MasukHawa panas yang menyesakkan menyambar wajah Emily saat ia mencoba menerobos koridor yang kini dipenuhi lidah api. Asap hitam pekat menggulung di langit-langit, turun perlahan seperti tirai maut yang siap mencekik siapa pun di bawahnya.Emily menutup hidung dan mulutnya dengan sobekan celemek, namun rasa panas itu tetap menembus hingga ke paru-parunya, membuat setiap tarikan napas terasa seperti menelan bara.“Sedikit lagi, Emily! Jangan berhenti!” teriak Lucian, suaranya parau karena asap.“Aku di belakangmu!” sahut Emily, suaranya nyaris hilang di tengah deru api yang melahap kayu kering.Lantai di bawah kaki mereka bergetar hebat. Struktur bangunan tua dari awal abad ke-20 ini tidak dirancang untuk menahan suhu seekstrim ini.Minyak tanah yang disiramkan para prajurit Kael telah meresap jauh ke dalam pori-pori kayu, menciptakan jalur api yang bergerak lebih cepat daripada langkah kaki mereka.“Pintu samping itu! Lihat, cahayanya sudah dekat!” Lucian menunjuk ke sebuah ambang pintu k
Langkah kaki di tangga kayu itu semakin dekat, menciptakan derit yang seolah menghitung sisa waktu hidup mereka. Emily mencengkeram lengan baju Lucian, matanya terpaku pada bayangan yang perlahan turun ke ruang arsip.Namun, alih-alih sosok pengawal Kael dengan baju zirah gemerincing, yang muncul adalah seorang pria dengan napas tersengal dan pakaian hitam yang compang-camping.“Jacob?” bisik Emily, nyaris tak terdengar.Pria itu tersentak, tangannya yang memegang belati segera terangkat sebelum ia mengenali wajah Emily di balik temaram cahaya api yang mulai merayap dari jendela luar. Jacob, tangan kanan Johan yang paling dipercaya segera menghampiri mereka dengan langkah terburu-buru.“Nona Emily? Apa yang Anda lakukan di sini?” suara Jacob serak, penuh dengan ketegangan yang nyata. “Anda harus pergi. Sekarang juga!”“Jacob, dokumennya!” Emily mengabaikan peringatan itu, tangannya menunjuk ke laci rahasia yang baru saja ia temukan.“Aku menemukannya, tapi lacinya kosong. Di mana doku
Emily merunduk rendah, memanfaatkan bayangan pilar batu untuk menghindari sorot mata para pengawal yang sibuk mengangkat tong minyak terakhir. Bau menyengat minyak tanah sudah merayap masuk ke paru-parunya, sebuah peringatan bisu bahwa waktu adalah kemewahan yang tidak ia miliki.Dengan gerakan gesit, ia memanjat bingkai jendela samping yang kayu-kayunya sudah rapuh dimakan usia, lalu melompat masuk ke dalam kegelapan gedung.Suasana di dalam jauh lebih mencekam daripada yang ia bayangkan. Udara terasa berat, penuh dengan debu yang beterbangan dan bau apak dari kertas-kertas yang membusuk selama bertahun-tahun.Cahaya bulan hanya masuk dalam garis-garis tipis melalui celah atap yang bocor. Emily melangkah dengan hati-hati, berusaha agar kakinya tidak menginjak pecahan kaca yang berserakan.Tepat saat ia melewati deretan lemari kayu besar, sebuah tangan kekar tiba-tiba muncul dari kegelapan dan membekap mulutnya dengan keras.“Mmpff—!”Emily meronta, jantungnya seolah ingin melompat ke
Gedung Bea Cukai Lama itu berdiri seperti raksasa yang sekarat di ujung dermaga. Pilar-pilar batunya yang bergaya kolonial telah menghitam akibat polusi jelaga dan kelembapan laut selama puluhan tahun.Suasana di sana sunyi, hanya deru angin laut yang membawa bau amis dan kayu busuk. Emily turun dari kudanya, menatap fasad bangunan yang tampak angker di bawah cahaya bulan yang tertutup awan tipis.“Sisir setiap lantai!” perintah Kael. Suaranya memecah keheningan malam dengan otoritas yang tak terbantahkan. “Jangan biarkan satu tikus pun meloloskan diri. Jika kalian menemukan Johan, bawa dia hidup-hidup padaku.”Para prajurit bergerak cepat, mendobrak pintu jati besar yang sudah lapuk dengan sekali hantam. Mereka masuk dengan obor di tangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari di dinding.Emily mengikuti di belakang Kael, langkah kakinya terasa berat di atas lantai marmer yang retak dan berdebu. Namun, setelah pencarian selama lima belas menit, gedung itu tetap membisu. T
Suara denting baja yang beradu dengan logam memenuhi lorong sempit itu saat bayangan pertama menerjang dari kegelapan. Kael tidak menghindar.Dengan satu gerakan fluid yang sangat cepat, ia memutar tubuhnya, membiarkan bilah pedang lawan lewat hanya beberapa sentimeter dari dadanya, lalu menghunjamkan pedangnya sendiri tepat ke celah pelindung leher penyerang itu.“Satu,” gumam Kael dingin.Emily memejamkan mata, memalingkan wajah saat darah memuncrat ke dinding bata yang berlumut. Namun, kekacauan tidak berhenti di sana.Puluhan perampok turun dari tangga besi bangunan, berteriak liar sambil mengayunkan parang dan belati. Para prajurit Kael segera bergerak seperti mesin perang yang terlumuri minyak; setiap ayunan pedang mereka berarti satu nyawa melayang.“Vane! Ambil sisi kiri, jangan biarkan ada yang memanjat kembali!” perintah Kael sambil menebas tangan lawan yang mencoba meraih tali kekang kuda Emily.“Siap, Tuan Duke!” Vane menerjang maju, menabrakkan perisainya ke kerumunan pen
Kuda-kuda dalam rombongan itu mendengus gelisah, langkah kaki mereka bergema di atas jalanan berbatu distrik selatan yang lembap.Kabut tebal yang bercampur dengan jelaga batubara dari pabrik-pabrik jauh, menyelimuti lorong sempit itu hingga jarak pandang hanya tersisa beberapa meter.Lampu-lampu gas di dinding bangunan kumuh itu berkedip lemah, tidak cukup kuat untuk menembus kegelapan yang menekan.“Tetap dalam barisan!” perintah Vane dengan suara rendah namun tegas.Emily merapatkan jubahnya, jemarinya mencengkeram tali kekang kuda dengan buku jari yang memutih. Tepat saat mereka melewati sebuah bangunan gudang tua yang jendelanya sudah pecah, suara siulan tajam membelah udara.Zing! Zing!“Serangan!” teriak salah satu pengawal di depan.Rentetan anak panah melesat dari kegelapan lantai atas bangunan-bangunan kumuh di sisi kiri dan kanan. Emily tersentak kaget, kudanya meringkik dan berdiri di atas dua kaki belakangnya. Gadis itu hampir saja terlempar ke aspal basah jika tidak sege







