LOGINRionaldo Xaviero berdiri di serambi perpustakaan istana, jari-jarinya menyentuh punggung buku-buku tua yang berjajar rapi,Ia tidak benar-benar membaca,sejak pagi, pikirannya melayang di antara nama-nama yang semakin sering terdengar seperti gema di dinding batu Aethelgard.Jagatra.Lucas.Michael.Kaesar.Dan kini… Rafka.Ia menghela napas pelan,Rionaldo bukan yang paling vokal,bukan juga yang paling diperhitungkan,namun ia cukup cerdas untuk memahami satu hal ketika istana mulai membagi diri, mereka yang ragu akan segera dipaksa memilih atau dipilihkan.“Yang Mulia tampak murung.”Rionaldo menoleh,seorang pustakawan tua berdiri beberapa langkah di belakangnya, wajahnya penuh garis usia dan kebijaksanaan yang tidak pernah diminta siapa pun.“Hanya berpikir,” jawab Rionaldo singkat.“Pikiran sering kali lebih berat dari pedang,” ujar sang pustakawan sambil tersenyum samar. “Terutama di istana.”Rionaldo ti
Rafka Narendra Afsar berdiri di balkon kecil sayap timur, memandangi halaman bawah dengan dahi berkerut,sejak fajar, dadanya terasa sempit,ada sesuatu yang tidak bisa ia beri nama bukan firasat, bukan pula ketakutan,lebih seperti perasaan bahwa langkah-langkahnya sedang diarahkan tanpa ia sadari.“Yang Mulia,” ucap seorang pelayan, menunduk hormat. “Anda dipanggil ke Balai Konsultasi. Ratu Elean menunggu.”Rafka menoleh cepat.“Ibu?”“Ya, Yang Mulia. Segera.”Nama itu membuat napasnya tertahan sesaat. Ratu Elean jarang memanggilnya langsung, kecuali jika sesuatu menyangkut Kaesar atau Jagatra.Rafka berjalan menyusuri lorong,sejak kecil, ia hidup dalam bayang-bayang konflik yang tak pernah ia pilih,kaesar dengan ambisinya,jagatra dengan posisinya sebagai pangeran mahkota. Lucas dengan keberaniannya yang frontal. Michael dengan wajah tenang yang sulit dibaca. Justin yang nyaris tak pernah terlihat.Dan dirinya?Selalu
Di sayap barat laut istana bagian yang jarang disentuh percakapan politik,Justin Stewart Adrian berdiri sendirian di ruang arsip latihan lama. Cahaya obor memantul di dinding batu, menyorot wajahnya yang kaku, rahang terkatup rapat. Tangannya menggenggam gagang pedang latihan. Bukan untuk bertarung melainkan untuk menahan sesuatu yang lebih berbahaya. Amarah yang tidak pernah diberi tempat. Justin selalu berada satu langkah di belakang. Di belakang Jagatra yang terlalu terang. Di belakang Lucas yang terlalu berani. Di belakang Michael yang terlalu licin. Dan bahkan di belakang Kaesar yang meski disingkirkan, tetap diperhitungkan. “Aku ada,tapi tak pernah dianggap.”gumam Justin Ia mengayunkan pedang ke udara kosong sekali,lalu dua kali. Tiba-tiba pintu kayu tua berderit. Seorang perwira muda masuk dengan ragu. “Yang Mulia latihan sudah selesai.”
Di aula sarapan keluarga kerajaan, suara peralatan makan beradu pelan, tawa kecil terdengar sesekali terlalu normal untuk istana yang semalam berdenyut oleh konspirasi.Michael Lloris duduk di sisi meja panjang, posturnya santai, senyum sopan terpasang rapi. Ia menyesap tehnya seolah tak ada apa-apa yang berubah.“Lucas membuat suasana istana terlalu tegang,” katanya ringan, memecah obrolan. “Kita seharusnya menenangkan keadaan, bukan memperkeruhnya.”Beberapa pangeran mengangguk setuju. Michael selalu pandai memilih nada,cukup bijak untuk terdengar masuk akal, cukup lembut untuk tak memancing curiga.Jagatra mengangkat pandangannya. “Menentang persekongkolan bukan memperkeruh,Itu membersihkan.”ucap Jagatra dengan ekpresi datar.Michael tersenyum lebih lebar. “Tentu,aku hanya khawatir cara yang terlalu terbuka memberi mereka alasan untuk bergerak lebih cepat.”Lucas menatap Michael, lama. “Atau memberi mereka kepastian bahwa kit
Pagi datang dengan langit pucat di atas Aethelgard,di ruang dewan kecil sayap utara ruangan yang jarang dipakai sejak Jagatra membuka arsip-arsip lama para pangeran berkumpul tanpa protokol resmi.Lucas Zander Maxime berdiri paling depan, kedua tangannya bertumpu pada meja kayu tua,wajahnya tenang, namun rahangnya mengeras tanda bahwa kesabarannya sudah menipis.“Aku mendengar Kaesar menerima pesan semalam,pesan tanpa nama dan tanpa cap.”Beberapa saudaranya saling pandang.“Dan?” tanya Jema dengan nada datar. “Bukankah itu biasa terjadi sejak dia dicabut dari pengaruh politik?”“Tidak,” potong Lucas. “Yang tidak biasa adalah siapa yang menginginkannya merasa itu pilihannya sendiri.”Michael mendecak pelan. “Balai Rahasia.”Lucas mengangguk. “Mereka ingin memaksa Jagatra memilih,dan mereka mengira Kaesar adalah tuasnya.”Pintu ruangan terbuka, Jagatra masuk tanpa pengumuman,tidak ada ekspresi marah di wajahnya hanya keten
Balai Rahasia ruang tua yang tidak tercantum dalam peta istana kini kembali bernapas,pintu batu tebal bergeser perlahan, disusul langkah-langkah yang sengaja dibuat senyap,jubah-jubah gelap menyatu dengan bayangan, wajah-wajah disembunyikan di balik tudung.“Pangeran Mahkota terlalu cepat,” ucap salah satu dari mereka, suaranya serak. “Ia membuka arsip, membiarkan rakyat bicara, dan sekarang bahkan fitnah pun gagal.”“Karena dia tidak sendirian,rakyat berdiri di belakangnya,dan itu lebih berbahaya daripada pasukan.”sahut yang lain.Di ujung meja batu, seorang pria duduk tanpa tudung,wajahnya tak asing bagi siapa pun di ruangan itu,anggota senior lingkar kekuasaan lama, orang yang bertahan di setiap rezim.“Jagatra bukan masalah utamanya,masalahnya adalah preseden,jika dia berhasil, tidak ada lagi tempat aman bagi kita.”Seorang bangsawan perempuan mengepalkan jemarinya. “Dewan Peninjau sudah mulai menggali terlalu dalam,nama-nama akan muncul.”







