain pembersih. Hawa dingin langsung menyambutnya, sebuah sensasi yang tidak berasal dari cuaca di luar, melainkan dari aura ruangan itu sendiri.“Kamar ini... benar-benar seperti pemiliknya,” gumam Emily pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh keheningan yang tebal.Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang dipenuhi furnitur bergaya Victoria yang kaku. Lemari besar dengan ukiran malaikat yang tampak sedang meratapi sesuatu, serta ranjang bertiang empat yang ditutupi sprei satin berwarna hitam pekat.Semuanya terlihat sangat mahal, sangat tertata, namun sama sekali tidak memiliki nyawa. Tidak ada bunga, tidak ada buku yang dibiarkan terbuka, tidak ada noda kopi di atas meja, hanya keteraturan yang mencekam.“B

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 86

    Lucian terdiam sejenak, namun raut wajahnya mendadak berubah drastis. Sorot matanya yang biasanya teduh kini berkilat tajam, memantulkan api dari lampu minyak yang bergetar di atas meja.Ia menggebrak meja kayu itu dengan kepalan tangannya, menciptakan suara dentuman yang cukup keras hingga membuat Emily tersentak.“Cukup, Emily! Hentikan omong kosong ini!” suara Lucian meninggi, penuh dengan amarah yang bergetar karena rasa sayang yang mendalam.“Tapi Lucian, aku—”“Kau apa? Kau lelah? Kau ingin menyerah?” potong Lucian dengan nada pedas. Ia berdiri dari kursinya, bayangannya memanjang di dinding kamarnya yang sempit, tampak seperti raksasa yang sedang murka.“Dengar baik-baik, Gadis Dawson! Aku tidak mengkhianati sumpahku pada mendiang ayahmu, aku tidak mempertaruhkan leherku setiap hari di kastil terkutuk ini, hanya untuk melihatmu merengek seperti pengecut di tepi ranjang!”Emily terpaku, matanya membelalak menatap pria yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri itu. Ia belum p

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 85

    Sudah larut malam dan Emily masih berada di dalam sana. Dia sedang berdiri mematung, menatap kegelapan hutan Ravenshire yang tampak seperti lautan tinta tanpa ujung.Tidak ada bintang yang berani menampakkan diri malam ini, seolah langit pun ikut berduka atau mungkin malu menyaksikan sandiwara yang sedang ia mainkan.“Sampai kapan, Elian?” bisik Emily pada pantulan wajahnya yang samar di kaca jendela. “Atau harus kupanggil kau Emily? Gadis yang bahkan tidak berani mengenakan gaunnya sendiri.”Ia menyentuh kerah kasar kemeja pelayannya, merasakan betapa kain itu telah mencekik identitasnya selama berbulan-bulan.Menjadi Elian berarti harus menelan harga diri, berjalan dengan bahu merosot, dan menunduk di hadapan pria yang paling ia benci di muka bumi ini.Namun, menjadi Emily berarti kematian atau yang lebih buruk, menjadi pion di bawah kaki Duke Kael yang tanpa ampun.“Kael bukan sekadar pria,” batinnya sambil mengepalkan tangan hingga kuku-kukunya memutih.“Dia adalah hukum di sini.

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 84

    Kesunyian yang ditinggalkan Ben terasa lebih menyesakkan daripada kepanikan saat bersembunyi tadi. Emily kemudian merangkak keluar dari bawah meja dengan gerakan lambat, tulang-tulangnya terasa kaku akibat ketegangan yang luar biasa.Begitu punggungnya menyentuh deretan lemari buku mahoni yang menjulang hingga ke langit-langit, pertahanannya runtuh. Ia merosot jatuh, terduduk di atas lantai marmer yang dingin, lalu memeluk lututnya erat-erat.Di ruangan yang megah ini, di tengah simbol kekuasaan pria yang membenci darah dagingnya, Emily merasa seperti debu yang tak berarti. Isak tangis yang sejak tadi ia tahan kini pecah, meski ia berusaha meredamnya dengan menggigit punggung tangannya sendiri.“Kenapa begitu rapi?” rintihnya pelan, air matanya jatuh membasahi kerah seragam pelayan pria yang terasa mencekik. “Kenapa tidak ada satu pun celah? Ayah... apakah kebenaran memang sengaja dikubur sedalam ini?”Suara isakannya memantul di dinding-dinding tinggi, terdengar menyedihkan di antara

  • Pelayan Kesayangan Tuan Duke   Bab 83

    Emily yang mulai lelah setelah pencarian yang belum menemukan hasil. Ia membolak-balik lembar demi lembar perkamen tebal dengan jemari yang terasa kaku.Setiap dokumen audit tambang, setiap kuitansi pengapalan batubara, hingga rincian pajak wilayah tahun 1900-an itu disusun dengan presisi yang mengerikan. Tidak ada coretan yang tidak perlu, tidak ada stempel yang miring.“Ini mustahil,” gumam Emily, suaranya nyaris hilang di antara tumpukan kertas. “Bagaimana mungkin sebuah kejahatan besar bisa terlihat sebersih ini? Seolah-olah Ayah memang seorang pengkhianat yang sempurna, atau...”“Atau Kael jauh lebih rapi dalam menyusun kebohongan ini daripada yang aku duga,” ia melanjutkan monolognya sendiri, napasnya memburu.Ia memeriksa sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang berisi daftar aset Dawson. Jemarinya meraba stempel resmi kerajaan di atasnya.Ia mencari anomali, mungkin perbedaan ukuran huruf atau jenis tinta yang digunakan pada era tersebut, namun semuanya tampak asli. Keputusa

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status