Share

Bab 58

Author: Gali Pratama
last update publish date: 2026-09-10 22:57:50

Satu minggu berlalu sejak insiden Gala Night yang memanas. Pagi yang cerah menyinari ruang pantry eksklusif di lantai eksekutif kantor pusat.

Aroma biji kopi arabika yang baru digiling memenuhi ruangan berdesain modern minimalis dengan dominasi marmer putih tersebut.

Lisa sedang berdiri di depan mesin pembuat kopi otomatis dengan raut wajah canggung. Hari ini, wanita itu resmi jadi pegawai di kantor Clara setelah interview dua hari yang lalu.

Seragam kerja sederhananya tampak rapi, membingkai t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 85

    Dua kancing tersisa di kemeja sutra Clara terlepas sepenuhnya di bawah jemari tebal Raka.Dengan gerakan yang teratur dan penuh kendali, Raka menyibakkan kain sutra tersebut dari bahu mulus sang CEO, membiarkan pakaian atas itu terjatuh tak berdaya di atas lantai karpet yang tebal.Tak berhenti di situ, Raka menggeser jemarinya menuju pengait rok ketat yang membalut pinggul ramping Clara.Dalam satu tarikan pelan namun pasti, kain tersebut meluncur turun, mengekspos lekuk tubuh mulus tanpa sehelai benang pun yang kini terpampang jelas di bawah pendar remang lampu suite."Raka, kamu benar-benar tidak memberi saya kesempatan untuk bernapas," bisik Clara dengan vokal bergetar, dadanya yang padat naik-turun memburu saat udara dingin ruangan menyentuh kulit telanjangnya.Raka tidak langsung menjawab. Iris matanya yang pekat menyapu seluruh permukaan tubuh indah di hadapannya dengan tatapan penakluk yang mutlak.Pria tegap itu kemudian menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis."Tubuh

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 84

    Clara langsung melangkah menuju sofa kulit di dekat jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gemerlap kota Bandung dari ketinggian.Sang CEO melepas sepatu hak tingginya, membiarkan kaki mulusnya menyentuh karpet tebal, lalu menanggalkan blazer mewahnya hingga menyisakan kemeja sutra tanpa lengan berwarna krem."Koper letakkan di dekat lemari, Raka," perintah Clara.Suaranya tidak lagi sekaku saat di depan Maya, melainkan menyimpan nada letih yang sengaja dipasrahkan.Raka meletakkan koper-koper itu dengan tenang. "Sudah, Bu Clara. Ada hal lain yang harus saya siapkan?"Clara menyandarkan kepalanya di sandaran sofa, memejamkan mata sejenak seraya memijat leher jenjangnya."Kemari," bisik Clara halus, suaranya mengalun pasrah namun penuh dominasi terselubung."Pundak dan pinggang saya benar-benar pegal. Dari perjalanan di mobil tadi, saya sudah tidak tahan lagi, Raka."Raka menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis.Pria tegap itu memangkas jarak, melangkah mantap mendekat

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 83

    SUV hitam yang dikemudikan Raka akhirnya membelah kemacetan kota Bandung dan berbelok memasuki pelataran megah sebuah hotel bintang lima di kawasan Dago.Bangunan megah bergaya modern klasik itu menyambut kedatangan mereka dengan pendar lampu sore yang hangat.Raka mematikan mesin mobil, lalu turun dengan tangkas membukakan pintu untuk Clara."Terima kasih, Raka," ucap Clara singkat seraya melangkah keluar.Sang CEO merapikan blazer mewahnya, menatap pintu masuk utama hotel dengan pandangan tajam penuh wibawa.Raka mengangguk patuh. "Sama-sama, Bu Clara. Saya urus koper dan proses check-in di dalam."Maya turun dari pintu belakang dengan gaya centilnya yang biasa. Ia meretangkan kedua tangannya seraya menghela napas panjang, menikmati hawa sejuk Bandung yang menyapa kulit mulusnya."Akhirnya sampai juga!" seru Maya dengan nada suara yang gembira.Kemudian ia melangkahkan kakinya mendekati Raka yang sedang mengeluarkan koper-koper dari bagasi belakang."Capek banget tahu di jalan tadi,

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 82

    Matahari pagi baru saja menyapu jalan tol dengan pendar keemasannya. SUV hitam melaju mulus menyusuri aspal dengan Raka yang duduk tenang memegang kemudi.Di kursi samping pengemudi, Clara tampak anggun memeriksa laporan di komputer tabletnya. Sementara di baris belakang, Maya melipat kedua tangannya di dada dengan bibir mengerucut panjang."Perasaan posisi duduk aku melesat banget deh dari kemarin," gerutu Maya pelan dari balik kursi belakang, sengaja memancing perhatian. "Serasa jadi penumpang gelap aku di sini."Clara tidak menoleh, jemarinya tetap lincah menggeser layar tablet. "Kamu itu sekretaris, Maya, bukan pengawal. Tempat kamu memang di belakang.""Tapi kan sepi di belakang, Bu Clara," celetuk Maya manja seraya melirik bayangan Raka dari kaca spion tengah.Raka yang fokus menatap jalanan hanya menyunggingkan senyum miring yang teramat tipis tanpa membalas ucapan Maya, mempertahankan aura profesionalnya di depan sang CEO.Mobil terus membelah jalanan hingga sejam kemudian pap

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 81

    Maya melangkah mengendap-endap menyusuri lorong sempit menuju pos office boy.Suara ketukan sepatu hak tingginya sengaja diperpelan.Saat melihat pintu ruangan kecil itu sedikit terbuka, menyebarkan seberkas cahaya kuning redup ke koridor, senyum centil seketika terukir di bibirnya yang bergincu merah.Klek.Maya menyusup masuk, lalu dengan cepat mengunci pintu dari dalam."Langkah kamu berisik banget, Maya," celetuk Raka tanpa menoleh.Pria tegap itu sedang berdiri menyandarkan pinggulnya di tepi meja kayu, jemari tangannya santai merapikan deretan kunci ruangan yang tergantung di papan dinding.Maya terkekeh halus, membuang jarak di antara mereka dengan ayunan panggul yang manja.Tanpa ragu, ia langsung menyandarkan tubuh mewahnya, gelendotan di lengan berotot Raka yang terbungkus kemeja kerja."Biarin, kan cuma ada kita berdua di sini," sahut Maya dengan nada suara yang mendayu-dayu.Ia kemudian mengerucutkan bibirnya seraya menatap wajah tegap Raka dari samping."Kesal banget tahu

  • Pelayan untuk Nyonya Kesepian   Bab 80

    Jam dinding melingkar berbingkai emas di atas meja menunjukkan tepat pukul sembilan malam.Di atas meja kaca raksasa, belasan botol sampel parfum berderet rapi, memancarkan aroma bunga dan kayu yang lembut namun pekat.Clara menyandarkan punggungnya pada kursi kulit eksekutif. Sang CEO memijat pelapis pelipisnya yang sedikit tegang usai marathon pembahasan strategi pemasaran."Sampel aromanya sudah siap semua, Bu," ujar Maya seraya merapikan bundel dokumen presentasi di hadapannya.Meski pakaian kerjanya masih tampak rapi, raut wajah sang sekretaris tak bisa menyembunyikan rasa lelah, sekaligus rasa kesal yang masih terpendam akibat rencananya bersama Raka yang tertunda.Clara mengangguk pelan, menghela napas panjang sebelum menatap dua orang di dalam ruangannya secara bergantian."Pembahasan di sini sudah selesai," kata Clara dengan suara beningnya yang selalu memancarkan wibawa."Tapi sampel parfum ini harus diuji dan dipresentasikan langsung ke klien utama kita di Bandung lusa nant

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status