MasukSera menunduk, menyirami beberapa tanaman stroberi miliknya di dalam pot berwarna hitam. Beberapa sudah berbuah tapi belum matang.Hari ini hari liburnya, jadi Sera memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan berkegiatan di rumahnya sendiri.Ini kesempatan yang baik untuk melupakan pria itu sejenak, pikirnya.Tiba-tiba Sera mendengar deru mesin mobil yang berhenti di depan rumahnya.Sera seketika terdiam.Dia merasa sangat hapal dengan suara mesin yang sangat halus itu.Lalu, Sera menggeleng cepat.Tidak. Tidak.Itu pasti hanya mobil yang sama dengan milik majikannya.Beberapa detik setelahnya, Sera mendengar bunyi pintu mobil yang ditutup. Kemudian disusul oleh suara derap langkah seseorang yang teratur dan halus.Wajah Sera langsung menegang. Derap langkah itu… milik Raven. Sera bisa mengenalinya meski tidak melihatnya.Sera kembali menyirami tanaman dan berpura-pura tidak menyadari kedatangan seseorang.Sampai akhirnya derap langkah kaki itu berhenti tepat di belakangnya.“Tanamanmu b
Raven menenteng paper bag sambil melangkah lebar memasuki kediamannya. Tidak ada yang tahu kalau paper bag itu berisi seikat bunga mawar merah.Dia langsung menghampiri beranda samping, seolah tahu jadwal pekerjaan Sera. Wanita itu tidak menyambutnya, karena Raven memang pulang lebih awal.Setibanya di beranda, Raven melihat Sera sedang menyiram tanaman. Dia menatap punggung rapuh wanita itu dengan sorot mata sulit diartikan.Raven mendekat tanpa menimbulkan suara. Lalu menatap bunga dalam paper bag.Tiba-tiba Raven merasa tindakannya terlalu berlebihan. Tidak seharusnya dia mendengarkan kata-kata David.Lalu, Raven berbalik, hendak pergi.Namun langkahnya tertahan. Terjadi pergolakan di dalam batinnya, antara memberikan bunga itu atau membuangnya saja.Sial. Raven tak pernah bimbang seperti ini sebelumnya. Apalagi hanya gara-gara seikat bunga.Tapi pada akhirnya ego Raven kalah. Kakinya lebih dulu mendekati Sera dibanding pergi.Dia berdehem, membuat Sera sedikit berjengit.Saat itu
[Temui saya di taman. Sekarang.]Sera menatap pesan masuk dari Raven, dengan tatapan kosong.Saat ini sudah hampir pukul sepuluh malam, dan Sera sudah merebahkan tubuhnya di kasur. Akan tetapi kantuk tak kunjung menyerang sejak tadi.Perlahan Sera bangkit, menurunkan kedua kakinya ke lantai yang dingin. Lalu melangkah menuju jendela. Disingkapnya sedikit gorden coklat itu, mengintip ke arah taman.Sera seketika terdiam kala melihat seseorang sedang berjalan mondar-mandir di dekat gazebo taman.Meski dari kejauhan, tapi Sera sangat mengenali sosok jangkung itu.Raven.Apa yang sebenarnya pria itu inginkan malam-malam begini?Jauh di lubuk hati, Sera ingin menemuinya. Namun Sera sadar, bahwa mulai saat ini dia harus menjaga jarak dari majikannya itu.Sera tidak ingin perasaannya jatuh terlalu dalam dan berujung menyakitkan.Jadi, detik itu juga Sera kembali merebahkan dirinya di atas kasur dan mematikan ponsel.Lalu menarik selimut sambil berusaha memejamkan mata, meski Sera tidak yakin
Mulut Sera sedikit ternganga mendengar kata maaf yang terlontar dari mulut Celine.Dia sama sekali tidak menduga bahwa wanita sosialita yang selama ini selalu mengingatkan Sera akan status sosial mereka, kini meminta maaf padanya di hadapan semua orang.“Bu Celine,” gumam Sera.“Aku nggak punya maksud apapun,” lanjut Celine dengan tatapan sedih. “Itu murni karena awalnya aku pikir kamu mendorong aku, tapi aku salah paham. Aku benar-benar minta maaf. Aku menyesal.”Celine sedikit menunduk sambil terisak-isak. Sesekali dia mengusap air matanya menggunakan tisu.Sera kembali membeku. Lalu menatap Raven. Tatapan Sera yang semula tampak kecewa, kini berubah menjadi tatapan yang serba salah.Sera berpikir, ternyata maksud Raven menciptakan momen ini adalah untuk mengklarifikasi semuanya. Bukan untuk menyudutkan Sera.Ternyata pria itu tidak seburuk yang Sera pikirkan tadi. Sera jadi merasa sedikit bersalah, karena sempat berpikir negatif tentangnya.“Jadi aku berharap, Mami nggak menyalahka
Semua orang telah berkumpul. Sera berdiri di hadapan mereka dengan perasaan bingung sekaligus sesak.Sera tidak tahu apa yang akan mereka bahas kali ini mengenai dirinya. Tapi dia merasa itu adalah sesuatu yang kurang menyenangkan.Melihat kedatangan Sera, Puspa melirik dengan tatapan tidak suka.Sementara Cantika tampak jauh lebih tenang seraya menyesap teh hangatnya.“Sore ini aku sengaja memanggil semua orang ke rumahku,” ucap Raven dengan ekspresi datar, yang baru saja memasuki ruangan tengah.Raven melirik Sera yang masih menunduk, sejenak. Sebelum akhirnya duduk di single sofa dengan dingin.Mendengar suara Raven dan merasakan sosoknya ada di ruangan yang sama dengannya, membuat dada Sera semakin terasa sesak.“Kamu bilang, ada sesuatu yang sangat penting, Rav,” ucap Cantika setelah menaruh cangkir ke meja. “Mama jadi penasaran apa yang terjadi sampai kamu memanggil Sera ke hadapan kami?”Raven tidak menjawab. Mulutnya mengatup membentuk garis lurus.Sementara itu, Sera sedikit
Sera mengangkat selimut yang masih setengah basah, sebelum akhirnya membentangkannya pada jemuran yang berada di belakang kediaman Raven.Ya, pada akhirnya Sera memilih tetap bekerja. Bukan karena dia suka berada di tempat ini, melainkan karena dia tidak punya pilihan lain.Mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang harus dia kembalikan pada Raven, bukanlah perkara mudah.Setelah memastikan selimut itu terpasang, Sera mundur dua langkah, tapi tiba-tiba punggungnya membentur sesuatu yang cukup keras.Sera terhenyak.Dia langsung memutar tubuhnya, lalu tertegun kala melihat Raven tengah berdiri di hadapannya. Entah sejak kapan.Bukankah saat ini seharusnya pria itu ada di kantor?Tanpa banyak bicara, Sera langsung meraih keranjang cucian kosong, dan membawanya pergi dari hadapan Raven.Sera tidak mau berhadapan terlalu lama dengan pria itu.“Tetap di sini,” kata Raven seraya menahan lengan Sera, membuat langkah Sera seketika terhenti.“Maaf. Tapi saya harus bekerja,” timpal Sera, dingin.







