Share

6. Tak Pernah Dihargai

last update Huling Na-update: 2025-10-11 22:41:18

Sera mengusapkan telapak tangannya yang basah karena keringat ke rok spannya. Dia mengembuskan napas dan mengambil nampan berisi empat gelas minuman. Kakinya melangkah menuju meja di pinggir kolam.

Meja itu dihuni oleh empat pria paruh baya. Sera tidak mengenal mereka, tapi sepertinya mereka adalah saudara orang tua Celine. Karena acara malam ini dikhususkan untuk keluarga besar Adhitama atau keluarga Celine.

“Ini minuman yang Anda pesan. Silahkan.” Dengan hati-hati Sera memindahkan keempat minuman satu persatu dari nampan ke atas meja.

Salah satu dari empat pria itu menatap Sera dari ujung kepala hingga kaki. “Saya baru lihat kamu. Kamu pelayan baru di rumah Arga?”

“Bukan, Pak. Saya bekerja di rumah Bu Celine.”

“Oh. Pantas saja.” Pria itu manggut-manggut dan terus menatap Sera, membuat Sera merasa risih. Pasalnya, itu bukan tatapan biasa, tetapi tatapan nakal.

“Kalau begitu saya permisi.” Sera mengangguk singkat dan memilih untuk bergegas pergi dari sana.

Ini memang bukan pertama kalinya ada pria yang menatapnya dengan tatapan seperti itu.

Sejak duduk di bangku sekolah, Sera kerap kali diganggu oleh para siswa laki-laki tanpa tahu apa alasan mereka mengganggunya. Bahkan Sera sering dirundung oleh kakak kelas perempuan hanya karena Sera cukup populer di kalangan siswa laki-laki.

Padahal Sera merasa dirinya sama sekali tidak mencolok. Penampilannya pun biasa-biasa saja. Apalagi dia berasal dari keluarga miskin. Tak ada yang perlu dibanggakan dari dirinya.

“Sera, bawa makanan ini ke meja Pak Arga, ya!” ucap pelayan senior yang bekerja di rumah Arga, ayah Celine, ketika Sera tiba di meja yang penuh dengan hidangan.

Sera mengangguk. Lalu berjalan kembali menuju meja yang ada di tengah taman.

Acara malam itu memang memiliki konsep garden party. Beberapa meja bulat yang dihiasi lilin dan bunga, memenuhi taman rumah Arga yang luas. Suasananya tampak meriah dan mewah meski hanya dihadiri oleh keluarga besar.

Pada saat yang sama, Raven dan Celine memasuki area pesta. Sera seketika menghentikan langkah.

Pasangan suami istri itu langsung menarik perhatian semua orang. Raven terlihat gagah dan berkarisma dengan kemeja hitamnya yang lengannya digulung hingga siku. Dan Celine yang tampil anggun dan menawan dengan gaun biru safir yang elegan.

Celine menggandeng lengan Raven sambil berjalan menuju meja yang diduduki orang tuanya.

Mereka tampak serasi.

Sera tertegun saat kembali menyadari bahwa dirinya dan mereka sangat jauh berbeda. Bagai langit dan bumi.

Setelah menghela napas pelan, Sera melanjutkan langkahnya lagi menuju meja keluarga tersebut.

Ketika tiba di sana Sera langsung menaruh beberapa piring berisi makanan manis ke atas meja.

Raven yang duduk di samping Celine, tampak terkejut melihat kehadiran Sera. Namun ekspresinya itu dengan cepat berubah menjadi tenang seperti semula.

Sera kemudian pergi setelah menuntaskan pekerjaannya.

Raven menyesap minuman yang sudah tersedia di meja, lalu mengobrol ringan dengan ayah dan ibu mertuanya, sebelum akhirnya Arga dan istrinya itu beranjak dari meja untuk menyambut saudaranya yang baru saja datang.

“Kenapa Sera ada di sini?” tanya Raven tiba-tiba, memecah keheningan yang sempat menyelimuti dirinya dan Celine.

Celine yang sedang menusuk cheese cake seketika menghentikan aktifitasnya. “Aku suruh dia membantu Mama.”

“Kenapa nggak bilang dulu padaku?”

“Apa aku harus bilang dulu padamu?” Celine balik bertanya dengan tenang, lalu tersenyum anggun. “Dia cuma pembantu, nggak seharusnya kita membicarakan dia.”

Raven mengembuskan napas kasar. “Dia bekerja di rumah kita, bukan untuk bekerja di sini. Seharusnya kamu izin dulu padaku kalau ingin mempekerjakan dia di rumah Mama.”

Celine menaruh sendok ke atas piring lalu meminum seteguk air putih. “Kalau begitu aku akan memberi dia bayaran tambahan untuk pekerjaannya hari ini.”

“Ini bukan soal dia menerima bayaran atau tidak. Tapi ini soal kamu, dari dulu kamu selalu mengambil keputusan sepihak tanpa mendiskusikannya dulu denganku. Kamu selalu berbuat semaumu dan tidak pernah menghargaiku.”

Setelah mengatakan kalimat tersebut, Raven berdiri, membuat kursi yang dia duduki terdorong ke belakang.

Lalu dia beranjak dari sana dan mengambil segelas wine dari meja yang dipenuhi berbagai jenis minuman.

Raven menyesap minumannya perlahan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Lalu tatapannya berakhir pada sosok gadis yang sedang sibuk berjalan kesana kemari sambil membawa nampan berisi makanan atau minuman.

“Rav.” Seseorang menepuk pundak Raven, membuat Raven menoleh ke arah orang itu yang tak lain adalah sepupu Celine. “Gabung, yuk.” Dia mengedikkan dagu ke arah sebuah meja.

Raven mengikuti arah pandang Daniel. Lalu dia menghampiri meja tersebut yang sudah dihuni Dimas dan Bobby. Mereka adalah sepupu Celine, para pengusaha muda yang mengelola perusahaan keluarga masing-masing.

“Aku dengar proyek merger di bawah tanganmu sukses besar, Rav,” ujar Bobby sambil tertawa kagum.

“Begitulah,” jawab Raven acuh tak acuh. Matanya masih memperhatikan Sera dari kejauhan dengan tatapan dingin.

“Hey, ayolah, Bob. Kamu kayak nggak kenal Raven aja,” sahut Daniel, “kalau sudah dia yang turun tangan, apapun akan sukses di tangannya.”

Daniel tidak hanya sekadar memuji, tapi dia juga mengagumi Raven. Sosok Raven sangat dihormati dan dikagumi, bahkan ditakuti para pesaing.

Raven terkenal sebagai pengusaha yang jika menginginkan sesuatu, maka dia tidak akan pernah menyerah sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.

“Ya, kurasa begitu.” Dimas ikut bersuara. “Banyak orang yang iri padamu, Rav. Karena selain sukses, kamu juga punya istri yang cantik. Kamu ingat kata pepatah? Di balik kesuksesan suami, ada istri yang hebat. Dan ya… kita semua tahu gimana hebatnya Celine.” Dimas tertawa kecil, memuji bagaimana cantik dan hebatnya sepupunya itu.

Raven sama sekali tidak menanggapi ucapan mereka. Dia hanya diam sambil menggoyangkan gelas wine berkaki tinggi dalam genggamannya.

Ya, orang-orang selalu berpikir bahwa dia adalah lelaki beruntung.

Ketika keempat pria itu tenggelam dalam obrolan ringan seputar pekerjaan, Dimas tiba-tiba menceletuk, “Aku baru lihat perempuan itu. Dia pelayan baru di rumah Tante Puspa?”

Ketiga pria di meja itu sontak mengikuti arah pandang Dimas, yang tertuju pada Sera yang sedang menyerahkan minuman pada meja tak jauh dari mereka.

“Sepertinya begitu. Aku nggak pernah melihat dia sebelumnya,” sahut Bobby.

“Waah, bukankah dia terlalu cantik untuk seorang pelayan?” Dimas tersenyum. “Apa perlu aku panggil dia ke sini?”

“Hey, Dim, aku tahu koleksi wanitamu banyak. Tapi mustahil kamu tertarik pada pelayan, ‘kan?” Daniel menyipitkan matanya.

Tatapan Raven beralih pada Dimas, tanpa ekspresi.

“Pelayan jauh lebih menantang kurasa,” sahut Dimas, lalu memanggil Sera. “Hei, kemarilah.”

Di sisi lain, Sera yang mendengar dirinya dipanggil, langsung menghampiri meja yang diduduki empat pria dewasa itu, dan dua kursi lainnya tampak kosong.

Saat menyadari salah satu dari keempat pria itu adalah Raven, Sera terdiam sejenak dan tenggorokannya tercekat. Lalu dia bertanya, “Ada yang bisa saya bantu?”

“Saya mau wine, satu,” ucap Dimas sambil menatap Sera dengan tatapan intens.

Raven hanya diam sambil menyesap minumannya perlahan dan menatap Sera.

“Oh? Baik.” Kebetulan di atas nampan tersisa satu gelas wine lagi, jadi Sera langsung menaruh wine itu ke atas meja. “Silahkan.”

“Terima kasih.” Dimas tersenyum tanpa mengalihkan tatapannya dari Sera, dia meneliti tubuh Sera dari ujung kepala hingga kaki.

“Sama-sama.” Sera menipiskan bibir dan cukup risih dengan tatapan Dimas.

Tanpa menatap Raven sama sekali, Sera pun berbalik hendak pergi dari sana, tapi tiba-tiba Dimas menahan pergelangan tangannya. Sera terkejut.

“Duduk dulu di sini bentar.”

“Maaf, Pak. Tapi saya masih ada pekerjaan,” tolak Sera sambil berusaha menarik tangannya dari genggaman Dimas, tapi genggamannya terlalu kuat.

Tidak ada yang menyadari bahwa tatapan Raven kini berubah tajam dengan rahang yang mengetat.

“Sebentar aja. Saya mau kamu menemani saya di sini.”

“T-Tapi, Pak–”

“Ayolah. Nggak ada salahnya kan kamu istirahat sebentar? Jangan keras kepala.”

“Mohon maaf saya tidak bisa, saya–”

Dimas berdecak lidah, membuat ucapan Sera seketika terhenti. Dia menyeringai dan menarik Sera lebih dekat. “Kamu cuma pelayan, jangan bersikap kurang ajar seperti itu. Saya bilang duduk di–”

"Dimas."

Satu kata. Suara Raven rendah, datar, nyaris berbisik, namun seketika mampu membekukan suasana dan menghentikan senyum lebar Dimas di tempat.

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (7)
goodnovel comment avatar
Rna 1122
cemburu ya lu raven
goodnovel comment avatar
~kho~
nah loh yg punya marah loh... wkwk
goodnovel comment avatar
Siti Nur janah
mau macam" si Dimas ini
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   146. Sisa-Sisa Tadi Malam

    Kamar itu luas dan sunyi. Tetapi kini udara di dalamnya terasa memanas, sesak oleh gairah yang tak terucap.“Aaahhh… Pak Raven….”Sera semakin tak bisa menahan bibirnya untuk tidak mendesah.Tubuhnya bergetar saat dia merasakan sesuatu yang lembab dan dingin menyapu miliknya di bawah sana, bergerak memutar dengan rakus.Jari-jari lentik Sera terselip di sela-sela rambut Raven, menjambak rambutnya untuk melampiaskan perasaannya di sana.Dia menekan kepala pria itu seolah ingin Raven menguasainya lebih dalam. Kini, lidah itu melesak, lebih dalam dan lebih menggoda.Sera merasakan seluruh tubuhnya lumpuh. Tumit-tumit kakinya bergerak menendang sprei seolah hanya itu satu-satunya cara untuk melampiaskan kenikmatannya.“Pak Raven….”Nama itu terus keluar dari mulut Sera, merdu dan menggoda, terasa seperti cambuk yang membuat Raven semakin terpacu.Hingga beberapa detik berikutnya, rintihan Sera terdengar di kamar itu bersamaan dengan sesuatu yang meledak di dalam dirinya. Dia merasa tak me

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   145. Cara Lain

    Raven menerima satu setel pakaian wanita lengkap, dari David. Tadi Raven memang sempat menyuruh sekretarisnya itu agar membeli pakaian wanita.Raven juga mendapat laporan dari David mengenai pria yang memberi minuman pada Sera di club malam itu.Menurut penyelidikan David, pria itu tidak memiliki motif khusus. Dia hanya tertarik pada Sera. Dan itu membuat amarah Raven semakin besar.“Beri dia pelajaran,” titah Raven, tegas. “Dan buat dia menyesal.”David mengangguk. “Baik,” jawabnya patuh.Raven menutup pintu. Dia kembali ke dalam sambil menenteng paper bag berisi pakaian untuk Sera. Lalu menghampiri kamar yang ditempati wanita itu.Kemungkinan Sera sudah terlelap saat ini, tapi Raven akan tetap meletakkan pakaian itu di dalam. Supaya ketika Sera bangun besok pagi, wanita itu bisa langsung mengenakannya.Raven mendorong pintu hingga terbuka lebar.Seketika itu juga, dia tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat Sera berbaring di lantai tanpa sehelai benang pun.“Apa yang

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   144. Menghilangkan Penderitaan Sera

    Sera berusaha bersabar dengan kondisi tubuhnya. Namun, detik demi detik yang berlalu terasa bagai siksaan baginya.Dia bergerak-gerak, mencari posisi duduk yang nyaman. Tetapi dia tidak menemukan kenyamanan dalam posisi apapun.Belum pernah dia merasakan kegelisahan hebat sampai seperti ini.“Tolong,” lirih Sera lagi, berharap pria di sampingnya dapat mengeluarkannya dari penderitaan. “Ini… benar-benar menyiksa.”Raven mencengkeram kemudi dengan erat. Dia tidak ingin melihat Sera menderita lebih lama lagi.Akhirnya, Raven membelokkan kendaraannya ke hotel terdekat. Dia mereservasi sebuah kamar tipe presidential suite. Lalu membawa Sera ke ruangan tersebut.Di dalam lift yang hanya ditumpangi mereka berdua, Raven berdiri tegak dengan raut muka mengeras. Tapi sorot matanya menyiratkan kekhawatiran.Sementara itu, Sera semakin kehilangan kendali atas tubuhnya. Dia terlihat lemas seperti kehilangan tenaga. Napasnya pendek dan tidak teratur.Jemari Sera mencengkeram kemeja Raven, seolah me

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   143. Tersiksa

    “Wanita lain?” Raven mengerutkan keningnya. Lalu dia teringat dengan wanita yang disewanya tadi. “Kamu melihatnya?”“Bapak pikir saya tidak melihatnya?” tanya Sera seraya menatap Raven dengan tatapan kecewa.Sera hendak pergi. Tapi Raven tiba-tiba menarik Sera ke dalam pelukannya, membuat Sera terhenyak.Begitu lengan Raven melingkar di tubuhnya, reaksi tubuh Sera terasa terlalu aneh.Tubuh Sera bergetar, karena sentuhan Raven bagai aliran listrik yang melumpuhkan saraf-saraf di tubuhnya. Napas Sera kian memburu. Detak jantungnya semakin tak karuan.“Wanita itu bukan siapa-siapa,” ucap Raven dengan suara rendah. Dia merasa ingin menjelaskan hal itu pada Sera, agar tidak salah paham.“Saya membayarnya untuk membuat saya lupa padamu,” lanjut Raven, “tapi wanita itu gagal melakukannya. Saya tetap… merindukanmu. Dan malam ini saya berencana pulang ke rumah untuk menemuimu.”Sera seketika tertegun mendengarnya. Dia tahu, Raven bukan tipe pria yang akan mengatakan kalimat omong kosong.Dan

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   142. Reaksi Tubuh yang Berlebihan

    Raven mengembuskan napas kasar. Mungkin itu hanya mirip dengan suara Sera saja, pikirnya.Akhirnya Raven melanjutkan langkahnya lagi, berusaha untuk tidak peduli.“Aku bilang jangan menyentuhku! Lepaskan!” seru wanita itu lagi, yang membuat langkah kaki Raven kembali terhenti.Raven menoleh ke belakang, ke arah sumber suara.Seketika itu juga mata Raven melebar ketika melihat seorang wanita yang sedang digoda oleh seorang pria.Sera.Ya, Raven yakin sekali wanita itu adalah Sera.Tapi kenapa wanita itu ada di tempat seperti ini?Di sana, Sera sedang memberontak, berusaha melepaskan lengannya yang dicengkeram pria itu.Namun pria itu langsung memenjarakan Sera di dinding dan nyaris menciumnya. Sera dengan cepat memalingkan wajah ke arah lain, menghindari sentuhan itu. Pemandangan itu membuat darah di kepala Raven terasa mendidih. Rahangnya seketika berubah mengeras dengan sorot mata yang tajam dan berbahaya.“Mundur,” perintah Raven dengan suara rendah dan dingin, yang membuat Sera da

  • Pelukan Sang Majikan di Malam Hari   141. Minuman Penghilang Rasa Sakit

    Siapa wanita itu?Kenapa dia terlihat berani menggoda Raven?Bahkan, Raven pun tidak mengusirnya. Pria itu hanya diam seolah mengizinkan wanita cantik itu menggoda dirinya.Jari-jari tangan Sera perlahan mengepal.Jadi, Raven tidak pulang ke kediamannya tiga hari terakhir ini karena lebih senang menghabiskan waktu di club malam, bersama wanita lain?Sera tersenyum getir.Miris memang. Sera merasa cemburu padahal hubungan dirinya dengan Raven pun adalah sebuah kesalahan yang amat besar dan kotor.Akhirnya Sera berbalik badan, menyeret langkahnya keluar dari ruangan itu.Dia terus mengingatkan diri sendiri, bahwa dirinya tidak berhak cemburu pada wanita itu.Sera bukan siapa-siapa bagi Raven. Yang patut cemburu dan marah sebenarnya adalah Celine.Namun, tetap saja Sera tidak bisa membohongi hatinya sendiri.Sera berhenti melangkah di ruangan yang ramai dengan musik menghentak-hentak. Ekspresi wajahnya tampak sendu.“Sepertinya lagi nggak baik-baik aja?”Sera tersentak ketika seorang pri

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status