MasukUap hangat membumbung perlahan dari bilik mandi berdinding kaca buram. Gemericik air dari pancuran jatuh membasahi lantai marmer, beradu dengan aroma minyak lavender yang menyeruak lembut di seluruh ruangan. Javendra berdiri di hadapan Sasa, menatap lekat wajah istrinya di bawah remang lampu kamar mandi. Jemari kekarnya terangkat pelan, mengusap lembut helai rambut Sasa yang agak basah, lalu membelai pipinya yang mulus dengan ibu jari. "Kamu cantik sekali malam ini, Sasa," bisik Javendra dengan suara berat dan hangat. Pandangan matanya begitu dalam, menelusuri setiap inci paras anggun wanita di depannya. "Wajahmu kelihatan sangat lelah, tapi tidak pernah berkurang cantiknya." Sasa tersenyum tipis, merona pelan di bawah tatapan memuja suaminya. "Mas Javen bisa saja..." "Mas serius, Sayang," potong Javendra lembut. Tangan pria itu bergerak menyusuri bahu Sasa, merengkuh pinggangnya pelan. "Tubuhmu tegang sekali dari tadi. Mau Mas bantu pijat sebentar supaya rileks?" Sasa menga
"Helena terkenal sangat licik dan tidak ragu menggunakan cara kotor demi mengamankan posisinya, Tuan," peringat Bram lugas. "Dia menganggap keberadaan Nona Sasa sebagai ancaman langsung bagi reputasi dan hak waris tunggal putranya, Kenzo." Javendra terkekeh pelan, sebuah kekehan dingin tanpa humor sedikit pun. "Biarkan wanita tua itu melacak apa pun yang dia mau. Tapi pastikan dia paham batas wilayahnya." Javendra tegak berdiri, menatap Bram dengan pandangan tajam penuh komando. "Perketat penjagaan di seluruh area Mansion Maheswara mulai detik ini," perintah Javendra tanpa ragu. "Tambah personel pengawal di pintu masuk, area privat, sampai tim medis yang merawat Bu Andini. Saya tidak mau ada lalat asing yang lolos masuk, sekecil apa pun itu." "Baik, Tuan Javen. Instruksi akan langsung dilaksanakan," jawab Bram tegas. "Bagaimana dengan pengawalan Nona Sasa jika harus keluar mansion?" "Gandakan tim pengawal rahasia," sahut Javendra cepat. "Setiap kali Sasa melangkah keluar dari ger
Suara deru mesin mobil mewah bergema lirih saat deretan kendaraan hitam memasuki halaman luas Mansion Maheswara. Lampu sorot gerbang memantulkan kilau basah di atas aspal setelah hujan tipis mengguyur Jakarta. Begitu mobil berhenti tepat di depan tangga utama, pintu penumpang langsung dibuka oleh pengawal berseragam gelap. Javendra melangkah keluar lebih dulu. Sikap tubuhnya tegap, mengusarkan aura dominasi yang tenang namun pekat. Pria itu berbalik dan mengulurkan telapak tangannya ke dalam mobil, menyambut jemari Sasa dengan lembut untuk membantunya turun. Wajah Sasa masih menyiratkan kelelahan fisik dan mental yang amat sangat. Lingkar hitam tipis berbayang di bawah matanya, sementara pandangannya langsung tertuju ke arah sayap timur mansion, tempat Bu Andini dirawat. "Tenang," bisik Javendra pelan, meremas jemari Sasa untuk memberi kepastian. "Kita sudah di rumah." Belum sempat Sasa melangkah lebih jauh menuju pintu utama, Bram sudah berdiri menunggunya dengan dokumen tipis di
"Keluar dari kamar saya, Helena," potong Kenzo dingin, memutus keterpaksaan ibunya yang membisu. Tangannya menunjuk lurus ke arah pintu yang terbuka lebar. "Saya tidak punya waktu lagi untuk mendengarkan omong kosong Anda." Helena berusaha menguasai diri, membusungkan dadanya kembali meski bibirnya masih sedikit gemetar. "Kamu belum menjawab pertanyaan saya, Kenzo! Kenapa kamu begitu sengit membela perempuan itu? Dia anak dari selingkuhan papamu!" Kenzo menyunggingkan senyum remeh, menatap ibunya penuh cemoohan. "Saran saya, buang jauh-jauh pikiran busuk Anda untuk mencelakai istri Javendra." Mata Helena membelalak mendengarnya. "Istri Javendra? Jadi perempuan itu..." "Ya. Dia sudah dipersunting Javendra," sela Kenzo cepat, memotong ucapan Helena tanpa penyesalan. "Anda pikir Anda bisa menyentuhnya begitu saja? Jangan mimpi. Anda bukan lawan yang sepadan untuk Javendra. Satu jengkal saja Anda mencoba bermain gila padanya, Javendra akan meratakan seluruh sisa hidup Anda sampai ta
Langkah kaki Aldebaran terdengar berat menyusuri lorong berlantai marmer. Pria tua itu keluar dari ruang kerja yang hancur berantakan dengan wajah pucat dan garis-garis kelelahan yang semakin jelas tercetak di pelipisnya. Ia memijat pangkal hidungnya pelan, menghentikan langkah tepat di samping Helena yang masih berdiri mematung di depan pintu kamar Kenzo. Aldebaran melirik istrinya dari sudut mata, menatap dingin tanpa ada sisa kehangatan sedikit pun. "Urus anakmu, Helena," ucap Aldebaran, suaranya berat, dalam, dan dipenuhi penyesalan yang tertahan. "Kepalaku sakit seperti mau pecah menghadapi ulahnya." Tanpa menunggu balasan dari Helena, Aldebaran melanjutkan langkahnya, meninggalkan koridor lantai dua tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Helena mengepalkan jarinya rapat-rapat, mengusir rasa panas yang membakar dadanya akibat sikap dingin suaminya. Setelah menghela napas panjang untuk menguasai emosi, wanita itu berbalik dan mendorong pintu kamar Kenzo tanpa mengetuk terlebih
Aroma alkohol pekat yang memenuhi ruang kerja bercampur tajam dengan wangi parfum mahal beraroma mawar hitam. Helena berdiri tegak di ambang pintu, jemarinya yang terawat rapi mencengkeram erat gagang tas mewahnya. Tatapannya menusuk tajam pada pecahan kaca, kertas-kertas yang berserakan, dan putranya yang berdiri menyandar lemas di tepi meja. "Apa-apaan semua ini, Kenzo?" suara Helena meluncur dingin, tanpa nada kehangatan sedikit pun. "Kamu menghancurkan ruangan papamu dan mabuk-mabukan seperti orang tidak berpendidikan?" Kenzo terkekeh pelan. Ia mengangkat wajahnya lambat-lambat, menatap wanita di depannya dengan pandangan kabur namun sarat akan cemoohan. Pria itu menyeka sudut bibirnya yang basah oleh cairan alkohol menggunakan punggung tangan. "Lihat siapa yang datang," ucap Kenzo, suaranya berat dan serak. "Nyonya Helena Pratama akhirnya ingat jalan pulang setelah bertahun-tahun sibuk dengan dunianya sendiri." Helena melangkah masuk, mengabaikan pecahan porselen yang berderi
Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel
Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi
Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.
Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar







