Se connecterKemarahan adalah api yang menghanguskan akal sehat, dan siang itu, Salwa Rumi membiarkan dirinya terbakar habis. Langkah kakinya yang meninggalkan taman asrama terasa sangat berat, seolah setiap jengkal tanah yang ia pijak menuntut pertanggungjawaban atas hatinya yang remuk. Di pikirannya, sosok Galang Baraka yang selama ini ia puja sebagai malaikat pelindung telah runtuh, berganti menjadi sosok manipulator yang tega mempermainkan kerinduannya pada sang ayah demi sebuah konsep "perlindungan" yang egois.Ia tidak ingin mendengar lagi. Suara bariton Galang yang mencoba menjelaskan tentang uang, tentang gubuk itu, atau tentang kata-kata kasar ayahnya, hanya terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu di telinganya. Fokus Salwa hanya satu: Galang berbohong. Galang menyembunyikan kebenaran. Galang menganggapnya selemah itu hingga harus disuapi dengan kebohongan manis.Galang sendiri tidak mengejarnya lebih jauh di taman tadi. Ia berdiri mematung, memberikan ruan
Gerbang asrama Paspampres yang biasanya tampak kokoh dan berwibawa, siang itu terasa seperti tembok penjara di mata Salwa. Ia duduk di kursi kayu panjang di pos keamanan, di bawah tatapan waspada namun sopan dari para petugas jaga. Perutnya masih melilit hebat, kombinasi antara nyeri datang bulan dan rasa sesak yang menghimpit dada. Ia mengabaikan tawaran segelas air dari petugas, tenggorokannya terlalu kering bahkan untuk sekadar menelan ludah.Waktu seolah melambat. Setiap menit yang berlalu di bawah denting jam dinding pos jaga terasa seperti siksaan. Di kepalanya, kalimat ayahnya terus berputar seperti kaset rusak: “Dia sudah memberiku uang, dia sudah menyuruhku menjauh!”Sekitar empat puluh menit kemudian, sosok yang ia tunggu muncul dari balik gedung utama. Galang Baraka berjalan dengan langkah tegap, masih mengenakan seragam taktis yang gagah. Ia tampak sedang berbincang dengan seorang perwira lain, sesekali mengangguk tegas. Dari kejauhan, Galang sudah m
Siang itu, Jakarta terasa lebih menyengat dari biasanya. Salwa baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien di sebuah kafe estetik di bilangan Jakarta Selatan. Namun, alih-alih merasa lega karena tugasnya selesai, ada rasa nyeri yang mulai mencubit perut bagian bawahnya. Pinggulnya yang belum pulih total dari sisa kecelakaan terasa lebih berat, dan suasana hatinya mendadak mendung tanpa alasan yang jelas."Dita, bisa mampir ke mini market sebentar di depan?" tanya Salwa pada teman sekantornya yang sedang menyetir. "Perutku nggak enak banget, kayaknya jadwal bulananku datang lebih awal."Dita mengangguk paham dan membelokkan mobil ke sebuah mini market dengan area parkir yang cukup luas. Begitu mobil berhenti, Salwa segera turun. Ia merasa tidak nyaman, sebuah perasaan yang biasa dialami wanita saat siklus bulanan datang menghampiri. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu masuk toko yang dingin.Indranya, yang entah mengapa menjadi jauh lebih
Perpindahan Salwa kembali ke kamar kosnya yang sederhana ternyata membawa perubahan besar pada ritme hidup Galang Baraka. Apartemen lantai 15 yang sempat terasa hangat dan hidup itu mendadak berubah menjadi ruang hampa yang terlalu luas bagi satu orang. Akhirnya, demi menjaga profesionalisme dan meredam rasa sepi yang tak terbiasa itu, Galang memutuskan untuk kembali tinggal di asrama Paspampres.Asrama itu adalah dunianya yang asli, bangunan dengan lorong-lorong kaku, aroma minyak pembersih senjata yang khas, dan disiplin yang mencekik. Namun, kali ini asrama terasa berbeda. Di antara deretan ranjang besi dan lemari pakaian yang tertata simetris, ada satu hal yang selalu mengalihkan perhatian sang Elang Hitam: layar ponselnya.Kesibukan Galang meningkat dua kali lipat seiring dengan rencana kunjungan kenegaraan berturut-turut di awal bulan. Sebagai sniper utama, jadwalnya penuh dengan latihan ketahanan fisik dan simulasi lapangan. Pagi buta, ketika matahari bahk
Malam itu, suasana di apartemen lantai 15 terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Bukan karena ada ancaman keamanan atau perintah mendadak dari markas, melainkan karena sebuah koper kecil yang sudah tergeletak rapi di samping pintu utama. Salwa Rumi, dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dan rona pipi yang kembali pulih, berdiri di hadapan Galang Baraka, sang tunangan yang kini menatap koper itu seolah-olah benda tersebut adalah ancaman tingkat tinggi."Mas, cuma lima belas menit dari sini kalau naik motor. Aku cuma mau kembali ke ritme hidupku yang dulu. Kosan itu sudah dua puluh hari lebih aku tinggal, debunya pasti sudah setebal kamus taktis Mas Galang," ucap Salwa, mencoba mencairkan suasana dengan candaan.Galang tidak tertawa. Pria itu berdiri dengan kedua tangan bersedekap, otot lengannya menegang di balik kaus hitam yang ia kenakan. Tatapannya tajam, tipe tatapan yang biasanya ia gunakan untuk memindai kerumunan saat mencari tanda-tanda bahaya.
Dua puluh hari telah berlalu sejak insiden yang hampir merenggut nyawa Salwa. Di dalam apartemen lantai 15 yang mulai terasa seperti rumah sendiri, Salwa berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja kerjanya yang berwarna biru langit. Ia memutar tubuhnya perlahan, memastikan rasa nyeri di pinggulnya tidak lagi memberontak saat ia bergerak. Luka-luka itu kini telah menjadi memar yang memudar, namun tekadnya justru semakin mengeras."Dua puluh hari sudah cukup, Salwa," bisiknya pada bayangan di cermin.Baginya, dua puluh hari adalah waktu yang sangat lama untuk menjadi orang yang "dilayani". Ia melihat bagaimana Galang harus membagi fokus antara tugas kenegaraan yang mempertaruhkan nyawa dan mengurus kebutuhannya di apartemen. Ia melihat bagaimana Giska harus merelakan waktu liburnya untuk menyuapinya atau membantunya mandi. Rasa terima kasihnya sangat besar, namun harga dirinya sebagai wanita mandiri mulai terusik. Ia tidak ingin menjadi beban; ia ingin menjadi
Pintu apartemen di lantai 15 itu terbuka dengan bunyi klik yang familiar. Galang Baraka melangkah masuk, menjinjing kantong plastik berisi susu kotak dan buah potong pesanan Salwa. Wajahnya tampak tenang, seolah-olah ia baru saja melewati perjalanan pulang yang biasa dan membosankan. Tidak ada sisa
Lampu jalanan Jakarta mulai berpendar satu per satu, menciptakan pantulan cahaya di atas aspal yang masih basah sisa hujan sore tadi. Galang Baraka memutar kemudi mobilnya perlahan, menyisip di antara deretan toko yang mulai ramai. Di ponselnya, sebuah pesan singkat dari Salwa tersemat: "Mas, kalau
Pukul lima pagi, suasana di apartemen Galang sudah mulai sibuk. Sesuai instruksi yang diberikan semalam, Giska sudah menyiapkan kotak bekal berisi roti lapis dan susu hangat. Sementara itu, Galang sudah tampak sangat rapi dengan kemeja taktisnya. Namun, sebelum ia memapah Salwa keluar, Galang duduk
Siang itu, apartemen Galang yang biasanya sunyi dan kaku seperti barak militer, mendadak berubah suasananya. Di kamar utama, sang "Elang Hitam" akhirnya menyerah pada rasa lelah yang luar biasa. Setelah berjam-jam tiarap di atas gedung dengan fokus yang menguras saraf, Galang tertidur pulas. Posi







