Mentari pagi mulai mengintip dari balik tirai jendela rumah sakit, membawa cahaya terang yang membangunkan kesunyian malam. Galang Baraka sudah berdiri tegak di samping jendela, wajahnya telah dibasuh, dan kemeja putihnya sudah rapi kembali meski gurat kelelahan masih tersisa di matanya yang tajam. Tugas negara memanggilnya kembali ke istana hari ini, namun hatinya masih tertambat pada ranjang tempat Salwa terbaring.Galang tahu ia tidak bisa membiarkan Salwa sendirian. Salwa, sama seperti dirinya, adalah pejuang di rimba beton Jakarta. Wanita itu merantau dari daerah, membawa luka masa lalu yang tidak pernah ia ceritakan pada sembarang orang. Setelah ibunya tiada dan ayahnya pergi tanpa kabar, sebuah luka yang Galang pun tidak tega untuk mengungkitnya, Salwa tumbuh di bawah asuhan paman dan bibinya. Di Jakarta, Galang adalah satu-satunya "rumah" yang ia miliki.Untuk itulah, Galang telah menghubungi satu-satunya keluarga yang ia miliki di kota ini, Giska, adik perempuannya yang sed
Last Updated : 2026-05-05 Read more