LOGINWilliam dan Mia tidak menunggu lebih lama. Keesokan paginya, keduanya bergegas untuk pergi ke rumah ayah Mia untuk mencari bukti yang dapat menghubungkan Candra dengan kasus yang menimpa pria itu.Dugaan saat ini saja tidak cukup. Mereka membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat, sesuatu yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Sejak ayahnya terbaring di rumah sakit, rumah itu terasa berbeda bagi Mia begitu memasukinya. “Semua dokumen penting Ayah ada di ruang kerja,” kata Mia sambil membuka pintu. “Tapi aku sudah mencarinya sebelum kau datang. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.” sambungnya.William tidak langsung menjawab. Ia masuk perlahan, lalu mengamati seluruh ruangan. Pandangan matanya bergerak dari rak buku, meja kerja, lemari arsip, hingga kamera kecil yang terpasang di sudut ruangan. Ia tidak menyentuh apa pun. Hanya memperhatikan.“Kalau seseorang sengaja menjebak ayahmu,” ujar William akhirnya, “dia tidak akan meninggalkan bukti di tempat yang mudah ditemukan.” Mia menat
Setelah sambungan terputus, William kembali menatap foto Raka. Namun, kali ini ia tidak hanya melihat seorang pria yang berdiri di samping Candra.William menyimpan semua dokumen tersebut ke dalam laptop, lalu mematikan layar. Saat ia hendak meninggalkan kafe, ponselnya bergetar sekali lagi.Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, William mulai membukanya.“Berhenti mencari tahu tentang Candra jika kau masih ingin Mia tetap hidup.”Untuk beberapa detik, William hanya menatap pesan itu tanpa berkedip. Lalu, sebuah foto dikirimkan.Foto Mia sedang berdiri di depan perusahaan ayahnya. Diambil dari jarak jauh. Wajahnya terlihat jelas.William merasakan amarah yang selama ini ia tahan mulai mendidih di dalam dada. Di bawah foto itu, terdapat satu kalimat tambahan.“Pertemuan berikutnya akan menentukan siapa yang kehilangan segalanya.”William mengangkat kepalanya dan menatap pantulan dirinya di kaca cafe. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya berubah menjadi dingin dan mematikan.
William tetap dalam posisinya berdiri di balik pilar, menatap ke arah kendaraan itu hingga menghilang di ujung jalan. Ponsel di tangannya masih menampilkan foto pertemuan yang baru saja ia ambil. Wajah pria yang selama ini dicarinya terlihat jelas di layar. Di samping pria itu berdiri ayah William.William memperbesar gambar tersebut. Tatapannya mengeras seolah tidak ingin mempercayai orang yang ada di dalam gambar itu.“Jadi, selama ini Ayah juga terlibat?” bisiknya.Untuk sesaat, pikirannya tertuju pada Rian. Sikap adiknya yang berubah secara tiba-tiba beberapa minggu terakhir. Pria misterius yang menemui Candra. Kondisi ayah Mia yang diracuni. Semua kejadian itu seakan-akan merupakan potongan puzzle yang perlahan mulai tersusun.William menoleh ke arah gedung kantor di belakangnya, dia merasa perubahan sikap adik tirinya tersebut bukan karena penyesalan. Mungkin adiknya sedang berusaha menyembunyikan sesuatu.Dan untuk pertama kalinya sejak kembali dari penjara, William menyadari b
William duduk di ruang kerjanya dengan tatapan kosong. Sejak pulang dari rumah sakit, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Hasil pemeriksaan dokter telah menguatkan kecurigaannya. Ayah Mia memang diracuni. Namun, sampai sekarang belum ada bukti yang cukup untuk mengungkap siapa pelakunya.Yang membuat pikirannya semakin kacau justru sikap Rian, adik tirinya. Selama beberapa hari terakhir, Rian berubah menjadi jauh lebih baik. Ia bahkan beberapa kali datang ke ruang kerja William, menawarkan bantuan, mengirimkan makanan, dan menanyakan keadaan William dengan sikap yang tampak tulus. Perubahan itu seharusnya membuat William merasa lega. Namun, justru sebaliknya. William tidak pernah bisa melupakan masa lalu. Tujuh tahun di balik jeruji besi bukanlah sesuatu yang bisa dihapus hanya dengan sikap ramah dan beberapa kalimat perhatian. Di ingatannya Rian adalah orang yang membuatnya dipenjara, dia juga salah satu orang yang memberikan kesaksian palsu hingga semua orang percaya
Mia masih berdiri di hadapan William dengan raut wajah kesal.“Sekarang jelaskan. Kakak habis berkelahi dengan siapa sampai seperti ini? ini bukan seperti William yang aku kenal.”William terdiam.Ia tidak mungkin mengatakan bahwa dirinya baru saja membuntuti seseorang hingga ke tepi danau, kemudian terlibat perkelahian. Terlebih, ia belum mengetahui siapa sebenarnya orang yang ditemuinya tadi.“Aku mengalami sedikit masalah di luar.” sahut William setenang mungkin“Masalah seperti apa sampai wajah dan badan terluka babak belur begini?”“Tidak penting.”“Bagiku ini penting!” bentak Mia.William mengangkat pandangan. Mia tampak marah, tetapi matanya berkaca-kaca. Melihat hal itu, ekspresi William sedikit melunak.“Aku hanya ingin mencari tahu siapa yang membuat kondisi ayahmu memburuk.”Mia terdiam.“Kak…”“Aku menemukan seseorang yang mencurigakan. Dia adalah pria yang sebelumnya menabrakku saat baru saja tiba di rumah sakit. Aku mengikutinya sampai ke luar kota.”“Lalu langsung berke
William mendorong tubuhnya dari pohon, lalu mulai melancarkan serangan balik. Pukulan pertamanya berhasil ditangkis. Pukulan kedua juga meleset, tetapi William memanfaatkan celah tersebut untuk menyapu kaki lawannya dengan cepat.Pria itu akhirnya kehilangan keseimbangan dan jatuh berlutut.William segera mencoba mengunci lehernya dari belakang. Namun, lawannya ternyata jauh lebih terlatih daripada perkiraannya. Ia menghantam tulang rusuk William dengan sikut, kemudian memutar tubuh dan melepaskan diri.William mundur sambil menahan sakit.Di sisi lain, mobil pria misterius itu mulai bergerak.William menoleh sekilas.
William terkekeh begitu mendengar apa yang baru saja diucapkan sang ayah. “Kenapa aku harus kembali, bukannya ada dia?” sorot mata William mengarah ke arah Rian.Rian yang melihat tatapan tajam yang dilayangkan William mencoba tetap biasa saja, terkesan tersenyum sangat tipis sekali untuk mengejekn
“Apa dia orangnya? tapi aku rasa tidak mungkin. apa dia sedang berseteru dengan Tedi Yan.” gumam William pelan.“Tapi aku rasa tidak mungkin dia terlibat dalam masalah ini, perusahaan Tedi Yan tidak mengusik perusahaannya.”“Ada apa? Kamu begitu fokus melihat ke arah mereka.” tanya Tedi Yan yang me
William menghentikan langkahnya sejenak saat membaca pesan baru dari Mia.[Jangan dulu datang kesini, ada beberapa orang yang mencurigakan berlalu-lalang dari tadi di dekat rumahku]“Kenapa aku diminta untuk tidak pergi kesana, bukannya bahaya jika dia berada disana seorang diri?” gumam William tid
Sudah dari satu jam yang lalu mereka telah tiba dan menunggu kapal kargo yang akan berlabuh di dermaga, namun masih belum terlihat kapal yang membawa barang milik Tedy Yan bersandar di pelabuhan.“Ini sudah tengah malam, tapi kenapa kapalnya belum juga sampai di pelabuhan?” tanya salah satu pengawa







