Share

4. Sampai Jadi Debu.

Author: Suzy Wiryanty
last update publish date: 2026-03-11 00:18:48

Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland.

"Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis.

"Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apalagi oleh istri sendiri.

"Berarti Mas tau dong kalau down syndrome pada sebagian besar kasus adalah Trisomi 21. Yang terjadi akibat nondisjunction pada saat pembelahan sel. Itu peristiwa biologis acak, Mas. Sembilan puluh lima persen terjadi tanpa faktor keturunan. Tanpa 'kesalahan' siapa pun." 

Nurul mengeja setiap suku katanya. Erland diam. Ia mendengar namun tidak mengiyakan.

"Jadi, memiliki satu anak dengan Trisomi 21 tidak berarti semua anak berikutnya akan sama. Risiko berulangnya kecil, Mas. Secara statistik, peluang melahirkan anak dengan kromosom normal tetap jauh lebih besar."

"Tapi tetap ada kemungkinan kan?" sela Erland cepat.

"Tentu saja ada," Nurul mengiyakan. "Seperti pada semua perempuan yang di dunia ini. Bahkan pada istrimu yang baru itu," tandas Nurul getas. 

"Jangan berani-berani menyumpahi calon anakku!" Erland memukul meja. Ia emosi membayangkan kalau anaknya akan kembali terlahir cacat. 

"Aku tidak menyumpahi, Mas. Aku hanya memaparkan ilmu pengetahuan dasar."

Erland mengibaskan tangan tidak sabar. "Sudahlah. Kita fokus pada masalah kita saja. Jangan melebar ke mana-mana." 

Erland menahan diri. Tujuannya meyakinkannya Nurul untuk menerima pernikahannya dengan Tasya belum berhasil.

"Dengar, Nurul. Menikahi Tasya bukan berarti aku tidak lagi mencintaimu. Aku tetap mencintaimu. Aku cuma ingin anak darinya," bujuk Erland manis.

Ia kemudian meraih jemari Nurul. Menciumnya mesra seraya menatap matanya dalam-dalam.

"Terima saja Tasya sebagai madumu ya? Dia itu anak orang kaya. Dia tidak butuh uangku. Jatah bulananmu tidak akan berkurang sepeserpun. Bahkan bertambah karena dia bilang akan meminta orang tuanya memberiku posisi yang bagus di perusahaan mereka. Bagimana,  Kamu setuju kan? Percayalah aku tidak pernah berniat menceraikanmu," terang Erland sungguh-sungguh.

"Tapi aku berniat, Mas," sahut Nurul datar sambil menarik tangannya.

"Berniat apa?" potong Erland tak sabar.

"Berniat cerailah. Apalagi?" Nurul tertawa pahit.

"Jangan gila ya, Nurul!" desis Erland geram.

"Kamu yang gila, Mas! Menurutmu setelah aku tahu bahwa kamu menduakanku dan menganggap rahimku bermasalah, aku masih mau bertahan denganmu?" Nurul balik bertanya. 

"Kamu sudah tahu situasinya kan? Aku cuma ingin anak Nurul. Tasya hanya medianya." Erland melemparkan tangan ke udara putus asa. Nurul sangat keras kepala. 

"Kalau situasinya dibalik. Aku yang mencari pria lain hanya untuk mendapat anak, apa Mas masih mau menjadi suamiku?" tantang Nurul. 

"Situasinya beda. Agama kita memperbolehkan poligami bukan polindri!" sembur Erland emosi.

"Oalah, Mas. Kalau sudah terjepit begini, Mas baru membawa-bawa agama. Jangan menjadikan dalil agama sebagai tameng kalau kamunya yang salah. Aku tidak rela!" 

"Jadi kamu maunya apa? Aku menalak Tasya yang sedang hamil besar? Begitu?" Erland membanting kursi. Kesabarannya habis sudah.

"Aku sudah bilang tadi kan? Aku mau cerai! Mau Mas menalak Tasya atau tidak, itu bukan urusanku!" Kali ini Nurul berteriak. Ia yakin orang-orang yang mencuri dengar di luar ruangan mendengar teriakannya.

"Kamu sungguh-sungguh mau cerai? Nurul... Nurul... mau jadi apa kamu kalau bercerai denganku? Kembali ke rumah orang tuamu yang kecil dan sumpek itu? Kamu tega membebani mereka di usia senja?"

"Oh, sekarang Mas menyebut rumah orang tuaku kecil dan sumpek ya? Dulu Mas bilang mungil, asri dan penuh kehangatan. Lupa, Mas?" Gantian Nurul yang tertawa mengejek. 

"Memang begitu kenyataannya," sahut Erland seenaknya."Dulu aku memperhalusnya karena ingin menarik hatimu saja," tambahnya enteng. 

Kalimat berikutnya lebih kejam.

"Tidak ada yang istimewa dari keluargamu kecuali kecantikanmu. Tapi tidak dengan keturunanmu." Kalah malu Erland mengeluarkan kalimat semenyakitkan mungkin.

Nurul menatap Erland nanar. Kejamnya kata-kata yang dilontarkan Erland menoreh luka yang sangat dalam di hatinya. Sakitnya tak terkira.

"Aku tidak menyangka kalau kamu semunafik ini, Mas. Mengingatkan saja, seseorang yang kamu hina hari ini bisa jadi adalah satu-satunya orang yang akan menolongmu suatu hari nanti. Allah Maha Besar. Tidak ada yang mustahil jika ia menghendakinya."

Suara Nurul bergetar dengan air mata yang berlelehan. Ia tidak menangis saat memergoki Erland bersama Tasya. Tidak juga saat ia tahu bahwa ibu mertua dan ipar-iparnya juga mengelabuhinya. Tapi air matanya mengalir bagai air bah saat kedua orang tua dan anaknya yang tidak tahu apa-apa ikut dihina. 

Ruangan terasa menyempit. Saat melihat luka menganga di mata Nurul, Erland tersadar. Ia sudah  kelewatan. Kecewa karena tidak berhasil membujuk Nurul untuk tetap menjadi istrinya, telah membuatnya berbicara tanpa berpikir.

Saat Erland ingin menyela, Nurul mengangkat tangannya.

"Mulai hari ini kamu bukan suamiku dan ayah Alfi lagi. Kamu juga tidak akan mendapatkan rasa hormatku lagi," ikrar Nurul serupa sumpah.

Ia keluar tanpa menoleh. Meninggalkan Erland yang masih termangu. 

Di ruang tamu, tatapan Tasya dan keluarga Erland langsung tertuju padanya. 

Nurul mendekati Alfi yang duduk di samping ibu mertuanya. Ia kemudian menggendong Alfi yang langsung tersenyum saat melihatnya.

"Ibu… pulang?” gumamnya sambil mengembangkan tangan. Isyarat bahwa ia ingin digendong

"Iya, Nak. Kita pulang." Nurul menggendong Alfi dan mendekapnya erat. Tidak apa-apa kalau Erland tidak menyayanginya. Karena dirinya yang akan menyayangi Alfi dengan sepenuh hati dan segenap jiwa. Menjadi ibu dan ayah sekaligus bagi anak istimewanya.

Langkahnya mantap menuju pagar.

"Nurul, tunggu!” suara Erland memanggil dari belakang. Ia berjalan cepat ingin menyusul Nurul. 

Tasya sontak berdiri, bersiap menahan Erland. Namun Erland melewatinya begitu saja.

Tiba-tiba terdengar suara rintihan kesakitan.

“Aduh… perutku…”

Tasya meringis, memegangi perutnya.

Dalam sekejap suasana berubah. Semua pandangan kini terarah pada Tasya yang meringis kesakitan.

"Ya Allah, kamu kenapa, Tasya?” Bu Titik panik.

Erland refleks berbalik. "Tasya, kamu nggak apa-apa? Mana yang sakit?"

Ia memapah Tasya kembali duduk. Dini mengambilkan air. Rina sibuk mencari minyak angin.

Keributan kembali terjadi.

Di tengah kekacauan itu, Nurul berdiri di luar pagar, menunggu taksi online yang baru saja ia pesan. Dalam hitungan detik taksi telah berhenti di depan rumah. Ada penumpang yang turun dari dalamnya.

Nurul sempat menoleh sekali. Ke arah Tasya yang terus meringis kesakitan. Dan di sela-sela kepanikan pura-pura itu, ia melihat Tasya tersenyum tipis.

Bukan senyum kesakitan.

Tapi senyum kemenangan.

Pintu taksi terbuka.

Nurul masuk tanpa ragu.

Tangannya memeluk Alfi erat di pangkuannya.

Mobil mulai bergerak.

Di kaca jendela, rumah besar itu perlahan menjauh. Anehnya, dada Nurul justru terasa lebih lapang. Sakit, iya. Hancur, sudah tentu. Tapi dia tidak menyesal meninggalkan rumah besar itu. Rumah yang penuh dengan kemunafikan.

Dan di dalam taksi yang melaju menjauh, Nurul tahu, bahwa keputusannya untuk bercerai memang sudah tepat. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   8. Pertemuan Oleh Semesta.

    Chef Rudy dan Bu Dinda mendekat. Masing-masing mengambil garpu. Merekamencicipi ikan terlebih dulu.Kulitnya renyah. Dagingnya masih lembut dan tidak amis."Gurih dan tidak amis," Chef Rudy mengangguk. Bu Dinda melakukan hal yang sama setelah ikut mencicipi.Chef Rudy lalu mencicipi sambal. Matanya sedikit membesar. Pedas. Segar. Ada aroma kemangi. Ia lalu mencoba tempe. "Renyah." Lalu kangkung. Bu Dinda ikut mengunyah kangkung."Kangkungnya tidak lembek."Chef Rudy menatap Nurul."Kenapa kamu memilih menu ini?""Karena bisa matang dalam waktu 45 menit," jawab Nurul jujur. "Saya bisa saja mencoba menu seperti rendang atau yang lainnya yang mungkin lebih mencerminkan masakan seorang chef. Tapi saya harus realistis. Waktunya tidak akan cukup. Makanya saya memilih menu sederhana ini, tapi tetap mencerminkan rasa Nusantara."Ia lalu menambahkan pelan. "Masakan yang tampak sederhana itu sebenarnya juga riskan, Chef. Karena kalau salah sedikit saja, pasti langsung terasa."Chef Rudy meng

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   7. Asa Baru.

    Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat berisi CV dan foto-foto plating rendang, rawon, dan sate lilit ia genggam erat.Seorang perempuan berusia 40-an dengan blazer hitam berdiri dari balik meja resepsionis ketika melihatnya. Tante Dinda. Nurul masih mengenalinya meski dulu hanya beberapa kali bertemu. "Nurul Hidayah?" sapanya ramah namun tegas. "Iya, Bu." Nurul mengangguk sopan. "Kamu tidak berubah banyak. Saya Dinda. Tante Niken. Di sini kamu bisa memanggil saya Bu Dinda."Nurul langsung menyalami dengan sopan. "Terima kasih, Bu Dinda. Ibu juga tidak berubah. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau memberi saya kesempatan."Bu Dinda menatapnya dari atas sampai bawah. Bukan menilai penampilan, tapi membaca kesiapan."Kita

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   6. Memulai Hidup Baru.

    "Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?"Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul."Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab dirinya meminta cerai.“Muke gile si Erland. Gue pikir pernikahan lo bakalan langgeng karena dulu dia ngejar-ngejar lo sampe segitunya. Eh ternyata bajingan juga!" Niken menggebrak meja.Gelas-gelas bergetar, sedikit jus tumpah. Beberapa pengunjung kafe menoleh tajam.Niken nyengir kaku sambil mengangkat tangan. "Maaf, maaf…""Kalem, Nik. Kita di tempat umum,” tegur Nurul pelan."Iye… iye… gue tahu. Namanya juga emosi." Niken mendecakkan lidah. Ia lalu menatap Nurul prihatin. "Terus sekarang lo tinggal di mana? Anak lo?""Sama orang tua gue lah. Mau ke mana lagi?" Nurul mengedikkan bahu pasrah. "Adik lo si Daffa udah tamat kuliah?" Nurul menggeleng. "Belum. Lagi ngerjain skripsi. Tapi seka

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   5. Harapan Baru.

    Begitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, baru pulang ke rumah orang tuanya."Nurul… ayo masuk." Ibunya membuka pintu lebar-lebar. Ayahnya yang rambutnya semakin memutih, melansir koper-koper yang ditinggalkan sopir taksi di teras. Membawanya masuk ke dalam rumah. "Daffa mana, Bu? Kok Ayah yang mengangkat koper?" Nawang mencari keberadaan adik semata wayangnya. "Daffa menginap di rumah temannya. Mau tugas kuliah bersama katanya," jawab ibunya singkat."Tidurkan dulu Alfi di kamar lamamu. Ibu tadi sudah membersihkannya," ujar Bu Nafisah lagi.Nurul menurut. Ia membawa putranya ke ranjang. Membaringkannya hati-hati serta menyelimutinya. Setelahnya ia menemui kedua orangnya di ruang tamu. "Yah, Bu. Sepert

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   4. Sampai Jadi Debu.

    Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland."Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis."Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apalagi oleh istri sendiri."Berarti Mas tau dong kalau down syndrome pada sebagian besar kasus adalah Trisomi 21. Yang terjadi akibat nondisjunction pada saat pembelahan sel. Itu peristiwa biologis acak, Mas. Sembilan puluh lima persen terjadi tanpa faktor keturunan. Tanpa 'kesalahan' siapa pun." Nurul mengeja setiap suku katanya. Erland diam. Ia mendengar namun tidak mengiyakan."Jadi, memiliki satu anak dengan Trisomi 21 tidak berarti semua anak berikutnya akan sama. Risiko berulangnya kecil, Mas. Secara statistik, peluang melahirkan anak dengan kromosom normal tetap jauh lebih besar.""Tapi tetap ada kemungkinan kan?" sela Erland cepat."Tentu saja ada," Nurul mengiyakan. "Seperti pada sem

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   3. Mari Kita Bercerai.

    "Maaf ya… kalau kedatangan kami mengejutkan. Mas Erland bilang mau memberi surprise pada Ibu. Tolong kuenya diletakkan di meja, Rin."Tasya memberikan kue kepada Rina sambil tersenyum tipis. Ia terlihat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya.Kami.Nurul mencebik. Satu kata, berjuta makna.Tidak perlu penjelasan lagi. Dari bahasa tubuh Erland yang protektif dan keakraban Tasya dengan keluarga ini, Nurul sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Erland kembali menjalin hubungan dengan Tasya. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya pasti Erland."Nurul… aku bisa menjelaskan," Erland akhirnya bersuara. Sikapnya tampak serba salah."Kami sudah menikah siri, ya, Nurul," ungkap Tasya tanpa tedeng aling-aling. "Jadi anak kami ini bukan anak haram. Ibu dan keluarga besar Atmodjo adalah saksinya." Tasya langsung mengamankan posisinya."Mas Erland tidak pernah meminta izin padaku untuk melakukan poligami. Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak punya urusan denganmu," sahut Nurul datar."Tidak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status