LOGINSedan hitam mewah yang dikemudikan Raka berhenti presisi di pelataran parkir khusus eksekutif.Pagi itu, aura di antara Raka dan Clara terasa sangat berbeda.Kehangatan yang terjalin sejak di apartemen masih tersisa, menciptakan keharmonisan yang jarang terlihat di antara seorang Direktur Utama dan asisten pribadinya.Raka turun lebih dulu, membukakan pintu belakang untuk Clara dengan gerakan yang sigap.Clara melangkah keluar dengan gaun kerja berwarna biru dongker yang elegan.Rambutnya terurai rapi, dan raut wajahnya tampak segar tanpa menyisakan sisa-sisa pusing dari pesta semalam."Jadwal saya pagi ini apa aja, Raka?" tanya Clara halus sambil merapikan blazer-nya.Raka berjalan beriringan di samping Clara menuju lift VIP, menjaga jarak yang pas namun tetap memberikan kesan protektif."Jam sembilan ada rapat evaluasi mingguan dengan tim divisi keuangan, Bu. Setelah itu, penandatanganan berkas kerja sama proyek baru."Clara mengangguk puas. "Bagus. Pastikan dokumennya sudah siap di
Sinar matahari pagi menembus celah gorden tebal kamar utama penthouse, membiaskan pendar hangat di atas tempat tidur.Clara menggerakkan tubuhnya perlahan, menyenggol sprei sutra yang kusut.Kepalanya masih terasa agak berat dan pening akibat sisa alkohol semalam, namun rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhnya membuat gejolak pusing itu terasa jauh lebih samar.Clara meraba sisi ranjang di sampingnya.Kosong.Ia membuka mata pelan-pelan, menyesuaikan diri dengan cahaya pagi.Bau harum aroma kopi hitam segar bercampur gurihnya mentega yang dilelehkan merayap masuk dari arah dapur bersih.Clara menarik selimut, merapikan piyama satinnya, lalu melangkah keluar kamar dengan kaki bertelanjang.Di dapur bersih bertatanan marmer serba hitam, Raka berdiri tegap membelakanginya.Pria itu hanya mengenakan celana kain hitam dan kemeja putih yang lengan bagian bawahnya digulung hingga siku, memperlihatkan lengan bawahnya yang berotot.Dengan telaten, Raka membalikkan pancake di atas teflon,
Langkah kaki Raka bergaung halus di sepanjang koridor pualam menuju penthouse pribadi milik Clara.Di dalam dekapannya, tubuh Clara terasa pasrah.Kepala sang direktur tersebut bersandar di dada bidang Raka, sementara kedua lengannya masih melingkar di leher pria itu, seolah takut dilepaskan karena pengaruh alkohol yang masih kuat.Raka menempelkan kartu akses pada panel sensor pintu utama.Beep.Pintu berbobot berat itu terbuka tanpa suara, menyambut mereka dengan keheningan eksklusif apartemen mewah tersebut.Dengan gerakan tangkas, Raka membawa Clara masuk melintasi ruang tengah yang temaram, langsung menuju kamar tidur utama. Pria itu menurunkan tubuh Clara secara perlahan ke atas kasur berukuran king-size.Raka hendak menarik tangannya dan menegakkan tubuh untuk melepas jas serta merapikan selimut, tetapi cengkeraman tangan Clara di kerah kemejanya mendadak mengencang."Raka, mau ke mana?" gumam Clara melantur. Matanya yang redup dan setengah terpejam menatap wajah Raka di atasny
Deru napas Sheila terdengar patah-patah di tengah keheningan ruang kerja yang temaram.Tubuh mulusnya masih terkulai lemas di atas meja kayu mahoni, bergetar pelan menetralkan sisa-sisa pelepasan dahsyat yang baru saja menghantam seluruh sarafnya.Keringat tipis membendung di dahi dan lehernya, memantulkan pendar redup lampu kota dari luar jendela.Raka merapikan pakaian pribadinya dengan gerakan yang amat tenang dan presisi. Tidak ada sedikit pun raut panik atau terburu-buru di wajahnya.Dengan santai, ia membenahi kancing kemeja putihnya satu per satu, mengencangkan ikatan sabuk kulitnya, lalu mengenakan kembali jas hitam eksekutifnya hingga penampilannya kembali tampak rapi dan berwibawa, seolah pergumulan liar dan brutal tadi tak pernah terjadi.Raka melangkah mendekati Sheila yang masih memejamkan mata dengan dada naik turun tak beraturan.Jemari tebalnya meraup gaun malam Sheila yang tersingkap di pinggang, lalu menariknya naik menutup keindahan tubuh wanita itu."Bisa berdiri,
Raka menyunggingkan senyum miring yang dingin melihat tubuh molek Sheila yang sudah sepenuhnya tak berdaya di atas meja kayu mahoni.Hasrat liar dan aura dominan yang mengalir di pembuluh darahnya terlepas mutlak.Tanpa banyak bicara, Raka melonggarkan sabuk kulitnya dengan satu gerakan tangkas, membiarkan pertahanan terakhirnya runtuh di hadapan wanita sosialita itu."Ini yang kamu minta, Sheila," bisik Raka rendah, vokalnya yang serak dan dalam menggema tepat di telinga Sheila.Raka meraup kedua paha mulus Sheila, membukanya lebar-lebar hingga posisi wanita itu terekspos tanpa celah.Tanpa memberi jeda atau pemanasan tambahan, Raka mengarahkan posisinya dan menghujam masuk secara langsung, menancapkan penetrasi sedalam-dalamnya dalam satu dorongan mantap."Nghhh! Rakaa...!"Sheila menjerit tertahan, kepalanya mendongak dramatis dengan mata terpejam erat. Dinding rahimnya menyambut hentakan itu dengan jepitan yang teramat ketat dan basah.Tubuhnya melengkung, jemarinya mencengkeram k
Pesta bisnis yang tadinya kaku kini telah berubah total menjadi ajang pelepasan keliaran kaum elit.Di sudut ruangan utama, Clara berdiri setengah menyandar pada sofa kulit. Wajahnya merona merah, matanya sedikit sayu oleh pengaruh alkohol yang terakumulasi sejak awal malam.Ia tampak tertawa lepas bersama lingkaran sosialitanya, memegang gelas kristal yang hampir tumpah tanpa sadar bahwa kesadarannya sudah merosot jauh.Di sudut lain, Sheila mengamati kondisi Clara dengan senyum penuh kemenangan. Kesempatan emas yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Clara sudah teler berat, tak akan punya kapabilitas lagi untuk mengawasi area sekitar.Sheila melangkah pelan mendekati Raka yang berdiri tegap di dekat pintu geser kaca, memegang gelas poker-face berisi sparkling water.Sheila sengaja menggesekkan pin