แชร์

Bab 25

ผู้เขียน: Gali Pratama
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-20 23:21:48

"Bu Clara... s-sabar dulu, saya lagi nyetir ini!" cegah Raka seraya berusaha menepi ke bahu jalanan yang sepi di bawah remang lampu kota.

Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Raka, Clara langsung melahap batang keras milik Raka yang menyumbul tegang di balik celana kainnya.

"Mmmph..." Clara menyambutnya dengan jilatan lembut dan lumatan basah yang mengelus bagian paling peka milik pria itu.

"Ahhh... Bu Clara!" desah Raka seketika seraya meremas erat lengan mulus Clara yang sedang menikm
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 27

    "Jangan banyak bicara lagi, Bu. Sekarang giliran saya yang mengambil kendali penuh," bisik Raka dengan vokal berat yang amat pekat seraya menarik kasar lengan mulus Clara.Raka mendudukkan wanita polos itu di atas sofa panjang kamar utama, tak memberikan jeda sedikit pun bagi sang CEO untuk sekadar menarik napas.Raka dengan cepat menarik turun celana kainnya yang baru melorot sedikit, membebaskan miliknya yang sudah menegang tegak memamerkan puncaknya."Raka... cepat masukin! Aku udah nggak tahan lagi!" pinta Clara dengan napas memburu dan mata sayu yang dipenuhi pendar keliaran mutlak.Raka mengambil posisi gagah dengan memasang satu kakinya menumpu di atas sofa dan satu kakinya lagi berdiri kokoh menapak lantai ubin.Tanpa ampun lagi, Raka langsung menghantamkan pangkal miliknya menembus liang intim Clara dalam satu dorongan kuat yang sangat mantap.Jlebb!"Ughhh! Aaaahh... Rakaaa!" jerit Clara melengking tinggi seraya menggeram rendah, merasakan kehangatan raksasa itu mengunci sel

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 26

    "Akhirnya sampai juga di apartemen aku," bisik Clara seraya mengunci pintu unitnya dari dalam, lalu berbalik menatap Raka yang berdiri mematung.Tanpa ragu sedikit pun, Clara mulai membuka satu per satu kancing kemeja utamanya di hadapan Raka yang celananya masih terbuka ritsletingnya.Tangannya merayap perlahan melucuti kain sutra itu, memperlihatkan keindahan tubuh mulusnya yang berkilau di bawah lampu temaram."Bu Clara sengaja banget ya memancing gairah saya dari tadi di mobil?" gerutu Raka pelan seraya menelan ludahnya yang amat kering.Clara hanya menyunggingkan senyum miring yang sangat memikat, lalu melemparkan kemejanya begitu saja ke atas lantai.Jemari lenturnya menangkup kedua dada besarnya sendiri, meremasnya lembut seraya menggigit bibir bawahnya dengan tatapan mata yang dipenuhi pendar keningan.Kini wanita tiga puluh tahun itu berdiri telanjang bulat sepenuhnya di hadapan Raka, memamerkan keindahan lekuk tubuhnya tanpa sehelai kain pun.Darah Raka makin berdesir hebat

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 25

    "Bu Clara... s-sabar dulu, saya lagi nyetir ini!" cegah Raka seraya berusaha menepi ke bahu jalanan yang sepi di bawah remang lampu kota.Tanpa menunggu jawaban atau persetujuan dari Raka, Clara langsung melahap batang keras milik Raka yang menyumbul tegang di balik celana kainnya."Mmmph..." Clara menyambutnya dengan jilatan lembut dan lumatan basah yang mengelus bagian paling peka milik pria itu."Ahhh... Bu Clara!" desah Raka seketika seraya meremas erat lengan mulus Clara yang sedang menikmati miliknya dengan begitu lapar.Raka memejamkan matanya erat-erat, membiarkan kemudi mobil berhenti sempurna seraya menikmati setiap detik permainan Clara yang liar di dalam kabin sedan mewah tersebut."Nhh... kenapa bisa enak banget isapan Bu Clara pagi sampai malam begini?" racau Raka dengan vokal berat yang amat pasrah.Clara tidak menghentikan permainannya; ia makin gencar melahap penuh batang raksasa itu hingga pangkalnya menyentuh tenggorokan hangatnya."Slluurrp, mmmhh!" Clara mendengus

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 24

    Brak!Raka mendorong kuat tubuh Heru hingga pria paruh baya itu tersungkur keras menghantam lantai ubin depan gedung."Pergi dari sini dan jangan pernah berani datang lagi kalau Bapak nggak mau tangan dan kaki Bapak patah seketika!" ancam Raka tegas dengan tatapan mata yang amat menusuk tajam.Heru yang merintih kesakitan justru meludah lagi ke ubin, lalu bangkit berdiri sambil menunjuk-nunjuk wajah Raka dengan penuh amarah."Awas kamu ya! Saya nggak akan pernah takut sama bocah ingusan kayak kamu!" gertak Heru dengan suara serak menahan malu.Raka hanya menatap datar wajah Heru tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, membiarkan pria tua itu terus mengoceh tak berdaya."Pergi sekarang sebelum saya panggil keamanan luar!" gertak Raka lagi dengan nada suara yang sedingin es.Heru mendengus kasar, lalu memutar badannya dan melangkah pergi meninggalkan area gedung kantor dengan sumpah serapah yang terus meluncur dari mulutnya.Raka menghela napas panjang, merapikan kembali kerah seragamnya y

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 23

    "Kringgg! Kringgg!" Ponsel di saku celana Raka terus bergetar hebat tanpa henti, menampilkan nama Maya di layarnya.Raka hanya menatap layar ponsel itu sejenak, lalu memilih untuk tidak mengangkat panggilan yang sudah masuk kesepuluh kalinya malam ini."Maaf ya, Mbak Maya... saya belum bisa ke rumah Mbak malam ini," gumam Raka pelan pada dirinya sendiri.Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, namun Raka masih setia berdiri di lorong sepi lantai atas kantor."Bu Clara kok belum keluar juga dari ruangannya ya?" gumam Raka seraya menatap pintu kayu tebal ruang kerja CEO-nya yang masih terkunci rapat.Raka yang merasa menunggu terlalu lama akhirnya berniat merapikan sapu dan kain pelnya ke tempat penyimpanan."Mending saya taruh alat-alat ini dulu ke gudang belakang deh daripada cuma berdiri bingung di sini," gumam Raka seraya memegang gagang troli kebersihannya.Namun, baru saja Raka melangkah beberapa pijakan, suara langkah kaki terburu-buru bergema keras dari arah lift utama."Clara!

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 22

    "Ayo pakai bajumu lagi, Raka. Jangan sampai ada yang curiga kalau kita terlalu lama di dalam gudang ini," bisik Sheila seraya meraih mini dress merahnya yang tergeletak di lantai.Raka dengan cekatan langsung menarik celana kainnya ke atas dan merapikan kancing seragamnya yang sempat terlepas."Iya, Mbak Sheila. Kita harus buru-buru keluar sebelum ada orang kantor yang lewat di lorong ini," sahut Raka seraya menyapu keringat di dahinya.Sheila menyunggingkan senyum manis seraya merapikan rambutnya yang berantakan di depan cermin kecil."Habis ini kita makan siang sama-sama di kantin ya, Raka. Kamu pasti lapar banget kan habis kerja keras tadi?" goda Sheila penuh perhatian."Boleh, Mbak. Tapi emangnya Bu Clara masih lama meeting-nya sama Pak Hendra di ruang rapat utama?" tanya Raka penasaran seraya memasukkan ponselnya ke saku celana.Bukannya menjawab pertanyaan itu secara serius, Sheila justru melangkah mendekati Raka dan menyenggol pinggul pria itu dengan genit."Kenapa nanya Bu Cla

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status