Share

Pengawalan

last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-31 22:08:45

Istana Presiden

Sera masih duduk di sofa setelah Rendra pergi. Namun, tak lama pria itu kembali.

Mata Sera langsung tertuju pada sosok Rendra yang melangkah masuk dengan langkah tenang, jauh berbeda dengan kepanikan yang ia rasakan.

"Tenang saja, Mama baik-baik saja," ucap Rendra datar. Ia meletakkan ponselnya di atas meja tanpa ekspresi berlebihan.

Sera menghembuskan napas lega yang sempat tertahan di dada, akan tetapi sebelum ia sempat membalas, Rendra sudah berlalu menuju kamar ganti.

Tepat
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (18)
goodnovel comment avatar
Devi Pramita
biar aman sera kemana-mana ada yg jaga.. soalnya banyak yg iri liat dirimu
goodnovel comment avatar
Sari 💚
terima saja kenyataan Sera kalau kamu bakalan dikawal terus, kan kamu Ibu negara. lumayan lah nanti ngurusin pembenci mu
goodnovel comment avatar
DyazRini Janardhani
iyalah dikawal mbak sera,,demi kemaslahatan bersama,,jadi nurut aja ya mbak
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tenang Tapi Menohok

    Ratu mendengus geli mendengar ocehan panjang ibunya. Senyuman tipis yang mengejek tersungging di bibirnya seraya menatap sang ibu tanpa berkedip."Aku tidak mau," sahut Ratu dengan nada datar dan sangat santai, menolak mentah-mentah tuntutan itu.Dewa yang sejak tadi menyimak perdebatan panas itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya perlahan seraya memijat pelipisnya yang mulai berdenyut nyeri. Ia benar-benar pusing melihat keras kepalanya Ratu yang sama sekali tak bisa diatur."Sudah! Coba kalian berdua tenang dulu dan jangan terus-terusan berdebat seperti ini," potong Dewa menaikkan intonasi bicaranya demi menghentikan kegaduhan. Pria itu mengarahkan tangannya ke arah sofa kosong di seberangnya. "Duduk kalian berdua!"Ratu tanpa membantah sedikit pun langsung melangkah santai, menghempaskan tubuhnya ke atas sofa empuk di seberang sang ayah seraya menyilangkan kakinya yang jenjang dengan anggun.Sementara itu, Sintia masih berdiri mematung di tengah karpet, napasnya memburu kasa

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Anak Gadis Yang Membangkang

    Rendra menatap wajah Sera yang masih basah oleh air mata beberapa detik. Alisnya yang sempat bertaut perlahan mengendur, lalu sudut bibirnya terangkat tipis membentuk senyuman kecil yang nyaris tak terlihat."Jadi, ceritanya kamu sedang melakukan pengakuan dosa sekarang?" tanya Rendra dengan nada suara yang begitu tenang dan santai.Sera mengerjapkan matanya yang masih basah, sedikit bingung mendapati tidak ada kilat amarah sama sekali di mata suaminya. Ia akhirnya mengangguk pelan seraya menundukkan kepala kembali, meremas ujung bajunya."Iya, Mas..."Melihat kepolosan istrinya itu, Rendra mengembuskan napas pendek. Kedua telapak tangannya kemudian terangkat, menangkup kedua belah pipi Sera dengan lembut. Ibu jarinya bergerak perlahan, menyeka sisa jejak air mata yang masih membasahi kulit pipi sang istri."Dengar, Sera," ucap Rendra seraya menatap lurus ke dalam manik mata wanita itu. "Aku sama sekali tidak marah dengan apa yang sudah kamu ucapkan pada Mama."Sera mendongak sedikit,

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Kurang Ajar Pada Mertua

    Sera terdiam menyandarkan kening dan pelipisnya pada kaca jendela mobil yang terasa dingin. Pandangan matanya kosong, terpaku menatap deretan kendaraan dan pepohonan jalan raya yang melintas cepat di luar. Suasana di dalam kabin mobil itu begitu hening dan mencekam. Lana dan Deo yang duduk di kursi depan pun hanya bisa bungkam, tak berani mengeluarkan suara karena memahami kekalutan hati Sera setelah keributan besar di rumah orang tuanya tadi.Sera memejamkan mata sejenak seraya meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan. Dadanya masih berdenyut sesak, dan di kepalanya saat ini hanya ada satu keinginan: ia hanya ingin cepat sampai ke istana, bertemu langsung dengan Rendra, dan menenggelamkan tubuhnya memeluk suaminya itu erat-erat.Begitu mobil berbelok melewati gerbang utama dan berhenti sempurna di pelataran istana, Sera menghela napas lega saat ekor matanya menangkap mobil dinas milik Rendra sudah terparkir rapi di depan lobi. Tanpa menunggu Lana turun untuk membukakan pintu penump

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tidak Mau Lagi

    Sera tersentak di tempatnya berdiri. Matanya membulat menatap profil wajah Arkan dari samping. Ia benar-benar tidak menyangka adiknya yang tadi siang masih bersikap sedikit kekanak-kanakan di kamar, kini bisa berdiri begitu tegak dan merangkai kata dengan sangat tenang dan dewasa.Keterkejutan Sera kian bertambah saat Arkan melangkah satu jengkal ke depan seraya mengulurkan tangannya dengan sopan ke arah pintu rumah."Mari masuk ke dalam rumah dulu, Nyonya Sintia. Duduklah di dalam agar kita bisa membicarakan ini dengan kepala dingin," ucap Arkan menawarkan tanpa nada menantang.Mendengar ajakan dari anak remaja itu, wajah Sintia justru semakin memerah padam. Wanita itu mendengus sinis seraya melangkah mundur, mengibaskan tangannya dengan gestur menolak mentah-mentah."Tidak sudi!" bentak Sintia seraya menatap sekeliling halaman dengan mata menyalang. "Kamu pikir aku buta?! Kalian semua sengaja berdiri di sini untuk mengeroyokku, kan?! Menantu tidak tahu diri, mantan sopir, dan anak n

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Harus Tahu Sopan Santun

    Sofia terkesiap mundur setengah langkah. Kedua matanya membelalak lebar, sama sekali tidak menyangka bahwa Sera yang selama ini selalu bersikap tenang, penurut, dan menundukkan kepala di hadapan keluarga Narrottama, kini berani melotot dan membentaknya tepat di depan hidungnya sendiri. Bibir Sofia terkatup rapat, kehabisan kata-kata karena keterkejutan yang begitu tiba-tiba.Di sisi lain, Lana yang sejak tadi mengepalkan tangan ikut tersulut emosi. Rahang ajudan wanita itu mengeras, dan ia baru saja hendak melangkah maju seraya membuka mulutnya untuk menyemprot Sofia.Namun, sebelum sepatah kata pun sempat meluncur dari bibir Lana, tangan Deo sudah lebih dulu terulur dengan sigap. Telapak tangan pria itu mencengkeram kuat pergelangan tangan Lana, menahan langkah rekannya seraya menggelengkan kepala pelan memberi isyarat agar Lana tidak ikut campur dan tetap menjaga posisinya sebagai pengawal.Tatapan mata Sera yang membara masih menghunus sengit ke wajah Sofia selama beberapa detik, se

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Amarah Sera

    Melihat Angga yang pernah menjadi sopir pribadinya melangkah keluar bersama Siwi, Sintia langsung bergerak maju beberapa langkah. Dagunya terangkat tinggi, tatapannya menyalang penuh kebencian ke arah pria paruh baya yang kini berdiri mematung di ambang pintu teras."Angga! Apa kamu sudah tidak bisa mendidik dan memberitahu anak laki-lakimu itu?!" sembur Sintia tanpa basa-basi, suaranya melengking tajam memecah keheningan sore. "Atau memang dari dulu kamu sebenarnya punya niat lain yang terselubung pada keluarga kami?! Apa kamu sama sekali tidak pernah memikirkan kebaikan kami sebagai majikanmu selama ini?!"Angga tampak terpaku dan bingung menghadapi rentetan cecaran yang begitu mendadak itu. Tangannya yang masih kotor oleh sisa tepung terangkat canggung di depan dada. "Ada apa sebenarnya ini, Nyonya? Saya... saya benar-benar tidak paham apa maksud perkataan Anda. Mari, lebih baik kita masuk dan bicara di dalam rumah dulu, Nyonya...""Tidak mau!" tolak Sintia mentah-mentah seraya men

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status