Mag-log inmasih ada gem ga sih di GN. kalau mash bagi buat Sera ya 😘
Rendra memajukan langkahnya hingga jarak di antara dirinya dan Sera terkikis habis. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, pria itu mengulurkan tangan kanannya, menyentuh lembut jemari Sera yang memegang telepon, lalu mengambil alih ponsel tersebut dari telinga istrinya.Rendra mengikis jarak ponsel ke mulutnya. "Erika, aku matikan teleponnya," ucap Rendra tegas namun tenang.Sebelum Erika sempat melayangkan protes di seberang sana, Rendra langsung menggeser ikon merah di layar, memutus sambungan telepon secara sepihak, lalu memberikan ponsel itu ke Sera.Sera menatap Rendra dengan kening berkerut dalam. Napasnya masih agak memburu akibat rasa terkejut yang belum sepenuhnya reda."Mas…"Rendra menghela napas pendek. Pandangannya lurus menatap mata Sera yang memancar penuh tanya. "Aku sudah tahu berita itu sejak tadi," akunya jujur. "Tapi aku memang memilih untuk diam dan tidak memberitahumu."Mata Sera membelalak. Ia menegakkan posisi duduknya di tepi ranjang. "Kenapa Mas melakukan itu?
"Itu ramuan herbal yang kubuat sendiri," jawab Aki Banyu santai. Ia menunjuk wajah Sera dengan dagunya. "Aku lihat tubuhmu itu lemah. Minum itu secara teratur, dan kalian akan punya banyak anak." Sera membeku di tempatnya. Matanya membelalak lebar menatap ramuan di tangannya, lalu beralih menatap Aki Banyu dengan mulut sedikit terbuka. Dalam hitungan detik, warna merah padam menjalar cepat dari leher hingga memenuhi kedua pipinya. "A-Aki..." bisik Sera gagap, benar-benar kehilangan kata-kata karena rasa malu yang mendadak menyerbunya. Berbeda dengan Sera yang hampir tenggelam dalam rasa malu, Rendra justru terkekeh nyaring. Suara tawa lepas pria itu memecah keheningan area belakang pondok. Rendra merangkul bahu Sera pelan, menarik istrinya sedikit mendekat. "Terima kasih banyak, Aki," ujar Rendra setelah tawanya mereda. Menatap pria tua di hadapannya dengan raut penuh kesungguhan, Rendra melanjutkan, "Aki harus tetap sehat-sehat di sini. Aki harus melihat sendiri bagaimana aku mem
Bisikan Rendra yang begitu dekat dengan telinganya membuat napas Sera tertahan seketika. Sensasi hangat napas pria itu menyentuh kulit lehernya, meninggalkan sengatan halus yang menjalar cepat ke seluruh tubuh. Sera refleks melangkah mundur, menepuk dada Rendra dengan cukup keras untuk menutupi getar di dadanya. "Mas Rendra!" bisik Sera setengah memekik. Matanya membelalak menatap wajah Rendra yang justru tampak amat menikmati reaksinya. Rendra terkekeh pelan. Senyum tipis masih terpampang di bibirnya saat ia memiringkan kepala, menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Kenapa? Nasihat Aki Banyu tadi sangat masuk akal, bukan?" "Bukan begitu maksudnya..." Sera mengibaskan tangannya di udara, sama sekali tak berani menatap mata suaminya. Wajahnya terasa panas membakar. Tanpa menunggu balasan Rendra, Sera memutar tubuhnya cepat dan melangkah lebar-lebar menuruni jalan yang remang. "Sera, tunggu," panggil Rendra dari belakang, suara tawanya masih terdengar samar di antara derap la
Aki Banyu meletakkan cangkir bambunya di atas meja kayu dengan gerakan perlahan. "Kalian pasti sudah membaca buku tentang sejarah Iraya," ujar Aki Banyu santai. "Tidak mungkin tidak. Dan di sana sudah tertulis sangat jelas. Lalu, kalau kalian memang sudah saling mencintai, kutukan itu pasti sudah hilang." Rendra menggerakkan tubuhnya sedikit maju. "Tapi kami tetap terkena musibah, Aki. Beberapa kali hal buruk terjadi pada kami," balas Rendra seraya menatap dalam pria tua itu. Aki Banyu menggelengkan kepalanya pelan seraya menyunggingkan senyum tipis, seolah meremehkan sekaligus menyayangkan cara berpikir Rendra. "Kalau begitu, artinya musibah itu bukan disebabkan oleh kutukan. Seperti itu saja kamu tidak paham." Naka yang duduk bersila di dekat pintu mendengar ucapan itu dengan raut tegang. Dadanya naik turun menahan emosi, rahangnya merapat tajam. Pria itu hampir saja menyemburkan umpatan, namun ia menggepalkan tangannya kuat-kuat di atas paha untuk menahannya. Sera yang seja
Sera dan Rendra melangkah mendekat ke arah pondok Aki Banyu. Namun, baru beberapa langkah jemari mereka menjejak tanah pelataran, suara teriakan memanggil mendadak memecah udara."Pak Presiden, tunggu!"Sera dan Rendra kompak menoleh ke belakang.Naka bergegas berlari kecil mengikis jarak, napasnya sedikit terengah sewaktu sampai di hadapan mereka. Matanya menyapu Rendra dan Sera bergantian dengan raut cemas melingkupi wajahnya."Mau ke mana, Pak?" tanya Naka cepat.Rendra mengulas senyum tipis, menggerakkan dagunya mengarah pada pintu pondok kayu yang terbuka. "Aki Banyu meminta kami masuk ke pondoknya. Bahkan dia menawari kami makan."Naka melotot pelan, kebingungan setengah mati. Lidahnya mendadak kelu, bingung harus merespons apa. Pandangannya bergulir menatap pria tua di ambang pintu.Aki Banyu yang menyadari tatapan curiga Naka lantas berdecak malas. "Kamu ikut ke sini, ikut makan juga!" celetuk Aki Banyu seraya menggerutu kasar. "Memangnya kamu pikir aku mau meracuni kalian, apa
Sera mendongak sekilas tanpa menghentikan tekanan tangannya. "Anak Bapak mengalami sumbatan jalan napas berat yang memicu cardiac arrest! Aku sedang melakukan resusitasi jantung paru dan kompresi dada untuk mengembalikan sirkulasi darah serta detak jantungnya!" sahut Sera cepat dengan istilah medis formal. Jawaban rumit itu tentu saja tidak dipahami oleh sang ayah ataupun warga di sana. Merasa anaknya diperlakukan sembarangan, sang ayah melangkah maju dengan mata mendelik murka. Tangannya terangkat, hendak menarik kasar lengan Sera agar menjauh dari tubuh anaknya. Namun, sebelum jemari pria itu menyentuh baju Sera, sebuah tangan kekar lain mencengkeram pergelangan tangannya di udara dengan sangat kuat. Rendra sudah berdiri pasang badan di depan tempat tidur, menatap ayah anak itu dengan sorot mata tajam dan penuh wibawa. "Tolong, percayalah pada istriku," ucap Rendra dengan intonasi suaranya yang dalam dan menenangkan. "Istriku seorang dokter. Dia hanya ingin menolong anakmu."







