Share

Bab 108

Author: Lilia
Torus selalu bisa membaca pikiran Luis. Dia segera menutup pintu kereta.

Sementara itu, Dika langsung mengambil kendali cambuk. Saat dia mengayunkannya, ujung cambuk nyaris mengenai Pratama. Pratama terkejut sampai wajahnya pucat pasi dan buru-buru menyingkir ke samping.

Tapak kaki kuda berdentum, roda kereta berputar, dan lonceng hias berdenting semakin lama semakin menjauh.

Pratama memandangi kereta yang makin lama makin kecil dalam pandangan. Tiba-tiba, bulu kuduknya meremang. Ketika pintu kereta ditutup, dia sempat melihat sorot mata Anggi. Dingin bagaikan es, membawa aura yang mencekam.

Tepat seperti yang dikatakan Dimas, Anggi yang sekarang sudah bukan lagi gadis lemah lembut yang dulu mudah dipermainkan di Keluarga Suharjo.

Dia ....

Pratama merasakan sesak yang begitu menekan di dadanya.

Dulu dia memang tidak terlalu baik pada Anggi, tapi apakah Anggi pernah kekurangan apa pun di Keluarga Suharjo?

Di dalam kereta, Luis menggenggam tangan gadis itu dan bertanya lembut, "Pertanyaa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Siti Fatimah
selalu bikin penasaran....jangan pisahkan anggi dan pangeran ya thor.........🥹
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1165

    Luis tersenyum, menatap orang di hadapannya. Hatinya terasa manis dan hangat. "Seperti aku dan kamu, mana mungkin memilih yang kedua?""Benar, nggak mungkin.""Karena Zahra bisa memilih Arya, setidaknya itu berarti dia punya perasaan suka pada Arya. Siapa bilang ke depannya mereka nggak bisa seperti kita, cinta tumbuh seiring waktu?"Anggi memeluk Luis, mendongak, masih seperti perempuan muda berusia 20-an yang manja. "Ya, apa yang dikatakan suamiku masuk akal."Luis mengusap ringan hidung Anggi, menunduk menatap wajahnya yang hampir tak berubah selama belasan tahun. Semakin dilihat, semakin dia merasa bahagia. Atau mungkin memang ada perubahan, tetapi di matanya hanya ada rasa bahagia."Pokoknya, jangan sampai dia jatuh cinta pada Kak Aska."Luis terdiam sejenak. "Kalau ... kalau Zahra bersikeras menyukai Aska bagaimana?""Nggak ada kalau. Sekalipun kita berdua setuju, menurutmu Kak Aska akan setuju?"Luis menggeleng. "Nggak.""Lebih baik kamu doakan agar Zahra dan Arya hidup bahagia.

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1164

    "Ini berarti kita akan berhadapan langsung secara resmi dengan Negara Darmo?" Kalau begitu, rencana Luis untuk turun takhta sepertinya harus ditunda.Luis mengangguk. "Benar, tapi bukan sekarang.""Jangan bilang kamu berniat melemparkan kekacauan ini kepada Zahra?" Anggi mulai kesal."Gigi, jangan marah dulu."Anggi mengerutkan kening, menatap Luis, lalu menoleh ke Aska. "Kalian berdua ini sedang main teka-teki apa?""Beberapa tahun lalu Negara Darmo masih cukup patuh, tapi sekarang mereka kembali mulai gelisah. Selama ini, aku nggak pernah sepenuhnya mengabaikan ancaman dari Negara Darmo.""Kalau aku turun takhta dan menyerahkan takhta kepada Zahra, jasa menundukkan Negara Darmo harus tercatat atas nama Zahra."Mendengarnya, Anggi merasa itu memang masuk akal.Aska melanjutkan, "Walaupun para menteri sudah menerima status Putri Mahkota dan mengakuinya sebagai pewaris takhta, calon maharani masa depan, itu bukan berarti mereka akan tunduk sepenuhnya.""Kalau Zahra nggak mampu membuat m

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1163

    Dika dan Sura juga demikian.Anggi tersenyum tipis, lalu membawa Puspa masuk ke ruang kerja.Dika menghela napas lega. Dia menoleh ke arah Sura dan Daud. "Aku harus berterima kasih kepada kalian."Sura tersenyum. "Jangankan Permaisuri, bahkan Kaisar pun nggak akan curiga padamu. Lagi pula, pernikahanmu dengan Putri Negara Darmo itu adalah anugerah yang diberikan langsung oleh Kaisar."Dika mengangguk. "Kamu benar."Keduanya berbincang sambil berjalan. Setelah menempuh beberapa langkah, barulah mereka menyadari bahwa Daud tidak ikut.Ketika menoleh ke belakang, mereka mendapati Daud terus menatap ke arah pintu ruang kerja, padahal di sana tidak ada apa-apa. Apa yang sedang dia lihat?Keduanya mendekat. "Jenderal Daud."Tak ada respons. Sura pun memanggil lagi, "Jenderal Daud?"Daud menatap punggung Anggi. Dia masih ingat, terakhir kali melihat Anggi, wajahnya diselimuti kesedihan. Namun hari ini, tampaknya jauh lebih gembira.Mungkin urusan pemilihan pendamping Putri Mahkota sudah mempe

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1162

    Arya tertegun sejenak.Zahra menatapnya sambil tersenyum. "Bagaimanapun juga, kamu yang menikah denganku. Aku nggak boleh memperlakukanmu dengan semena-mena. Mas kawin apa yang kamu inginkan?"Dia mengulanginya sekali lagi.Setelah mendengar dengan jelas, meskipun belakangan ini Arya sudah cukup tebal muka dan berani, wajahnya tetap memerah sampai ke ujung telinga.Dia melangkah maju, tidak menunggu Zahra.Zahra segera mengejar. "Arya, Arya, jadi kamu mau menikah atau nggak? Kalau kamu nggak mau menikah, aku akan bilang ke Ibunda ....""Putri Mahkota!" Arya berbalik, merasa kesal sekaligus geli.Bukan hanya Ando, Titiek, dan Puspa, para pelayan lain di Istana Abadi pasti juga mendengarnya, meskipun sibuk dengan urusan masing-masing.Arya merasa wajahnya panas membara. "Putri Mahkota, jangan teriak-teriak."Zahra tiba-tiba menjadi usil. "Kamu malu?"Arya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Dia pun mengambil langkah besar ke arah Zahra, lalu menariknya. Zahra masih hendak berteriak, jadi

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1161

    Jika Zahra benar-benar tidak menyukai Arya, dia hanya bisa memilih pria lain. Asalkan perasaannya terhadap Aska bukanlah perasaan seperti itu."Ibunda, aku datang hari ini memang untuk membicarakan hal ini dengan Ibunda.""Oh? Apakah kamu sudah memilih?"Zahra mengangguk. "Keluarga Jenderal Tantomo, Arya."Meskipun masih dalam perkiraan, jawaban ini tetap terasa sedikit di luar dugaan. Bagaimanapun, saat dulu Aska menyatakan akan membantu Arya, Anggi tidak benar-benar yakin semuanya pasti berhasil.Menatap Zahra, hati Anggi terasa getir. "Zahra, katakan pada Ibunda, itu benar-benar pilihan dari lubuk hatimu?""Tentu saja, Ibunda.""Zahra, pernikahan setiap gadis adalah perkara yang sangat penting. Aku dan ayahandamu sama-sama berharap kamu bisa memilih orang yang kamu sukai. Kalau memang terlalu terburu-buru, sebenarnya juga bisa ditunda."Walaupun mereka memiliki rencana, rencana apa pun tidak pernah lebih penting daripada kebahagiaan anak."Ibunda harus menepati janji."Zahra sangat

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1160

    Di Istana Abadi.Arya, Ando, dan Titiek, beserta para pelayan lainnya, semuanya menunggu di luar aula. Setelah Puspa menyajikan teh, dia pun ikut keluar.Dia menatap Titiek, bertanya dengan mata, apa yang hendak dibicarakan Putri Mahkota hari ini? Bahkan dirinya juga diusir.Titiek melirik Arya yang berdiri di samping.Puspa mengerutkan alis. Ada hubungannya dengan Arya? Kalau begitu, pasti berkaitan dengan pemilihan pendamping. Jadi, apa keputusan Zahra?Puspa melirik diam-diam, melihat raut Arya yang tampak berseri-seri. Sepertinya hasilnya baik.Titiek melangkah mendekati Puspa dan berbisik, "Belakangan ini kamu masih membaca buku-buku itu?"Wajah Puspa langsung memerah. "Kenapa tiba-tiba membahas itu?"Permaisuri memang tahu dia suka membaca cerita-cerita itu, dengan sedikit ilustrasi pria tampan dan wanita cantik. Bahkan Permaisuri juga mendukungnya memiliki hobi di waktu luang.Titiek berkata lagi, "Hari itu, saat Putri Mahkota memanggilmu, apa yang dibicarakan?"Puspa teringat h

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status