Share

6. Memulai Hidup Baru.

Auteur: Suzy Wiryanty
last update Date de publication: 2026-03-11 00:20:58

"Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?"

Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul.

"Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab dirinya meminta cerai.

“Muke gile si Erland. Gue pikir pernikahan lo bakalan langgeng karena dulu dia ngejar-ngejar lo sampe segitunya. Eh ternyata bajingan juga!" Niken menggebrak meja.

Gelas-gelas bergetar, sedikit jus tumpah. Beberapa pengunjung kafe menoleh tajam.

Niken nyengir kaku sambil mengangkat tangan. "Maaf, maaf…"

"Kalem, Nik. Kita di tempat umum,” tegur Nurul pelan.

"Iye… iye… gue tahu. Namanya juga emosi." Niken mendecakkan lidah. Ia lalu menatap Nurul prihatin. 

"Terus sekarang lo tinggal di mana? Anak lo?"

"Sama orang tua gue lah. Mau ke mana lagi?" Nurul mengedikkan bahu pasrah. 

"Adik lo si Daffa udah tamat kuliah?" 

Nurul menggeleng. "Belum. Lagi ngerjain skripsi. Tapi sekarang dia sering ngobyek kecil-kecilan. Belajar nyari duit sendiri," terang Nurul. Ia kemudian menarik napas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Gue nemuin lo karena mau minta tolong. Lo kan punya banyak relasi. Kali aja ada yang butuh chef."

"Lah, kan lo bisa nelpon Pak Ahmad. Bilang kalo lo mau kerja lagi di Selera Rasa. Pasti diterima. Lo dulu kan 3 tahun kerja di sana? Ngapain lo nyari kerjaan di tempat lain?" Niken mengernyitkan alis. 

"Pak Ahmad udah pensiun, Nik. Selera Rasa sekarang dipegang anaknya, Asti. Mana mungkin dia mau nerima gue. Secara dulu kami saingan.  Lo kan tau sendiri kalo dia benci banget sama gue."

"Iya juga sih. Si Asti itu nggak profesional banget. Masa cuma kalah lomba masak dari lo, bapernya nggak ilang-ilang." Niken mendengkus jijik. 

"Sifat si Asti kan emang gitu. Nggak mau kalahan orangnya. Makanya gue nggak ngelamar ke situ lagi. Karena gue yakin, Asti pasti bakalan nolak," kata Nurul pasrah. 

Niken menggembungkan pipinya. Ia berpikir beberapa saat sebelum menjentikkan jarinya. Wajahnya berubah cerah.

"Eh! lo inget tante gue yang kuliah di Inggris dulu?" 

"Tante Dinda ya?" tebak Nurul sambil mengingat-ingat.

"Yes! Tante Dinda. Sekarang Tante gue itu jadi manajer di Hotel Putra Mulia. Hotel itu punya restoran terkenal, Cita Rasa Nusantara. Minggu lalu Tante gue bilang kalo mereka lagi nyari chef yang kuat di masakan tradisional."

Harapan Nurul tumbuh. Berarti ada peluang untuknya.

"Nah, lo chef spesialis masakan Nusantara, kan?" tukas Niken seraya mengetik lincah di keyboard ponsel. 

"Ini gue chat Tante gue. Nanya soal lowongan itu." Niken menunggu balasan. Ia tersenyum gembira saat menerimanya.

"Tante gue bilang ada beberapa kandidat beberapa hari lalu. Tapi semua terpaksa ia tolak karena bos besarnya mau chef yang referensinya bagus. Ini Tante gue nelpon bos besar dia dulu. Tante mau ngerekomendasiin lo. Kalo bos besarnya oke, lo bisa ke hotel untuk diinterview sama Tante gue besok pagi."

"Begitu ya? Mudah-mudahan aja bos besarnya mau nerima gue ya," ujar Nurul berharap.

"Semoga ya, Rul." Niken berharap yang sama.

"Ntar kalo Tante gue ngabarin, gue akan langsung kasih tahu lo. Biar lo bisa melengkapi surat-surat untuk interview. Tante gue bilang kalo lo punya sertifikat pelatihan kuliner, itu lebih bagus. Tambahin lagi sama

Portofolio foto makanan." Niken membaca pesan dari tantenya.

Pintu kafe bergoyang. Dua orang wanita berusia awal 20-an masuk ke dalam. Tatapan mereka mencari-cari nomor meja. 

"Di sini, Erya, Maureen." Niken mengangkat tangannya. Keduanya pun berjalan menghampiri. 

"Erya dan Maureen ini anak buah gue. Hari ini gue ada nasabah baru yang potensial banget. Gue harus ngajarin mereka bagaimana menghandle nasabah. Terutama soal waktu. Ini mereka udah terlambat hampir setengah jam. Untung aja nasabahnya belum dateng," omel Niken. 

"Ya udah, gue balik dulu ya, Nik." Nurul beringsut dari kursi saat anak buah kerja Niken menghampiri. "Gue nunggu kabar baik dari lo aja." 

"Oke, sip." Niken mengacungkan jempolnya. Nurul tersenyum kecil pada rekan kerja Niken sebelum berlalu. Ia masih bisa mendengar Niken memarahi dua rekan kerjanya.

Nurul berjalan cepat menuju pintu utama kafe. Pikirannya melayang pada Alfi di rumah. Putranya pasti sudah menunggunya. Ia cukup lama meninggalkan Alfi hari ini. Nyaris empat jam. 

Tangannya mendorong pintu kaca. Di saat yang bersamaan, seorang pria dan dua orang lagi di kanan dan kirinya, dari luar hendak masuk ke kafe.

Brak.

Pintu kaca itu mengenai bahu pria yang di tengah cukup keras. Karena ia yang paling dekat dengan pintu. 

Nurul tersentak. "Astaga! Maaf… maaf banget! Saya nggak sengaja."

Pria itu tinggi dan rapi. Mengenakan setelan abu-abu gelap dengan sepatu kulit mengilap. Dandanan khas eksekutif. Mahal dan berkelas. 

Menanggapi permintaan maaf Nurul, ia hanya mengangguk kecil dan melanjutkan langkahnya.

"Anda sangat sembrono. Perhatikan dulu sekeliling baru bertindak!" Teman si pria memelototinya. 

"Maaf, saya sedang terburu-buru. Saya memikirkan anak saya di rumah!" 

Nurul membungkuk pelan. Setelahnya ia ingin memaki dirinya sendiri. Untuk apa ia memberitahu masalah pribadinya. 

"Abdi, langsung ke dalam saja. Kita sudah terlambat empat menit." Pria yang ia tabrak tadi memanggil temannya. Ia sama sekali tidak melihat ke arah Nurul. 

Nurul berdiri terpaku beberapa detik, lalu bergegas ke parkiran. Deretan mobil mewah berjejer, kontras dengan sepeda motor bebek tua milik ayahnya yang ia pinjam.

Nurul meraih helm yang tergantung di setang, lalu memakainya sambil menghela napas panjang.

Ia harus segera pulang.

Alfi sudah cukup lama ditinggalkan bersama kedua orang tuanya. Meski ayah dan ibunya tak pernah mengeluh, Nurul tahu menjaga anak kecil bukan perkara ringan, apalagi di usia mereka yang tak lagi muda.

Mesin motor dinyalakan

Angin sore menerpa wajahnya saat ia melaju keluar dari parkiran. Benaknya dipenuhi rencana mencari pekerjaan di tempat lain apabila bos besar Tante Dinda menolak rekomendasinya. Kalau tidak terapi Alfi yang mahal harus ia hentikan sementara.  

Ia tak tahu bahwa pria berjas abu-abu yang barusan hampir ia tabrak itu, beberapa menit beberapa menit yang lalu menerima telepon. 

Dan namanya kemudian disebut dalam percakapan mereka. 

Ia juga tidak tahu bahwa setelah ia pergi, pria berjas abu-abu yang ia tabrak tadi berdiri di depan meja Niken.

"Selamat sore, Pak," ucap Niken cepat, menyambutnya dengan senyum profesional. Erya dan Maureen ikut menyambut gugup. Aura pria ini sangat berwibawa.

Pria itu menarik kursi dengan tenang. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi.

Elang Samudra.

Namun bagi Niken, ia hanya klien baru—eksekutif yang ingin membahas polis asuransi untuk jaringan bisnisnya.

Elang mengangguk singkat.

Dua pria lain yang datang bersamanya mulai membuka map proposal. Pembicaraan tentang angka dan risiko usaha pun dimulai.

Namun sebelum benar-benar fokus, Elang sempat melirik ke arah pintu kaca tempat Nurul tadi keluar.

"Perempuan tadi… anak buah Anda juga?” tanyanya ringan, seolah basa-basi.

Niken terkekeh kecil. "Oh, bukan. Itu sahabat saya. Nurul Hidayah namanya. Seorang chef profesional." 

Abdi dan Hendri saling pandang. Bos mereka bukan tipe pria yang bertanya tanpa alasan. 

Gerakan tangan Elang yang hendak membalik halaman proposal berhenti.

"Chef profesional?"

"Iya. Spesialis masakan Nusantara. Dulu ia tiga tahun lamanya memegang dapur Selera Rasa sebelum resign."

"Kenapa resign?"

"Karena menikah. Sekarang… sudah bercerai." Niken mengangkat bahu. "Kasihan dia. Sekarang sedang butuh sekali pekerjaan untuk membiayai anak berkebutuhan khususnya."

Elang mengangguk tipis.

"Dia sudah melamar ke mana saja?"

"Baru ke restoran Cita Rasa Nusantara sih," jawab Niken apa adanya. "Tante saya, Dinda manajer di Hotel Putra Mulia. Tante saya sedang mencoba membantunya memasukan CV di sana."

Elang mengangguk kecil.

Tidak ada ekspresi yang berubah. Tidak ada juga komentar tambahan.

Niken sama sekali tidak tahu bahwa pria di depannya adalah pemilik seluruh jaringan Hotel Putra Mulia. Atasan langsung dari tantenya sendiri.

Ia juga tidak tahu bahwa keputusan akhir penerimaan kandidat dapur utama harus melalui meja pria itu.

Pertemuan berlangsung formal. Profesional. Kaku.

Tak ada yang tampak istimewa. Semuanya biasa saja.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   8. Pertemuan Oleh Semesta.

    Chef Rudy dan Bu Dinda mendekat. Masing-masing mengambil garpu. Merekamencicipi ikan terlebih dulu.Kulitnya renyah. Dagingnya masih lembut dan tidak amis."Gurih dan tidak amis," Chef Rudy mengangguk. Bu Dinda melakukan hal yang sama setelah ikut mencicipi.Chef Rudy lalu mencicipi sambal. Matanya sedikit membesar. Pedas. Segar. Ada aroma kemangi. Ia lalu mencoba tempe. "Renyah." Lalu kangkung. Bu Dinda ikut mengunyah kangkung."Kangkungnya tidak lembek."Chef Rudy menatap Nurul."Kenapa kamu memilih menu ini?""Karena bisa matang dalam waktu 45 menit," jawab Nurul jujur. "Saya bisa saja mencoba menu seperti rendang atau yang lainnya yang mungkin lebih mencerminkan masakan seorang chef. Tapi saya harus realistis. Waktunya tidak akan cukup. Makanya saya memilih menu sederhana ini, tapi tetap mencerminkan rasa Nusantara."Ia lalu menambahkan pelan. "Masakan yang tampak sederhana itu sebenarnya juga riskan, Chef. Karena kalau salah sedikit saja, pasti langsung terasa."Chef Rudy meng

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   7. Asa Baru.

    Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat berisi CV dan foto-foto plating rendang, rawon, dan sate lilit ia genggam erat.Seorang perempuan berusia 40-an dengan blazer hitam berdiri dari balik meja resepsionis ketika melihatnya. Tante Dinda. Nurul masih mengenalinya meski dulu hanya beberapa kali bertemu. "Nurul Hidayah?" sapanya ramah namun tegas. "Iya, Bu." Nurul mengangguk sopan. "Kamu tidak berubah banyak. Saya Dinda. Tante Niken. Di sini kamu bisa memanggil saya Bu Dinda."Nurul langsung menyalami dengan sopan. "Terima kasih, Bu Dinda. Ibu juga tidak berubah. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau memberi saya kesempatan."Bu Dinda menatapnya dari atas sampai bawah. Bukan menilai penampilan, tapi membaca kesiapan."Kita

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   6. Memulai Hidup Baru.

    "Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?"Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul."Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab dirinya meminta cerai.“Muke gile si Erland. Gue pikir pernikahan lo bakalan langgeng karena dulu dia ngejar-ngejar lo sampe segitunya. Eh ternyata bajingan juga!" Niken menggebrak meja.Gelas-gelas bergetar, sedikit jus tumpah. Beberapa pengunjung kafe menoleh tajam.Niken nyengir kaku sambil mengangkat tangan. "Maaf, maaf…""Kalem, Nik. Kita di tempat umum,” tegur Nurul pelan."Iye… iye… gue tahu. Namanya juga emosi." Niken mendecakkan lidah. Ia lalu menatap Nurul prihatin. "Terus sekarang lo tinggal di mana? Anak lo?""Sama orang tua gue lah. Mau ke mana lagi?" Nurul mengedikkan bahu pasrah. "Adik lo si Daffa udah tamat kuliah?" Nurul menggeleng. "Belum. Lagi ngerjain skripsi. Tapi seka

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   5. Harapan Baru.

    Begitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, baru pulang ke rumah orang tuanya."Nurul… ayo masuk." Ibunya membuka pintu lebar-lebar. Ayahnya yang rambutnya semakin memutih, melansir koper-koper yang ditinggalkan sopir taksi di teras. Membawanya masuk ke dalam rumah. "Daffa mana, Bu? Kok Ayah yang mengangkat koper?" Nawang mencari keberadaan adik semata wayangnya. "Daffa menginap di rumah temannya. Mau tugas kuliah bersama katanya," jawab ibunya singkat."Tidurkan dulu Alfi di kamar lamamu. Ibu tadi sudah membersihkannya," ujar Bu Nafisah lagi.Nurul menurut. Ia membawa putranya ke ranjang. Membaringkannya hati-hati serta menyelimutinya. Setelahnya ia menemui kedua orangnya di ruang tamu. "Yah, Bu. Sepert

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   4. Sampai Jadi Debu.

    Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland."Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis."Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apalagi oleh istri sendiri."Berarti Mas tau dong kalau down syndrome pada sebagian besar kasus adalah Trisomi 21. Yang terjadi akibat nondisjunction pada saat pembelahan sel. Itu peristiwa biologis acak, Mas. Sembilan puluh lima persen terjadi tanpa faktor keturunan. Tanpa 'kesalahan' siapa pun." Nurul mengeja setiap suku katanya. Erland diam. Ia mendengar namun tidak mengiyakan."Jadi, memiliki satu anak dengan Trisomi 21 tidak berarti semua anak berikutnya akan sama. Risiko berulangnya kecil, Mas. Secara statistik, peluang melahirkan anak dengan kromosom normal tetap jauh lebih besar.""Tapi tetap ada kemungkinan kan?" sela Erland cepat."Tentu saja ada," Nurul mengiyakan. "Seperti pada sem

  • Pelukan Kedua Di Bawah Langit Yang Sama   3. Mari Kita Bercerai.

    "Maaf ya… kalau kedatangan kami mengejutkan. Mas Erland bilang mau memberi surprise pada Ibu. Tolong kuenya diletakkan di meja, Rin."Tasya memberikan kue kepada Rina sambil tersenyum tipis. Ia terlihat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya.Kami.Nurul mencebik. Satu kata, berjuta makna.Tidak perlu penjelasan lagi. Dari bahasa tubuh Erland yang protektif dan keakraban Tasya dengan keluarga ini, Nurul sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Erland kembali menjalin hubungan dengan Tasya. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya pasti Erland."Nurul… aku bisa menjelaskan," Erland akhirnya bersuara. Sikapnya tampak serba salah."Kami sudah menikah siri, ya, Nurul," ungkap Tasya tanpa tedeng aling-aling. "Jadi anak kami ini bukan anak haram. Ibu dan keluarga besar Atmodjo adalah saksinya." Tasya langsung mengamankan posisinya."Mas Erland tidak pernah meminta izin padaku untuk melakukan poligami. Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak punya urusan denganmu," sahut Nurul datar."Tidak

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status