LOGINSelama dua hari, mantan suaminya tidak pernah pulang ke rumah itu. Dan itu membuat Rani merasa leluasa untuk menjual semua barang-barang yang memang masih bisa menghasilkan uang.
Dia menjual kulkas, mesin cuci, lemari pakaian, ranjang, bahkan kompor dan tabung gas pun dia jual semua. Dia tidak ingin menyisakan satupun barang berharga untuk Tedi dan gundiknya itu. Semua sudah terjual dengan cepat, akhirnya Rani bisa pergi meninggalkan rumah sempit itu. Dia berencana untuk menginap sementara di rumah Raline. Dia juga sudah mengajukan permohonan perceraian ke pengadilan agama, dia juga menyertakan bukti-bukti perselingkuhan suaminya itu, agar Tedi tidak bisa mengelak dan langsung menandatangani surat cerai. Sementara itu, Tedi kembali ke rumah yang dia kontrak setelah satu minggu dia tidak pernah pulang. Dia melihat keadaan rumah yang kosong, dan terasnya dipenuhi dengan debu. Lampu yang tergantung di luar masih menyala, dia tidak tahu kenapa rumahnya begitu tidak terurus. Saat dia ingin masuk, ternyata rumahnya terkunci, untungnya dia juga mempunyai kunci cadangan. Saat membuka pintu, dia merasa sedikit aneh, rumah itu sepi dan hawa dingin tiba-tiba menyambutnya. "Kenapa rasanya seperti rumah kosong yang berhantu, kemana Rani sekarang?" Dia menyalakan lampu dan sedikit merasa heran, karena seperti sedikit terlihat kosong dari pada biasanya. Di ruang tamu itu, ada lemari kecil yang berisi hiasan-hiasan yang terbuat dari keramik. Tapi saat ini, lemari itu sudha tidak ada. Hanya ada sofa minimalis, yang biasa mereka duduki jika sedang mengobrol. Tedi masih tidak terlalu memikirkan nya, dia memanggil-manggil nama mantan istrinya itu. "Ran, Rani. Ini mas pulang, kamu ada di mana?" Tedi mencarinya ke dapur, dan dia semakin heran dengan keadaan dapur yang kosong. Tidak ada kulkas, tidak ada mesin cuci, bahkan kompor dan gas pun sudah lenyap. Apa mungkin ada maling di rumah nya itu. Dia bergegas berlari ke kamar yang biasa mereka tempati, dia mencari keberadaan Rani. Tapi nihil, yang ada hanya kasur yang tergeletak tanpa ranjang, dan pakaian nya yang biasa berada di dalam lemari, sekarang malah berada di atas lantai tanpa alas. Tedi berteriak memanggil Rani. "Rani, apa-apaan kamu ini. Kenapa rumah ini jadi kosong semua?" Tedi mencari-cari Rani keluar rumah, sampai dia melihat tetangga yang lewat di depan rumah nya. " Bu, maaf. Apa ibu melihat istri saya?" tanya Tedi kepada tetangga itu "Istri bapak?" tanya si ibu yang lewat. "Iya bu, istri saya Rani." ucap Tedi kembali. "Oh, bukan nya bapak sudah bercerai dengan Rani?" Tedi tertegun mendengar penuturan ibu tersebut. "Ibu tahu dari mana saya cerai dengan Rani? " Ibu itu terlihat sedikit bingung. "Ya tentu saja dari Rani, waktu itu Rani menjual kulkas dan saya beli. Saya tanya kenapa barang-barang nya dijual, katanya karena kalian berdua sudah bercerai jadi mau di jual saja semuanya." Wajah Tedi mendadak pucat, dia baru sadar jika Rani benar-benar tidak ingin rujuk lagi dengan nya. Kemarin saat dia mengucapkan talak, dia hanya ingin menggertak Rani, agar dia takut di tinggalkan oleh nya, dan bisa setuju kalau dia ingin menikahi Indi menjadi istri ke duanya. Tapi ternyata, Rani benar-benar pergi dan tidak ingin menjadi istrinya lagi. Bahkan Rani sampai menjual semau barang-barang yang dia beli selama menikah dengan Tedi. Ada rasa penyesalan di hatinya, dia sebenarnya sangat mencintai Rani. Tapi godaan dari Indi tidak dapat dia tolak, dia benar-benar terjerumus dalam dosa. Indi selalu meng iming-iming dirinya dengan memberikan keturunan, hanya karena dia tidak sabar untuk segera mendapatkan keturunan, akhirnya dia mau berselingkuh dengan perempuan itu. Padahal tanpa dia ketahui, Rani selalu berusaha untuk segera mempunyai keturunan. Dia sudah memeriksakan rahim nya ke dokter kandungan, dan dokter menyatakan kalau rahimnya sangat baik, bahkan sel telur nya pun sangat baik. Dia rela menahan rasa tidak nyaman untuk melakukan pemeriksaan itu, dia juga mengikuti saran dokter agar segera mendapat keturunan. Tapi apa yang dia dapat, malah pengkhianatan. Suaminya tidak sabar, dan dia tidak pernah mau repot-repot untuk memeriksakan keadaan nya juga ke dokter. Tidak adil rasanya jika saat seorang istri belum juga hamil, tapi hanya pihak perempuan saja yang disalahkan. Sedangkan, dalam proses pembuahan itu memerlukan pasangan atau adanya sperma dan sel telur yang bertemu, dan itu tidak di lakukan oleh perempuan saja, tapi juga laki-laki nya, apakah kualitas sperma nya baik atau tidak. Terlalu banyak kasus perceraian yang terjadi karena keegoisan seorang laki-laki, menuntut untuk segera hamil, tapi tidak mau berusaha bersama. Hanya mampu menyalahkan, tanpa pernah introspeksi diri. Tedi seolah benar-benar kehilangan separuh nyawanya, cinta itu masih sangat kuat untuk istri nya. Tapi apa boleh buat, semua itu sudah terjadi dan tidak bisa diperbaiki lagi. Seandainya dia masih menggunakan akal sehatnya, pasti saat ini dia tidak akan kehilangan perempuan sempurna seperti Rani. Dia benar-benar merasa menyesal saat ini, tapi dia hanya menghibur dirinya dengan mengatakan, 'aku baru menjatuhkan talak satu, dan kami masih bisa rujuk kembali. Lagi pula, aku belum mendaftarkan perceraian ke pengadilan agama.' Tanpa dia ketahui, jika Rani sudah mendaftarkan perceraian mereka. Tedi tidak terlalu marah saat melihat semua barang yang sudah hilang dari rumah kontrakan nya itu, karena dia berpikir kalau dia masih bisa membeli barang-barang itu nanti, dia merasa wajar jika Rani merasa marah dan melakukan semua itu. Jadi dia masuk kembali ke dalam rumah, dan membereskan semua pakaian nya yang tergeletak tidak beraturan di atas lantai kamar nya. "Rani, aku akan tunggu kamu untuk pulang ke sini. Aku yakin, uang hasil penjualan itu tidak akan bertahan lama. Saat yang itu habis, aku yakin kamu akan pulang kembali ke rumah ini." Hari berganti, minggu berlalu. Tedi masih belum bisa menemui Rani, dia masih bisa bekerja seperti biasa. Tidak ada drama pemecatan karena dia sudah berselingkuh. Dia berpikir kalau itu memang karena dia yang kompeten dalam pekerjaan nya, walau sebenarnya itu permintaan Rani kepada Raline, dia ingin membiarkan Tedi merasa melambung tinggi, sebelum dia benar-benar balas dendam dan membuatnya jatuh sampai ke jurang yang paling dalam. "Kenapa aku gak boleh pecat mantan suami mu itu sih?" Tanya Raline yang merasa muak kepada mantan suami sahabat nya itu. "Jangan dulu, aku mau dia merasa diatas angin dulu. Biarkan selingkuhan nya itu juga merasa menjadi perempuan yang beruntung. Nanti setelah mereka lupa daratan, baru kita buat mereka berdua jatuh dengan cara yang paling indah." Senyum licik tersungging dari bibir Rani. "Memang ya, aku gak bisa meremehkan strategi dari seorang wanita genius seperti nona Rani Maharani." Puji Raline kepada Rani. Mereka hanya memperhatikan kegiatan dua orang itu dari kejauhan, bahkan Rani menyuruh orang untuk selalu memvideokan juga memfoto kebersamaan mereka berdua. Sidang perceraian berjalan dengan lancar, tanpa dihadiri oleh Tedi, karena dia memang tidak tahu tentang perceraian itu. Tapi Rani memberikan rekaman suara Tedi, saat menjatuhkan talak satu, juga memberikan bukti perselingkuhan Tedi. Rani sengaja memberikan alamat nya sendiri untuk menerima surat panggilan atas nama Tedi, sehingga Tedi pun tidak pernah mengetahui itu. Saat sore hari, setelah mereka berdua resmi bercerai, Rani pergi ke cafe bersama Raline untuk merayakan perceraian nya. Tiba-tiba dia dikagetkan oleh suara laki-laki yang paling dia benci, Tedi datang ke cafe itu bersama Indi sang selingkuhan. "Rani, kamu kemana saja selama ini? Aku sudah mencari-cari kamu kemana-mana, tapi kenapa kamu tidak bisa dihubungi?" Ucap Tedi sambil mencekal tangan Rani. "Lepas tangan kamu, jangan pernah sentuh aku lagi!" Ucap Rani tegas. "Kamu itu masih istri ku, aku berhak menyentuh kamu dimanapun yang aku suka." ucap Tedi kekeuh. "Kata siapa kalau kita masih suami istri?" Pertanyaan Rani membuat Tedi merasa heran dan kebingungan.Suasana nya begitu hangat, Rani begitu bersyukur melihat Raline yang akhirnya bisa jatuh cinta. "Sebenernya kita ke sini juga merupakan ngomong sesuatu sama kamu Ran." Ucap Raja. Raline langsung menegur Raja. "Ngomong apaan sih kamu!" Raja tersenyum manis ke arah Raline, tatapan penuh cinta dan ketulusan. "Udah lah gak usah maen rahasia-rahasiaan segala. Gue udah tahu kok, kalo lu sama Raja udah jadian, dan gue seneng banget akhirnya lu bisa buka hati lu juga." Raline merasa terkejut, tidak menyangka jika Rani sudah tahu semuanya, dia langsung menatap Raja dengan tatapan tajam. Yang ditatap, malah mengedikkan bahu, tanda dia sama sekali merasa tidak bersalah. "Gak usah marahin Raja, dia gak ngomong apa-apa. Gue yang tahu sendiri, ngelihat tingkah lu aja gue bisa tahu semuanya." Raline langsung merasa bersalah terhadap Rani, di saat Rani kehilangan pasangan nya, dia malah berpacaran dengan sahabat masa remaja Rani. "Ran, maafin gue ya. Gue gak bermaksud nutupin ini d
Di perusahaan yang Rani dan Raline pimpin saat ini, sedang terjadi lonjakan pesanan dari beberapa perusahaan Mitra. Mereka cukup sibuk dengan itu, belum lagi Rani yang semakin terkenal dengan design nya. Banyak dari manca negara yang mengajukan permohonan kerja sama dengan dirinya. Rani tidak serta merta menerima semua tawaran yang masuk, dia selalu menyeleksi dengan sangat teliti. Dia tidak ingin mendapatkan Mitra yang tidak bertanggung jawab. Dalam urusan pekerjaan memang Rani lah ahlinya, dia tidak membiarkan sedikitpun celah yang akan membuat pesaing mengunggulinya. Hal ini membuatnya menjadi seseorang yang cukup perfecstionist, dan mengharuskan bawahannya untuk melakukan hal yang sama. Perusahaan design Rani, semakin terkenal. Tapi tidak serta merta membuat Rani menjadi lupa diri. Semakin besar uang yang dia dapat setiap bulan nya, semakin besar pula sedekah yang dia keluarkan. Menyantuni anak yatim piatu, itu adalah agenda rutin Rani. Dia paham betul, bagaimana
"Tapi dok, saya sudah lama sekali tidak melakukan hubungan intim, hampir enam bulan saya tidak pernah melakukan nya." Ucap Tedi yang masih tidak Terima dengan diagnosis dokter. "Pak, penyakit ini biasanya memerlukan waktu inkubasi yang bervariasi, ada yang hanya hitungan hari, minggu bahkan bulanan."Tedi langsung merasa lemas dan tidak berdaya, kenapa dia bisa terkena penyakit yang bisa membuatnya mati kapan saja, bahkan itu juga bisa jadi aib bagi dirinya. "Saya akan memberikan surat rujukan, agar bapak bisa berobat ke dokter spesialis, nanti akan lebih mudah untuk pengobatan nya." Perbuatan nya yang tidak mengenal dosa itu, telah membawanya ke jurang yang dalam. Penyakit yang dia derita, itu akibat dari ulahnya sendiri. Terlalu sering dia menyalahkan orang lain atas kesalahan nya, kini Tedi merasakan akibat dari perbuatan nya. Pulang dari puskesmas, Tedi tidak langsung menuju ke rumah, melainkan pergi ke tepi sungai dan berniat untuk memenangkan diri. Mencari tempat yang sepi
Suara Indi membuat semua orang mengalihkan pandangan nya. Tedi tidak tahu sejak kapan Indi bangun, dia pikir kalau Indi masih tertidur. Indi terjatuh dan tidak sadasarkam diri. Orang tuanya panik, berlari ke arah Indi dan segera mengangkat tubuh Indi. Mereka baru sadar jika ternyata berat badan Indi semakin menyusut, karena terasa begitu ringan. Sang ayah langsung membawa Indi ke atas tempat tidur, dan sang ibu memijat kepala Indi juga memberikan minyak angin pada tubuh Indi agar terasa hangat. Sedangkan Tedi, hanya duduk dan tidak bergeming sama sekali. Ayah Indi kembali menemui Tedi dan berniat meninjunya, karena sikap acuh tak acuh Tedi kepada anaknya. "Apa yang kamu lakukan, sampai keadaan Indi seperti ini?" Tanya mertuanya. "Saya tidak melakukan apapun, ini semua ulah bapak yang selalu menekan Indi. Dia menjadi depresi dan bahkan sering kambuh, dan mengamuk pak." Suara Tedi tak kalah tinggi. "Kenapa kamu malah menyalahkan saya?" Tanya sang mertua. "Bapak selal
Perjalanan hampir memakan waktu selama tiga jam, karena ada sedikit kendala saat diperjalanan. Sampai di terminal yang di tuju, Tedi segera turun dengan membawa tas berisi baju Indi. Indi sama sekali tidak curiga, kenapa tas itu terlihat begitu penuh, padahal dia hanya berlibur sebentar saja di rumah orang tuanya. Yang ada dipikiran Indi adalah, dia dan suaminya akan menginap beberapa hari di rumah orang tuanya, mereka akan berlibur dan akan membuat orang kampung tahu jika dia hidup bahagia bersama Tedi. Indi sudah tidak sabar untuk sampai di rumah masa kecilnya, yang kini sudah berubah lebih layak. Dengan naik angkutan umum, Tedi dan Indi segera menuju desa tempat tinggal Indi. Angkot berhenti di tepi jalan besar, untuk masuk ke kampung Indi, mereka harus berjalan kaki cukup jauh, atau bisa menggunakan ojek yang terbiasa mangkal di sana. Tapi hari itu, tidak ada satupun ojek yang mangkal. Sepi sekali, tidak seperti biasanya. Dengan terpaksa, Indi juga Tedi berjalan ka
Jam tiga sore hari, Tedi membawa Indi meninggalkan kediaman sang ibu. Dia tidak ingin kembali menjadi beban untuk sang adik. Walaupun Indi bersikeras ingin tetap tinggal di sana, tapi Tedi membawa Indi secara paksa. Tari sama sekali tidak menemui mereka, karena baginya semua itu sudah tidak penting lagi. Dia berencana untuk mengganti kunci pintu rumahnya, agar tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke rumah itu seenaknya. Tedi sampai di kontrakan nya, sekitar pukul lima. Dia segera membuka pintu yang terkunci dan masuk ke dalam rumah kontrakan itu, Indi malah berdiam diri di luar. "Masuk Indi! ngapain kamu diem di situ terus? " Indi hanya memantulkan mulutnya, dan tidak menimpali Tedi. Tedi malah berdebat dengan Indi, dia lebih memilih untuk segera merebahkan diri di atas tempat tidur. Karena tidak ada yang membujuknya, akhirnya Indipun masuk ke dalam rumah dengan wajah yang ditekuk. "Mas, kenapa kamu gak bujuk aku sih?" Tedi hanya diam, dan memejamkan matanya. I
Berbulan-bulan berlalu, sikap Indi semakin menjadi-jadi. Kinerja Tedi memang sangat bagus, bahkan membuat para atasan mempromosikan nya untuk menjadi manager. Tapi kelakuan Indi yang semakin tidak terkendali, membuat para karyawan merasa jengah. Mereka beramai-ramai melaporkan sikap Indi yang sem
Keesokan pagi nya, Tedi terpaksa kembali ke rumah kontrakan nya bersama Indi. Jika saja ada baju seragam kerjanya di rumah ibunya, mungkin dia tidak akan pulang ke sana. Tapi dia juga takut jika ibunya curiga, kalau dia dan istrinya yang baru menikah selama satu minggu itu, sudah bertengkar. Sa
Tedi mulai terobsesi dengan Vira, dia selalu berusaha memberikan semuanya untuk kekasihnya itu. Walau Vira sering menolak, tapi Tedi malah semakin berusaha untuk memberikan semuanya. Uang gaji nya sudah mulai tidak dapat memenuhi gaya hidupnya yang semakin tinggi, Indi yang semakin boros, juga
Hari senin, hari yang banyak orang malas menemuinya. Hari sibuk, dan hari di mana di jalanan begitu macet. Indi dan Tedi berangkat bekerja seperti biasa, di luar, hubungan mereka terlihat harmonis. Tapi tidak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi. Setiap hari berangkat dan pulang kerja bers







