Share

Bab 519

Author: Lilia
Luis berucap sambil tersenyum, "Aku sama sekali nggak peduli anak dalam kandunganmu itu laki-laki atau perempuan. Setelah anakmu lahir, dia cuma seorang bayi. Apa yang perlu aku khawatirkan?"

Jelita membantah, "Kaisar, coba tanya pada Tabib Rasyid. Dia yang selalu bertugas untuk memeriksa kehamilan saya. Anak ini memang anak Kaisar."

Kaisar mengangkat tangannya yang tinggi. Semua orang yang melihatnya merasa seolah-olah tamparan itu akan segera datang. Bahkan Luis pun berpikir, kali ini ayahandanya tidak mungkin akan percaya pada Jelita. Rencana mereka yang ingin mengendalikan istana lewat anak ini sepertinya akan berakhir sekarang.

Namun tak lama kemudian, Kaisar malah menurunkan tangannya. Dia bertanya dengan ragu, "Benarkah? Kamu benar-benar nggak mengkhianatiku?"

Jelita membalas seraya menggeleng, "Saya masih perawan ketika menjadi selir Kaisar. Anda sendiri juga tahu jelas. Mana mungkin anak yang saya kandung adalah anaknya orang lain?"

Kaisar mendengus pelan sebelum berujar, "Hmp
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Red Girl
Kog ga masuk akal sih. Dimana Dika yg katanya pengawal bayangan Luis? Masa majikannya kecurian, ga tau. Aneh lho, masa seorang calon Kaisar pergi2 tanpa pengawal. . Masih perawan? Gmn caranya? Orang dah dicelup sana sini. Luis knp ga bilang Jelita pernah ngaku lagi hamil di Balai Pengobatan Afiat?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1183

    Arya tersenyum, lalu mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Zahra dengan berani. Zahra menatap tangan yang tergenggam itu, lalu menatap wajahnya. "Bodoh."Arya tetap tersenyum.Zahra menarik tangannya kembali, lalu menceritakan kepada Arya apa yang disampaikan ayahandanya tadi pagi. "Menurutmu, perkataan Ayahanda itu benar nggak? Bahwa Paman Aska sebenarnya masih belum bisa melepaskan Ibunda, jadi ketika tahu Ayahanda dan Ibunda akan meninggalkan ibu kota, sementara dia tidak mungkin ikut bersama mereka, maka dia memilih pergi lebih dulu?"Arya berpikir sejenak. "Dulu aku nggak terpikir ke arah sana. Tapi setelah kamu mengatakannya, mungkin itulah kebenarannya.""Jadi, sikap Paman Aska yang tampak bebas dan terlepas dari dunia itu palsu, sikap seolah tidak punya keinginan apa pun juga palsu."Sambil berkata demikian, Zahra tiba-tiba menatap Arya. "Menurutmu, Kak Ishaq itu mirip Paman Aska nggak dari segi aura?"Sambil berbicara, matanya meneliti Arya dari atas ke bawah. "Kamu juga s

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1182

    Terlihat Arya yang mengenakan seragam Pasukan Pengawal Kekaisaran. Bahunya yang bidang dan pinggangnya yang ramping, tampak begitu elok saat dia memberi hormat. Namun, malah orang yang terlihat demikian tenang dan bersih inilah, yang mampu memanggil petir langit seperti Aska.Zahra pernah menyaksikan langit ketika Aska memanggil petir, tetapi dia tidak pernah melihat bagaimana Aska melakukannya. Sedangkan Arya ... Zahra melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.Arya melayang di udara bagaikan makhluk abadi yang turun ke dunia, sikapnya begitu tenang saat memanggil petir dengan santai."Masuk ke aula bersamaku," kata Zahra."Aku? Masuk ke aula?"Arya tidak berani memercayainya. Sebagai pengawal pribadi Zahra, dia seharusnya hanya menunggu di luar ruang sidang.Zahra mengangguk. "Bukankah kamu bilang ingin menggunakan seumur hidupmu untuk melihat apakah aku bisa menerimamu? Aku akan mewujudkannya sekarang.""Apa ... apa maksudnya?""Nanti kamu akan tahu," kata Zahra sambil melangkah menu

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1181

    Luis mengangguk, "Ibumu dulu sebenarnya nggak ingin terkurung di dalam istana dalam ini.""Dia bertahan tinggal di istana demi aku. Karena itu, setelah kamu mampu menopang negeri ini, sebagai ayah, aku akan membawanya pergi melihat indahnya pegunungan dan sungai, melihat dunia yang luas."Zahra mengerutkan kening dan segera menyusul langkah ayahandanya, "Tapi, apa hubungannya itu dengan Paman Aska meninggalkan ibu kota?"Zahra menyukai Aska, lalu perasaan itu diketahui oleh Aska. Aska pergi meninggalkan ibu kota dan bahkan tidak pernah menemuinya lagi. Semua itu telah menjadi beban di dalam hatinya.Luis berkata, "Kali ini, saat kamu memilih pendamping, aku dan ibumu juga hampir mengajukan rencana yang telah kami siapkan selama bertahun-tahun. Paman Aska-mu juga mengatakan ingin meninggalkan ibu kota pada saat yang sama."Zahra terdiam, tidak mampu berkata apa-apa.Mungkin kepergian Aska lebih awal memang sedikit berkaitan dengan Zahra, tetapi itu bukan alasan utamanya. Seperti yang di

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1180

    Ishaq menunggu cukup lama. Dia mengira Keswan masih memiliki pesan lain.Namun, setelah menunggu cukup lama, yang datang justru suara dengkuran Keswan."Guru ...." Ishaq memanggil pelan, tetapi Keswan tidak memberi respons.Dengan penuh hormat, Ishaq memberi salam. Baru saja mengambil beberapa langkah, dia mendengar suara Keswan."Segala hukum lahir karena sebab dan jodoh. Semuanya terikat oleh takdir, hendaknya mengikuti Tao dan alam. Jika di kehidupan lampau ada jodoh, di kehidupan ini akan ada kelanjutannya ...."Ishaq berhenti melangkah, menoleh menatap Keswan, tetapi pria tua itu tetap memejamkan mata.Dalam kebingungan, ketika tangannya baru menyentuh pintu, dia kembali mendengar Keswan dan berkata, "Jangan menyia-nyiakan jodoh sejati.""Maksudnya aku memiliki jodoh sejati?" tanya Ishaq.Keswan memejamkan mata rapat-rapat.Ishaq lanjut bertanya, "Jodoh sejati itu apa?"Keswan menyahut, "Jodoh yang seharusnya menjadi milikmu.""Jodohku?" Ishaq tersenyum. "Aku nggak pernah terpikir

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1179

    Keesokan hari sebelum fajar menyingsing, Pati dan Ishaq menunggang kuda datang. Sepanjang perjalanan, di hati Ishaq timbul firasat buruk.Jika bukan karena urusan besar, bagaimana mungkin Aska menyuruh Pati memanggilnya datang?"Paman."Saat Ishaq melihat Aska, dia sangat terharu. Dia tak bisa menahan diri untuk menyebut Zahra. "Dia mungkin mengira Paman pergi meninggalkan ibu kota lebih awal karena dirinya."Aska berkata, "Aku sudah mengatakan hal itu pada Arya. Dia akan menghibur Zahra. Kepergianku dari ibu kota bukan karena Zahra."Ishaq akhirnya menghela napas lega. "Ya. Terus, Guru memanggilku ke sini untuk apa?"Aska menarik napas dalam-dalam. "Master Cahyo telah mencapai kesempurnaan. Kalau kamu pergi sekarang, mungkin masih bisa bertemu dengannya."Mata Ishaq langsung memerah. Dia berbalik dan segera berjalan ke luar. Pati segera membawanya menuju ruang meditasi Cahyo.Di depan ruang meditasi, biksu muda yang sebelumnya membukakan pintu untuk mereka tampak menguap. Sepertinya s

  • Pembalasan Dendam Sang Pemeran Figuran   Bab 1178

    Cahyo menuangkan teh untuknya. "Sepertinya, selama Tuan Aska berada di dunia fana, kondisimu sudah kembali normal."Aska mengangguk, tak sanggup mengucapkan terima kasih. Karena dulu, saat dia memindahkan seluruh serangan balik milik Anggi ke tubuhnya sendiri, yang dia pikirkan adalah menukar satu nyawa demi nasib Zahra dan Ishaq.Namun tak disangka, Cahyo justru menggunakan nasib Ishaq untuk menukar satu nyawanya.Sampai hari ini, meskipun Anggi dan Luis tak pernah mengatakannya, mereka barangkali sama sepertinya, sama-sama merasa hal itu tidak adil bagi Ishaq.Sekalipun Ishaq memilih jalan Tao, dalam kehidupan ini sangat mungkin dia akan menjalani hidup seorang diri. Seperti dirinya, seperti gurunya, juga para leluhurnya."Apakah dalam hidup ini Master masih memiliki penyesalan?" tanya Aska.Cahyo tersenyum. "Nggak." Dia menatap Aska. "Bagaimana kamu bisa terpikir datang ke Kuil Awan?"Aska berkata, "Setelah keluar dari ibu kota, tiba-tiba aku nggak tahu harus pergi ke mana lebih dul

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status