หน้าหลัก / Fantasi / Pelindung Terakhir / 4 - Telapak Tangan Besar Itu ....

แชร์

4 - Telapak Tangan Besar Itu ....

ผู้เขียน: Shiooki
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-10 21:48:39

Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein.

Baru saja ia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak kolot yang membungkus tubuh tinggi dan tegapnya terlihat sangat cocok untuknya.

Padahal Ara hanya berbaring sekitar sepuluh menit setelah percakapan mereka sambil merenungkan hal yang terjadi padanya, tetapi pria itu sudah tampak rapi dan kembali memegang kendali.

Ara menelan ludah. Selain menjadi budak yang bekerja seperti pelayan, tampaknya ia juga akan menjadi budak pemuas nafsu bagi pembelinya.

Itu bukan masalah. Sejak memutuskan menjual diri, Ara sudah siap menerima konsekuensinya. Jika perlu, ia akan belajar melayani pria—meski kenyataannya ia bahkan belum pernah berciuman, apalagi melakukan hal lain.

Yang membuatnya ragu hanyalah tubuhnya sendiri.

Ara tidak ingin Anthony melihatnya. Tuannya pernah berkata ia harus terlihat layak. Namun, dengan kondisi tubuhnya sekarang, Ara merasa dirinya jauh dari kata itu.

“Apa yang kau tunggu? Lepaskan pakaianmu.”

Suara berat Anthony memecah lamunannya.

Ara mengerjap, menelan ludah ketika melihat pria itu menatapnya dengan sorot tajam sambil tetap meminum teh.

Kemarin ia bahkan tidak sempat mandi. Apa tubuhnya bau?

Dengan ragu, Ara membuka kancing dressnya satu per satu hingga tersisa dua di bagian bawah. Kain itu ia buka hingga menggantung di siku.

Lalu Ara mendongak.

Anthony sudah berhenti minum.

Sorot mata hitamnya—gelap seperti malam—menatap Ara dengan tajam, tetapi anehnya pria itu tetap terlihat tenang. Pria itu tidak berkata apa-apa selama beberapa saat, membuat Ara berdiri kikuk sambil menahan pakaiannya agar tidak jatuh.

Ara tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Anthony.

Mungkin pria itu sedang menilai tubuhnya—tubuh kurus dengan kulit pucat yang sering membuat orang menoleh ketika Ara lewat, meski sebenarnya dipenuhi lebam keunguan.

Atau mungkin ia sedang mempertimbangkan apakah tubuh Ara cukup menarik untuk memuaskan hasratnya.

Apa pun jawabannya, Ara harus menerimanya.

“Ini sakit?”

Ara meringis.

Entah sejak kapan Anthony sudah berdiri tepat di depannya. Pakaiannya jatuh begitu saja ketika telapak tangan besar pria itu menyentuh lebam di lengannya, lalu berpindah ke paha.

Ara memejamkan mata, menahan rasa sakit ketika tangan itu meraba bekas luka di tubuhnya. Ia sontak mengigit bibir ketika Anthony memeluknya, menyusupkan kedua tangan pada tank top cream yang dipakainya, kemudian merabai kulitnya tanpa terlewat se-inci pun.

Namun, beberapa detik kemudian, sentuhan itu tidak lagi membuatnya sakit, melainkan mengantarkan sengatan listrik serta sensasi jungkir balik yang Ara rasakan di perutnya.

Ketika Ara mencoba untuk membuka mata, ia sudah berada di ruangan lain.

Dinding keramik mengilap, bathtub besar, meja kecil dengan buah dan air minum—semuanya terlihat seperti kamar mandi hotel mewah bergaya rustic.

Anthony mundur selangkah, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki sebelum mengangguk kecil. Sementara Ara hanya termangu, pipinya terasa hangat kala melihat Anthony memandangi tubuhnya yang hanya memakai tank top serta celana pendek begitu terang-terangan.

“Tubuhmu sudah terlihat lebih baik.”

Ara sontak menunduk, menatap lengannya, lalu beralih ke paha.

Semua lebam itu hilang. Kulitnya kembali bersih seolah jejak siksaan itu tak pernah ada.

Pupil Ara membesar, menatap Anthony terkejut. Sementara pria itu tetap terlihat datar seperti biasa. Namun, ketika tangan Anthony hendak menurunkan tali tank topnya, Ara buru-buru menahannya.

“A-apa yang akan Tuan lakukan?” cicit Ara malu, bahkan ia tidak sadar memanggil pria di hadapannya dengan sebutan 'tuan'.

“Memandikanmu.”

Siapa yang tidak terkejut mendengar perkataan itu?

Ara menggelengkan kepalanya cepat. Ia mengambil langkah mundur, mencoba menjauh dari jangkauan Anthony, tetapi pria itu menahan pinggangnya, lalu dengan santainya menurunkan tali tank topnya.

"Tidak. Tidak . Tidak. S-saya bisa melakukannya sendiri. Saya bukan anak kecil."

"Kau tidak akan bisa menjangkau punggungmu. Selain itu, tubuhmu memang kotor, jadi akan kubersihkan semua untukmu."

Anthony mengabaikan rengekan Ara. Ia menanggalkan semua yang melekat pada tubuh Ara hingga gadis itu memekik, kemudian menggendongnya dan membawanya menuju bathub yang sudah terisi air hangat dilengkapi wewangian dan bunga.

Entah kapan pria ini menyiapkannya. Wajahnya terlihat datar sekali ketika menurunkan Ara di sana dan mulai memandikannya, santai sekali dan sama. sekali tidak memedulikan penolakan serta rengekan Ara.

"Apa kau kucing? Tenanglah, jangan banyak memberontak dan merengek seperti itu."

Gadis mana yang tidak memberontak ketika tubuhnya digosok sana-sini oleh pria yang baru saja dikenal?!

[]

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Pelindung Terakhir    7 - Peri Misterius

    Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya.Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk.Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika Ia duduk di tepian kasur.Ketika masih di Busan dan tinggal bersama kerabatnya, Ara selalu tidur di lantai gudang dengan sehelai selimut tipis. Ia harus berbagi tempat dengan tumpukan barang dan perabot lama. Namun, di sini semuanya terasa mewah.Kasurnya empuk, bantalnya lembut, dan selimut tebal tergulung rapi di ujung ranjang. Di sudut ruangan ada meja belajar serta rak penuh buku dengan bahasa yang tidak ia pahami. Di lemari bahkan sudah terisi berbagai pakaian dengan warna dan model berbeda.Anehnya, semua pakaian itu terlihat pas untuknya.Ara menatap lemari itu sejenak."Apa sebelum aku datang … ada seseorang yang tinggal di kamar ini?" gumamnya. Ara segera menggeleng. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang

  • Pelindung Terakhir    6 - Daging dan Peringatan

    Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and chips, serta semangkuk daging dan kentang. Melihatnya saja sudah membuat Ara merasa kenyang.Sejak pertama kali memasuki rumah ini, ia langsung dibawa ke ruangan tersebut dan dipersilakan duduk di sofa yang menghadap perapian. Pelayan yang membawanya terlihat seperti boneka—wajahnya tanpa ekspresi, persis seperti tuannya.Ara melirik Anthony yang duduk di sofa tunggal seraya bertumpang kaki, sedang memperhatikan pelayannya memotong daging yang sepertinya baru keluar dari oven dan menaruhnya di piring Ara. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua.Gadis Jung lekas memalingkan pandangan ke arah perapian. Ia benar-benar disambut baik di sini.“Kau belum makan apa-a

  • Pelindung Terakhir    5 - Rumah Baru?

    Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya.Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Perasaan malu itu semakin menjadi ketika ia mencuri pandang pada wajah Anthony yang tetap datar—seolah semua ini hal biasa baginya.Padahal, bagi Ara, ini memalukan luar biasa. Rasanya ia ingin masuk ke dalam kantong celana.“Rendam bahumu agar tubuhmu hangat. Keluarlah sebelum airnya dingin,” ujar Anthony tenang. Setelah mengatakan itu, ia melangkah keluar, meninggalkan Ara yang masih menekuk lutut di tepi bathtub sambil menutup wajah dengan kedua tangan.“Semuanya … dia melihat semuanya,” gumam Ara.Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya kepada siapa pun, apalagi sampai dimandikan seperti tadi. Satu-satunya pengecualian hanyalah ketika ia masih bayi dan dimandikan oleh

  • Pelindung Terakhir    4 - Telapak Tangan Besar Itu ....

    Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein. Baru saja ia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak kolot yang membungkus tubuh tinggi dan tegapnya terlihat sangat cocok untuknya. Padahal Ara hanya berbaring sekitar sepuluh menit setelah percakapan mereka sambil merenungkan hal yang terjadi padanya, tetapi pria itu sudah tampak rapi dan kembali memegang kendali. Ara menelan ludah. Selain menjadi budak yang bekerja seperti pelayan, tampaknya ia juga akan menjadi budak pemuas nafsu bagi pembelinya. Itu bukan masalah. Sejak memutuskan menjual diri, Ara sudah siap menerima konsekuensinya. Jika perlu, ia akan belajar melayani pria—meski kenyataannya ia bahkan belum pernah berciuman, apalagi melakukan hal lain. Yang membuatnya ragu hanyalah tubuhnya sendiri. Ara tidak ingin Anthony melihat

  • Pelindung Terakhir    3 - Sebuah Harapan?

    Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena ia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi.Ya, tidak mungkin terjadi.Namun, entah sejak kapan Ara bisa merasakan kehidupan yang dia mimpi-mimpikan akan terjadi. Apa semenjak dia keluar dari lembaga rehabilitasi? Perasaan tenang yang aneh. Seolah untuk sesaat, dunia berhenti menyakitinya."Hei, bangun ...."Ah, benar. Sepertinya semenjak dia mendengar suara ini. Suara yang terdengar datar, tetapi anehnya terasa hangat. Di mana ia pernah mendengar suara ini?“Bangunlah.”Ara membuka mata perlahan, dan memekik ketika menemukan seorang pria berbaring miring di sampingnya, menyangga kepala dengan tangan, wajahnya terlalu dekat. Refleks, Ara melayangkan pukulan, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal dengan mudah.“Kau sudah bangun?” tanyanya tenang.Ara menge

  • Pelindung Terakhir    2 - Namanya adalah Wallenstein

    Di lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya. Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam perkataan mereka.Pengantin?Ara tersentak saat merasakan hawa dingin yang terpancar dari pria yang berjalan di hadapannya.Ia mendongak, memandang punggung pria itu. Berapa kali pun Ara lihat, aura hitam dengan sedikit warna emas yang menyelubunginya membuat ia takjub. Apalagi sayap gagah hitam itu.“Jadi, kau bisa melihatnya, ya?”Pria misterius di hadapannya mendadak menghentikan langkah, sontak membuat Ara terkesiap, jantungnya berdegup kencang.Itu bukan pertanyaan, melainkan tuduhan halus.Darah Ara terasa membeku. Pengalaman masa lalu langsung menghantam pikirannya—teriakan, tamparan, pintu dikunci, suara orang-orang menyebutnya gila. Ia tidak ingin pria ini mengetahui kemampuannya y

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status