Se connecterBegitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, baru pulang ke rumah orang tuanya.
"Nurul… ayo masuk." Ibunya membuka pintu lebar-lebar.
Ayahnya yang rambutnya semakin memutih, melansir koper-koper yang ditinggalkan sopir taksi di teras. Membawanya masuk ke dalam rumah.
"Daffa mana, Bu? Kok Ayah yang mengangkat koper?" Nawang mencari keberadaan adik semata wayangnya.
"Daffa menginap di rumah temannya. Mau tugas kuliah bersama katanya," jawab ibunya singkat.
"Tidurkan dulu Alfi di kamar lamamu. Ibu tadi sudah membersihkannya," ujar Bu Nafisah lagi.
Nurul menurut. Ia membawa putranya ke ranjang. Membaringkannya hati-hati serta menyelimutinya. Setelahnya ia menemui kedua orangnya di ruang tamu.
"Yah, Bu. Seperti yang Nurul diceritakan di taksi tadi, Nurul mau bercerai dengan Mas Erland. Karena..."
"Sudah malam, Nurul. Istirahatlah. Besok pagi baru kita bicarakan semuanya pelan-pelan. Kamu pasti capek kan?" kata Pak Yusuf bijak.
Nurul yang duduk di hadapan kedua orang tuanya mengganguk dengan mata berembun. Tadinya ia sempat ragu pulang ke rumah orang tuanya. Ia takut menyusahkan dan dianggap beban. Tapi nyatanya mereka menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Satu hal yang harus kamu ingat. Ayah dan Ibu akan selalu mendukung apa pun keputusanmu. Termasuk keinginanmu untuk bercerai."
Mata Nurul memanas. Ia menatap kedua orang tuanya yang kian renta. Ayahnya adalah lelaki sederhana yang dulu setiap pagi berangkat mengajar dengan sepeda motor tuanya. Dan kini setelah pensiun hanya mengandalkan uang pensiun dan warung kecil di depan rumah. Sementara ibunya hanya ibu rumah tangga biasa. Ia takut sekali membebani hari tua kedua orang tuanya.
Mereka juga masih memiliki satu tanggungan, Daffa adiknya yang masih kuliah. Daffa lahir dengan usia yang cukup jauh darinya. Mereka berselisih 12 tahun.
"Maaf… Nurul ke sini dan menyusahkan Ayah," ucapnya dengan suara tersendat.
"Mana Ayah masih menanggung Daffa. Dengan adanya Nurul dan Alfi, beban Ayah pasti jadi makin berat," tukas Nurul nelangsa.
Ayahnya menggeleng tegas.
"Orang tua tidak pernah menganggap anaknya beban. Daffa itu sedang menyusun skripsi, sebentar lagi wisuda," pungkas ayahnya menenangkan."Lagi pula Daffa sekarang rajin mencari obyekan bareng temannya. Tuh, TV baru kita, yang beli ya Daffa." Ayahnya menunjuk televisi dengan dagunya.
"Jadi keputusanmu kembali ke sini sudah tepat. Jika kamu tidak dihargai di sana, maka pulanglah ke sini. Ayah dan Ibu masih sanggup memberimu dan Alfi makan, walau dengan lauk sederhana. Kamu tidak perlu khawatir."
Nurul mengiyakan dan masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Sayangnya ia tidak bisa memejamkan mata. Ia terus termenung sembari memandangi langit-langit kamar. Menatap kosong plafon rumah yang catnya sudah mulai pudar.
Benaknya terus berputar. Memikirkan biaya hidupnya dan Alfi di rumah ini. Penghasilan ayahnya pas-pasan.
Sementara biaya sekolah dan terapi Alfi tidak murah. Satu hal lagi, biaya pengacara untuk mengurus perceraiannya.Menilik sifat Erland, sangat mungkin suaminya itu akan mempersulitnya memperoleh harta gono gini. Ia memerlukan pengacara untuk membela hak-haknya.
Nurul menghela napasnya berat.
Ia tidak boleh terlalu lama meratapi nasib. Ia bukan perempuan yang tidak punya kemampuan. Ia pernah menjadi chef restoran terkenal selama tiga tahun. Reputasinya juga baik.Tangannya meraih ponsel. Ia bermaksud menelepon Niken. Sahabatnya sejak SMP yang kini sukses sebagai agen asuransi senior. Networking Niken luas, temannya banyak, kliennya juga di mana-mana. Siapa tahu dengan menemui Niken ia bisa mendapat pekerjaan sesuai dengan keahliannya.
Namun ia mengurungkan niatnya, saat melihat jam dinding menunjukkan pukul 02.00 dini hari. Besok pagi saja ia menelepon sahabatnya.
Nurul menoleh ke arah Alfi yang mengigau dalam tidurnya. Nurul menenangkan sang putra dengan suara lembut menenangkan. Seraya membetulkan selimut ia pun berbisik pelan.
"Doakan Bunda berhasil ya Alfi. Nanti kita akan berjuang bersama," bisiknya pelan. Ia kemudian memejamkan mata. Mencoba tidur agar besok bisa bangun dengan pikiran yang lebih segar.
Chef Rudy dan Bu Dinda mendekat. Masing-masing mengambil garpu. Merekamencicipi ikan terlebih dulu.Kulitnya renyah. Dagingnya masih lembut dan tidak amis."Gurih dan tidak amis," Chef Rudy mengangguk. Bu Dinda melakukan hal yang sama setelah ikut mencicipi.Chef Rudy lalu mencicipi sambal. Matanya sedikit membesar. Pedas. Segar. Ada aroma kemangi. Ia lalu mencoba tempe. "Renyah." Lalu kangkung. Bu Dinda ikut mengunyah kangkung."Kangkungnya tidak lembek."Chef Rudy menatap Nurul."Kenapa kamu memilih menu ini?""Karena bisa matang dalam waktu 45 menit," jawab Nurul jujur. "Saya bisa saja mencoba menu seperti rendang atau yang lainnya yang mungkin lebih mencerminkan masakan seorang chef. Tapi saya harus realistis. Waktunya tidak akan cukup. Makanya saya memilih menu sederhana ini, tapi tetap mencerminkan rasa Nusantara."Ia lalu menambahkan pelan. "Masakan yang tampak sederhana itu sebenarnya juga riskan, Chef. Karena kalau salah sedikit saja, pasti langsung terasa."Chef Rudy meng
Hotel Putra Mulia berdiri megah dengan dinding kaca tinggi dan lampu gantung kristal di lobi. Nurul merasa langkahnya mengecil begitu melewati pintu putar.Saat ini ia mengenakan kemeja putih sederhana dan rok hitam formal. Rambutnya disanggul rendah. Tidak berlebihan namun profesional. Map cokelat berisi CV dan foto-foto plating rendang, rawon, dan sate lilit ia genggam erat.Seorang perempuan berusia 40-an dengan blazer hitam berdiri dari balik meja resepsionis ketika melihatnya. Tante Dinda. Nurul masih mengenalinya meski dulu hanya beberapa kali bertemu. "Nurul Hidayah?" sapanya ramah namun tegas. "Iya, Bu." Nurul mengangguk sopan. "Kamu tidak berubah banyak. Saya Dinda. Tante Niken. Di sini kamu bisa memanggil saya Bu Dinda."Nurul langsung menyalami dengan sopan. "Terima kasih, Bu Dinda. Ibu juga tidak berubah. Sekali lagi terima kasih karena sudah mau memberi saya kesempatan."Bu Dinda menatapnya dari atas sampai bawah. Bukan menilai penampilan, tapi membaca kesiapan."Kita
"Sumpeh! Lo mau cereme dari si Erland?"Mata Niken membelalak sempurna, hampir tak percaya dengan kalimat yang baru saja keluar dari mulut Nurul."Iya," jawab Nurul tenang. Kontras dengan tangannya yang sibuk mengaduk jus jambu merah di hadapannya. Ia kemudian menceritakan secara singkat penyebab dirinya meminta cerai.“Muke gile si Erland. Gue pikir pernikahan lo bakalan langgeng karena dulu dia ngejar-ngejar lo sampe segitunya. Eh ternyata bajingan juga!" Niken menggebrak meja.Gelas-gelas bergetar, sedikit jus tumpah. Beberapa pengunjung kafe menoleh tajam.Niken nyengir kaku sambil mengangkat tangan. "Maaf, maaf…""Kalem, Nik. Kita di tempat umum,” tegur Nurul pelan."Iye… iye… gue tahu. Namanya juga emosi." Niken mendecakkan lidah. Ia lalu menatap Nurul prihatin. "Terus sekarang lo tinggal di mana? Anak lo?""Sama orang tua gue lah. Mau ke mana lagi?" Nurul mengedikkan bahu pasrah. "Adik lo si Daffa udah tamat kuliah?" Nurul menggeleng. "Belum. Lagi ngerjain skripsi. Tapi seka
Begitu Nurul turun dari taksi sambil menggendong Alfi yang tertidur, pintu rumah sudah terbuka. Ibunya berdiri di ambang, wajahnya cemas sekaligus lega. Di belakangnya, sopir taksi membawakan dua koper besar dan satu tas besar serbaguna berisi mainan edukasi Alfi. Ia memang pulang ke rumah dulu untuk mengambil perlengkapan, baru pulang ke rumah orang tuanya."Nurul… ayo masuk." Ibunya membuka pintu lebar-lebar. Ayahnya yang rambutnya semakin memutih, melansir koper-koper yang ditinggalkan sopir taksi di teras. Membawanya masuk ke dalam rumah. "Daffa mana, Bu? Kok Ayah yang mengangkat koper?" Nawang mencari keberadaan adik semata wayangnya. "Daffa menginap di rumah temannya. Mau tugas kuliah bersama katanya," jawab ibunya singkat."Tidurkan dulu Alfi di kamar lamamu. Ibu tadi sudah membersihkannya," ujar Bu Nafisah lagi.Nurul menurut. Ia membawa putranya ke ranjang. Membaringkannya hati-hati serta menyelimutinya. Setelahnya ia menemui kedua orangnya di ruang tamu. "Yah, Bu. Sepert
Nurul menenangkan dirinya sejenak sebelum menanggapi pernyataan Erland."Mendengarmu berargumen seperti ini, aku jadi tidak percaya kalau kamu seorang sarjana S2, Mas," ujar Nurul dengan senyum tipis."Aku tahu teorinya. Jangan menganggapku bodoh!" desis Erland murka. Ia paling anti dijengkali. Apalagi oleh istri sendiri."Berarti Mas tau dong kalau down syndrome pada sebagian besar kasus adalah Trisomi 21. Yang terjadi akibat nondisjunction pada saat pembelahan sel. Itu peristiwa biologis acak, Mas. Sembilan puluh lima persen terjadi tanpa faktor keturunan. Tanpa 'kesalahan' siapa pun." Nurul mengeja setiap suku katanya. Erland diam. Ia mendengar namun tidak mengiyakan."Jadi, memiliki satu anak dengan Trisomi 21 tidak berarti semua anak berikutnya akan sama. Risiko berulangnya kecil, Mas. Secara statistik, peluang melahirkan anak dengan kromosom normal tetap jauh lebih besar.""Tapi tetap ada kemungkinan kan?" sela Erland cepat."Tentu saja ada," Nurul mengiyakan. "Seperti pada sem
"Maaf ya… kalau kedatangan kami mengejutkan. Mas Erland bilang mau memberi surprise pada Ibu. Tolong kuenya diletakkan di meja, Rin."Tasya memberikan kue kepada Rina sambil tersenyum tipis. Ia terlihat sudah bisa mengendalikan keterkejutannya.Kami.Nurul mencebik. Satu kata, berjuta makna.Tidak perlu penjelasan lagi. Dari bahasa tubuh Erland yang protektif dan keakraban Tasya dengan keluarga ini, Nurul sudah bisa menyimpulkan sesuatu. Erland kembali menjalin hubungan dengan Tasya. Dan ayah dari bayi yang dikandungnya pasti Erland."Nurul… aku bisa menjelaskan," Erland akhirnya bersuara. Sikapnya tampak serba salah."Kami sudah menikah siri, ya, Nurul," ungkap Tasya tanpa tedeng aling-aling. "Jadi anak kami ini bukan anak haram. Ibu dan keluarga besar Atmodjo adalah saksinya." Tasya langsung mengamankan posisinya."Mas Erland tidak pernah meminta izin padaku untuk melakukan poligami. Ibu juga tidak mengatakan apa-apa. Jadi aku tidak punya urusan denganmu," sahut Nurul datar."Tidak







