Belum sempat Anggi memberikan jawaban, kedua pejabat itu langsung berlutut bersama. "Mohon Permaisuri bujuklah Kaisar agar lebih banyak menerima selir demi kelanjutan garis keturunan kerajaan."Bibir Anggi bergerak sedikit. Akhirnya, masalah ini benar-benar datang juga.Mina mengernyitkan alis di sampingnya. Dalam hati, diam-diam dia telah melontarkan sumpah serapah pada kedua pejabat di hadapannya ini.Kaisar dan Permaisuri begitu saling mencintai! Apa mereka tidak bisa melihat ada sepasang suami istri yang benar-benar bahagia? Kenapa harus memasukkan begitu banyak wanita lain ke dalam istana ....Anggi menghela napas. "Kalian silakan bangkit. Urusan ini bukanlah sesuatu yang bisa kuputuskan.""Permaisuri adalah ibu negara. Pemilihan selir adalah kewajiban Permaisuri. Stempel Foniks pun ada di tangan Permaisuri, bagaimana mungkin Permaisuri tidak bisa memutuskan?" tanya Pengawas Agung.Anggi menjawab dengan tenang, "Perkara ini akan kubicarakan baik-baik dengan Kaisar."Arkan dan Peng
"Liram? Bukankah di sana sangat sulit untuk hidup? Ular berbisa dan binatang buas juga sangat banyak." Dulu, dia memang hendak mengirim Bayu, Dimas, serta Ayunda ke tempat itu.Mina mengangguk. "Benar, tapi di sana cukup banyak hujan. Aku dengar, meskipun hidupnya susah, orang-orang yang diasingkan ke sana masih ada cukup banyak yang berhasil bertahan. Nah, makanan inilah yang menyelamatkan banyak nyawa."Anggi menatap potongan tahu hijau di dalam mangkuk. Kalau bukan karena Jelita, mungkinkah Ayunda, Dimas, dan Bayu juga bisa bertahan hidup setelah diasingkan ke Liram?"Kamu sudah mencobanya?" tanya Anggi.Mina mengangguk. "Semua orang tahu Permaisuri selalu memperlakukanku dengan baik, jadi makanan apa pun selalu ada bagianku. Aku sudah mencicipinya di dapur kerajaan tadi. Oh iya, punya Kaisar juga sudah diantar ke ruang kerjanya.""Baiklah."Anggi mengangkat mangkuk itu dan meminumnya. Zahra tiba-tiba menoleh. Saat melihat ibunya sedang makan sesuatu, dia seketika menangis."Ibunda
Luis menganugerahi Dika dengan gelar "Jenderal Kereta dan Kavaleri", serta memberi Junawa gelar "Jenderal Pengawal"."Kaisar, kali ini Putri Negara Darmo datang untuk pernikahan damai, apakah Kaisar akan menambah selir baru di istana harem?""Nggak. Pernikahan damai adalah urusan perdamaian, bukan untuk menambah selirku." Luis langsung menolak tegas.Kemudian, dia menoleh pada para pejabat di aula. "Kalau ada di antara kalian yang belum menikah atau memiliki putra yang cocok, mereka bisa dinikahkan dengan Putri Negara Darmo. Kalian semua nggak boleh menolak, harus menempatkan kepentingan negara di atas segalanya dan membantu meringankan bebanku.""Kaisar ... takutnya pihak Negara Darmo ....""Yang datang memohon damai adalah Negara Darmo, bukan Negara Cakrabirawa! Kalian jangan sampai salah menempatkan posisi! Jangan bilang padaku Putri Negara Darmo tidak mau. Kalau dia tidak mau, suruh saja kembali ke Negara Darmo! Bagaimanapun juga, yang meminta damai bukan aku!"Kalau dia mengizinka
"Leliana, kamu nggak apa-apa?" Hubidon tiba-tiba menyadari wajah Jelita tampak kurang baik, jadi dia berkata, "Aku tahu, kamu membenci Negara Cakrabirawa. Tapi percayalah padaku, beri negara kita waktu dua tahun, aku pasti akan langsung menghantam ibu kota mereka."Jelita menyandarkan diri dengan lembut di pelukan pria itu. "Baik, aku percaya pada cita-cita Putra Mahkota. Aku yakin kamu pasti bisa."Hubidon mengangguk berulang kali.Sebelumnya, Negara Cakrabirawa juga pernah mengirim putri mereka untuk menikah demi perdamaian. Namun, para putri itu hanya punya wajah cantik, tetapi sama sekali tidak tahu cara menyenangkan hati pria. Mereka bahkan menganggap orang Negara Darmo itu biadab, merendahkan para lelaki di sana.Bertahun-tahun berlalu, para putri itu pun satu per satu mati tak bersisa.Tiba-tiba, wanita di dalam pelukannya mulai menangis. Hubidon tertegun. "Kamu ... kamu kenapa?"Air mata Jelita berderai deras, membuat Hubidon merasa sakit hati seketika. "Kamu buat aku cemas saj
"Benar, apa yang dikatakan Putra Mahkota memang tepat. Kali ini bukanlah pertempuran yang bisa dihadapi hanya dengan perang gerilya."Orduk juga mengernyitkan alisnya. Negara Darmo yang tangguh laksana elang perkasa, tak boleh sampai hancur di tangannya."Hubidon, apa pendapatmu?"Selama puluhan tahun, leluhur mereka hanya mengganggu perbatasan dan mengambil keuntungan lalu pergi, sehingga tetap bisa hidup berdampingan tanpa masalah besar. Namun sekarang, mereka bertemu dengan Luis yang membuat mereka menderita kerugian besar selama bertahun-tahun.Kini, Luis telah naik takhta dan dia mengirimkan 200 ribu pasukan menyerang perbatasan mereka. Hal ini sama sekali di luar dugaan.Hubidon menggenggam kedua tangannya dan berkata, "Ayahanda, ada pepatah dari negara mereka yang mengatakan, 'Selama masih hidup, selalu akan ada kesempatan.' Saat ini kita harus memulihkan kekuatan dan mengajukan perdamaian.""Perdamaian?"Semua orang saling memandang dan berbisik-bisik. Ada yang mendukung, tetap
"Terima kasih, Raja."Jelita dan Yasa segera menyampaikan syukur, lalu pergi bersama Khisar.Keduanya saling bertukar pandang. Setelah bersembunyi hampir tiga tahun, akhirnya kesempatan yang mereka tunggu pun tiba. Malam di padang rumput, bintang-bintang tampak begitu terang dan angin padang rumput bertiup membuat tubuh terasa nyaman.Jelita dan Yasa berbaring di atas rerumputan, Yasa berkata, "Walaupun begitu, kita ini cuma orang-orang kecil, mana mungkin melawan Negara Cakrabirawa yang begitu kuat?""Kalau nggak mampu melawan, apakah artinya kita harus menyerah?" Jelita berkata dengan dingin, lalu menoleh pada Yasa. "Kalau kita nggak melawan, apa arti hidup ini?"Tangannya meraba untaian tulang jari di pinggangnya. "Keluarga Suharjo cuma tersisa Anggi, Luis, dan anak-anak mereka .... Kudengar bahkan sepasang kembar laki-laki dan perempuan."Dengan tawa dingin, Jelita berkata, "Kenapa mereka bisa hidup bahagia, sementara aku harus hidup dalam penderitaan? Setiap malam, ibuku selalu me