Share

Bab 123

Penulis: Lilia
Ini adalah pertama kalinya Dimas angkat bicara.

Anggi tersenyum dan berkata, "Tuan Dimas, kamu ini Kepala Pengadilan Agung. Kenapa nggak coba diselidiki? Siapa tahu ada hal-hal besar yang selama ini Wulan sembunyikan dari kalian semua, yang bisa membuat kalian syok?"

Sambil memandang langit biru di luar halaman, Anggi menggeleng dengan bosan. Kemudian, dia berjalan keluar bersama Mina. "Benar-benar membosankan, lain kali jangan ganggu aku lagi."

Bibir Ambar bergetar, tetapi akhirnya terkatup rapat. Ayunda memeluk Wulan erat-erat, menatap punggung Anggi dengan kemarahan yang tak bisa diungkapkan.

Sedangkan Dimas, dia hanya memperhatikan Anggi sejak tadi. Memikirkan betapa kejamnya sikap Anggi hari ini, perasaannya menjadi rumit.

Dia memang tidak pernah menyukai Anggi. Namun, biasanya setiap kali bertemu, Anggi selalu memanggilnya kakak dengan hormat. Sejak Anggi menikah dengan Pangeran Selatan, mereka baru bertemu dua kali dan sikap Anggi selalu begitu dingin!

Sekarang, Anggi bahkan mem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1163

    Dika dan Sura juga demikian.Anggi tersenyum tipis, lalu membawa Puspa masuk ke ruang kerja.Dika menghela napas lega. Dia menoleh ke arah Sura dan Daud. "Aku harus berterima kasih kepada kalian."Sura tersenyum. "Jangankan Permaisuri, bahkan Kaisar pun nggak akan curiga padamu. Lagi pula, pernikahanmu dengan Putri Negara Darmo itu adalah anugerah yang diberikan langsung oleh Kaisar."Dika mengangguk. "Kamu benar."Keduanya berbincang sambil berjalan. Setelah menempuh beberapa langkah, barulah mereka menyadari bahwa Daud tidak ikut.Ketika menoleh ke belakang, mereka mendapati Daud terus menatap ke arah pintu ruang kerja, padahal di sana tidak ada apa-apa. Apa yang sedang dia lihat?Keduanya mendekat. "Jenderal Daud."Tak ada respons. Sura pun memanggil lagi, "Jenderal Daud?"Daud menatap punggung Anggi. Dia masih ingat, terakhir kali melihat Anggi, wajahnya diselimuti kesedihan. Namun hari ini, tampaknya jauh lebih gembira.Mungkin urusan pemilihan pendamping Putri Mahkota sudah mempe

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1162

    Arya tertegun sejenak.Zahra menatapnya sambil tersenyum. "Bagaimanapun juga, kamu yang menikah denganku. Aku nggak boleh memperlakukanmu dengan semena-mena. Mas kawin apa yang kamu inginkan?"Dia mengulanginya sekali lagi.Setelah mendengar dengan jelas, meskipun belakangan ini Arya sudah cukup tebal muka dan berani, wajahnya tetap memerah sampai ke ujung telinga.Dia melangkah maju, tidak menunggu Zahra.Zahra segera mengejar. "Arya, Arya, jadi kamu mau menikah atau nggak? Kalau kamu nggak mau menikah, aku akan bilang ke Ibunda ....""Putri Mahkota!" Arya berbalik, merasa kesal sekaligus geli.Bukan hanya Ando, Titiek, dan Puspa, para pelayan lain di Istana Abadi pasti juga mendengarnya, meskipun sibuk dengan urusan masing-masing.Arya merasa wajahnya panas membara. "Putri Mahkota, jangan teriak-teriak."Zahra tiba-tiba menjadi usil. "Kamu malu?"Arya terdiam, tak bisa berkata apa-apa. Dia pun mengambil langkah besar ke arah Zahra, lalu menariknya. Zahra masih hendak berteriak, jadi

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1161

    Jika Zahra benar-benar tidak menyukai Arya, dia hanya bisa memilih pria lain. Asalkan perasaannya terhadap Aska bukanlah perasaan seperti itu."Ibunda, aku datang hari ini memang untuk membicarakan hal ini dengan Ibunda.""Oh? Apakah kamu sudah memilih?"Zahra mengangguk. "Keluarga Jenderal Tantomo, Arya."Meskipun masih dalam perkiraan, jawaban ini tetap terasa sedikit di luar dugaan. Bagaimanapun, saat dulu Aska menyatakan akan membantu Arya, Anggi tidak benar-benar yakin semuanya pasti berhasil.Menatap Zahra, hati Anggi terasa getir. "Zahra, katakan pada Ibunda, itu benar-benar pilihan dari lubuk hatimu?""Tentu saja, Ibunda.""Zahra, pernikahan setiap gadis adalah perkara yang sangat penting. Aku dan ayahandamu sama-sama berharap kamu bisa memilih orang yang kamu sukai. Kalau memang terlalu terburu-buru, sebenarnya juga bisa ditunda."Walaupun mereka memiliki rencana, rencana apa pun tidak pernah lebih penting daripada kebahagiaan anak."Ibunda harus menepati janji."Zahra sangat

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1160

    Di Istana Abadi.Arya, Ando, dan Titiek, beserta para pelayan lainnya, semuanya menunggu di luar aula. Setelah Puspa menyajikan teh, dia pun ikut keluar.Dia menatap Titiek, bertanya dengan mata, apa yang hendak dibicarakan Putri Mahkota hari ini? Bahkan dirinya juga diusir.Titiek melirik Arya yang berdiri di samping.Puspa mengerutkan alis. Ada hubungannya dengan Arya? Kalau begitu, pasti berkaitan dengan pemilihan pendamping. Jadi, apa keputusan Zahra?Puspa melirik diam-diam, melihat raut Arya yang tampak berseri-seri. Sepertinya hasilnya baik.Titiek melangkah mendekati Puspa dan berbisik, "Belakangan ini kamu masih membaca buku-buku itu?"Wajah Puspa langsung memerah. "Kenapa tiba-tiba membahas itu?"Permaisuri memang tahu dia suka membaca cerita-cerita itu, dengan sedikit ilustrasi pria tampan dan wanita cantik. Bahkan Permaisuri juga mendukungnya memiliki hobi di waktu luang.Titiek berkata lagi, "Hari itu, saat Putri Mahkota memanggilmu, apa yang dibicarakan?"Puspa teringat h

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1159

    Namun, di antara alis dan matanya terlukis sedikit kesedihan. Senyuman itu pun terasa getir.Bibir Zahra bergerak pelan. Bagaimana mungkin dia tidak tahu apa yang sedang Arya pikirkan?"Aku di sini." Melihat Zahra tidak berbicara, Arya berjalan kembali dua langkah, membuka payung dan memayungkannya di atas kepala Zahra untuk melindunginya dari sinar matahari.Sepasang mata yang seakan-akan bisa berbicara itu, bagaikan bintang yang kehilangan cahayanya, hanya menyisakan kilau sisa."Ada apa?" Arya tak tahan melihatnya mengerutkan kening dan tetap diam. Seketika, dia merasa khawatir. "Apa perkataan atau perbuatanku membuatmu serbasalah?"Dia sudah tahu. Buah yang dipaksakan untuk matang mana mungkin terasa manis?"Kalau begitu ... ke depannya aku masih boleh menjadi pengawal pribadimu?" Arya merasa takut.Ketika dia dengan berani mengejar Zahra, dia sudah membayangkan berbagai kemungkinan. Namun, jika pada akhirnya Zahra benar-benar tidak menyukainya, bahkan membencinya, sampai tidak mau

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1158

    Ferris tertegun sejenak. "Ah, benar juga."Dia juga mendekat ke Zenna. "Kenapa aku nggak terpikirkan itu ya? Putri Zenna benar-benar pintar."Dengan akting mereka yang begitu buruk, bukankah mereka sudah ketahuan sejak kemunculan pertama mereka?"Ferris, kenapa aku merasa kata-katamu ini seperti sedang menyindir?" kata Zenna sambil menyipitkan mata."Mana mungkin," kata Ferris dengan ekspresi yang makin serius.Zenna langsung berkata, "Ekspresimu tadi jelas-jelas bilang kalau tindakan ini kekanak-kanakan ...."Ferris terdiam karena dia memang berpikir tindakan itu kekanak-kanakan. Meskipun ilmu bela dirinya tidak bisa mengalahkan putri mahkota, untung saja dia sangat cepat dalam kabur. Lagi pula, putri mahkota juga tidak berniat mengejarnya. Jika tidak, dia mustahil bisa lolos saat dikepung Arya dan putri mahkota."Putri Harmoni, maksudku nggak begitu," kata Ferris yang meminta maaf dengan tulus.Zenna mengangkat bahunya, tidak peduli Ferris itu tulus atau tidak. Dia juga terpaksa mela

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status