Home / Urban / Pembalasan Sang Presdir Dingin / BAB 1 PEMBALASAN DI MULAI

Share

Pembalasan Sang Presdir Dingin
Pembalasan Sang Presdir Dingin
Author: shart96

BAB 1 PEMBALASAN DI MULAI

Author: shart96
last update Huling Na-update: 2025-08-11 09:10:58

BAB 1 PEMBALASAN DI MULAI

William Argantara baru saja keluar dari penjara usai 7 tahun menjalani masa hukuman atas fitnah yang ia terima. Adik tirinya, Rian Hadinata, menjebaknya dalam kasus penipuan jual beli saham dan investasi bodong karena ingin merebut posisi William dalam keluarga.

Sialnya, tidak ada yang percaya dengan ucapan William. Seluruh keluarga mengecapnya sebagai penjahat dan aib, bahkan kekasihnya pun mencampakkannya.

Dan kini, setelah bebas, William akan membalaskan dendamnya pada sang adik tiri.

William perlahan mendekati sebuah mobil yang berada di seberang tempat lembaga pemasyarakatan berada, dia langsung masuk begitu dibukakan pintu bagian belakang mobil oleh sang pengemudi.

"Selamat hari kebebasan Tuan Liam." orang disampingnya memberikan sepotong tahu putih dengan irisan tumis daging sapi dan cabe rawit.

William terkekeh seraya menggelengkan kepalanya, namun tetap menerima apa yang diberikan sahabatnya."Memang orang yang habis keluar penjara diberi hal yang seperti ini? yang benar saja Hendery."

Hendery Raspati adalah satu-satunya sahabat yang dimiliki William saat ini, Semenjak dirinya terkena kasus satu per satu teman yang dia miliki menjauh. 

Hanya Hendery satu-satunya yang masih setia selalu menenami dan mendukungnya, berteman sejak menginjak bangku sekolah menengah pertama keduanya terlihat sudah seperti saudara kandung yang selalu saling mendukung satu sama lain dalam segala hal.

"Nggak tahu tapi aku lihat di film-film sih, ingat biasanya yang udah bebas suka dikasih tahu seperti itu. Daripada polosan sahabat kamu yang satu ini berbaik hati ngasih toping irisan daging sapi biar semangat menjalani kehidupan selanjutnya," Hendery

Mobil perlahan meninggalkan tempat lembaga pemasyarakatan, tujuan akhir mereka adalah sebuah Rumah elit di pusat kota. butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai disana, mengingat letak lembaga pemasyarakat berada cukup jauh dari pusat keramaian.

Selang beberapa menit kemudian keduanya sudah tiba di sebuah rumah tidak terlalu besar namun tidak terlalu kecil juga, tempat yang sudah disiapkan oleh Hendery sebelumnya untuk dijadikan markas bagi mereka berdua untuk mengatur strategi membalas dendam kepada Rian. setelah sebelumnya melakukan penyelidikan dibantu sahabatnya yang sudah mengantongi beberapa barang bukti bahwa sang adik tiri  merupakan orang yang melakukan Investasi palsu atas nama William.

Saat masuk ke dalam bagian ruang tengah, suasana tempat itu cukup nyaman dengan barang-barang sudah tersusun rapi. Beberapa lembaran kertas pun tersusun dengan rapi, namun ada juga yang dibiarkan asal simpan diatas meja.

"Jadi bagaimana langkah selanjutnya, kita buat laporan sekarang juga ke pihak yang berwajib?" tanya Hendery to the point.

Semenjak tahu bahwa Rian yang membuat sahabatnya masuk penjara, Hendery tidak tinggal diam. Dia menyewa pengacara terbaik di kota tersebut untuk membuktikan bahwa William tidak bersalah, namun bukti-bukti yang sudah dimanipulasi Rian membuatnya dan pengacara yang telah disewanya tidak bisa berbuat banyak.

“Aku belum yakin apa semua barang bukti yang kita kumpulkan bisa membuat anak itu masuk penjara atau tidak, kita harus mengatur strategi lain jika kali ini gagal.” 

William kurang yakin saat ini, karena beberapa bukti yang dia dan Hendery kumpulkan belum semuanya akurat.  Dia harus menemukan bukti yang lebih kuat lagi agar Rian tidak bisa mengelak dengan semua tuntutan yang akan diajukan nanti.

“Jadi masih mau ditunda dan kita akan menggali barang bukti yang lain?”

“Menurutku sebaiknya seperti itu untuk saat ini, aku ingin menggali lebih dalam tentang investasi palsu yang dia lakukan. Pasti para korban jauh lebih banyak dan siapa tahu nanti kita tahu arah aliran dana yang telah dikumpulkan, dengan begitu kita bisa mengantongi bukti yang lebih kuat untuk menjebloskan dia ke penjara.”  

“Baiklah kalau begitu, aku akan pergi ke apartemen mengambil laptop dan beberapa berkas yang belum aku bawa kemari. Mau ikut? Itung-itung cari udara segar dan melihat beberapa pemandangan yang sudah sedikit berubah,” tawar Hendery.

“Kamu benar, aku ikut denganmu itung-itung refreshing sejenak.”

Selama perjalanan William memperhatikan sekitarnya, ada beberapa perubahan yang dia lihat dan dia ingat sebelumnya saat tujuh tahun yang lalu.

William menghela nafas panjang dengan pandangan tetap ke arah samping memandangi pemandangan sepanjang perjalanan yang mereka lewati.

“Apa saat ini kamu tidak lagi memiliki akses ke dalam perusahaanmu Liam?” tanya Hendery dengan pandangan tetap fokus ke depan.

“Kamu tahu sendiri setelah ditangkap semua aset perusahaan disita, ayahku tidak membantuku sama sekali padahal sudah memohon-mohon. Tapi apa? dia lebih percaya anak itu dan malah memutuskan ikatan antara Ayah dan Anak,”

"Aku sudah menduganya, dan orang suruhanku juga bilang setelah kehebohan itu, beberapa hari kemudian perusahaanmu langsung memasang banyak CCTV disetiap ruangan. Jadi mempersulit pergerakannya untuk menggali informasi disana, sepertinya mereka semakin memperketat peraturan juga," Hendery menghela nafas kesal dengan mengeratkan kedua tangannya pada setir kemudi.

"Kamu benar aku bisa memakluminya, tapi bagaimana pun tidak bisa diam pasrah begitu saja. Aku harus segera menemukan lebih banyak bukti tentang Rian, dan tentu saja harus membalas perbuatannya yang telah menghancurkan semua yang aku miliki. cepat atau lambat harus segera membersihkan nama baikku yang sudah tercoreng,"sahut  William sekilas melirik ke arah Hendery.

"Memang sudah seharusnya seperti itu, aku akan membantu dengan senang hati." Hendery melirik sekilas kearah William.

William hanya menghela nafas seraya beberapa kali memperhatikan ponselnya.

"Dasar bodoh, apa yang kamu harapkan. siapa orang yang kamu tunggu, semua orang sudah meninggalkanmu." gumam William dalam hati kembali menghela nafas lalu menyimpan ponselnya ke dalam saku celananya.

Beberapa saat kemudian keduanya sudah memasuki kawasan apartemen elit yang terlihat baru saja selesai dibangun, terlihat dari beberapa sisa-sisa bahan bangunan dan ada beberapa pegawai proyek yang masih berlalu lalang membersihkan sisa-sisa bahan bangunan tersebut.

Saat keduanya memasuki lobi apartemen dan hendak menuju lift, seseorang menghampiri mereka berdua dengan pakaian serba hitam dan menggunakan helm dengan kacanya tertutup rapat.

"Permisi, apa anda dengan William Argantara?" tanya orang tersebut yang terdengar seperti suara seorang wanita.

"Iya saya William Argantara, anda siapa?" tanya William to the point seraya kedua matanya fokus memperhatikan orang tersebut dari atas sampai bawah.

Begitu pun dengan Hendery yang mulai mendekat kearah orang tersebut dengan waspada, siapa orang tersebut? karena yang tahu bahwa William keluar dari lapas hari ini hanya Hendery saja.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 26

    William nampak berpikir sejenak. “Ndry ada yang ingin aku tanyakan?”“Dasar bodoh, apa yang aku pikirkan? Tidak mungkin aku menanyakan secarang langsung kepada orang yang sedang aku curigai.” ucap William dalam hati.“Tanya apa? kenapa mendadak ekspresinya berubah begitu?” Hendary mengernyitkan sebelah alisnya keheranan.“Bagaimana dengan pekerjaan dan perusahaan, semua amankan?”“Aman dan cukup sibuk beberapa bulan terakhir, memangnya ada apa?”“Apa kamu ingin bergabung dengan perusahaan? aku akan memberikan satu posisi nanti kalau kamu mau.” tawar Hendery.

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 25

    “Apa dia orangnya? tapi aku rasa tidak mungkin. apa dia sedang berseteru dengan Tedi Yan.” gumam William pelan.“Tapi aku rasa tidak mungkin dia terlibat dalam masalah ini, perusahaan Tedi Yan tidak mengusik perusahaannya.”“Ada apa? Kamu begitu fokus melihat ke arah mereka.” tanya Tedi Yan yang menyadari William terus fokus memandangi ke arah komputer.“Tidak ada apa-apa tuan, hanya saja seperti pernah melihat virus ini sebelumnya. Tapi saya lupa,” sahut William menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sama sekali sebenarnya.Tedi Yan nampak berpikir sejenak. “Apa kamu bisa mengatasinya?”William memiringkan kepalanya untuk melihat kembali ke arah komputer. “Saya tidak begitu yakin, tapi kalau tuan mengizinkan saya akan mencobanya.”“Baik cobalah kalau begitu, kalau kamu berhasil memulihkan semuanya akan aku beri bonus.” ucap Tedi Yan tanpa berpikir panjang.“Baik tuan.” William langsung menganggukkan kepalanya cepat.William langsung mengambil alih salah satu komputer yang ada

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 24

    “Siapa? aku tidak punya banyak teman, kini hanya ada Bian dan Hendery.” tanya William, berpikir sejenak dan mencerna ucapanya wanita itu, kenapa kini Mia memintanya untuk waspada ke teman-temanya.“Aku tidak bisa bicara langsung sekarang karena masih menduganya, takut salah kalau belum menemukan bukti kuatnya. Sebaiknya mulai sekarang kamu harus mulai waspada saja kepada mereka berdua,” “Ayo kita pergi dari sini sekarang!” ajak Mia.“Kemana?” “Tempat persembunyian yang lain.” “Sebenarnya berapa banyak tempat persembunyian yang kamu miliki?” tanya William mengernyitkan sebelah alisnya.“Hanya beberapa, tempat ini sepertinya sudah tidak aman, tidak bisa menduga apa mereka akan datang kembali kesini atau tidak. Lagi pula tempat ini sudah aku jual tinggal menunggu orang yang akan membelinya,” sahut Mia berdiri dan mulai bersiap setelah dirasa tubuhnya sudah cukup kuat untuk berjalan.Mia mengambil barang-barang yang akan dibawanya, sebelumnya dia sudah mempersiapkan barang-barang yang

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 23

    William menghentikan langkahnya sejenak saat membaca pesan baru dari Mia.[Jangan dulu datang kesini, ada beberapa orang yang mencurigakan berlalu-lalang dari tadi di dekat rumahku]“Kenapa aku diminta untuk tidak pergi kesana, bukannya bahaya jika dia berada disana seorang diri?” gumam William tidak begitu mengerti dengan yang dikirimkan Mia kepadanya.Entah harus percaya atau tidak dengan isi pesan tersebut, William sedikit curiga kalau pesan tersebut bukanlah Mia yang mengirimkannya namun orang lain.William nampak berfikir bahwa ada sedikit keanehan, dan baru menyadari bahwa dari kemarin terasa berbeda pesan yang dikirimkan mia untuknya setelah membaca pesan-pesan sebelumnya.“Apa Mia benar-benar dalam bahaya, atau malah ini memang sebuah jebakan untuk aku pergi kesana?”William berusaha bersikap tenang dan berpikir keras langkah apa yang harus dia ambil, tetap pergi ke tempat Mia langsung atau tetap mengikuti pesan tersebut untuk tidak datang kesana.*****William akhirnya memutu

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 22

    “Kenapa mereka berdua bertemu disini, apa jangan-jangan ayah Mia masuk penjara karena anak itu juga?” gumam William pelan saat melihat gerak-gerik mereka berdua dari kejauhan.William perlahan namun pasti berjalan mencoba mendekati mereka, penasaran apa yang sedang mereka bicarakan. Apa sebenarnya yang akan Rian lakukan selama di sana, dan siapa lagi target adik tirinya itu setelah dirinya hancur.“Jadi tenang saja sekarang masih aman pak, kalau ada sesuatu saya akan langsung laporan kepada bapak.” ucap orang itu kepada Rian dengan santai.“Baiklah awasi dengan baik jangan buat kesalahan, saya sudah dipercaya untuk mendesain beberapa tempat ini jangan membuat kacau karena masalah yang tidak penting.” sahut Rian seraya mengepulkan asap rokoknya ke udara.Pria itu mengangguk cepat. “Baik pak.”“Baiklah, kamu bisa pergi sekarang!” perintah Rian kepada orang tersebut.William melihat orang tersebut perlahan meninggalkan Rian.”Jadi anak itu kerjasama dengan Tedi Yan untuk bagian mendesain

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 21

    Mata William membulat saat membaca pesannya, bahkan dia membacanya beberapa kali untuk memastikan bahwa dia tidak salah membaca.“Tedi Yan bukan orang yang membuat kamu masuk penjara.”“Kalau bukan Tedi Yan pelakunya, lalu siapa orang yang membantu anak itu yang membuatku masuk penjara.”gumam William memegang erat ponselnya.Karena jam kerja sudah selesai, William izin keluar kepada kepala pelayan bahwa ada dia akan mengambil pakaian lainnya dan membeli makanan. Sebenarnya itu hanya alasan semata, niatnya dia akan menemui Mia untuk mengetahui apa maksud dari pesan yang dikirim kepadanya.Kini William sudah sampai ditempat Mia, lebih tepatnya berada di lab nya.“Jadi benar Tedi Yan bukan orang yang membuat aku masuk penjara? lalu apa dia ada hubungannya dengan ayah kamu di penjara?’Mia memberikan beberapa berkas kepada William.”Benar dia bukan orangnya, saat aku check dia hanya sebagai investor terbesar di perusahaanmu.”“Kalau masalah ayahku memang benar Tedi Yan yang melaporkannya, k

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status