LOGINMalam itu, suasana di apartemen lantai 15 terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Bukan karena ada ancaman keamanan atau perintah mendadak dari markas, melainkan karena sebuah koper kecil yang sudah tergeletak rapi di samping pintu utama. Salwa Rumi, dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dan rona pipi yang kembali pulih, berdiri di hadapan Galang Baraka, sang tunangan yang kini menatap koper itu seolah-olah benda tersebut adalah ancaman tingkat tinggi."Mas, cuma lima belas menit dari sini kalau naik motor. Aku cuma mau kembali ke ritme hidupku yang dulu. Kosan itu sudah dua puluh hari lebih aku tinggal, debunya pasti sudah setebal kamus taktis Mas Galang," ucap Salwa, mencoba mencairkan suasana dengan candaan.Galang tidak tertawa. Pria itu berdiri dengan kedua tangan bersedekap, otot lengannya menegang di balik kaus hitam yang ia kenakan. Tatapannya tajam, tipe tatapan yang biasanya ia gunakan untuk memindai kerumunan saat mencari tanda-tanda bahaya.
Dua puluh hari telah berlalu sejak insiden yang hampir merenggut nyawa Salwa. Di dalam apartemen lantai 15 yang mulai terasa seperti rumah sendiri, Salwa berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja kerjanya yang berwarna biru langit. Ia memutar tubuhnya perlahan, memastikan rasa nyeri di pinggulnya tidak lagi memberontak saat ia bergerak. Luka-luka itu kini telah menjadi memar yang memudar, namun tekadnya justru semakin mengeras."Dua puluh hari sudah cukup, Salwa," bisiknya pada bayangan di cermin.Baginya, dua puluh hari adalah waktu yang sangat lama untuk menjadi orang yang "dilayani". Ia melihat bagaimana Galang harus membagi fokus antara tugas kenegaraan yang mempertaruhkan nyawa dan mengurus kebutuhannya di apartemen. Ia melihat bagaimana Giska harus merelakan waktu liburnya untuk menyuapinya atau membantunya mandi. Rasa terima kasihnya sangat besar, namun harga dirinya sebagai wanita mandiri mulai terusik. Ia tidak ingin menjadi beban; ia ingin menjadi
Lampu ruang tengah apartemen diredupkan, hanya menyisakan pendar hangat dari lampu sudut yang menciptakan bayangan panjang di dinding. Suasana begitu hening, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan dan detak jam dinding yang seolah melambat. Di atas sofa abu-abu yang empuk, Galang Baraka duduk bersandar, membiarkan Salwa merebahkan kepala di pangkuannya.Tangan kiri Galang yang kokoh bergerak perlahan, mengusap rambut panjang Salwa dengan ritme yang menenangkan. Sementara itu, tangan kanannya yang masih diperban ia letakkan dengan hati-hati di sandaran sofa, mencoba mengabaikan denyut nyeri yang sesekali muncul. Salwa tampak sangat rileks setelah seharian berjuang di kantor; wajahnya yang letih kini mulai melunak dalam kenyamanan pelukan Galang.Awalnya, obrolan mereka mengalir ringan. Salwa bercerita tentang rekan kantornya yang terkejut melihat "pengawal" tampannya pagi tadi, tentang kopi yang tumpah di ruang rapat, hingga rencana Giska untuk memasak menu baru besok. Galang m
Pagi di lantai 15 itu dimulai dengan ketegangan yang berbeda. Bukan karena ancaman dari teleskop senapan atau instruksi taktis dari markas, melainkan karena keras kepala seorang wanita bernama Salwa Rumi. Di meja makan, suasana terasa "alot" istilah yang sering digunakan Galang untuk menggambarkan negosiasi yang buntu.Salwa sudah berpakaian rapi, mengenakan blazer formal yang menyamarkan perban di tubuhnya, meskipun gerakannya masih sedikit kaku saat duduk. Di depannya, Galang Baraka berdiri tegap, mengenakan seragam dinasnya, dengan tangan kanan yang masih terbebat kasa namun sudah mulai mengering. Wajah Galang dingin, rahangnya mengeras, tanda bahwa ia sedang dalam mode protektif level tertinggi."Tidak, Rumi. Mas tidak izinkan. Kamu baru saja bisa berjalan tanpa tongkat kemarin sore. Pergi ke kantor itu artinya kamu akan naik turun tangga, duduk di kursi yang mungkin tidak nyaman selama berjam-jam, dan menghadapi tekanan mental yang belum sanggup ditanggung fisikmu," ucap Galang
Kegelapan mulai menyelimuti Jakarta ketika rintik hujan berubah menjadi tirai air yang rapat. Di atas atap gedung pencakar langit berlantai empat puluh satu, Galang Baraka seolah telah menyatu dengan beton dan bayangan. Tubuhnya tiarap sempurna di balik senapan runduk kaliber besar, tertutup oleh jaring kamuflase yang kini basah kuyup.Dinginnya air hujan mulai merembes masuk ke sela-sela pakaian taktisnya, namun Galang tidak bergerak satu milimeter pun. Mata kanannya tetap terpaku pada lensa teleskop berteknologi tinggi, memindai area hotel mewah yang berjarak ratusan meter di bawah sana. Di dalam hotel itu, Presiden dan tamu negara sedang menikmati jamuan makan malam resmi. Bagi dunia, itu adalah malam yang glamor; bagi Galang, itu adalah medan tempur yang sunyi.Tiba-tiba, suara statis di telinganya berderak halus. "Elang Satu, sektor Barat Daya, lantai tiga puluh gedung apartemen seberang. Ada kilatan optik tak teridentifikasi. Monitor."Jantung Galang berdetak lebih lambat, se
Udara di dalam ruang rapat taktis markas komando terasa sangat kering. Di tengah ruangan, sebuah peta digital berukuran besar memancarkan cahaya biru yang menerangi wajah para perwira elite Paspampres. Di ujung meja, Kolonel Bramantyo duduk dengan jemari yang mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu jati, menciptakan irama yang menekan suasana.Galang Baraka berdiri di posisi istirahat di tempat, tepat di hadapan atasannya. Posturnya tetap tegak sempurna, bahunya lebar dan kokoh, namun perhatian semua orang di ruangan itu tertuju pada satu titik: telapak tangan kanan Galang yang terbebat perban bersih, sedikit menonjol di balik lengan kemeja taktisnya.Kolonel Bramantyo menghentikan ketukan jarinya. Ia mendongak, menatap tajam ke arah Galang. "Baraka, operasi besok pagi bukan sekadar pengawalan rute biasa. Ini adalah kunjungan kepala negara dengan profil risiko merah. Intelijen mencatat ada potensi gangguan dari jarak jauh."Bramantyo menjeda kalimatnya, matanya menyipit. "Aku butuh sni
Siang itu, apartemen Galang yang biasanya sunyi dan kaku seperti barak militer, mendadak berubah suasananya. Di kamar utama, sang "Elang Hitam" akhirnya menyerah pada rasa lelah yang luar biasa. Setelah berjam-jam tiarap di atas gedung dengan fokus yang menguras saraf, Galang tertidur pulas. Posi
Dini hari di lantai 15 apartemen itu masih diselimuti kegelapan yang tenang. Jarum jam baru menunjukkan pukul 03.30 WIB ketika ponsel di atas nakas bergetar tanpa suara, hanya cahaya redup yang memancar di kegelapan. Galang Baraka, yang memiliki insting setajam silet, langsung terjaga pada getara
Siang itu, lobi RS Medika menjadi saksi ketegasan seorang Galang Baraka. Setelah lima hari menjalani perawatan, dokter akhirnya mengizinkan Salwa untuk pulang. Namun, perdebatan kecil sempat terjadi di koridor rumah sakit antara Galang dengan Paman dan Bibi Salwa.Paman dan Bibi bersike
Malam di koridor RS Medika terasa lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya. Di bawah pendar lampu neon yang dingin, Galang Baraka berdiri berhadapan dengan Paman Salwa. Galang masih mengenakan pakaian yang sama saat ia mendatangi gubuk di pinggiran Jakarta Utara tadi, kemeja putihnya yang sed







