LOGINSeorang pelayan wanita dengan gerakan cermat mengganti cangkir kopi yang sudah mulai dingin dengan dua cangkir porselen berisi teh herbal hangat beraroma chamomile dan mint. Sementara itu, pelayan pria yang mengekor di belakangnya meletakkan sebuah piring kristal besar di tengah meja, berisi tumpukan potongan buah segar yang dipotong rapi. Sasa menghela napas lega saat perhatian kedua pria di sisinya teralih sejenak pada kedatangan para pelayan. Ia memanfaatkan jeda singkat itu untuk membenahi posisi duduknya, menarik nafas dalam-dalam demi menetralkan debar jantungnya yang sejak tadi dinaik-turunkan oleh tingkah Javendra dan Kenzo. Begitu para pelayan selesai menata meja dan melangkah mundur keluar dari paviliun, suasana santai yang diharapkan Sasa ternyata sama sekali tidak terwujud. Kenzo meraih garpu buah kecil berujung dua, menusuk sepotong kiwi yang tampak paling segar, lalu mengarahkannya ke piring kecil Sasa. "Makan buahnya, Sasa. Segar untuk meredakan pusingmu," ujar
Perang kata-kata di antara kedua pria berkuasa itu makin menunjukkan dominasi masing-masing. Udara di dalam paviliun kaca terasa kian berat, meski makanan penutup di atas meja porselen sudah hampir habis disentuh. Javendra menyandarkan punggungnya ke kursi kayu berukir. Satu tangannya yang bebas kini diletakkan santai di belakang sandaran kursi Sasa, merangkul bahu istrinya dari belakang dengan tatapan penuh kebanggaan dan kepemilikan. Sembari menatap Kenzo, tangan kiri Javendra yang tersembunyi di balik taplak meja mulai bergerak kembali. Kali ini, jemari panjangnya tidak menyusup ke area dalam. Javendra memilih mengusap lembut celah halus di belakang lutut Sasa, lalu perlahan merambat naik menyusuri kulit paha bagian belakang. Jemarinya menekan titik-titik sensitif di sana dengan lambat yang membuat seluruh tubuh Sasa mendadak kaku dan meremang hebat. "Kamu terlalu banyak berteori tentang wanita, Kenzo," ujar Javendra seraya menyunggingkan senyum tipis yang amat memancing emos
Suasana di dalam paviliun kaca itu mendadak hening sejenak saat pelayan melangkah mundur setelah menyajikan cangkir kopi hitam kedua untuk Kenzo dan Javendra. Uap tipis membumbung dari permukaan cangkir porselen putih, membawa aroma pahit yang cukup kuat ke udara. Sasa berusaha memfokuskan perhatian pada kue di piringnya, memotong bagian kecil dengan ujung sendok. Namun, ketenangan itu sama sekali tidak bertahan lama. Tangan kiri Javendra yang berada di bawah meja mulai bergerak kembali. Bukannya menghentikan ulahnya, jemari panjang Javendra justru menyusup lebih jauh ke balik lipatan kain rok Sasa. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, ujung jari Javendra mengusap bagian dalam paha Sasa dengan tekanan yang dalam dan konstan, menembus batas kain pakaian dalamnya. Sasa tersentak di tempat duduknya. Sengatan hangat yang mendadak itu membuat seluruh saraf di tubuhnya menegang seketika. Sasa mencoba menahan napas, merapatkan kedua pahanya untuk mengunci pergerakan tangan suaminya.
Napas Sasa masih terengah halus di dalam cengkeraman Javendra. Punggungnya yang menempel pada dinding marmer terasa dingin, berbanding terbalik dengan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya akibat ciuman intens suaminya. Javendra menatap Sasa dengan pendar mata yang begitu pekat dan penuh dominasi. Jemari tangannya merayap naik, mengusap lembut bekas basah di sudut bibir Sasa akibat lumatannya tadi. "Ingat ini baik-baik, Sasa," bisik Javendra dengan suara serak yang begitu berat di depan wajah istrinya. "Kalau sekali lagi kamu membiarkan pria lain, siapa pun itu, termasuk kakakmu sendiri menatapmu terlalu lama sampai kamu mengabaikanku, aku akan melakukan hal yang jauh lebih nekat dari sekadar menyentuhmu di bawah meja." Sasa membelalak lebar, memukul dada bidang Javendra pelan. "Mas! Kamu ini bicara apa sih? Kenzo itu kakak kandungku! Mana bisa kamu cemburu pada—" "Ayo kita kembali," potong Javendra santai, seolah tidak baru saja melontarkan ancaman berbahaya. Pria itu meneliti
Pelayan kembali melangkah masuk secara perlahan, membawa baki perak berisi hidangan penutup berikutnya berupa kue sus praline berhiaskan lapisan cokelat mengkilap dan taburan kacang pistachio. Sepiring hidangan pembersih langit-langit mulut berupa sorbet jeruk nipis dingin juga disajikan elegan dalam mangkuk kristal berukuran kecil. "Ini sorbet pembersih rasa setelah makanan utama, Nyonya Sasa," tutur pelayan wanita itu sopan sembari meletakkan mangkuk kristal di sisi kiri piring Sasa. "Terima kasih," bisik Sasa pelan. Meskipun aroma cokelat dan kesegaran jeruk nipis merebak di atas meja, pandangan Sasa meredup. Rasa kecewa yang amat dalam kembali membendung di dadanya. Setelah sekian lama menunggu waktu yang tepat, kenyataan bahwa ia belum bisa memeluk dan melihat keadaan Papa Aldebaran secara langsung terasa begitu menghimpit badannya. Kenzo yang memperhatikan sorot mata adiknya yang membayang duka, meletakkan sendok kristalnya perlahan. "Sasa," panggil Kenzo lembut, nada suar
Napas Sasa tertahan di tenggorokan. Tubuhnya meremang hebat, membuat dadanya naik turun tak beraturan. Jemari tangan kirinya mencengkeram erat lutut Javendra di bawah meja, memberi tekanan memohon agar suaminya menyudahi siksaan manis itu. Namun, Javendra justru menyunggingkan senyum tipis tanpa dosa sembari menyuapkan sepotong sayuran ke mulutnya sendiri. Sasa mencoba mengalihkan seluruh pikirannya dari usapan nakal di bawah sana. Ia menelan makanannya perlahan, lalu memberanikan diri menatap Kenzo yang sedang menyapu bibirnya dengan serbet kain. "Kenzo," panggil Sasa, berusaha menjaga agar nada suaranya tetap stabil dan tidak bergetar. "Mengenai Tuan Aldebaran... kapan kira-kira aku bisa bertemu dan melihat keadaannya secara langsung?" Pertanyaan itu membuat gerakan tangan Kenzo terhenti sejenak. Pria itu meletakkan serbetnya kembali ke samping piring, lalu menatap Sasa dengan raut wajah yang mendadak berubah serius. "Belum saatnya, Sasa," jawab Kenzo datar namun mantap. S
"Ahhh Tuan Javen, hentikan, uhh," Sasa mengeluarkan desahan pasrah yang bergetar dari bibirnya, sementara remasan tangan Javendra di dadanya justru semakin kuat. Javendra tidak lagi hanya diam menunggu. Saat Sasa bergerak naik dan turun dengan kaku, Javendra justru menarik pinggang Sasa agar tu
Sasa membeku. Kata-kata Javendra terasa seperti petir yang menyambar tepat di kepalanya. Dadanya naik turun dengan cepat. Wajahnya memanas sampai ke telinga. "Tuan..." suaranya keluar sangat kecil, hampir hilang. "Itu ... itu bukan pijat, Tuan." Javendra tetap tenang. Matanya tidak lepas dari wa
Sasa meneguk ludah. Kata-kata Javendra terdengar sangat jelas di tengah keheningan kamar yang hanya diisi napas mereka berdua. Ia masih berlutut di ranjang, tangannya yang sudah lelah tergeletak di pangkuannya. "T-Tuan Javen mau saya ngapain, Tuan?" tanyanya hampir berbisik. Suaranya bergeta
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel







