INICIAR SESIÓNBeep.Pintu utama penthouse berbunyi pelan saat kartu akses di tangan Raka menempel pada sensor.Suasana di dalam hunian luas itu hening dan remang. Hanya lampu sudut ruang tengah yang menyala, memantulkan pendar kuning hangat di atas lantai marmer.Clara masih duduk di sofa kulit hitam. Gaun tidur satin warna merah tembaga membalut tubuhnya.Di meja kaca depan sofa, ada gelas air yang sudah dingin dan tumpukan draf berkas yang sejak tadi cuma ia pandangi.Wajah cantiknya kentara banget menyisakan lelah dan kepikiran pasca-drama pemecatan Maya siang tadi.Begitu mendengar suara langkah sepatu Raka, Clara langsung menoleh. Matanya yang tajam berbinar lega."Raka..." panggil Clara. Suaranya agak serak, tapi nada butuhnya kerasa banget. "Dari mana aja kamu jam segini baru balik?"Raka jalan mendekat tanpa terburu-buru. Ia melepas jas hitamnya, menyampirkannya di sandaran sofa, lalu melonggarkan ikatan dasinya santai. Raut wajahnya tenang dan terkontrol, seolah gak habis melintasi malam y
"Siapa orangnya, May?" tanya Raka rendah.Maya menggeleng pelan, matanya yang sembap menatap Raka dengan kecemasan nyata. "Kalau aku sebut namanya sekarang, Raka, bukan cuma karierku yang hancur. Aku gak bakal pernah aman hidup di Jakarta.""Kamu pikir posisi kamu sekarang udah aman?" sahut Raka dengan sudut bibir terangkat sedikit, membentuk senyum miring yang teramat tipis."Laporan peretasan server dan pemalsuan berkas keuangan itu udah ada di meja penyidik kapolda. Satu telepon saja dari Clara malam ini, polisi langsung jemput kamu di meja kafe ini."Maya mengepalkan kedua tangannya di atas meja, napasnya memburu cepat. "Aku cuma dikontak lewat perantara, Raka! Aku gak pernah ketemu langsung atau tatap muka sama orangnya!"Dahi Raka berkerut tipis. Matanya memicing tajam, namun raut wajahnya tetap terkontrol sempurna tanpa riak emosi berlebih. "Perantara dari mana?""Dari konsorsium competitor," bisik Maya pelan, matanya melirik gelisah ke sekeliling kafe seolah takut ada telinga
Keluarnya Maya dari gedung perkantoran tidak lantas membuat atmosfer tegang di lantai teratas menguap begitu saja.Bagi Raka, riak ancaman yang terlihat jelas biasanya hanyalah pucuk dari gunung es yang jauh lebih besar di bawah permukaan.Raka berdiri di balik jendela kaca besar ruang kerja presdir, memandangi deretan pencakar langit Jakarta. Tatapannya tajam dan fokus.Maya memang seorang ambisius yang dendam karena terabaikan saat di Bandung, tetapi nekat memalsukan dokumen keuangan dan meretas sistem server internal adalah tindakan dengan risiko luar biasa tinggi, sebuah tindakan nekat yang terlalu rawan jika hanya didasari kekesalan pribadi semata.Pasti ada udang di balik batu, batin Raka. Ada yang menyokong atau mendanai tindakan nekatnya.Pintu ruang kerja terdengar berderit pelan.Clara melangkah mendekat, lalu menggenggam cangkir kopi hitamnya. Kemudian ikut berdiri di samping Raka, menatap lurus ke luar jendela."Apa yang lagi kamu pikirkan, Raka?" tanya Clara halus, menole
Suasana di lantai operasional sudah jauh lebih sepi. Kabar pemecatan tidak hormat terhadap Maya akibat kasus pemalsuan dokumen dan peretasan server telah menyebar kilat ke seluruh sudut gedung.Karyawan lain memilih menunduk dan berpura-pura sibuk dengan kubikel masing-masing, tak ada yang berani mendekati kubikel khusus sekretaris di depan ruangan presdir.Maya berdiri kaku di depan mejanya.Tangannya bergetar menahan malu dan amarah saat memasukkan barang-barang pribadinya, beberapa bingkai foto, kosmetik, dan catatan kerja, ke dalam kotak kardus cokelat.Matanya sembap, namun sisa-sisa tatapan benci masih memancar kuat dari balik kelopak matanya yang memerah.Langkah kaki yang tenang dan berat terdengar mendekat. Maya menegang, refleks menoleh.Raka berdiri di sana. Pria itu menyandarkan sebelah bahunya di kening pintu kubikel, bersedekah tangan dengan wajah santai tanpa ekspresi penderitaan sedikit pun.Jas hitamnya masih terpasang rapi, mempertegas posisinya yang baru saja memena
Pukul sembilan pagi tepat, ruang rapat utama di lantai tertinggi gedung perkantoran itu sudah terisi penuh.Suasana di dalam ruangan berdinding kaca es tersebut terasa dingin dan formal. Jajaran direksi, kepala divisi, hingga jajaran manajemen senior duduk melingkari meja oval berkayu mahoni mengilap.Clara duduk di kursi utama selaku Direktur Utama, menampilkan gestur anggun dan tak tersentuh.Di sisi kiri belakangnya, Raka berdiri tegap memegang tablet kerja dengan raut wajah yang amat tenang.Sementara itu, Maya duduk di barisan Sekretariat dan Manajemen Operasional, menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri."Baik, agenda pertama rapat evaluasi pagi ini adalah peninjauan efisiensi anggaran operasional kuartal ini," buka Clara dengan suara lantang dan jernih, memotong keheningan ruangan."Apakah ada divisi yang memiliki isu khusus sebelum kita masuk ke pemaparan utama?"Maya dengan sigap menegakkan punggungnya, lalu mengangkat tangan seraya mengibaskan sedikit blazer merahnya.
Begitu Maya keluar, Clara menekan pinggiran map cokelat tebal dengan cukup keras hingga kuku berhias cat beningnya memutih. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Raka yang berdiri beberapa langkah di hadapannya."Raka," panggil Clara dengan nada datar, berat, dan dipenuhi oleh artikulasi kepemimpinan yang dingin. "Duduk."Raka melangkah tanpa ragu. Ia menarik kursi kayu jati berbalut kulit hitam di depan meja kerja Clara, lalu duduk dengan postur tegap.Tidak ada gestur panik, gelisah, atau ketakutan sedikit pun pada raut wajahnya. Tatapan matanya jernih dan terkontrol sempurna.Clara membuka kembali map dokumen pemberian Maya. Ia membalik lembaran kertas bernomor seri resmi perusahaan, lalu menunjuk laporan arus kas di lembar ketiga."Maya mungkin keterlaluan karena menerobos masuk dan bersikap lancang," ujar Clara seraya menatap Raka lurus-lurus."Tapi angka di sini nyata, Raka. Pembengkakan dana operasional PA sebesar tiga ratus persen dalam satu bulan terakhir. Jelaskan ke saya







