로그인Beberapa puluh jam sebelumnya, 1 Januari, dini hari.
Anthony duduk termenung di tepian tempat tidur. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling bertaut erat di antara kedua paha. Bahunya perlahan terangkat ketika dia mencoba menarik napas panjang. Namun, udara yang memasuki paru-parunya terasa seperti puluhan bilah pisau tajam yang menyayat dari dalam.
Napas yang seharusnya memenuhi rongga dadanya hanya masuk setengah sebelum rasa sakit memaksanya berhenti.
"Mulai hari ini, aku melepaskanmu dari posisi sebagai mata dan tanganku."Tubuh Mikhail seakan membeku, apalagi melihat senyuman di wajah sosok yang dia kagumi."Mikhail Littenheim, kau bebas."Nada suaranya berubah tenang dan tegas. Sebuah titah terakhir dari seorang putra mahkota sudah terucap.Tidak.Kata itu seharusnya terasa seperti hadiah. Selama ratusan tahun, dia mengabdi, mengawasi, melindungi, menjadi tangan yang membunuh atas nama Juslandier, dan mata yang melihat segala sesuatu yang tidak dapat dijangkau sang putra mahkota, kebebasan seharusnya menjadi hadiah.Namun, mengapa rasanya seperti sebuah hukuman?"Yang Mulia ....""Jangan menangis." Anthony tersenyum kecil. "Kau membuatnya terlihat seolah aku akan mati."Mikhail menatapnya. Darah masih tersisa di sudut bibir Anthony, tubuhnya gemetar. Auranya begitu samar hingga nyaris tidak terasa. Namun, pria itu masih tersenyum yang membuat air mata Mikhail kemba
"Iblis yang mencoba memanusiakan dirinya sendiri. Benar-benar gila, bukan?"Mikhail tidak menjawab, dia hanya mematung dengan kedua tangannya yang mengepal."Jika sekarang ada peluru nyasar menembus tubuhku, mungkin aku benar-benar akan mati kehabisan darah.""Jangan mengatakan hal seperti itu, Yang Mulia. Jika gadis itu bangun dan mendengarnya, dia pasti akan sedih."Suara Mikhail terdengar lebih jelas kali ini. Sedangkan Anthony tertawa atas pemilihan kata yang dipakai oleh Mikhail.Gadis itu, begitulah Mikhail selalu menyebut Ara. Dia tidak pernah memanggil Ara dengan sebutan Nona Jung, atau mungkin Lady Wallenstein sebagai pasangan Anthony J. Wallenstein. Namun, Anthony tahu, di balik sebutan datar tersebut, Mikhail sudah mengakui Ara sebagai seseorang yang penting.Setidaknya, penting bagi dirinya.Meski tidak dapat melihatnya dengan jelas, dia yakin bahwa saat ini Mikhail sedang menelan mentah-mentah gemuruh yang dirasakan
Beberapa puluh jam sebelumnya, 1 Januari, dini hari.Anthony duduk termenung di tepian tempat tidur. Kepalanya tertunduk, kedua tangannya saling bertaut erat di antara kedua paha. Bahunya perlahan terangkat ketika dia mencoba menarik napas panjang. Namun, udara yang memasuki paru-parunya terasa seperti puluhan bilah pisau tajam yang menyayat dari dalam.Napas yang seharusnya memenuhi rongga dadanya hanya masuk setengah sebelum rasa sakit memaksanya berhenti.Tubuh Anthony bergetar. Dia menundukkan kepala lebih dalam, mencoba meredam suara napasnya sendiri. Tubuhnya seolah sedang dihancurkan perlahan dari dalam, sementara jantungnya berdenyut menyakitkan seperti tertusuk pedang setiap kali berdetak.Anthony menggertakkan gigi. Seluruh tulangnya terasa seperti dipatahkan satu per satu, sementara daging dan setiap saraf dalam tubuhnya bergaung lara. Peluh dingin membanjiri pelipis, leher, hingga punggungnya.Lalu, Anthony buru-buru menut
"Tuan dari mana?! Kenapa meninggalkanku sendirian?! Aku mencari Tuan ke mana-mana!"Anthony tidak menghindar. Dia membiarkan setiap pukulan mendarat di dadanya."Aku kira Tuan pergi ...." Pukulan Ara perlahan kehilangan tenaga. Suaranya menjadi terdengar lirih, dan tangan yang tadi memukul kini justru mencengkeram pakaian Anthony. "Aku kira Tuan benar-benar pergi meninggalkanku. Ketika aku membuka mata, Tuan tidak ada di sisiku."Lalu Ara mendongak, wajahnya basah oleh air mata. "Seperti saat itu."Anthony terdiam. Hanya dua kata terakhir itu yang dibutuhkan untuk membuat tatapannya berubah. Anthony tahu apa yang dimaksud Ara.Hari ketika gadis itu terbangun dan mendapati dirinya sendirian. Hari ketika rasa aman yang baru saja Ara temukan kembali direnggut begitu saja. Dan sekarang, tanpa bermaksud demikian, Anthony telah membuatnya mengingat ketakutan yang sama."Ara ...." Anthony mengembuskan napas perlahan. Tatapannya menyapu lobby, orang
"Katakan! Kalian membicarakan tentang apa?!"Dua wanita dan seorang pria sontak terdiam. Ketiganya menatap Ara yang kini berdiri tepat di hadapan mereka dengan wajah pucat berurai air mata. Tatapan gadis itu dipenuhi kemarahan, tetapi jika diperhatikan lebih saksama, ada ketakutan jauh lebih besar yang bersembunyi di balik kedua iris birunya.Mereka saling melirik, seolah sedang berunding dalam diam mengenai siapa yang harus menghadapi gadis muda yang tampak nyaris kehilangan kendali tersebut."Aku tanya, kalian sedang membicarakan apa?!" Suara Ara naik beberapa tingkat. Orang-orang di sekitar mereka sontak menoleh. Dua wanita di hadapannya tampak tersinggung karena diteriaki, sementara pria yang bersama mereka segera maju satu langkah."Okay, calm down, Miss. It's not something to get upset about. We just want to help you." (Oke, tenang, Nona. Ini bukan sesuatu yang perlu membuat Anda marah. Kami hanya ingin membantu Anda.)Membantu?
"Tuan di mana?!" Air matanya semakin deras hingga membuat pandangan Ara mulai kabur. Beberapa orang memandangnya aneh, sementara sebagian lainnya tampak mencoba mendekat, tetapi Ara tidak memiliki waktu untuk peduli.Ara menangis sesenggukan seraya merapatkan coat ditubuhnya erat-erat, dia benar-benar tidak peduli dengan tatapan apa pun yang mengarah kepadanya dan terus mencari ke berbagai sudut lantai dasar."Tuan Wallenstein!"Tetap tak ada sahutan apa pun darinya. Tidak ada suara rendah yang biasa memanggil namanya, juga tidak ada tangan besar nan hangat yang akan datang meraih dirinya. Anthony tidak ada. Ke mana pria itu pergi? Mengapa dia meninggalkannya sendirian?"Miss, how can we help you?" (Nona, ada yang bisa kami bantu?)Dua wanita berpakaian rapi menghampirinya. Rambut mereka digelung sempurna, pakaian formal yang dikenakan menunjukkan bahwa keduanya merupakan pegawai hotel. Dan Ara refleks mundur seraya menggelengkan kepala, teta
Tubuh Vance menegang saat mendengarnya. Kedua matanya terbuka lebih lebar, dipenuhi kengerian. Pandangan itu perlahan bergulir menatap Ara yang terlelap di atas ranjang. Dahi gadis itu berkerut, bibirnya mengerang pelan, terdengar resah. Dilihat dari raut wajahnya, Vance yakin Ara tengah memimpik
Di lantai atas, Ara berhenti di depan sebuah pintu kayu berwarna gelap. Anthony mengatakan bahwa ini adalah kamarnya. Setelah pelayan bernama Lily pergi, Ara segera masuk. Ruangan itu tidak terlalu istimewa. Suatu kamar biasa, tetapi bagi Ara, tempat ini terasa berbeda ketika dia duduk di tepian ka
Di ruang tamu yang hangat, Jung Ara duduk di sofa dengan secangkir cokelat panas di pangkuannya. Pandangannya mengikuti seorang pelayan wanita yang baru saja meletakkan sepiring roast beef di atas meja. Di sana sudah tersaji berbagai makanan seperti: sandwich, roti tebal dalam keranjang, fish and ch
Kamar mandi berdinding keramik biru dengan ukiran rumit itu menjadi saksi bisu betapa malunya Jung Ara saat Anthony membersihkan setiap inci tubuhnya, termasuk bagian paling intim miliknya. Ara sudah kalang kabut, rasanya ingin menghilang saja ketika suara aneh tanpa sengaja keluar dari mulutnya. P







