Home / Fantasi / Iblis Yang Mencintaiku / 3 - Sebuah Harapan?

Share

3 - Sebuah Harapan?

Author: Shiooki
last update publish date: 2026-03-10 21:35:54

Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena dia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi.

Ya, tidak mungkin terjadi.

Namun, entah sejak kapan Ara bisa merasakan kehidupan yang dia mimpi-mimpikan akan terjadi. Apa semenjak dia keluar dari lembaga rehabilitasi?

Perasaan tenang yang aneh. Seolah untuk sesaat, dunia berhenti menyakitinya.

"Hei, bangun ...."

Ah, benar. Sepertinya semenjak dia mendengar suara ini. Suara yang terdengar datar, tetapi anehnya terasa hangat. Di mana dia pernah mendengar suara ini?

“Bangunlah.”

Ara membuka mata perlahan, dan beberapa saat kemudian memekik ketika menemukan seorang pria berbaring miring di sampingnya, menyangga kepala dengan tangan, wajahnya terlalu dekat. Refleks, Ara melayangkan pukulan, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal dengan mudah.

“Kau sudah bangun?” tanyanya tenang.

Ara mengerjapkan matanya.

"Kau tipe manusia yang susah dibangunkan, ya?"

Ingatan semalam seketika menyerbu masuk. Pasar gelap. Sayap hitam. Kabut. Teleportasi.

Ara menoleh pelan dan baru menyadari mereka berada di tempat tidur yang sama. Lebih buruk lagi, kemeja hitam Anthony terbuka hingga memperlihatkan dada dan perutnya yang terlihat keras dan terlatih. Wajah Ara langsung memanas. Dia menarik selimut dan menyembunyikan diri sepenuhnya di bawahnya.

"Ada apa?"

Ara ingin menghilang. Sejak kapan dia bisa tertidur tanpa kewaspadaan? Apalagi dia berada dalam satu ruangan dengan seorang pria yang memiliki rupa tampan dan seksi, di satu tempat tidur pula. Ugh, Jung Ara bodoh!

“I-itu … kapan kita akan berangkat?” tanya Ara terbata, suaranya teredam selimut.

Alih-alih menjawab, Anthony bertanya balik, “Kenapa? Kau tidak sabar pergi dari sini?”

Ara menurunkan sedikit selimut dan mengintipnya. Melihat itu, Anthony langsung menarik selimutnya dan menahan Ara agar gadis itu tidak bisa lagi bersembunyi.

“Kau ingin pergi denganku?”

Ara yang kelabakan karena tidak ada lagi yang dapat dia gunakan untuk bersembunyi langsung terhenti, lalu memberanikan diri untuk menatap pria yang sudah membelinya.

"Apa ... saya boleh pergi bersama Anda?" Suaranya sangat kecil, nyaris seperti bisikan anak kecil yang takut ditolak.

Anthony tertawa pelan, hanya satu sudut bibirnya yang terangkat. Ara terkesima. Namun, itu hanya bertahan beberapa detik saja karena setelahnya ekspresi pria itu kembali datar.

"Pertanyaan yang konyol. Jika kau tidak pergi denganku, lalu untuk apa aku menghabiskan banyak uang untuk membelimu?"

Lalu untuk apa kau bertanya seperti itu? Ara tidak mengatakannya.

Pria ini betul-betul aneh. Dari awal saja pria ini sudah aneh karena bisa-bisanya membelinya dengan uang sebanyak itu, padahal tidak ada yang istimewa dalam dirinya. Seperti yang dia katakan, tubuh Ara terlihat kurus dan kecil dibanding gadis seusianya. Tidak menarik, juga menyedihkan.

Tidak ada hal yang bagus dalam dirinya.

Namun, mengapa?

"Untuk manusia berkepala kecil sepertimu, ternyata kau suka memikirkan banyak hal, ya. Apa yang sedang kau pikirkan sampai alismu mengkerut seperti itu?"

Ara ingin mencubit mulut pria ini. Muncul rasa tidak nyaman yang asing karena dia tidak terbiasa dengan orang yang memperhatikannya sampai ke kerutan kecil di alisnya. Apa ini yang namanya kesal?

“Hanya saja ... saya tidak mengerti kenapa Anda membeli saya. Anda bahkan memperlakukan saya dengan baik.”

"Apa di matamu aku terlihat baik?"

Pertanyaan yang krusial, karena nyatanya Ara baru mengenalnya kurang dari 24 jam. Dia tidak tahu apakah pria ini memang baik, atau hanya berpura-pura saja. Yang jelas, Ara tidak merasakan niat buruk darinya meski pria itu memiliki aura yang mengerikan.

"Jika Anda bukan orang baik, Anda tidak akan membiarkan saya tidur di satu tempat yang sama dengan Anda," jawab Ara pada akhirnya. Sekilas, Ara bisa melihat tatapan Anthony yang melunak, bulu mata pria itu mengepak saat dia mengerjap sebelum akhirnya mendengkus dan tertawa.

“Apa kau bodoh? Bagaimana jika aku melakukan sesuatu saat kau tidur?”

“Tapi … Anda tidak melakukannya.”

Dan Anthony seketika berhenti dari tawanya. Sorot matanya berubah tajam, menatap Ara yang mendadak menyesal karena sudah banyak bicara.

Dalam satu gerakan cepat, Anthony sudah berada di atasnya, menahan kedua pergelangan tangan Ara di sisi kepalanya. Ara tentu langsung membeku. Napasnya tercekat, tetapi dia tidak melawan. Bukan karena berani, tetapi karena terlalu terbiasa tak punya pilihan.

Tatapan kosong itu—yang menyerah sebelum disakiti—membuat Anthony menghela napas panjang. Dia mundur dan lekas menarik Ara untuk duduk.

"Kau tidak boleh memercayai seseorang dengan mudah."

"Termasuk Anda?" tanya Ara pelan.

Anthony menyeringai samar. “Bagaimana menurutmu?”

Ara menunduk lagi. Kepalanya terasa penuh. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini asing baginya. Selama ini dia hanya hidup mengikuti perintah, menyesuaikan diri agar tidak dibenci.

“Saya tidak tahu .…” Suaranya hampir tak terdengar. “Ini pertama kalinya ada orang yang bertanya tentang pendapat saya."

Kalimat itu keluar begitu saja. Ara mendongak, dan tertegun saat melihat tatapan Anthony yang terlihat berbeda.

Ada sesuatu di sana. Penyesalan? Amarah?

"Ke depannya kau harus terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang datang padamu. Manusia hidup dengan kebebasannya untuk berpendapat, jika hal itu ditiadakan, bagaimana kau bisa menjalani kehidupanmu?"

Ara terdiam.

Berhak.

Kata itu terasa asing, berat, dan cukup menyakitkan

Bibir Ara terasa kesemutan. Memikirkan waktu yang dia habiskan di bawah tekanan orang lain membuatnya terbiasa untuk merendah. Tidak ada hal yang lebih menakutkan dari pandangan orang-orang kepadanya, bahkan hantu dan makhluk menyeramkan yang sering dia lihat tidak ada apa-apanya. Namun, pria ini berkata kepadanya untuk terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan pendapat darinya.

Apa dirinya boleh menyuarakan keinginannya?

"Lagi-lagi kau terlalu banyak berpikir."

Sentuhan ringan di dahinya membuat Ara tersentak. Anthony menyentilnya pelan, lalu memberikan usapan yang canggung di kepalanya. Ekspresinya yang datar sama sekali tidak cocok dengan perlakuannya yang lembut, Ara sampai mengerjap dibuatnya.

"Tidak apa-apa. Sekarang sudah tidak apa-apa. Kau aman bersamaku, Ara."

Kalimat itu sederhana. Namun, sesuatu di dalam diri Ara—yang selama ini seperti tercekik oleh rasa takut—perlahan mengendur.

Aman.

Tidak pernah ada yang mengatakan itu padanya.

Orang-orang memanggilnya pembawa sial. Monster. Anak terkutuk. Namun, pria bersayap hitam yang membelinya di pasar gelap justru memanggil namanya dengan benar.

Ara menatapnya, ragu. Takut berharap.

Apa ini sebuah awal baginya?

Jung Ara, seorang gadis 19 tahun yang tumbuh tanpa kasih sayang, ditemani oleh berbagai macam pengalaman suram, akan mendapatkan sebuah kebahagiaan?

Dari pria bernama Anthony J. Wallenstein ini?

[]

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
StarSea25
seruuu bangettt wooyyy............
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Iblis Yang Mencintaiku    250 - Orang-Orang yang Akan Ditinggalkan

    Sebenarnya, apa yang terjadi pada Ara?Pertanyaan itu terus berputar di kepala Vance sepanjang perjalanan. Dan kini, jawabannya perlahan mulai terbentang di hadapannya.Hari hampir memasuki tengah hari ketika akhirnya dia berdiri di depan kamar yang dipesan Anthony J. Wallenstein untuk tiga hari ke depan. Perjalanan menuju tempat ini jauh lebih melelahkan daripada yang dia bayangkan.Dia harus menaiki kereta menggunakan uang yang dititipkan Lily, mengikuti petunjuk jalan yang membingungkan, berganti bus di sekitar Stasiun Paddington, hingga akhirnya tiba di hotel dengan menyamar menggunakan "permen" sihir buatan Yuuscar.Begitulah Vance menyebut benda bulat kecil itu.Sebelum berangkat, Anthony sempat mengingatkannya, "Ada banyak makhluk dunia bawah yang mengawasi hotel ini. Di luar maupun di dalam. Karena itu, kau harus menyamar sebagai aku. Tenang saja, mereka tidak akan menyadarinya karena mereka semua bodoh. Aku sudah meminta seseorang membuat

  • Iblis Yang Mencintaiku    249 - Bayangan yang Tak Dapat Dijangkau

    "Bagaimana situasinya?""Sesuai keinginan Anda, Yang Mulia," jawab Succubi seraya menundukkan kepala dalam-dalam. "Semuanya berjalan lancar. Para manusia mulai gelisah dan membentuk kelompok untuk memburu sang kambing hitam dari Neraka. Mara serta rekan-rekan kami di lapangan telah mengonfirmasi bahwa mereka siap bergerak sesuai waktu yang telah Yang Mulia tentukan."Jattandier Bloodfallen tertawa pelan, tawa itu terdengar sangat puas."Bagus. Bagus sekali. Ah ... betapa menyenangkannya ini." Sudut bibirnya terangkat perlahan. Dia menyandarkan tubuh pada kursinya sambil menatap kosong ke arah jendela besar di belakang ruangan.Lalu, senyumnya semakin lebar. "Manusia memang makhluk yang menarik. Cukup beri mereka rasa takut dan sedikit kebohongan, mereka akan saling membunuh tanpa perlu kusuruh."Succubi ikut tersenyum, merasa lega karena pekerjaannya mendapat pujian dari calon penguasa Abyss. Dia tetap menundukkan kepala, tak berani menatap langsun

  • Iblis Yang Mencintaiku    248 - Permintaan Terakhir yang dipercayakan Padanya

    Vance terdiam beberapa saat. Ada sesuatu yang terasa sangat mencurigakan.Jika Anthony hanya ingin melakukan telepati, iblis itu tidak membutuhkan perantara darah. Selama ini Anthony selalu dapat menghubunginya secara langsung.Lalu, mengapa sekarang berbeda?Apa terjadi sesuatu pada Anthony?Atau ... Ara?Tidak.Sedari awal, jika sesuatu terjadi pada pemilik kontraknya, dia pasti akan merasakannya. Ikatan familiar mereka terlalu kuat untuk dibohongi. Namun, yang dia rasakan justru sebaliknya. Ada perasaan bahagia, terasa hangat yang memenuhi dadanya, bercampur dengan kelembutan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.Namun, anehnya kebahagiaan itu terasa begitu menyesakkan.Vance yakin, selama di London mereka pasti mengalami sesuatu yang sangat membahagiakan hingga emosi Ara masih mengalir melalui kontrak mereka. Karena itulah firasat buruk yang memenuhi kepalanya terasa semakin tidak masuk akal.Menggeleng pelan, Va

  • Iblis Yang Mencintaiku    247 - Burung Dengan Cahaya Biru

    'Jaga rumah ini. Apa pun yang terjadi.'Mata Lily memanas, lalu satu tetes air mata meluncur di pipinya."Lily?"Suara Vance membuat tubuhnya tersentak. Banshee itu buru-buru mengusap air mata, lalu menoleh dan memberikan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa. Namun, Vance tidak tertipu."Kau baik-baik saja?"Lily mengangguk cepat, kemudian membuka pintu dan segera masuk ke dalam rumah. Sementara Vance hanya berdiri di tempatnya, menatap punggung Lily yang semakin menjauh."Apa aku salah lihat?" Dia menelengkan kepala, tangannya mengusap tengkuk. "Lily ... menangis?"Belum sempat dia mengejar, sesuatu yang bercahaya melintas di sudut matanya. Vance mendongak, dan mendapati seekor burung kecil berwarna biru terang terbang menuju dirinya. Tubuh burung itu terlihat transparan. Cahaya biru membentuk bulu-bulunya, sementara serpihan energi berjatuhan dari sayapnya setiap kali mengepak."Sihir?" Vance mengulurkan tangan, dan bu

  • Iblis Yang Mencintaiku    246 - Pesan Sebelum Perpisahan

    "Hah ...." Yuuscar mengembuskan napas kasar sembari mengusap wajahnya.Yeah. Tentu saja akan seperti ini.Meski Anthony J. Wallenstein merupakan sosok iblis yang konon paling sempurna setelah raja dunia bawah, seluruh kesempurnaan itu seolah menguap begitu dia berhadapan dengan sesuatu yang benar-benar disayanginya.Naif. Bodoh. Dan luar biasa keras kepala.Anthony sudah terlalu lama hidup dalam kegelapan. Ratusan tahun berkubang di tempat yang bahkan tidak mengenal arti cahaya, sampai akhirnya dia menemukan secercah terang dalam wujud seorang manusia bernama Jung Ara. Tentu saja dia menjadi tergila-gila.Masalahnya, kegilaan Anthony tidak pernah mengenal batas. Nyawanya sendiri sampai dia kesampingkan hanya demi menempatkan 'cahaya' yang ditemukannya itu di atas segala-galanya.Yuuscar menggeleng pelan, betapa bodohnya teman iblisnya ini.Benar kata pepatah. Selain membuat buta dan gila, cinta rupanya juga mampu membuat makhluk palin

  • Iblis Yang Mencintaiku    245 - Yang Tidak Termasuk Dalam Perhitungan

    "Jika tubuh iblis sepertimu saja hampir hancur setelah kehilangan semua itu, bagaimana dengan Ara?"Dan sorot mata Anthony berubah."Dia manusia. Manusia, Anthony." Yuuscar menekankan setiap katanya. Keheningan terasa makin berat. "Tubuhnya bahkan tidak diciptakan untuk menampung kekuatan iblis sebesar milikmu. Sekarang kau memberikan pecahan jantungmu, kehidupanmu, bahkan keabadian yang melekat pada keberadaanmu kepadanya."Yuuscar menatap lurus ke mata Anthony. "Apa kau sadar apa yang sudah kau masukkan ke dalam tubuh gadis itu?"Anthony tercenung. Jemarinya perlahan mengepal. Tentu dia sadar. Dia sadar sejak awal. Dia sudah menghitung setiap kemungkinan, setiap risiko, kegagalan, bahkan kemungkinan terburuk sekalipun. Namun, dia tetap melakukannya karena tidak ada pilihan lain yang menurutnya lebih baik."Kau tidak perlu khawatir." Suara Anthony terdengar lirih, tetapi tegas. "Semuanya sudah kuperhitungkan."Yuuscar terdiam, lalu dia meng

  • Iblis Yang Mencintaiku    7 - Peri Misterius

    Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya. Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian ka

  • Iblis Yang Mencintaiku    6 - Daging dan Peringatan

    Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and ch

  • Iblis Yang Mencintaiku    2 - Namanya adalah Wallenstein

    Di lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya. Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam

  • Iblis Yang Mencintaiku    1 - Dia Milikku

    "Kau, ikutlah denganku," kata pria tinggi berjubah hitam pada gadis yang berdiri tak jauh darinya. Sang gadis, yang memiliki nama lengkap Jung Ara—saat ini dia berusia sembilan belas tahun— bergeming dengan kepala menunduk suram, berusaha mencerna apa yang terjadi. Beberapa waktu lalu, Jung Ara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status