Share

Bab 10

Author: Ummi
last update Petsa ng paglalathala: 2025-10-26 21:39:19

"Itu mobilnya! Di mana mereka berdua?!"

Joni dan anak buahnya akhirnya menemukan mobil yang sempat dicuri oleh Irene dan Bima, tapi begitu sampai, tak ada siapapun di dalamnya.

"Sial!! Kita kehilangan mereka lagi!" ujar Joni kesal. "Berpencar! Aku yakin mereka masih di sekitar sini!" perintah Joni kagi.

Sementara Joni dan anak buahnya sedang sibuk mencari mereka, saat ini Irene dan Bima sedang bersembunyi di dalam toko kue. Beberapa pelanggan yang ada di sana menatap mereka.

Keduanya
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   113.

    Malam merangkak semakin larut, menyelimuti kota Verox dengan keheningan yang dingin. Di sudut balkon hotel, Bima berdiri mematung.Angin malam menerpa wajahnya, namun tak sedikit pun mampu mendinginkan darahnya yang masih mendidih oleh amarah dan tekad. Ponsel di telinganya menempel erat. Di seberang panggilan, suara Kevin dan Tuan Besar Santoso terdengar serius. "Kevin, Paman Santoso," suara Bima memecah kesunyian, rendah namun sarat akan ketegasan mutlak. "Aku akan berangkat ke Tibet malam ini bersama Nenek Badar. Selama aku pergi, aku meminta satu hal pada kalian." "Katakan saja, Bima. Black Panther akan melakukan apapun," sahut Tuan Santoso tanpa ragu. "Aktifkan protokol Penjagaan Bayangan untuk Irene. Kerahkan pasukan elit terbaik kalian. Jangan biarkan dia keluar dari pengawasan sedetik pun. Sean, sisa-sisa Bulan Sabit di kota ini, atau siapa pun yang mencoba mendekatinya dengan niat buruk... habisi tanpa peringatan." "Dimengerti," jawab Kevin. "Tim Penjagaan Bayangan sudah

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 112.Masa Lalu Bima

    Ruangan rumah sakit itu terasa hening, hanya terdengar suara detak jarum jam dinding dan deru napas Bima yang masih sedikit memburu. Bima menatap Nenek Badar, menunggu jawaban yang selama delapan tahun ini terkubur rapat di Pulau Kematian. Gurunya itu menatap lurus ke arahnya, tidak ada lagi kilat jenaka atau raut galak yang biasa ia tunjukkan. Hanya ada kesedihan yang mendalam. "Kamu pikir pertemuan kita delapan tahun lalu di tengah lautan itu sebuah kebetulan, bocah?" Nenek Badar memecah keheningan, suaranya parau. Bima mengerutkan kening. "Maksud Nenek?" "Ayah dan ibumu... Keluarga Satya," lanjut Nenek Badar, tangannya mencengkeram ujung tongkatnya dengan erat. "Mereka bukan sekadar konglomerat biasa yang kebetulan sedang berlibur di laut. Ayahmu adalah satu-satunya orang di dunia ini yang mempercayaiku. Saat seluruh asosiasi tabib memusuhiku karena eksperimen racunku, ayahmulah yang menyediakan semua sumber daya, dana, dan tempat persembunyian yang aman untukku." Bima te

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 111

    Dia berdiri dengan susah payah, memegang dadanya yang terluka parah oleh pukulan Tuan Santoso tadi. "Kita mundur untuk hari ini," lanjutnya. "Tapi ini belum berakhir. Aku sudah punya rencana B." Master Feng mengerutkan kening. "Rencana B?" Grandmaster Shadow berjalan ke meja besar di sudut ruangan. Di atas meja ada peta besar dengan beberapa titik yang ditandai. "Teknik Racun Keabadian bukan satu-satunya kekuatan yang kita cari," ujarnya sambil menunjuk salah satu titik di peta—lokasi di pegunungan Tibet. "Ada satu artefak kuno yang tersembunyi di Kuil Racun Kuno," lanjutnya. "Artefak yang konon bisa memberikan kekuatan Racun Keabadian pada siapapun yang menyentuhnya, tanpa perlu belajar tekniknya." Master Feng mata membulat. "Kamu bicara tentang... Poison God's Relic?" "Ya," jawab Grandmaster Shadow dengan senyum kejam di balik topengnya. "Selama ini kami mencari Teknik Racun Keabadian dari Nenek Badar dan Bima. Tapi ada cara lebih mudah—mendapatkan sumber asli kekuatan

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 110

    Dia berjalan menghampiri Bima yang masih terduduk lemah. Nenek Badar berlutut, memeriksa kondisi muridnya dengan tangan gemetar, bukan karena lemah, tapi karena khawatir. "Bocah bodoh, kamu terlalu memaksakan diri," ujarnya dengan nada memarahi tapi penuh kasih sayang. "Kamu menggunakan Teknik Racun Keabadian terlalu banyak. Tubuhmu bisa rusak permanen kalau kamu tidak hati-hati." Bima tersenyum lemah. "Aku tidak punya pilihan, Nenek. Aku harus melindungi Irene." Nenek Badar menghela napas, lalu tersenyum tipis. "Kamu memang muridku. Keras kepala dan bodoh." "Eiits, nenek!" Bima melindungi kepalanya yang h Ndak dipukul lagi oleh nenek Badar. Pletak!! Tapi Bima tidak bisa mengelak pukulan di kepala itu. Namun, sedetik kemudian nenek Badar mulai mengalirkan energi Mana penyembuhan ke tubuh Bima, menetralkan sisa-sisa racun dan memperbaiki kerusakan internal. Padahal ia tahu, tak perlu melakukan itu karna Bima kebal terhadap racun. Tapi ia masih ingin menutupi kekuatan B

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 109

    Dia mengeluarkan ponsel dan menelepon. "Bawa gadis itu ke sini. Sekarang." 5 menit kemudian, pintu terbuka. Dua orang Shadow Blade masuk membawa seorang gadis muda—Lin Xiao, adik Lin Mei. Gadis itu terlihat pucat dan lemah, tapi masih hidup. Lin Mei langsung berlari dan memeluk adiknya dengan erat sambil menangis. "Xiao! Kamu tidak apa-apa?!" Lin Xiao mengangguk lemah. "Jiejie... aku takut..." "Sudah aman sekarang," bisik Lin Mei sambil memeluk adiknya dengan erat. Nenek Badar tersenyum tipis melihat reuni itu. Lalu dia menatap Grandmaster Shadow. "Gadis itu sudah aman. Aku akan tepati janjiku." Dia mulai berjalan maju, melepas energi Racun Keabadian secara perlahan. Bima terkejut bukan main dengan mata membulat. "Nenek! Jangan!" Tapi Nenek Badar menggeleng. "Bima, kadang kekuatan terbesar bukan datang dari berapa kuat kamu bisa memukul, tapi dari berapa banyak nyawa yang bisa kamu selamatkan. Aku sudah hidup cukup lama. Sudah waktunya aku berkorban untuk generasi

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 108

    Energi ungu gelap meledak dari tubuhnya, membentuk kabut beracun yang menyebar dengan kecepatan luar biasa, memenuhi seluruh ruangan dalam sekejap. 4 Elite Shadow Guard yang berlari langsung terhenti di tengah jalan. Tubuh mereka kaku, tidak bisa bergerak, seperti dibekukan oleh racun. Mereka mencoba berteriak tapi suara tidak keluar. Mata mereka membulat penuh ketakutan saat tubuh mereka perlahan mulai membusuk dari dalam. Dalam 10 detik, 4 Elite Shadow Guard itu roboh menjadi mayat yang sudah membusuk parah, seolah sudah mati berbulan-bulan. 10 Elite Shadow Guard, kekuatan terbaik milik kelompok Bulan Sabit, semuanya mati dalam waktu kurang dari 2 menit. Nenek Badar berdiri di tengah ruangan dengan tenang, dikelilingi kabut beracun yang perlahan menghilang, tidak terpengaruh olehnya sama sekali. Dia menatap Grandmaster Shadow dan Master Feng dengan tatapan dingin. "Kalian berdua," ujarnya dengan suara rendah penuh ancaman, "siapa yang mau mati duluan?" Master Feng mu

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 1

    “Jangan bunuh ibuku!” Di tengah-tengah kobaran api yang melahap hampir seluruh badan kapal pesiar yang tengah berada di tengah laut, seorang bocah lelaki berdiri berhadap-hadapan dengan seorang pria bertopeng misterius. “Bocah tengik! Kamu pikir orang sepertimu bisa melawanku?!” Pria bertopen

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 5

    Irene menatap langit sore dengan napas panjang. Sudah berjam-jam mereka berdiri di pinggir jalan ramai, tapi tak satu pun orang yang tertarik dengan dagangan Bima. "Bagaimana ini? Kita bahkan belum menjual satu pun herbal anehmu itu!" cibir Irene, saat ini wanita itu duduk berselonjor di bawah po

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 4

    Irene berdiri, tatapan yang awalnya mengiba kini berganti dengan tatapan yang dingin. Tak ada lagi keramah tamahan, meski sebenarnya di sudut kecil hatinya ia menyukai sosok Bima. Tapi harga dirinya tidak mengizinkan itu. "Cih! Kamu pikir kamu siapa, mudah bagiku melunasi hutang ini! Tapi hal ya

  • Pembalasan Dendam Racun Sang Tabib   Bab 3

    "Tunggu di sini sebentar," ujar Bima, setelah mengatakan itu ia mendongak ke sana kemari. Melompati bangunan dengan begitu mudah hingga akhirnya ia kembali. "Aku menemukan tempat untuk menawar racunmu." Bima kemudian menggendong Irene dengan begitu mudah, wanita itu kembali melingkarkan tanganny

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status