LOGINMalam merayap makin pekat menyelimuti langit ibu kota.Di lantai paling atas gedung apartemen mewah kawasan bisnis, suasana penthouse pribadi Clara terasa begitu tenang dan tertutup rapat dari bisingnya peradaban kota di bawah sana.Lampu-lampu gantung kristal memancarkan cahaya kekuningan yang temaram, memantulkan bayangan dua insan yang baru saja melangkah masuk menembus pintu utama berpanel kayu jati tebal.Clara melangkah lebih dulu, melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan lelah namun penuh kepuasan.Ia menggantungkan blazernya di patung gantungan, meninggalkan gaun sutra hitam tanpa lengan yang melekat pas membentuk lekuk tubuh cantiknya.Di belakangnya, Raka menutup pintu rapat-rapat, mengunci slot elektronik secara otomatis, lalu melepaskan jas hitamnya dan melipatnya santai di atas lengan."Duduklah di sofa, Raka," perintah Clara lembut tanpa menoleh, suaranya terdengar matang dan penuh keyakinan baru.Raka tidak membantah.Pria itu melangkah tenang menuju sofa kulit beruk
Clara menyandarkan punggungnya di tepi meja kerja mahoni, mengembuskan napas panjang yang sarat akan beban tersembunyi."Sepertinya memang begitu," gumam Clara pelan, matanya menatap kosong ke sudut ruangan sebelum kembali terkunci pada Raka."Pria seperti Hartono tidak akan pernah menerima kekalahan begitu saja hanya karena selembar kertas kontrak. Dia menandatanganinya hari ini karena terdesak, tapi siapa yang tahu kalau di balik layarnya dia sedang mengulik sesuatu tentang kehidupan pribadiku."Raka menganggukkan kepalanya perlahan.Ia melangkah mendekat, berdiri amat dekat hingga pandangan matanya menatap lekat wajah cantik di hadapannya."Tetap berhati-hati dalam berbisnis, Bu Clara," ucap Raka dengan nada suara yang dalam, tegas, dan menuntut kewaspadaan mutlak."Saya percaya kamu sangat cerdas dan dominan dalam memimpin perusahaan ini. Tapi seperti yang sama-sama kita tahu, dunia bisnis itu sangat jahat. Satu celah kecil dari masa lalu bisa dimanfaatkan musuh untuk meruntuhkan
Setibanya kembali di lantai eksekutif kantor utama, langkah kaki Raka membawanya langsung menuju ruang kerja Direktur Utama.Pintu kaca dibuka tanpa suara.Clara sudah duduk di balik meja kerjanya dengan ekspresi tegang yang langsung mencair begitu melihat sosok asisten pribadinya masuk ke dalam ruangan.Raka menghampiri meja kerja tersebut, lalu meletakkan map kulit hitam berisi dokumen kontrak resmi yang sudah diteken di atas permukaan mahoni."Kontrak distribusi wilayah selatan sudah ditandatangani oleh Hartono tanpa ada revisi klausul sedikit pun," lapor Raka dengan nada datar dan tenang.Mendengar laporan itu, senyuman lebar seketika terbit di wajah Clara.Beban berat yang selama ini menghimpit pundaknya seolah menguap tak bersisa.Namun, alih-alih langsung meraih dokumen kontrak kemenangan tersebut, Clara justru bangkit dari kursinya.Wanita itu melangkah cepat memutari meja, merapatkan tubuhnya, dan langsung melingkarkan kedua tangannya erat-erat memeluk leher Raka.Raka menaik
Pukul sembilan pagi keesokan harinya, Raka melangkah masuk ke dalam gedung perkantoran logistik milik Hartono dengan langkah pasti.Setelan jas hitam rapi melekat sempurna di tubuhnya, sementara tangan kanannya membawa sebuah map kulit hitam berisikan dokumen kontrak distribusi resmi yang sudah disetujui oleh Clara.Tidak ada keraguan di wajah pria itu; misinya hari ini hanyalah memastikan tanda tangan Hartono tertera di atas kertas tanpa ada hambatan berarti.Raka langsung dipersilakan masuk ke ruang kerja pribadi Hartono di lantai atas.Begitu pintu terbuka, Raka melihat Hartono sudah duduk di balik meja kerjanya dengan balutan jas mahal dan postur tubuh yang sengaja ditegakkan.Meskipun kemarin sore penguasa logistik itu sudah menyerah dan mengaku kalah di kafe hotel, rupanya sisa-sisa gengsi tinggi seorang pria tua masih melekat kuat di kepalanya.Hartono ingin menunjukkan bahwa dirinya tidak sepenuhnya tunduk, setidaknya di hadapan asisten sang Direktur Utama.Raka berjalan tenan
Dua hari berlalu dengan cepat.Sore hari di sebuah kafe hotel bintang lima yang terletak di pusat kota, suasana terasa tenang diiringi alunan musik klasik yang mengalun pelan.Di salah satu meja sudut ruangan yang dikelilingi sekat kaca tembus pandang, Clara duduk dengan postur anggun dan elegan.Mengenakan blazer abu-abu gelap dengan rambut tersanggih rapi, wanita itu tampak sangat dingin dan tidak tersentuh.Tepat di belakang sisi kanan kursi atasannya, Raka berdiri tegak mengenakan setelan jas hitam tanpa dasi, sorot matanya mengawasi setiap sudut ruangan dengan kepala dingin.Pintu kaca kafe terbuka.Hartono melangkah masuk dengan langkah tergesa-gesa yang berusaha disembunyikan di balik raut wajah senioritasnya.Pria paruh baya itu mengenakan jas formal mahal, namun garis-garis kelelahan dan kecemasan tampak jelas di sekitar pelipisnya.Hartono langsung menghampiri meja Clara, berdiri sejenak sebelum menarik kursi di seberang wanita itu."Selamat sore, Bu Clara," sapa Hartono den
Mendengar permohonan putus asa dari wanita di hadapannya, Raka tidak lagi menahan diri.Topeng dingin yang selalu ia kenakan di hadapan para petinggi korporat runtuh seketika, berganti dengan agresi liar yang siap melumat habis sisa pertahanan Clara.Pria itu merangsek maju, mencengkeram kedua pergelangan kaki Clara, lalu menarik tubuh wanita itu hingga berada tepat di tepi sofa.Tanpa membuang waktu sedetik pun, Raka meluruskan miliknya yang sudah menegang sempurna, lalu menghujamkan batang panasnya secara penuh ke dalam liang intim Clara dalam satu dorongan keras."Aaaaaahhh!" jerit Clara melengking tinggi, punggungnya melengkung ke udara dan matanya terbelalak lebar merasakan hantaman dahsyat yang merobek batas kesadarannya.Ukuran besar milik Raka mengisi penuh ruang sempit di dalam sana, menciptakan sensasi panas membakar yang langsung menjalar ke seluruh saraf tubuhnya.Raka tidak memberikan waktu bagi Clara untuk sekadar mengatur napas.Pria itu langsung mencengkeram pinggul ra







