مشاركة

Mengajak Bercanda

مؤلف: Adinasya Mahila
last update تاريخ النشر: 2026-02-20 20:13:03

Rendra meletakkan alat makannya, lantas menyandarkan punggung, menatap Sera dengan alis bertaut, antara gemas dan tak habis pikir. Sebuah senyum geli lolos dari bibirnya sebelum ia sempat menahan.

"Kamu pikir tim keamanan presiden itu amatir?" Rendra menunjuk piring steak dan mangkuk sup di depan mereka dengan gerakan dagu yang tegas. "Semua makanan yang masuk ke ruangan ini sudah melewati protokol ketat. Semuanya sudah dicicipi dan diperiksa sebelum piring-piring ini menyentuh meja. Tidak ada
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (8)
goodnovel comment avatar
Sari 💚
Jangan terlalu minder Sera, semua itu juga tidak lepas dari usahamu
goodnovel comment avatar
Yessy Susanti
ayooo donk mulai bngun RT yg bnr Ser biar enk d liat ny jd pas mkan atw ngbrol g kaku lg
goodnovel comment avatar
Adeena
tenang Sera ga perlu pinjam uang mau berapa pun pasti di kasih sama Rendra...
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Tidak Ada

    Sera melihat gurat kesedihan yang membayang di raut wajah suaminya. Ia menggeser duduknya sedikit, lalu menggenggam lembut tangan Rendra. "Ini bukan salah Mas Rendra," ujar Sera pelan namun tegas. Matanya menatap dalam pada manik mata Rendra. "Semuanya pasti efek domino. Sejak awal Amartapura dibiarkan, dan pada akhirnya pemimpin-pemimpin seterusnya juga sama sekali tidak mengutamakan perkembangan Amartapura. Jadi, Mas bisa mulai memutus rantai itu sekarang. Aku harap di bawah kepemimpinan Mas Rendra, Amartapura bisa benar-benar maju." Wajah Rendra seketika berubah sedikit bersemangat mendengar ucapan istrinya. Sorot matanya yang tadi redup kembali hangat. Senyum tipis terukir di bibirnya. "Iya," sahut Rendra lembut seraya mengusap punggung tangan Sera. "Aku akan berusaha memajukan Amartapura semampuku." Sera berdiri dari batu tempat duduknya. Wajahnya tampak segar dan bersemangat lagi. Ia menepuk-nepuk celananya yang terkena sedikit debu tanah, lalu mengulurkan tangannya pada Rend

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Menyusul Ke Bukit

    "Apa?!" Naka kaget. Raut wajahnya seketika berubah murka, matanya membelalak menatap prajurit di hadapannya. "Kenapa dia tidak mau pulang?!" Anak buah Naka itu meringis canggung seraya menggelengkan kepala. "Entahlah, Mayor. Kami juga bingung. Susah sekali bicara dan membujuk pria tua itu." Naka mengepalkan tangannya kuat-kuat, rahangnya mengetat tajam. Rendra yang berdiri di sampingnya menyadari betul gejolak kekesalan yang membakar dada sahabatnya itu. "Biar aku sendiri yang pergi menjemput pria tua itu!" desis Naka seraya memutar badan, hendak melangkah pergi. Naka baru saja menjejakkan kakinya maju, tetapi Rendra lebih dulu memajukan tangan dan mencekal lengan Naka dengan erat. Langkah Naka terhenti seketika. Ia menoleh kaget, dan rasa terkejutnya makin bertambah sewaktu Rendra membuka suara. "Aku ikut," kata Rendra tegas. Naka membelalak pelan. "Pak, Anda tidak perlu ikut naik. Biar aku dan tim yang seret dia turun." "Tidak," potong Rendra tanpa ragu. "Aku tetap ikut." S

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Kampung Yang Dituju

    Rendra memalingkan pandangannya ke arah kaca depan, memutus percakapan tentang bayi itu. Ia memajukan tubuhnya sedikit, mengetuk bahu jok depan tempat Mayor Naka duduk di samping pengemudi."Mayor Naka, berapa lama lagi kita sampai?" tanya Rendra dengan suara beratnya.Naka melirik spion tengah, lalu memutar sedikit badannya. "Mungkin masih sekitar satu jam lagi. Jalanan di depan makin menanjak dan berbatu. Lebih baik Anda dan Nona Sera tidur dulu saja untuk menghemat tenaga."Rendra menggeleng pelan, menyandarkan punggungnya kembali ke jok tanpa melepaskan genggaman tangannya dari jemari Sera. "Tidak, aku mau melihat daerah ini," sahut Rendra datar.Sera yang duduk di sampingnya menatap profil samping wajah suaminya. Garis rahang Rendra tampak tegas dengan tatapan mata yang terus mengawasi hamparan pepohonan liar di luar. Sebuah senyum tipis terukir manis di bibir Sera. Tanpa bersuara, ia perlahan memalingkan kembali wajahnya menatap ke luar jendela, menikmati keheningan di antara me

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Aku Tahu Isi Pikiranmu

    Ekspresi wajah Sera seketika berubah. Ia menegakkan tubuhnya, menengadah dan menatap dalam manik mata Rendra yang pekat. Ada guratan kelabu yang samar melintas di matanya."Seperti kita, Mas," sahut Sera pelan, suaranya nyaris teredam angin malam. "Tembok di antara mereka terlalu tinggi. Apa Mas Rendra pikir aku tidak takut awalnya?"Rendra diam. Pandangannya memaku lekat pada raut wajah istrinya. Ia bisa merasakan sisa emosi dari perjalanan panjang hubungan mereka yang tidak pernah mudah."Apa aku harus memberi semangat ke Deo?" tanya Rendra, menaikkan sedikit alisnya. "Aku tahu wanita selalu ingin diusahakan. Memang susah kalau dari awal Deo sendiri yang tidak mau bergerak untuk mendapatkan Erika."Sera mendesah kecil, menggeleng pelan. "Deo itu minder, Mas. Dia berpikir tidak pantas berada di sisi Erika hanya karena dia seorang pengawal dan Erika itu tuan putri."Rendra menyunggingkan senyum remeh, sudut bibirnya terangkat tipis. "Deo ternyata mengecilkan dirinya sendiri."Sera men

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Melanjutkan Perjalanan

    Sofia tersenyum tipis, menggeleng pelan menanggapi antusiasme pria di depannya. "Jangan, Pak Irawan," cegahnya halus. "Nanti kelihatan mencolok sekali. Lagipula, di istana itu masih banyak orang-orang kepercayaan Rendra. Jadi, jangan gegabah." Irawan terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk paham. "Kamu benar. Kita harus tetap bermain bersih di permukaan." Sofia menyunggingkan senyum penuh arti seraya merapikan tas mewahnya. Ia bangkit dari kursi. "Saya permisi dulu, Pak. Ada urusan lain yang harus saya selesaikan." "Baik, Sofia. Terima kasih informasinya," jawab Irawan melepas kepergian wanita itu. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil sedan hitam melaju mulus membelah jalanan Jayakarta dan berhenti tepat di halaman Mansion Narrotama. Sofia turun dengan anggun, melangkah menuju pintu utama. Di dalam ruang tengah, Sintia yang sedang merapikan beberapa rangkaian bunga mendongak. Wajah wanita paruh baya itu seketika berbinar gembira. "Sofia? Ya ampun, sayang!" seru Sintia hangat,

  • Pelukan Hangat Tuan Presiden   Nasib Pengawal Sera

    Rendra tidak memberikan jawaban panjang, ia hanya mengarahkan Sera menuju mobil jip yang terparkir tak jauh di tepi jalan darurat. Tanpa berpikir panjang Sera berlari dan masuk ke mobil bersama Lana dan pergi.Begitu mobil berhenti di depan area posko medis sementara, Sera langsung melompat turun dari mobil dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya yang lebar beradu cepat dengan tanah becek, membawanya setengah berlari menuju sebuah tenda beratap terpal hijau. Sera menyibak pintu tenda dengan kasar. Derap langkahnya mendadak terhenti sewaktu semua orang yang berada di dalam tenda menoleh padanya secara serentak. Pandangan Sera menyapu isi ruangan hingga matanya tertambat pada sosok Deo yang terbaring di atas velbed. Baju pengawalnya itu robek di bagian lengan, memperlihatkan balutan kain kasa yang ternoda bercak darah. Sera menghembuskan napas panik, lalu berbalik menatap Lana yang berdiri di dekat pintu. "Lana! Tolong bawakan perlengkapan obatku sekarang!" serunya memburu. Sera melan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status