เข้าสู่ระบบSepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein.
Baru saja dia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak kolot yang membungkus tubuh tinggi dan tegapnya terlihat sangat cocok untuknya. Padahal Ara hanya berbaring sekitar sepuluh menit setelah percakapan mereka sambil merenungkan hal yang terjadi padanya, tetapi pria itu sudah tampak rapi dan kembali memegang kendali. Ara menelan ludah. Selain menjadi budak yang bekerja seperti pelayan, tampaknya dia juga akan menjadi budak pemuas nafsu bagi pembelinya. Itu bukan masalah. Sejak memutuskan menjual diri, Ara sudah siap menerima konsekuensinya. Jika perlu, dia akan belajar melayani pria—meski kenyataannya dia bahkan belum pernah berciuman, apalagi melakukan hal lain. Yang membuatnya ragu hanyalah tubuhnya sendiri. Ara tidak ingin Anthony melihatnya. Tuannya pernah berkata dia harus terlihat layak. Namun, dengan kondisi tubuhnya sekarang, Ara merasa dirinya jauh dari kata itu. “Apa yang kau tunggu? Lepaskan pakaianmu.” Suara berat Anthony memecah lamunannya. Ara mengerjap, menelan ludah ketika melihat pria itu menatapnya dengan sorot tajam sambil tetap meminum teh. Kemarin dia bahkan tidak sempat mandi. Apa tubuhnya bau? Dengan ragu, Ara membuka kancing pakaiannya satu per satu hingga tersisa dua di bagian bawah. Kain itu dia buka hingga menggantung di siku. Lalu Ara mendongak, melihat Anthony sudah berhenti minum. Sorot mata hitamnya—gelap seperti malam—menatap Ara dengan tajam, tetapi anehnya pria itu tetap terlihat tenang. Pria itu tidak berkata apa-apa selama beberapa saat, membuat Ara berdiri kikuk sambil menahan pakaiannya agar tidak jatuh. Ara tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Anthony. Mungkin pria itu sedang menilai tubuhnya—tubuh kurus dengan kulit pucat yang sering membuat orang menoleh ketika Ara lewat, meski sebenarnya dipenuhi lebam keunguan karena sisa kekerasan para rentenir. Atau mungkin, dia sedang mempertimbangkan apakah tubuh Ara cukup menarik untuk memuaskan hasratnya. Apa pun jawabannya, Ara harus menerimanya. “Ini sakit?” Ara meringis. Entah sejak kapan Anthony sudah berdiri tepat di depannya. Pakaiannya jatuh begitu saja ketika telapak tangan besar pria itu menyentuh lebam di lengannya, lalu berpindah ke paha. Ara memejamkan mata, menahan rasa sakit ketika tangan itu meraba bekas luka di tubuhnya. Dia sontak menggigit bibir ketika Anthony memeluknya, menyusupkan kedua tangan pada tank top cream yang dipakainya, kemudian merabai kulitnya tanpa terlewat se-inci pun. Namun, beberapa detik kemudian, sentuhan itu tidak lagi membuatnya sakit, melainkan mengantarkan sengatan listrik serta sensasi jungkir balik yang Ara rasakan di perutnya. Ketika Ara mencoba untuk membuka mata, dia sudah berada di ruangan lain. Dinding keramik mengilap, bathtub besar, meja kecil dengan buah dan air minum—semuanya terlihat seperti kamar mandi hotel mewah bergaya rustic. Anthony mundur selangkah, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki sebelum mengangguk kecil. Sementara Ara hanya termangu, pipinya terasa hangat kala melihat Anthony memandangi tubuhnya yang hanya memakai tank top serta celana pendek begitu terang-terangan. “Tubuhmu sudah terlihat lebih baik.” Ara sontak menunduk, menatap lengannya, lalu beralih ke paha. Semua lebam itu hilang. Kulitnya kembali bersih seolah jejak siksaan itu tak pernah ada. Pupil Ara membesar, menatap Anthony terkejut. Sementara pria itu tetap terlihat datar seperti biasa. Namun, ketika tangan Anthony hendak menurunkan tali tank topnya, Ara buru-buru menahannya. “A-apa yang akan Tuan lakukan?” cicit Ara malu, bahkan dia tidak sadar memanggil pria di hadapannya dengan sebutan 'tuan'. “Memandikanmu.” Siapa yang tidak terkejut mendengar perkataan itu? Ara menggelengkan kepalanya cepat. Dia mengambil langkah mundur, mencoba menjauh dari jangkauan Anthony, tetapi pria itu menahan pinggangnya, lalu dengan santainya menurunkan tali tank topnya. "Tidak. Tidak . Tidak. S-saya bisa melakukannya sendiri. Saya bukan anak kecil." "Kau tidak akan bisa menjangkau punggungmu. Selain itu, tubuhmu memang kotor, jadi akan kubersihkan semua untukmu." Anthony mengabaikan rengekan Ara. Dia menanggalkan semua yang melekat pada tubuh Ara hingga gadis itu memekik, kemudian menggendongnya dan membawanya menuju bathub yang sudah terisi air hangat dilengkapi wewangian dan bunga. Entah kapan pria ini menyiapkannya. Wajahnya terlihat datar ketika menurunkan Ara di sana dan mulai memandikannya, santai dan sama sekali tidak memedulikan penolakan serta rengekan Ara. "Apa kau kucing? Tenanglah, jangan banyak memberontak dan merengek seperti itu." Gadis mana yang tidak memberontak ketika tubuhnya digosok sana-sini oleh pria yang baru saja dikenal?! []Sebenarnya, apa yang terjadi pada Ara?Pertanyaan itu terus berputar di kepala Vance sepanjang perjalanan. Dan kini, jawabannya perlahan mulai terbentang di hadapannya.Hari hampir memasuki tengah hari ketika akhirnya dia berdiri di depan kamar yang dipesan Anthony J. Wallenstein untuk tiga hari ke depan. Perjalanan menuju tempat ini jauh lebih melelahkan daripada yang dia bayangkan.Dia harus menaiki kereta menggunakan uang yang dititipkan Lily, mengikuti petunjuk jalan yang membingungkan, berganti bus di sekitar Stasiun Paddington, hingga akhirnya tiba di hotel dengan menyamar menggunakan "permen" sihir buatan Yuuscar.Begitulah Vance menyebut benda bulat kecil itu.Sebelum berangkat, Anthony sempat mengingatkannya, "Ada banyak makhluk dunia bawah yang mengawasi hotel ini. Di luar maupun di dalam. Karena itu, kau harus menyamar sebagai aku. Tenang saja, mereka tidak akan menyadarinya karena mereka semua bodoh. Aku sudah meminta seseorang membuat
"Bagaimana situasinya?""Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia," jawab Succubi seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Semuanya berjalan lancar. Para manusia mulai gelisah dan membentuk kelompok untuk memburu sang kambing hitam dari Neraka. Mara serta rekan-rekan kami di lapangan telah mengonfirmasi bahwa mereka siap bergerak sesuai waktu yang telah Yang Mulia tentukan."Jattandier Bloodfallen tertawa pelan, tawa itu terdengar sangat puas."Bagus. Bagus sekali. Ah ... betapa menyenangkannya ini." Sudut bibirnya terangkat perlahan. Dia menyandarkan tubuh pada kursinya sambil menatap kosong ke arah jendela besar di belakang ruangan.Lalu, senyumnya semakin lebar. "Manusia memang makhluk yang menarik. Cukup beri mereka rasa takut dan sedikit kebohongan, mereka akan saling membunuh tanpa perlu kusuruh."Succubi ikut tersenyum, merasa lega karena pekerjaannya mendapat pujian dari calon penguasa Abyss. Dia tetap menundukkan kepala, tak berani menatap langsun
Vance terdiam beberapa saat. Ada sesuatu yang terasa sangat mencurigakan.Jika Anthony hanya ingin melakukan telepati, iblis itu tidak membutuhkan perantara darah. Selama ini Anthony selalu dapat menghubunginya secara langsung.Lalu, mengapa sekarang berbeda?Apa terjadi sesuatu pada Anthony?Atau ... Ara?Tidak.Sedari awal, jika sesuatu terjadi pada pemilik kontraknya, dia pasti akan merasakannya. Ikatan familiar mereka terlalu kuat untuk dibohongi. Namun, yang dia rasakan justru sebaliknya. Ada perasaan bahagia, terasa hangat yang memenuhi dadanya, bercampur dengan kelembutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Namun, anehnya kebahagiaan itu terasa begitu menyesakkan.Vance yakin, selama di London mereka pasti mengalami sesuatu yang sangat membahagiakan hingga emosi Ara masih mengalir melalui kontrak mereka. Karena itulah firasat buruk yang memenuhi kepalanya terasa semakin tidak masuk akal.Menggeleng pelan, Va
'Jaga rumah ini. Apa pun yang terjadi.'Mata Lily memanas, lalu satu tetes air mata meluncur di pipinya."Lily?"Suara Vance membuat tubuhnya tersentak. Banshee itu buru-buru mengusap air mata, lalu menoleh dan memberikan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Vance tidak tertipu."Kau baik-baik saja?"Lily mengangguk cepat, kemudian membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah. Sementara Vance hanya berdiri di tempatnya, menatap punggung Lily yang semakin menjauh."Apa aku salah lihat?" Dia menelengkan kepala, tangannya mengusap tengkuk. "Lily ... menangis?"Belum sempat dia mengejar, sesuatu yang bercahaya melintas di sudut matanya. Vance mendongak, dan mendapati seekor burung kecil berwarna biru terang terbang menuju dirinya. Tubuh burung itu terlihat transparan. Cahaya biru membentuk bulu-bulunya, sementara serpihan energi berjatuhan dari sayapnya setiap kali mengepak."Sihir?" Vance mengulurkan tangan, dan bu
"Hah ...." Yuuscar mengembuskan napas kasar sembari mengusap wajahnya.Yeah. Tentu saja akan seperti ini.Meski Anthony J. Wallenstein merupakan sosok iblis yang konon paling sempurna setelah raja dunia bawah, seluruh kesempurnaan itu seolah menguap begitu dia berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar disayanginya.Naif. Bodoh. Dan luar biasa keras kepala.Anthony sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan. Ratusan tahun berkubang di tempat yang bahkan tidak mengenal arti cahaya, sampai akhirnya dia menemukan secercah terang dalam wujud seorang manusia bernama Jung Ara. Tentu saja dia menjadi tergila-gila.Masalahnya, kegilaan Anthony tidak pernah mengenal batas. Nyawanya sendiri sampai dia kesampingkan hanya demi menempatkan 'cahaya' yang ditemukannya itu di atas segala-galanya.Yuuscar menggeleng pelan, betapa bodohnya teman iblisnya ini.Benar kata pepatah. Selain membuat buta dan gila, cinta rupanya juga mampu membuat makhluk palin
"Jika tubuh iblis sepertimu saja hampir hancur setelah kehilangan semua itu, bagaimana dengan Ara?"Dan sorot mata Anthony berubah."Dia manusia. Manusia, Anthony." Yuuscar menekankan setiap katanya. Keheningan terasa makin berat. "Tubuhnya bahkan tidak diciptakan untuk menampung kekuatan iblis sebesar milikmu. Sekarang kau memberikan pecahan jantungmu, kehidupanmu, bahkan keabadian yang melekat pada keberadaanmu kepadanya."Yuuscar menatap lurus ke mata Anthony. "Apa kau sadar apa yang sudah kau masukkan ke dalam tubuh gadis itu?"Anthony tercenung. Jemarinya perlahan mengepal. Tentu dia sadar. Dia sadar sejak awal. Dia sudah menghitung setiap kemungkinan, setiap risiko, kegagalan, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Namun, dia tetap melakukannya karena tidak ada pilihan lain yang menurutnya lebih baik."Kau tidak perlu khawatir." Suara Anthony terdengar lirih, tetapi tegas. "Semuanya sudah kuperhitungkan."Yuuscar terdiam, lalu dia meng
Di lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya. Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam
"Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya. Sang gadis, yang memiliki nama lengkap Jung Ara—saat ini dia berusia sembilan belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa waktu lalu, Jung Ara
Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya. Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. P
Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena dia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi. Ya, tidak mungkin terjadi. N







