LOGINMalam itu, suasana di apartemen lantai 15 terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Bukan karena ada ancaman keamanan atau perintah mendadak dari markas, melainkan karena sebuah koper kecil yang sudah tergeletak rapi di samping pintu utama. Salwa Rumi, dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dan rona pipi yang kembali pulih, berdiri di hadapan Galang Baraka, sang tunangan yang kini menatap koper itu seolah-olah benda tersebut adalah ancaman tingkat tinggi.
"Mas, cuma lima belas menSiang itu, Jakarta terasa lebih menyengat dari biasanya. Salwa baru saja menyelesaikan pertemuan dengan klien di sebuah kafe estetik di bilangan Jakarta Selatan. Namun, alih-alih merasa lega karena tugasnya selesai, ada rasa nyeri yang mulai mencubit perut bagian bawahnya. Pinggulnya yang belum pulih total dari sisa kecelakaan terasa lebih berat, dan suasana hatinya mendadak mendung tanpa alasan yang jelas."Dita, bisa mampir ke mini market sebentar di depan?" tanya Salwa pada teman sekantornya yang sedang menyetir. "Perutku nggak enak banget, kayaknya jadwal bulananku datang lebih awal."Dita mengangguk paham dan membelokkan mobil ke sebuah mini market dengan area parkir yang cukup luas. Begitu mobil berhenti, Salwa segera turun. Ia merasa tidak nyaman, sebuah perasaan yang biasa dialami wanita saat siklus bulanan datang menghampiri. Namun, langkahnya terhenti tepat di ambang pintu masuk toko yang dingin.Indranya, yang entah mengapa menjadi jauh lebih
Perpindahan Salwa kembali ke kamar kosnya yang sederhana ternyata membawa perubahan besar pada ritme hidup Galang Baraka. Apartemen lantai 15 yang sempat terasa hangat dan hidup itu mendadak berubah menjadi ruang hampa yang terlalu luas bagi satu orang. Akhirnya, demi menjaga profesionalisme dan meredam rasa sepi yang tak terbiasa itu, Galang memutuskan untuk kembali tinggal di asrama Paspampres.Asrama itu adalah dunianya yang asli, bangunan dengan lorong-lorong kaku, aroma minyak pembersih senjata yang khas, dan disiplin yang mencekik. Namun, kali ini asrama terasa berbeda. Di antara deretan ranjang besi dan lemari pakaian yang tertata simetris, ada satu hal yang selalu mengalihkan perhatian sang Elang Hitam: layar ponselnya.Kesibukan Galang meningkat dua kali lipat seiring dengan rencana kunjungan kenegaraan berturut-turut di awal bulan. Sebagai sniper utama, jadwalnya penuh dengan latihan ketahanan fisik dan simulasi lapangan. Pagi buta, ketika matahari bahk
Malam itu, suasana di apartemen lantai 15 terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Bukan karena ada ancaman keamanan atau perintah mendadak dari markas, melainkan karena sebuah koper kecil yang sudah tergeletak rapi di samping pintu utama. Salwa Rumi, dengan wajah yang sudah jauh lebih segar dan rona pipi yang kembali pulih, berdiri di hadapan Galang Baraka, sang tunangan yang kini menatap koper itu seolah-olah benda tersebut adalah ancaman tingkat tinggi."Mas, cuma lima belas menit dari sini kalau naik motor. Aku cuma mau kembali ke ritme hidupku yang dulu. Kosan itu sudah dua puluh hari lebih aku tinggal, debunya pasti sudah setebal kamus taktis Mas Galang," ucap Salwa, mencoba mencairkan suasana dengan candaan.Galang tidak tertawa. Pria itu berdiri dengan kedua tangan bersedekap, otot lengannya menegang di balik kaus hitam yang ia kenakan. Tatapannya tajam, tipe tatapan yang biasanya ia gunakan untuk memindai kerumunan saat mencari tanda-tanda bahaya.
Dua puluh hari telah berlalu sejak insiden yang hampir merenggut nyawa Salwa. Di dalam apartemen lantai 15 yang mulai terasa seperti rumah sendiri, Salwa berdiri di depan cermin besar, merapikan kemeja kerjanya yang berwarna biru langit. Ia memutar tubuhnya perlahan, memastikan rasa nyeri di pinggulnya tidak lagi memberontak saat ia bergerak. Luka-luka itu kini telah menjadi memar yang memudar, namun tekadnya justru semakin mengeras."Dua puluh hari sudah cukup, Salwa," bisiknya pada bayangan di cermin.Baginya, dua puluh hari adalah waktu yang sangat lama untuk menjadi orang yang "dilayani". Ia melihat bagaimana Galang harus membagi fokus antara tugas kenegaraan yang mempertaruhkan nyawa dan mengurus kebutuhannya di apartemen. Ia melihat bagaimana Giska harus merelakan waktu liburnya untuk menyuapinya atau membantunya mandi. Rasa terima kasihnya sangat besar, namun harga dirinya sebagai wanita mandiri mulai terusik. Ia tidak ingin menjadi beban; ia ingin menjadi
Lampu ruang tengah apartemen diredupkan, hanya menyisakan pendar hangat dari lampu sudut yang menciptakan bayangan panjang di dinding. Suasana begitu hening, hanya terdengar deru halus pendingin ruangan dan detak jam dinding yang seolah melambat. Di atas sofa abu-abu yang empuk, Galang Baraka duduk bersandar, membiarkan Salwa merebahkan kepala di pangkuannya.Tangan kiri Galang yang kokoh bergerak perlahan, mengusap rambut panjang Salwa dengan ritme yang menenangkan. Sementara itu, tangan kanannya yang masih diperban ia letakkan dengan hati-hati di sandaran sofa, mencoba mengabaikan denyut nyeri yang sesekali muncul. Salwa tampak sangat rileks setelah seharian berjuang di kantor; wajahnya yang letih kini mulai melunak dalam kenyamanan pelukan Galang.Awalnya, obrolan mereka mengalir ringan. Salwa bercerita tentang rekan kantornya yang terkejut melihat "pengawal" tampannya pagi tadi, tentang kopi yang tumpah di ruang rapat, hingga rencana Giska untuk memasak menu baru besok. Galang m
Pagi di lantai 15 itu dimulai dengan ketegangan yang berbeda. Bukan karena ancaman dari teleskop senapan atau instruksi taktis dari markas, melainkan karena keras kepala seorang wanita bernama Salwa Rumi. Di meja makan, suasana terasa "alot" istilah yang sering digunakan Galang untuk menggambarkan negosiasi yang buntu.Salwa sudah berpakaian rapi, mengenakan blazer formal yang menyamarkan perban di tubuhnya, meskipun gerakannya masih sedikit kaku saat duduk. Di depannya, Galang Baraka berdiri tegap, mengenakan seragam dinasnya, dengan tangan kanan yang masih terbebat kasa namun sudah mulai mengering. Wajah Galang dingin, rahangnya mengeras, tanda bahwa ia sedang dalam mode protektif level tertinggi."Tidak, Rumi. Mas tidak izinkan. Kamu baru saja bisa berjalan tanpa tongkat kemarin sore. Pergi ke kantor itu artinya kamu akan naik turun tangga, duduk di kursi yang mungkin tidak nyaman selama berjam-jam, dan menghadapi tekanan mental yang belum sanggup ditanggung fisikmu," ucap Galang
Siang itu, apartemen Galang yang biasanya sunyi dan kaku seperti barak militer, mendadak berubah suasananya. Di kamar utama, sang "Elang Hitam" akhirnya menyerah pada rasa lelah yang luar biasa. Setelah berjam-jam tiarap di atas gedung dengan fokus yang menguras saraf, Galang tertidur pulas. Posi
Dini hari di lantai 15 apartemen itu masih diselimuti kegelapan yang tenang. Jarum jam baru menunjukkan pukul 03.30 WIB ketika ponsel di atas nakas bergetar tanpa suara, hanya cahaya redup yang memancar di kegelapan. Galang Baraka, yang memiliki insting setajam silet, langsung terjaga pada getara
Siang itu, lobi RS Medika menjadi saksi ketegasan seorang Galang Baraka. Setelah lima hari menjalani perawatan, dokter akhirnya mengizinkan Salwa untuk pulang. Namun, perdebatan kecil sempat terjadi di koridor rumah sakit antara Galang dengan Paman dan Bibi Salwa.Paman dan Bibi bersike
Malam di koridor RS Medika terasa lebih mencekam daripada malam-malam sebelumnya. Di bawah pendar lampu neon yang dingin, Galang Baraka berdiri berhadapan dengan Paman Salwa. Galang masih mengenakan pakaian yang sama saat ia mendatangi gubuk di pinggiran Jakarta Utara tadi, kemeja putihnya yang sed







