LOGINAnthonius menyadari suara yang ada dalam tubuhnya, tetapi berusaha diabaikan olehnya sehingga memukul kepalanya berulang kali agar suara pria yang menurutnya ada di kepala pergi jauh.
‘Balas dia dan jangan mau direndahkan seperti itu!’ ucap pria dalam diri Anthonius.
“Kalian tidak tahu terima kasih. Kalian sudah lupa dengan masa lalu yang hampir tidur di pinggir jalan karena rumah telah disita akibat ulah kalian. Bisnis keluargamu telah aku selamatkan dan bangkit kembali, tapi kamu malah menyalahkanku. Bahkan, kamu juga selalu baik dan memujiku karena kebaikan sekaligus memberi semangat untukku agar tidak mudah menyerah dan selalu berjuang demi hidup yang jauh lebih baik, tapi balasan kalian seperti ini. Kalian sudah lupa kulitnya. Kamu kira aku sebagai suamimu tidak risih mendapatkan pertanyaan seperti itu dan kamu selalu merengek kepadaku untuk minta anak? aku sudah mengajakmu berkali-kali untuk mengadopsi anak, tapi kamu selalu gak mau dan ingin anak kandung, padahal kita berdua sehat dan tidak ada masalah dalam alat reproduksi!” geram Anthonius dengan nada terbata-bata dan mengumpulkan keberanian untuk melawan.
Pukulan keras mendarat di wajahnya lalu tersungkur dan pingsan di lantai.
Anhonius tergeletak di lantai, tetapi masih mendengar suara yang ada di sekitarnya. Berbagai macam perkataan hadir di telinga.
“Dia kena satu pukulan saja sudah pingsan begitu, bagaimana bisa melindungimu dari bahaya?” hina Samuel dengan intonasi penekanan.
“Dia memang tidak pantas untuk menjadi anakku dan pewaris utama. Toh, perusahaan ayahmu juga berada dalam pengawasanku. Jadi … aku memilihmu untuk menjadi penerusku dan menjadi pewaris utamaku karena bisnis ayahmu yang kamu pegang berhasil meningkat dan mendapatkan pemasukan setiap bulan yang hampir ratusan juta rupiah,” ucap Tio dengan nada menggebu tanpa persetujuan Anthonius dan menunggu bangun dari pingsan.
Tidak ada satu orang pun yang memindahkan tubuh Anthonius tergeletak di lantai ke kasur malah dibiarkan sampai terbangun.
Tubuh Anthonius memang tergeletak di lantai, tetapi otak dan pikiran masih bekerja sehingga suara pria dalam dirinya pun kembali hadir dan mengambil alih seluruh tubuhnya.
Anthonius terbangun dari pingsan dengan posisi yang terduduk dalam sekali dengan membelakangi Tio, Samuel, Dyah dan Anita sambil meregangkan badan.
“Ternyata tidak ada yang membangunkanku,” ucap Anthonius pelan sambil terkekeh dan menggeleng sekali.
Tubuh Anthonius, tetapi raga dikendalikan oleh seorang pria yang memiliki jiwa pemberani, tidak memandang bulu ketika ada sosok yang mengganggu dirinya, sebatang kara dan meninggal dunia karena mendapat hukuman mati yang dituduhkan kepadanya.
Sosok yang ada di dalamnya merupakan sosok yang sangat dihargai dan ditakuti oleh banyak orang, tetapi karena satu kesalahan dalam hidupnya, hidup yang damai menjadi gelap karena dia berada dalam sebuah situasi yang tidak ada siapa pun untuk menolong anak kecil yang tertembak dan sempat memegang pistol yang ada di samping anak kecil.
Sosok itu bernama Adrian Mahameru Setya Abadi. Dia merupakan ahli ilmu komputer di negerinya dan tidak ada yang bisa mengalahkan kemampuannya.
Adrian hanya melakukan kesalahan, yaitu menolong anak kecil yang tertembak dan hingga detik ini tidak ada pelaku yang tertangkap. Dia dihukum mati dan waktu eksekusi jaraknya hanya lima bulan setelah divonis dan dijatuhkan hukuman mati.
Arwah Adrian tidak terima kalau dituduh sebagai pembunuh berantai karena pada tahun 2024, kepolisian sedang mengusut kasus pembunuh berantai yang memakan korban anak kecil dan rata-rata meninggal secara ditembak di tempat yang berbeda-beda dan tidak ada satu saksi pun di sana.
“Apa yang kamu katakan?” tanya Tio dengan intonasi penekanan sambil menoleh ke arahnya ketika membahas bisnis yang segera membuka cabang baru.
“Tidak. Aku merasa lebih segar tiduran di lantai,” jawab Anthonius dengan lantang.
Semua orang membulatkan bola mata dengan lebar ketika mendengar jawaban darinya yang mengeluarkan suara lantang dan tidak seperti beberapa menit lalu yang terbata-bata dan pelan setelah Tio mengeluarkan pertanyaan dengan nada yang tinggi.
“Kamu habis terbentur?” tanya Anita dengan nada bergetar sambil menatap lamat.
Anthonius hanya menoleh ke arah istrinya sedang bertanya kepadanya. Ia mengabaikan pertanyaan itu dan memilih untuk pergi dari ruang tengah dari pada mendengar ocehan banyak orang yang tidak pernah menganggap selalu ada di sekitarnya.
Ia terus melangkah sampai menaiki anak tangga yang keenam lalu mendengar kalimat bentakan dari Tio yang memaki dirinya hingga membuat langkahnya terhenti.
“Kamu mau ke mana? Kamu sudah berani sama Ayah dan keluarga mertuamu?” tanya Tio nada tinggi yang tidak terima Anthonius memilih untuk menghindar dari ocehan caci maki dari mereka.
“Aku masih mengantuk dan ingin tidur lagi,” jawab Anthonius santai lalu menguap dan menggaruk kepala.
“Kamu mau tidur lagi? Kamu mau jadi apa coba kalau kamu tidur lagi, padahal kamu itu anak dari keluarga konglomerat, tetapi kelakuanmu tidak ada kontribusi sama sekali dan kamu juga tidak pantas mendapatkan anakku dan kamu harus menceraikan dia sekarang agar Anita bisa bebas dan bisa menikah lagi dengan pria lain yang menjadi pilihan hidupnya!” cerocos Dyah dengan nada menghina dan menyuruhnya untuk menceraikan Anita.
Anthonius melanjutkan menaiki anak tangga, tetapi kalimat hinaan untuknya tidak pernah berhenti dan mereka masih menghina ibunya yang tidak salah apa pun.
“Kamu jangan seperti ibumu yang malas dan tidak ingin berbuat apa pun untuk keluarganya. Bahkan, kamu seharusnya mengikuti berbagai pelatihan agar kamu bisa menjadi pewaris utama di keluarga ayahmu, bukan malah tidur dan menjadi seperti ibumu!” sahut Samuel yang tiada henti menghina ibu Anthonius.
Anthonius menuruni anak tangga dengan mengepalkan tangannya erat. Samuel, Dyah, Tio dan Anita saling memandang saat melihat pergerakannya yang melangkah cepat dengan tatapan tajam yang terlihat sangat marah kepadanya.
Ia berhenti tepat di depan Samuel dengan mengendalikan amarah dan ingin sekali memukul wajahnya, tetapi ditahan olehnya.
“I-ibu bukan seperti itu dan kalian tidak akan pernah mengenalnya. Dia adalah wanita yang cerdas, pintar, lembut dan santun. Bahkan, cara bicara sangat berbeda dari kalian. Kalian tidak pernah menghargai orang sama sekali dan hanya bisa memaki dan merendahkan orang lain,” balas Anthonius dengan nada bergetar dan terbata-bata sembari menatap semua orang yang ada di sekitarnya.
“Kamu yakin dengan ucapanmu itu? Bukan, kah, ayahmu yang mengenal dia sangat lama dan kamu mungkin hanya beberapa tahun mengenal ibumu? Kalau ibumu baik, kenapa kamu tidak memberitahu ibumu kepadaku?” cecar Anita dengan intonasi penekanan sambil menatap lamat.
“Kamu tidak pantas berbicara seperti itu karena aku tidak ingin mengenalkan ibuku kepada siapa pun,” jawab Anthonius nada terbata-bata.
“Sungguh? Lalu, siapa yang pantas? Aku?” sahut Tio nada meledek.
Anthonius membisu dengan mencoba untuk menghubungkan keterkaitan antara Tio dengan nama-nama yang baru ditemukan olehnya. Jika ditarik garis, artinya Tio akan berhubungan dengan kematian Adrian, mafia yang bersih dan jujur. Apakah ada pertempuran antara dirinya dengan Adrian yang telah menjadi sistem?“Dia berhubungan dengan Anton? Atau mereka yang mengelabui ayahmu lalu meminta ayahmu untuk berbuat banyak hal?” tanya Sistem Adrian dengan intonasi penekanan.Anthonius masih terdiam dan memikirkan semuanya, tetapi teringat dengan semua perkataan ayahnya seperti banyak teka-teki yang tidak terpecahkan dan meminta dirinya untuk melanjutkan penyelidikan ketika menemukan sesuatu yang ada di kantornya. “Ada apa, Pak Barra?” tanya Anastasia penasaran sambil menatap lamat.“Tidak apa,” jawab Anthonius singkat lalu menutup laporan keuangan yang diberikan kepadanya. “Yakin? Ada sesuatu yang ingin Anda tanyakan kepada saya?” tanya Anastasia nada mencoba untuk membantunya sambil menatap lamat
“Saya … sedang melatih bicara untuk menghadapi klien berikutnya,” jawab Anthonius tidak menjawab secara jujur.“Aneh. Bukannya, bapak sudah terlatih komunikasinya? Kenapa harus belajar bicara lagi?” cecar Anastasia penasaran sambil memutar bola mata dengan intonasi penekanan.“Apa yang ingin kamu berikan kepada saya? Apa yang ada di tanganmu?” tanya Anthonius sambil memperhatikan map di tangannya.Anastasia memberikan map berwarna biru muda kepadanya dan terdapat tulisan bukti keuangan tahun 2017 – 2022. Dia memberikan keuangan lima tahun lalu memperhatikan Anastasia yang memintanya untuk membuka laporan keuangan.“Apa alasanmu memberi saya laporan keuangan lima tahun yang berarti delapan tahun lalu dari tahun sekarang?” tanya Anthonius sambil membuka map berwarna biru muda.“Laporan keuangan yang saya temukan di ruangan ini sebelum Pak Tio jarang terlihat di perusahaan ini. Laporan keuangan yang saya tidak tahu isinya, tapi beliau tampak menyimpan dengan baik dan berharap tidak ada s
Anthonius tersenyum miring saat mendengar jawaban Tio malah bertanya balik kepadanya. Dia berpikir bahwa Anthonius tidak mengetahui tentang ayahnya.Ia berpikir bahwa tidak mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan Tio, padahal ia sedang mencari sesuatu yang diperintahkan olehnya.Apa pun yang berhubungan dengan perintahnya selalu ada namanya dan seseorang atau beberapa orang yang berhubungan dengan Tio.Tio mencoba untuk menutupi sesuatu dari dirinya yang berpikir bahwa dia tidak ingin menanyakan apa pun kepadanya.“Halo, kamu masih ada di sana?” tanya Tio dengan intonasi penekanan.“Ya, saya masih di sini dan terima kasih untuk jawabannya. Saya hanya bertanya soal itu dan jika ada kabar terbaru tentang Pak Raihan, Anda pasti segera tahu dan tidak akan pernah menyembunyikan apa pun kepadanya,” jawab Anthonius dengan intonasi penekanan dan santai.“Oke. Saya tunggu kabar darinya karena dia tidak harus menghubungi saya. Saya menunggu dia dari kemarin, tapi tidak ada jawaban panggilan
Semua orang terdiam setelah Anthonius bertanya kepada mereka tentang pelaku utama yang mengunggah video dirinya menggendong Pak Raihan dan salah satu seorang rekan kerja pria yang selalu bersama Gery hadir di situasi memanas dan menegang.“Aku? Bagaimana bisa seorang pria yang terekam dari ponsel orang lain adalah Anda, Pak Barra?” sahut Anton sembari melangkah dari pintu masuk perusahaan mendekati Anthonius.Anthonius berdesis pelan dan salah bicara saat sedang emosi. Ia ceroboh dalam berucap ketika amarah memuncak.Semua orang berbisik setelah mendengar pertanyaan dari Anton tentang seorang pria yang terekam di ponsel saat menggendong Raihan.Kacamata canggih nan cerdas mendeteksi wajah Anton yang terlihat kusut dan kelopak mata cekung. Sistem Adrian menampilkan visualisasi wajah Anton dan tingkat kejahatan yang dilakukan olehnya.“Kenapa diam, Pak Barra? Apakah salah bicara atau pria yang ada di rekaman itu memang Anda?” cecar Anton dengan intonasi penekanan sambil menatap lamat.A
“Akun julid? apakah akun julid sering mengunggah sesuatu yang berhubungan dengan perusahaan ini atau akun yang digunakan untuk menjatuhkan orang lain dan berbagai macam berita dimasukkan ke akun ini?” tanya Anthonius dengan intonasi penekanan sambil menatap lamat.“Akun julid adalah akun yang digunakan untuk berbagi cerita yang tersebar di mana pun dan siapa pun bisa menghubungi adminnya ketika memiliki konten yang bisa dijadikan bahan omongan di seluruh dunia. Bahkan, wajah pria yang terekam di kamera seseorang yang mengawasi pria itu. Bahkan, sudah hampir sepuluh ribu komentar tentang video yang diunggah oleh admin ini, Pak,” jawab Anastasia nada menjelaskan sambil melirik Anthonius dan semua rekan kerja yang terdiam.“Akun julid tidak akan masuk ke akun sosial media kalian kalau nama kalian tidak ditandai. Apakah nama kalian ditandai oleh admin akun julid atau ada akun sosial media lain yang menjadi sumber utama video itu menjadi banyak omongan orang lain, terutama kalian?” tanya A
Anastasia mendekati Anthonius dengan menunjukkan ponsel yang ada di genggamannya. Hitungan detik, Anthonius disuguhkan pemandangan dirinya sedang menggendong Raihan keluar dari bangunan gedung YC menuju ke mobil mewah yang digunakan untuk bekerja lalu memasukkan dia ke dalam mobil.“Bukan, kah, itu mobil Pak Barra? siapa pria yang membawanya?”“Dia pasti suruhan Pak Barra karena dia mengendarai mobil itu dan pastinya beliau ada di dalam mobil!”“Jangan-jangan, Pak Barra membunuh Pak Raihan untuk menyingkirkan petinggi di sini semuanya demi menguasai harta Pak Tio?”Semua kalimat buruk keluar dari mulut banyak rekan kerja yang berpikir buruk kepadanya. Ia hanya terdiam sembari merayapkan bola mata ke arah Gery sedang tersenyum lebar sambil menatap ledekan kepada dirinya.Dia tampak puas melihat Anthonius terpojok dan berhasil menguasai pikiran rekan kerja yang tidak menyukai dirinya karena sikap yang dinilai terburu-buru dan semena-mena.“Jangan asal bicara kalian!” sahut Anastasia nad







