Home / Fantasi / Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju / 1. Persembahan Untuk Pangeran

Share

Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju
Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju
Author: Rosa Rasyidin

1. Persembahan Untuk Pangeran

Author: Rosa Rasyidin
last update Last Updated: 2025-11-15 21:10:45

Dinasti Hanlu

“Lian Ruo, berlututlah!” Suara Lian Zhen bergema di tengah halaman desa yang mulai turun salju.

Semua mata menatap gadis berusia 16 tahun itu dengan iba. Di hadapannya berdiri kereta hitam berhias lambang naga perak, simbol milik Pangeran Kedua, penguasa Istana Utara yang terkenal kejam, dingin dan tak berperasaan.

“Ayah, kenapa harus aku?” Lian Ruo gemetar. “Aku belum menikah, aku masih—” Ia berusaha memegang pakaian ayahnya dengan tangan yang menggigil. Kemudian tamparan keras mendarat di pipinya.

“Diam! Jika bukan kau yang dikorbankan, seluruh keluarga kita akan mati, seluruh dinasti ini akan hancur dan habis sudah keturunanku di masa mendatang!” Lian Zhen kemudian menunduk pada prajurit berpakaian hitam di sisi kereta.

“Tuan, anakku sudah siap menjadi persembahan bagi Pangeran Shen Yuan.”

Lian Ruo terpaku. Dadanya semakin bergemuruh. Tidak mungkin ia akan dikorbankan dengan keji untuk lelaki dingin itu. Lian Ruo juga sudah punya kekasih yang berjanji akan melamarnya usai musim dingin.

“Pangeran? Persembahan? Tidak, aku tidak mau, lebih baik aku mati saja!” Lian Ruo menatap pengawal itu dengan tajam.

Salah satu pengawal membalas tatapannya. “Berani kau menghina Pangeran Kedua? Kau tunggu saja, nanti juga kau akan mati.” Pengawal itu menarik rambut Lian Ruo, dan memaksanya berlutut.

“Lepaskan aku!” teriak gadis malang itu. Salju turun makin lebat, menambah dingin di hati Lian Ruo atas pengkhianatan yang dilakukan oleh ayahnya sendiri.

Beberapa jam kemudian, kereta berhenti di depan gerbang batu besar. Sebuah istana warna putih berdiri dan terlihat dilapisi salju meski musim dingin belum sepenuhnya turun.

“Keluar!” kata pengawal dengan kasar.

Lian Ruo menggigit bibirnya. Tangannya terasa sangat dingin, lututnya pun lemas. Ia melangkah turun dan pada saat itu, petir terlihat menyambar langit, dan membuat semua prajurit mundur ketakutan.

“Pertanda buruk,” bisik salah satu dari mereka. “Kutukannya bangkit lagi.”

Lian Ruo hanya bisa menggenggam rok panjangnya saja. Ia tahu akan segera mati dan ia tak mau hal itu terjadi. Gadis dengan pipi tembem itu akan mencari segala cara untuk melarikan diri dari istana es. Setelah suasana tenang dan petir tak lagi menyambar para pengawal menyeret paksa Lian Ruo untuk masuk.

Di dalam aula istana, suasana dingin sangat terasa. Lilin-lilin membeku tanpa nyala api. Di atas singgasana, seorang pria berpakaian putih duduk dengan postur tegak. Separuh wajahnya tertutup topeng perak. Ia pemilik istana itu dan namanya Pangeran Shen Yuan.

“Siapa gadis ini?” Pangeran Shen Yuan mengembuskan napas dan asap tipis terlihat keluar dari bibirnya.

“Pangeran Kedua, ini persembahan dari Desa Linxi,” jawab Nyonya Ming dengan hormat. “Mereka memohon agar Pangeran tidak menghancurkan desa itu.”

Shen Yuan menatap gadis yang berlutut itus sambil tersenyum. “Namamu?”

“Babi gendut,” jawab Lian Ruo tak sopan.

Ruangan seketika membeku. Semua pelayan menunduk.

“Hei, hati-hati dengan perkataanmu!” Nyonya Ming terlihat pucat pasi.

“Iya, terlihat dari pipimu yang berisi, kau pasti banyak makan di rumah dan tak berguna karena itu ditumbalkan oleh kedua orang tuamu.” Shen Yuan mengelus topeng peraknya.

“Aku berani menolak siapa pun yang memperlakukan manusia seperti hewan.” Lian Ruo sengaja menatap Pangeran Kedua dengan tajam.

Semua pengawal menghunus pedang ke leher Lian Ruo. Pangeran mengangkat tangan, memberi isyarat agar tidak ada yang menyerang gadis bermulut tajam itu.

Pangeran bangkit perlahan dari singgasananya dan berjalan mendekat. Langkahnya tegap, tapi setiap pijakan membuat udara di sekitarnya menjadi lebih dingin.

Ketika ia berdiri tepat di depan Lian Ruo, jarak mereka hanya sejengkal. Embusan napasnya terasa sangat dingin di kulit gadis itu.

“Apakah orang tuamu tak mengatakan bagaimana kejinya aku?” kata pangeran dingin. “Tapi kau bahkan tidak gemetar sedikitpun.”

“Aku mencintai lelaki lain, kami berjanji akan segera menikah.” Mata Lian Ruo berani menatap balik, meski tubuhnya menggigil.

“Menarik, besok cari lelaki itu dan bunuh.” Pangeran kedua telah memberi perintah. Lian Ruo memohon tapi semua terlambat.

Malam itu, Lian Ruo ditempatkan di paviliun kecil di belakang istana. Api di tungku menyala kecil sekali. Nyonya Ming datang membawakan gadis itu sebuah selimut tebal. Sudah biasa seperti itu.

“Kenapa pangeran belum juga membunuhku?” tanya Lian Ruo perlahan.

Nyonya Ming menatapnya dengan iba. “Tidak ada yang tahu isi hati Pangeran. Tapi aku sarankan jangan mendekatinya. Dia sebenarnya tidak terlalu suka dengan perempuan.”

“Dia menyukai laki-laki? Sebab itu tidak ada pelayan perempuan di sini, kalau begitu semua perempuan yang dibawa ke sini, benar-benar mati?”

“Shuuut, diamlah, kau ini banyak bicara sejak pertama datang. Jaga mulutmu kalau mau selamat.” Nyonya Ming pergi.

Lian Ruo duduk termenung di dekat jendela. Salju turun lagi, tapi entah kenapa, kepalanya terasa berat.

Dunia terasa berputar sangat cepat. Tiba-tiba terdengar bunyi mesin, cahaya terang terlihat, dan bau alkohol dari ruang unit gawat darurat melintas di kepalanya.

“Apa ini?” Lian Ruo sesak napas.

“Pasien kehilangan nadi! Lanjutkan kompresi dada!” Suara itu memenuhi telinga Lian Ruo.

Gadis itu menjerit dan memegang kepalanya. Ingatan tak jelas membanjiri kepalanya. Ia melihat dirinya memakai jas dokter, ruang operasi, dan terjadi sebuah ledakan. Ketika tersadar lagi, ia berbaring di lantai paviliun.

“Ini bukan mimpi?” gumamnya. “Aku sudah mati dan tiba-tiba berada di tubuh gadis ini?”

Pintu terbuka. Shen Yuan berdiri di hadapan Lian Ruo dan menatapnya dengan mata abu-abu.

“Kau berani menjerit!” bentak pangeran. “Apakah kau melihat mimpi buruk?”

“Lebih buruk dari mimpi buruk,” jawabnya, sambil terengah. “Aku tak tahu kenapa aku di sini.”

Pangeran berjalan cepat dan berhenti tepat di hadapannya. “Semua tahu jika kau datang untuk menjadi persembahan, cepat atau lambat kau akan mati setelah kekasihmu aku tebas kepalanya.”

Tubuh Lian Ruo yang kini dihuni oleh seseorang dari masa depan masih terpaku. “Aku tidak pernah punya kekasih, sampai aku berumur kepala empat, aku kaku dan tidak cantik, karena itu tidak ada yang mau denganku.”

“Dusta apa yang kau ucapkan.” Pangeran Kedua menghunuskan pedang perak ke leher Lian Ruo.

“Aku sudah mati sekali. Tak ada lagi yang kutakuti.”

Shen Yuan menatapnya lama. “Bagus. Maka mulai malam ini, kau akan tinggal di paviliun utara. Jangan keluar tanpa izinku.”

“Dan jika aku keluar?”

Pangeran menunduk sedikit, tatapan terlihat seperti menggoda Lian Ruo. “Maka kau akan tahu bagaimana rasanya mati dua kali.”

Lian Ruo menelan ludah, menatap pria itu yang berbalik perlahan dan berjalan pergi. Setiap langkahnya terjejak di lantai es dan meninggalkan jejak putih yang tak pernah mencair.

Salju turun lagi lebih tebal. Istana Utara kedatangan seorang gadis dari masa depan.

“Kenapa aku bisa terbawa ke masa lalu, dan bagaimana nasib pemilik tubuh ini?”

Titah Pangeran Kedua turun malam itu. Lian Ruo dibawa ke ruang kosong untuk menjadi persembahan agar ia berumur panjang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   124. Kebangkitan

    "Malam ini? Badai di luar sedang ganas, dan kau baru saja melihat kakakmu menjadi Putra Mahkota. Kenapa terburu-buru sekali kembali ke tanah buangan yang beku dan dingin itu?"Shen Yuan menoleh ke arah A Ruo, lalu meraih tangan gadis berpipi tembem itu dan menggenggamnya dengan erat. Tindakan itu membuat mata Ye Lin melirik mereka. Ada rasa iri dan haru di hati Ye Lin melihat A Ruo akhirnya menemukan tempat berlindung."Aku sudah terlalu lama berada di sini. Udara ibu kota membuat isi kepalaku tidak tenang," jawab Shen Yuan jujur. "Lagi pula, aku membawa A Ruo bersamaku. Saat di Utara nanti, aku akan menikahinya dan menjadikannya istriku satu-satunya."Yanzuo tertegun. Ia menatap A Ruo dari atas ke bawah, lalu tertawa dengan kerasnya."Seorang pelayan medis? Yuan'er, selera pangeran es sepertimu sungguh tak bisa ditebak!" ucap Yanzuo apa adanya. Namun, ia tidak bermaksud demikian. Hanya ingin memastikan pilihan adiknya agar tidak salah langkah."Ta

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   123. Sah

    Pintu Aula Berkat Dari Surga terbuka, Ye Lin masuk didampingi beberapa dayang. Mereka semua bungkam soal tragedi di luar tembok istana.Jenderal perempuan itu melangkah masuk dengan sisa-sisa tenaga dan harga dirinya. Wajah Ye Lin tetap sedingin es. Tidak ada air mata yang tersisa, hanya penyesalan yang membekukan jiwa.Melihat pengantin wanitanya tiba, Yanzuo melangkah maju. Mata merah Pangeran Api itu terlihat bahagia. Bagi Yanzuo, Ye Lin adalah kemenangan utam karena membawa benih di dalam rahimnya.Yanzuo menghentikan langkahnya tepat di hadapan Ye Lin. Dengan senyum keangkuhannya, Pangeran Pertama itu mengulurkan tangan yang memancarkan hawa panas.Ye Lin terdiam sejenak. Matanya menatap uluran tangan itu seperti menatap bara api neraka. Namun, menyadari di mana ia berada sekarang, Ye Lin menyambut uluran tangan tersebut.Saat kulit mereka bersentuhan, hawa es dan api saling meredam. Yanzuo menggenggam tangan Ye Lin dengan sangat erat, lalu me

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   122. Perang Tanpa Suara

    Di waktu yang sama, hawa panas memenuhi paviliun pribadi Pangeran Pertama. Udara di dalam ruangan itu berapi-api seperti di jurang neraka.Yanzuo berdiri tegak di depan cermin, ia sedang mendandani dirinya sendiri. Tidak ada satu pun pelayan atau kasim yang berani masuk untuk membantunya berpakaian.Mereka semua terlalu takut menjadi abu, jika tak sengaja menyentuh kulit sang pangeran yang panas membara.Yanzuo mengikat sabuk giok di pinggangnya. Jubah pengantin merah darah dari Sutra Teratai Salju itu menempel pas di tubuhnya yang gagah. Ia menatap pantulan dirinya yang tersenyum penuh keangkuhan.“Hari yang dinanti tiba. Gelar putra makhkota dan Ye Lin menjadi permaisuriku,” ucapnya penuh percaya diri. Di luar paviliun, puluhan Pasukan Phoenix berjaga, tubuh mereka berkeringat menahan hawa panas yang menembus pintu, meski salju sedang turun.Pintu terbuka lebar. Yanzuo melangkah keluar, dengan sepatu baru yang pas di kakinya. Naga emas yang disulam di jubahnya seolah hidup dengan

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   121. Tandu Pengantin

    Hari penobatan dan pernikahan agung itu akhirnya tiba. Langit ibu kota Dinasti Hanlu tampak kelabu. Bahkan matahari pun enggan menjadi saksi dari perayaan yang dibangun di atas penderitaan.Di kamar Ye Lin, keheningan begitu terasa. Belasan pelayan istana sibuk mengelilinginya, mendandani jenderal perempuan yang sedang kehilangan separuh jiwanya.Jubah pengantin merah darah yang ditenun dari Sutra Teratai Salju membalut tubuhnya yang semakin kurus. Hawa dingin dari salju di luar sana, hawa dingin dari tubuhnya serta dari jubah pengantin membuat hatinya semakin dingin dengan nasibnya.Secercah penyesalan muncul untuk pertama kalinya, karena ia sendiri yang dengan penuh kesadaran mendatangi Yanzuo. Harusnya ia tak pernah penasaran dengan sensasi panas serta dingin ketika saling menyatu.Seorang dayang memberikan gincu warna merah menyala di bibir tipisnya. Warna yang terlihat sangat berlawanan dengan kulitnya yang seputih salju.Setelahnya mahkota emas bertahtakan burung phoenix yang sa

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   120. Sumpah Berdarah

    Badai salju di luar kediaman Keluarga Ye semakin mengganas. Rasa malu dan aib keluarga itu seperti telah terkubur oleh salju. Bahkan Jenderal Besar Ye menolak dirinya diperiksa oleh tabib karena sedang tidak ingin bertemu dengan siapa pun.Akibatnya Jenderal Besar Ye terbaring lemah setiap saat. Napasnya terdengar berat, dan dadanya masih sesekali terasa nyeri sisa dari serangan jantung tempo hari.“Siapa di sana?” tanya Jenderal Besar Ye ketika lilin di kamarnya mendadak bergoyang, dan rasanya ada sekelebat bayangan yang melintas di kamarnya.“Jika tujuanmu baik, keluar, aku sedang tidak punya tenaga untuk bertarung,” ucap lelaki tua itu dengan suara beratnya.Saat menoleh ke kanan, Jenderal Besar Ye membelalakkan matanya."Jenderal Zhao?" ucap Jenderal Besar Ye setengah tak percaya. Yang ia tahu dari dulu mereka berbeda pandangan karena klan partai kiri dan kanan yang alirannya tak sama."Beraninya kau menyusup ke kamarku di tengah malam seperti seorang pengecut. Apa maumu?"Jendera

  • Pelayan Medis Untuk Pangeran Salju   119. Jubah Pengantin

    Wajah Wei Lan Yi seketika memerah. Kelembutan seorang wanita telah mati di dalam raganya. Semua karena cinta butanya bukan pada kaisar melainkan pada takhta di depan matanya."Aku tidak peduli pada kutukan itu. Aku tidak peduli jika mereka menjadi siluman sekalipun!" jerit Wei Lan Yi sambil tertawa. Ia sangat putus asa. "Berikan benih itu padaku. Biarkan anak-anakku menjadi pembawa kehancuran, asalkan mahkota tetap berada di lingkaran keluargaku!"Kilat merah dan biru menyambar dari langit secara bersamaan, menghantam tubuh Wei Lan Yi hingga ia terpental dan pingsan di atas salju. Ia bangun ketika badai salju berhenti turun dan ia tertatih berjalan menuju kereta, di mana Momo yang masih muda setia sekali menunggunya.“Momo, aku lelah sekali,” ujarnya kala itu.“Yang Mulia, ayo kita istirahat di penginapan.” Momo memapah tubuh permaisuri yang lemah setelah tidak makan selama berhari-hari.Di dalam penginapan Wei Lan Yi sepert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status