LOGINAra tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena ia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi.
Ya, tidak mungkin terjadi. Namun, entah sejak kapan Ara bisa merasakan kehidupan yang dia mimpi-mimpikan akan terjadi. Apa semenjak dia keluar dari lembaga rehabilitasi? Perasaan tenang yang aneh. Seolah untuk sesaat, dunia berhenti menyakitinya. "Hei, bangun ...." Ah, benar. Sepertinya semenjak dia mendengar suara ini. Suara yang terdengar datar, tetapi anehnya terasa hangat. Di mana ia pernah mendengar suara ini? “Bangunlah.” Ara membuka mata perlahan, dan memekik ketika menemukan seorang pria berbaring miring di sampingnya, menyangga kepala dengan tangan, wajahnya terlalu dekat. Refleks, Ara melayangkan pukulan, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal dengan mudah. “Kau sudah bangun?” tanyanya tenang. Ara mengerjapkan matanya. "Kau tipe manusia yang susah dibangunkan, ya?" Ingatan semalam menyerbu masuk. Pasar gelap. Sayap hitam. Kabut. Teleportasi. Ara menoleh pelan dan baru menyadari mereka berada di tempat tidur yang sama. Lebih buruk lagi, kemeja hitam Anthony terbuka hingga memperlihatkan dada dan perutnya yang keras dan terlatih. Terlalu dekat. Terlalu nyata. Wajah Ara langsung memanas. Ia menarik selimut dan menyembunyikan dirinya sepenuhnya di bawahnya. "Ada apa?" Ara ingin menghilang. Sejak kapan ia bisa tertidur tanpa kewaspadaan? Apalagi dia berada dalam satu ruangan dengan seorang pria yang memiliki rupa tampan dan seksi, di satu tempat tidur pula. Ugh, Jung Ara bodoh! “I-itu… kapan kita akan berangkat?” tanyanya terbata, suaranya teredam kain. Alih-alih menjawab, Anthony bertanya balik, “Kenapa? Kau tidak sabar pergi dari sini?” Ara menurunkan sedikit selimut dan mengintipnya. Melihat itu, Anthony langsung menarik selimutnya dan menahan Ara agar gadis itu tidak bisa lagi bersembunyi. “Kau ingin pergi denganku?” Ara yang kelabakan karena tidak ada lagi yang dapat dia gunakan untuk bersembunyi langsung terhenti, lalu memberanikan diri untuk menatap pria yang sudah membelinya. "Apa ... saya boleh pergi bersama Anda?" Suaranya sangat kecil, nyaris seperti bisikan anak kecil yang takut ditolak. Anthony tertawa pelan, hanya satu sudut bibirnya terangkat. Ara terkesima. Namun, itu hanya bertahan beberapa detik saja karena setelahnya ekspresi pria itu kembali datar. "Pertanyaan yang konyol. Jika kau tidak pergi denganku, lalu untuk apa aku menghabiskan banyak uang untuk membelimu?" Lalu untuk apa kau bertanya seperti itu? Ara tidak mengatakannya. Pria ini betul-betul aneh. Dari awal saja pria ini sudah aneh karena bisa-bisanya membelinya dengan uang sebanyak itu, padahal tidak ada yang istimewa dalam dirinya. Seperti yang ia katakan, tubuh Ara terlihat kurus dan kecil dibanding gadis seusianya. Tidak menarik, juga menyedihkan. Tidak ada hal yang bagus dalam dirinya. Namun, mengapa? "Untuk manusia berkepala kecil sepertimu, ternyata kau suka memikirkan banyak hal, ya. Apa yang sedang kau pikirkan sampai alismu mengkerut seperti itu?" Ara ingin mencubit mulut pria ini. Muncul rasa tidak nyaman yang asing karena ia tidak terbiasa ada orang yang memperhatikannya sampai ke kerutan kecil di alisnya. Apa ini yang namanya kesal? “Hanya saja .…” Suaranya bergetar lagi, “Saya tidak mengerti kenapa Anda membeli saya. Anda bahkan memperlakukan saya dengan baik.” "Apa di matamu aku terlihat baik?" Pertanyaan yang krusial, karena nyatanya Ara baru mengenalnya kurang dari 24 jam. Ia tidak tahu apakah pria ini memang baik, atau hanya berpura-pura saja. Yang jelas, Ara tidak merasakan niat buruk darinya meski pria itu memiliki aura yang mengerikan. "Jika Anda bukan orang baik, Anda tidak akan membiarkan saya tidur di satu tempat yang sama dengan Anda," jawab Ara pada akhirnya. Sekilas, Ara bisa melihat tatapan Anthony yang melunak, bulu mata pria itu mengepak saat dia mengerjap sebelum akhirnya mendengkus dan tertawa. “Apa kau bodoh?” bisiknya. “Bagaimana jika aku melakukan sesuatu saat kau tidur?” “Tapi … Anda tidak melakukannya.” Dan Anthony seketika berhenti dari tawanya. Sorot matanya berubah tajam, menatap Ara yang mendadak menyesal karena sudah banyak bicara. Dalam satu gerakan cepat, Anthony sudah berada di atasnya, menahan kedua pergelangan tangan Ara di sisi kepalanya. Tubuh Ara langsung membeku. Napasnya tercekat. Ia tidak melawan. Bukan karena berani, tetapi karena terlalu terbiasa tak punya pilihan. Tatapan kosong itu—yang menyerah sebelum disakiti—membuat Anthony menghela napas panjang. Ia mundur. Menarik Ara duduk. "Kau tidak boleh memercayai seseorang dengan mudah." "Termasuk Anda?" tanya Ara pelan. Anthony menyeringai samar. “Bagaimana menurutmu?” Ara menunduk lagi. Kepalanya terasa penuh. Pertanyaan-pertanyaan seperti ini asing baginya. Selama ini ia hanya hidup mengikuti perintah, menyesuaikan diri agar tidak dibenci. “Saya tidak tahu…” suaranya hampir tak terdengar. “Ini pertama kalinya ada orang yang bertanya tentang pendapat saya." Kalimat itu keluar begitu saja. Ara mendongak, dan tertegun saat melihat tatapan Anthony yang terlihat berbeda. Ada sesuatu di sana. Penyesalan? Amarah? "Ke depannya kau harus terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang datang padamu. Manusia hidup dengan kebebasannya untuk berpendapat, jika hal itu ditiadakan, bagaimana kau bisa menjalani kehidupanmu?" Ara terdiam. Berhak. Kata itu terasa asing. Berat. Hampir menyakitkan. Bibir Ara terasa kesemutan. Memikirkan waktu yang iia habiskan di bawah tekanan orang lain membuatnya terbiasa untuk merendah, tidak ada hal yang lebih menakutkan dari pandangan orang-orang kepadanya, bahkan hantu dan makhluk menyeramkan yang sering ia lihat tidak ada apa-apanya. Namun, pria ini berkata kepadanya untuk terbiasa dengan pertanyaan-pertanyaan yang membutuhkan pendapat darinya. Apa dirinya boleh menyuarakan keinginannya? "Lagi-lagi kau terlalu banyak berpikir." Sentuhan ringan di dahinya membuat Ara tersentak. Anthony menyentilnya pelan, lalu memberikan usapan yang canggung di kepalanya. Ekspresinya yang datar sama sekali tidak cocok dengan perlakuannya yang lembut, Ara sampai mengerjap dibuatnya. "Tidak apa-apa. Sekarang sudah tidak apa-apa. Kau aman bersamaku, Ara." Kalimat itu sederhana. Namun, sesuatu di dalam diri Ara—yang selama ini seperti tercekik oleh rasa takut—perlahan mengendur. Aman. Tidak pernah ada yang mengatakan itu padanya. Orang-orang memanggilnya pembawa sial. Monster. Anak terkutuk. Namun, pria bersayap hitam yang membelinya di pasar gelap justru memanggil namanya dengan benar. Ara menatapnya, ragu. Takut berharap. Apa ini sebuah awal baginya? Jung Ara, seorang gadis 17 tahun yang tumbuh tanpa kasih sayang, ditemani oleh berbagai macam pengalaman suram, akan mendapatkan sebuah kebahagiaan? Dari pria bernama Anthony J. Wallenstein ini? []Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya.Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk.Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika Ia duduk di tepian kasur.Ketika masih di Busan dan tinggal bersama kerabatnya, Ara selalu tidur di lantai gudang dengan sehelai selimut tipis. Ia harus berbagi tempat dengan tumpukan barang dan perabot lama. Namun, di sini semuanya terasa mewah.Kasurnya empuk, bantalnya lembut, dan selimut tebal tergulung rapi di ujung ranjang. Di sudut ruangan ada meja belajar serta rak penuh buku dengan bahasa yang tidak ia pahami. Di lemari bahkan sudah terisi berbagai pakaian dengan warna dan model berbeda.Anehnya, semua pakaian itu terlihat pas untuknya.Ara menatap lemari itu sejenak."Apa sebelum aku datang … ada seseorang yang tinggal di kamar ini?" gumamnya. Ara segera menggeleng. Tidak ada gunanya memikirkan hal yang
Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and chips, serta semangkuk daging dan kentang. Melihatnya saja sudah membuat Ara merasa kenyang.Sejak pertama kali memasuki rumah ini, ia langsung dibawa ke ruangan tersebut dan dipersilakan duduk di sofa yang menghadap perapian. Pelayan yang membawanya terlihat seperti boneka—wajahnya tanpa ekspresi, persis seperti tuannya.Ara melirik Anthony yang duduk di sofa tunggal seraya bertumpang kaki, sedang memperhatikan pelayannya memotong daging yang sepertinya baru keluar dari oven dan menaruhnya di piring Ara. Setelah tugasnya selesai, pelayan itu pergi, meninggalkan mereka berdua.Gadis Jung lekas memalingkan pandangan ke arah perapian. Ia benar-benar disambut baik di sini.“Kau belum makan apa-a
Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya.Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. Perasaan malu itu semakin menjadi ketika ia mencuri pandang pada wajah Anthony yang tetap datar—seolah semua ini hal biasa baginya.Padahal, bagi Ara, ini memalukan luar biasa. Rasanya ia ingin masuk ke dalam kantong celana.“Rendam bahumu agar tubuhmu hangat. Keluarlah sebelum airnya dingin,” ujar Anthony tenang. Setelah mengatakan itu, ia melangkah keluar, meninggalkan Ara yang masih menekuk lutut di tepi bathtub sambil menutup wajah dengan kedua tangan.“Semuanya … dia melihat semuanya,” gumam Ara.Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah memperlihatkan tubuhnya kepada siapa pun, apalagi sampai dimandikan seperti tadi. Satu-satunya pengecualian hanyalah ketika ia masih bayi dan dimandikan oleh
Sepertinya Ara harus berpikir dua kali tentang harapannya tentang kebahagiaan dari pria bernama Anthony J. Wallenstein. Baru saja ia turun dari tempat tidur untuk bersiap, Anthony—yang duduk santai sambil menyesap secangkir teh—sudah memerintahkannya membuka pakaian. Kemeja dan celana hitam tampak kolot yang membungkus tubuh tinggi dan tegapnya terlihat sangat cocok untuknya. Padahal Ara hanya berbaring sekitar sepuluh menit setelah percakapan mereka sambil merenungkan hal yang terjadi padanya, tetapi pria itu sudah tampak rapi dan kembali memegang kendali. Ara menelan ludah. Selain menjadi budak yang bekerja seperti pelayan, tampaknya ia juga akan menjadi budak pemuas nafsu bagi pembelinya. Itu bukan masalah. Sejak memutuskan menjual diri, Ara sudah siap menerima konsekuensinya. Jika perlu, ia akan belajar melayani pria—meski kenyataannya ia bahkan belum pernah berciuman, apalagi melakukan hal lain. Yang membuatnya ragu hanyalah tubuhnya sendiri. Ara tidak ingin Anthony melihat
Ara tidak pernah menginginkan harta berlimpah. Menjalani hidup dengan tenang nan damai seraya meminum teh hangat dan membaca buku favoritnya sudah cukup baginya. Ara bahkan takut sekadar membayangkan kehidupan seperti itu karena ia tahu, hal itu tidak mungkin terjadi.Ya, tidak mungkin terjadi.Namun, entah sejak kapan Ara bisa merasakan kehidupan yang dia mimpi-mimpikan akan terjadi. Apa semenjak dia keluar dari lembaga rehabilitasi? Perasaan tenang yang aneh. Seolah untuk sesaat, dunia berhenti menyakitinya."Hei, bangun ...."Ah, benar. Sepertinya semenjak dia mendengar suara ini. Suara yang terdengar datar, tetapi anehnya terasa hangat. Di mana ia pernah mendengar suara ini?“Bangunlah.”Ara membuka mata perlahan, dan memekik ketika menemukan seorang pria berbaring miring di sampingnya, menyangga kepala dengan tangan, wajahnya terlalu dekat. Refleks, Ara melayangkan pukulan, tetapi pergelangan tangannya langsung dicekal dengan mudah.“Kau sudah bangun?” tanyanya tenang.Ara menge
Di lorong remang-remang, lagi-lagi Ara mendengar bisikan dari beberapa manusia dan makhluk di sana. Pikirannya kalut saat mendengar bahwa tidak seharusnya dirinya jatuh ke tangan pria yang berjalan di hadapannya. Ara tidak mengerti. Apalagi ketika dia mendengar kata 'pengantin' yang tersemat dalam perkataan mereka.Pengantin?Ara tersentak saat merasakan hawa dingin yang terpancar dari pria yang berjalan di hadapannya.Ia mendongak, memandang punggung pria itu. Berapa kali pun Ara lihat, aura hitam dengan sedikit warna emas yang menyelubunginya membuat ia takjub. Apalagi sayap gagah hitam itu.“Jadi, kau bisa melihatnya, ya?”Pria misterius di hadapannya mendadak menghentikan langkah, sontak membuat Ara terkesiap, jantungnya berdegup kencang.Itu bukan pertanyaan, melainkan tuduhan halus.Darah Ara terasa membeku. Pengalaman masa lalu langsung menghantam pikirannya—teriakan, tamparan, pintu dikunci, suara orang-orang menyebutnya gila. Ia tidak ingin pria ini mengetahui kemampuannya y







