Share

Bab 648 - Janji?

Penulis: Apple Cherry
last update Tanggal publikasi: 2026-10-11 17:05:01

"Mengonsumsi biskuit atau kraker gandum kering sebelum bangun dari tempat tidur pada pagi hari bisa membantu mengurangi rasa mual, Tuan Javendra," jawab Dokter Rini dengan sabar.

"Menjauhkan makanan dengan aroma terlalu tajam dari Nyonya Sasa juga merupakan langkah yang baik. Untuk porsi makan, gunakan prinsip porsi kecil tetapi lebih sering, misalnya lima sampai enam kali sehari."

Sasa segera menyela sambil tertawa kecil, menatap Dokter Rini dengan pandangan memohon. "Dokter, tolong jangan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 648 - Janji?

    "Mengonsumsi biskuit atau kraker gandum kering sebelum bangun dari tempat tidur pada pagi hari bisa membantu mengurangi rasa mual, Tuan Javendra," jawab Dokter Rini dengan sabar. "Menjauhkan makanan dengan aroma terlalu tajam dari Nyonya Sasa juga merupakan langkah yang baik. Untuk porsi makan, gunakan prinsip porsi kecil tetapi lebih sering, misalnya lima sampai enam kali sehari." Sasa segera menyela sambil tertawa kecil, menatap Dokter Rini dengan pandangan memohon. "Dokter, tolong jangan buat aturan yang terlalu ketat, ya. Saya tidak ingin Mas Javen mengubah seluruh rumah kami menjadi seperti dapur rumah sakit yang serba steril cuma karena saya hamil." Dokter Rini terkekeh. "Tentu tidak, Nyonya Sasa. Yang penting adalah kenyamanan ibu." Namun, rasa ingin tahu dan perhatian Javendra belum berhenti sampai di situ. Pria tegap itu kembali condong ke depan. "Bagaimana dengan aktivitas fisiknya, Dokter? Apakah Sasa masih boleh berjalan-jalan di dalam rumah? Bagaimana dengan menaik

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 647 - Suami Super Protektif

    Bagi Javendra, selama ini kabar kehamilan Sasa masih terasa seperti mimpi indah yang belum sepenuhnya ia pahami. Namun, saat suara detak jantung kecil itu terdengar jelas di ruang pemeriksaan, ia mulai menyadari betapa nyatanya kehidupan baru yang sedang mereka nantikan. Suara itu menjadi bukti bahwa di dalam rahim wanita yang paling ia cintai, ada kehidupan kecil yang terus berkembang. Anak mereka. "Mas Javendra?" panggil Sasa dengan suara pelan. Javendra tidak menjawab. Matanya yang biasanya menunjukkan ketegasan kini berkaca-kaca. Tenggorokannya terasa tercekat karena terharu. Pria tegap itu mengepalkan jemari tangannya yang bebas, sementara tangan lainnya menggenggam tangan Sasa dengan erat. "Suara yang kita dengar ini adalah detak jantung calon bayi kalian," tutur Dokter Rini dengan lembut, memberi waktu bagi pasangan itu untuk menikmati momen tersebut. "Detak jantungnya terdengar kuat dan teratur." Sasa tersenyum semakin lebar. Air mata kebahagiaan menetes perlahan di

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 646 — Detak Jantung

    Javendra membimbing Sasa untuk duduk di kursi empuk di hadapan meja dokter, sebelum ia sendiri duduk di kursi tepat di samping istrinya dengan posisi tubuh tegap. "Bagaimana kondisinya selama beberapa hari terakhir ini, Nyonya Sasa?" tanya Dokter Rini memulai konsultasi sambil membuka berkas rekam medis di layar komputernya. Sasa meletakkan kedua tangannya di atas paha, lalu tersenyum ramah. "Terkadang saya merasa mual, Dok, terutama di pagi hari. Tubuh juga terasa lebih mudah lelah, dan sesekali saya merasa ingin tidur lebih lama dari biasanya. Tapi secara umum, saya merasa baik-baik saja." Dokter Rini mengangguk memahami, jemarinya mengetik beberapa catatan di papan ketik. "Bagaimana dengan pola makan, waktu tidur, dan aktivitas sehari-hari? Apakah Nyonya Sasa pernah mengalami nyeri hebat di perut bagian bawah, pendarahan, pusing berlebihan, atau keluhan fisik lain yang mengganggu?" Sebelum Sasa sempat membuka mulut untuk menjawab, Javendra sudah memajukan posisi tubuhnya da

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 645 — Pemeriksaan Kehamilan

    "Lantai di luar kamar dingin. Aku juga tidak mau kamu terlalu banyak berjalan sebelum perjalanan dimulai," jawab Javendra santai. Ia membawa Sasa keluar dari kamar. Di sepanjang lorong vila, belasan pengawal pribadi berjas hitam berdiri dengan sikap siap. Mereka menundukkan kepala ketika melihat Javendra berjalan sambil menggendong istrinya. Sasa merasa malu karena diperhatikan banyak orang. Ia akhirnya menyembunyikan wajah di dekat leher Javendra. Dari sana, ia bisa merasakan detak jantung suaminya yang teratur. Entah kenapa, hal sederhana itu justru membuatnya merasa tenang. Begitu tiba di area parkir utama, sebuah MPV mewah berwarna hitam sudah menunggu. Pintu gesernya terbuka. Javendra membawa Sasa masuk ke dalam kabin yang hangat dan nyaman, lalu mendudukkannya di kursi captain seat yang sudah diatur kemiringannya. Javendra memastikan posisi duduk Sasa nyaman. Ia memasangkan sabuk pengaman dengan hati-hati agar tidak menekan perut istrinya. Setelah itu, ia meletakkan ba

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 644 — Calon Bapak Protektif

    "Tetap saja kamu tidak perlu berdiri sendiri tanpa memberitahuku," jawab Javendra. Pria itu berdiri, berjalan menuju meja rias, lalu mengambil tas kecil milik Sasa. Ia membawanya kembali dan meletakkannya di pangkuan istrinya dengan sangat hati-hati. Sasa memperhatikan gerakan suaminya. Ia kemudian menghela napas panjang dan mengusap bahu Javendra yang kembali duduk di sampingnya. "Mas Javen." "Hm?" "Cara Mas menatap dan memperlakukanku dari tadi benar-benar berlebihan." Javendra mengerutkan alis. "Berlebihan bagaimana? Aku hanya memastikan kamu dan anak kita aman." "Aman memang penting, Mas. Tapi Mas memperlakukanku seperti barang porselen mahal yang sedikit tersenggol langsung pecah." Sasa tersenyum sambil menatapnya. "Aku cuma sedang hamil muda. Tubuhku masih sehat. Aku masih bisa berjalan sendiri, mengambil tas sendiri, dan berdiri beberapa menit. Mas jangan terlalu tegang seperti itu. Nanti Mas sendiri yang sakit karena terlalu banyak pikiran." Javendra terdi

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 643 — Javendra Yang Kian Posesif

    Atmosfer di area vila perbukitan yang semula tenang dan sejuk seketika berubah lebih serius. Ketegangan itu bukan disebabkan oleh ancaman musuh atau persaingan bisnis, melainkan karena instruksi baru dari pemilik tunggal Maheswara Group. Sejak kehamilan Sasa dipastikan melalui dua garis merah di kamar mandi pagi tadi, seluruh staf, pelayan, hingga belasan pengawal pribadi di vila tersebut langsung berada di bawah arahan Javendra. Langkah kaki Javendra terdengar teratur di lantai marmer yang melapisi lorong di luar kamar utama. Pria tegap itu berdiri di dekat pilar kayu ukir dengan mengenakan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku. Di hadapannya, lima orang pengawal pribadi berdiri dengan sikap siap, menundukkan kepala sebagai tanda hormat. Di tangan Javendra, sebuah tablet tipis menyala. Layar itu menampilkan peta digital yang menunjukkan rute perjalanan dari vila perbukitan menuju kediaman utama Maheswara di Jakarta. Selain rute perjalanan, berbagai informasi m

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 5 - Pijatan Plus Plus

    Sasa menarik napas perlahan, mencoba mengumpulkan keberanian. "Tuan Javen, saya—" Tapi begitu Javendra mengangkat pandangannya dan menatapnya lekat, kata-kata Sasa langsung hilang. Ia ragu sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak jadi, Tuan," katanya cepat, suaranya hampir hilang. Javendra mel

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 4 - Sasa Butuh Dana Cepat

    Sasa bingung sejenak saat Javendra menanyakan soal pijat. Ia tidak langsung menjawab, matanya sedikit melebar karena terkejut. "Eh … bisa, Tuan," jawabnya akhirnya. "Waktu masih tinggal sama ibu dulu, saya pernah diajarin pijat. Ibu saya tukang pijat di kampung, suka urut orang capek dan urut bayi

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 3 - Apa Kamu Bisa Memijat?

    Javendra langsung menutup pintu dengan cepat begitu melihat keadaan Sasa. Sasa buru-buru memakai seragam baru dengan tangan gemetar. Ia benar-benar merasa bodoh sekali. Kenapa aku kelamaan ganti baju? Kenapa pula aku setuju ganti di sini? Tak sampai semenit kemudian, terdengar ketukan di pintu.

  • Pelayan Kesayangan CEO Arogan   Bab 2 - Kepergok Majikan

    Javendra berdeham keras. Tangan kanannya cepat ditarik dari dada Sasa. "Kamu masih mau sampai kapan menduduki saya?" tanyanya dengan suara rendah dan datar. Sasa langsung tersentak. Wajahnya memerah hebat sampai ke leher. Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Javendra, hampir tersandung lagi kar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status