Home / Urban / Pembalasan Sang Presdir Dingin / BAB 3 DI BALIK SEBUAH FOTO

Share

BAB 3 DI BALIK SEBUAH FOTO

Author: shart96
last update publish date: 2025-08-11 09:17:29

BAB 3 DI BALIK SEBUAH FOTO

Keesokkan harinya William sudah bersiap akan pergi ke suatu tempat, kini dia dan Hendery sedang sarapan pagi bersama. Semalam keduanya memutuskan untuk tidur di apartemen saja, karena sore sampai malam diguyur hujan deras.

"Untuk hari ini apa yang kamu rencanakan Liam?" tanya Hendery yang sedang menyeruput kopi americano kesukaannya.

"Aku akan pergi ke rumah itu." William menjawab dengan santai seraya mengolesi roti panggang dengan selai kacang.

"Maksudnya pergi ke rumah keluargamu Liam?"

"Iya mau kemana lagi, rumahku dan hampir semua aset kan waktu itu disita. katanya barang-barang di rumahku  di pindahkan kesana, jadi mau tidak mau aku kesana untuk mengambil barang-barang penting..." William menjeda ucapannya sejenak. "Termasuk barang peninggalan Ibuku,"sambungnya

"Baiklah, kalau begitu biar aku yang antar. sekalian aku akan pergi ke kantor kan searah,"tawar Hendery.

"Tidak perlu, kamu bukan seorang supir yang kemana-mana minta diantar. Aku akan pergi dengan taksi online saja," sahut William fokus dengan roti panggangnya sesekali menyeruput minuman tehnya secara perlahan yang terlihat masih mengepulkan asap

Hendery terkekeh mendengar ucapan William barusan."Wah Pak Liam membuat saya terluka dan kecewa." Dia menepuk-nepuk pelan dadanya beberapa kali seraya menggelengkan kepalanya bercanda.

"Jangan berlebihan, lebih baik fokus saja dengan pekerjaanmu! jangan menumpuk dan menunda-nunda pekerjaan."

"Baiklah, kalau begitu akan aku pinjamkan saja mobil untukmu biar aku gunakan mobil satu nya lagi di basement." Hendery memberikan kunci mobil yang kemarin digunakan untuk menjemput William.

“Terima kasih, setelah dari rumah itu aku akan mengunjungi makam ibuku.” William memberitahu kegiatannya untuk hari ini kepada sahabatnya tersebut.

“Oh…ok, nanti sampaikan salamku kepadanya maaf kali ini belum bisa datang berkunjung. Tapi tolong bilang kepadanya  tenang saja aku akan selalu membantu anaknya sebaik mungkin,”

Selama berteman dengan William sejak awal masuk sekolah menengah pertama, Hendery sudah sering berkunjung ke rumah William. Ibu William sangat senang kala itu karena anaknya punya sahabat baik seperti Hendery dan sudah menganggap Hendery seperti anaknya sendiri.

Semenjak Ibu William meninggal Hendery selalu menemani William untuk mengunjungi makam Ibunya, saat William di penjara pun Hendery selalu datang mengujungi makam mewakili William setidaknya paling jarang satu kali dalam sebulan.

Hendery sudah pergi terlebilh dahulu, sedangkan William baru saja masuk ke dalam lift menuju basement. Saat sampai perlahan kakinya berjalan melewati beberapa mobil yang terparkir disana seraya pandangannya fokus mencari keberadaan mobil yang akan digunakannya saat ini.

Perjalanannya menuju rumah keluarga dimulai, dulu saat masih sekolah SMP dia akan sangat senang saat pulang sekolah. karena sang Ibu akan menyambutnya dengan hangat tidak lupa beliau sudah menyiapkan makanan untuk makan siangnya, namun saat menginjak kelas tiga smp; sang Ibu dilarikan ke Rumah Sakit saat William pulang sekolah dia menemukannya terlegetak di dapur tidak sadarkan diri.

Namun sayang dalam perjalanan menuju Rumah Sakit sang Ibu menghembuskan nafas terakhirnya, Saat dilakukan pemeriksaan ternyata sang Ibu mengindap penyakit kanker stadium akhir.

Dia dan sang Ayah tidak mengetahui penyakit tersebut, dirinya yang fokus dalam belajar dan  sang Ayah yang fokus dengan pekerjaannya dan ditambah sang Ibu tidak pernah menceritakan tentang penyakitnya membuat dirinya merasa bersalah karena tidak begitu memperhatikan kondisi sang Ibu.

Belum ada satu tahun setelah sang Ibu berpulang, sang Ayah datang ke rumah kala itu bersama dengan seorang wanita seumuran Ibunya dan seorang anak Laki-laki  mengenakan seragam SD. Ayahnya memperkenalkan kepada William bahwa mereka berdua adalah calon Ibu sambung dan Adik tirinya. membuat dirinya kecewa menganggap sang Ayah bisa melupakan Ibunya begitu cepat dan dengan mudah mencari pengganti lebih tepatnya mencari keluarga baru demi kepentingannya sendiri.

Setelah itu cukup banyak perubahan di kehidupan William, meski Ibu sambungnya baik berusaha berbaur dan ingin lebih dekat dengannya. Hatinya masih belum menerima sampai saat ini, meski terlihat akrab itu hanya dia tunjukkan di depan orang lain. 

Mobilnya sudah sampai ditujuan, dia baru saja memarkirkan mobilnya. Kini dia perlahan menaiki beberapa anak tangga untuk sampai  ke pintu utama rumah tersebut, William diam sejenak menghelan nafas, lalu mulai menekan bell yang terletak di samping pintu.

"Iya sebentar!" terdengar suara seorang wanita dan tidak lama pintu rumah tersebut terbuka sebagian.

"William." wanita tersebut nampak terkejut saat mengetahui siapa orang yang datang.

"Apa aku tidak boleh masuk?" William bertanya dengan nada dingin.

"Tenang aku kesini hanya mengambil barang-barang dari rumah yang disita waktu itu, setelahnya aku akan pergi tanpa membuat keributan." 

"Te...tentu, silahkan masuk." wanita tersebut yang masih terkejut kini membukakan pintu lebar-lebar.

William pun masuk disusul wanita tersebut dibelakangnya. "Sepertinya semua orang sudah pergi."

William melihat kearah sekitar, dan tidak melihat keberadaan sang Ayah dan Adik tirinya Rian di rumah tersebut.

"Iya Ayahmu dan Rian baru saja pergi setengah jam yang lalu,"sahutnya sedikit canggung, masih terkejut melihat William untuk pertama kali setelah tujuh tahun tidak bertemu.

"Baiklah aku tidak akan lama, setelah mengemasi barang-barang, aku akan langsung pergi." William bergegas menuju kamarnya dahulu.

Saat masuk ke dalam kamar tersebut, ruangan itu ternyata tertata dengan rapi tidak ada debu sama sekali. Mungkin Ibu sambungnya yang selalu membersihkan kamarnya, mengingat di rumah tersebut tidak ada asisten rumah tangga.

"Apa perlu bantuan?" tanya wanita tersebut di depan pintu yang melihat William yang mulai mengemasi barang-barangnya.

"Tidak perlu Ibu Margaret, terima kasih. aku akan melakukannya dengan cepat.”

"Baiklah kalau begitu aku akan buatkan minuman untukmu dan sedikit cemilan." Margaret pun bergegas meninggalkan kamar William menuju dapur untuk melakukan aktivitasnya.

"Aku harus mulai dari mana untuk menyelidiki? tato pedang di foto itu aku tidak mungkin salah ingat kalau tidak salah orang itu aku pernah lihat bersama dengan Rian saat ulang tahun perusahaan Ayah.” William berucap dalam hati mencoba mengingat sosok orang yang ada di dalam foto yang diberikan seseorang tempo hari.

Siapa pemilik tato di dalam foto yang dikirimkan seseorang tempo hari? apa mungkin benar sesuai dugaannya bahwa foto tato pada orang tersebut merupakan salah satu kaki tangan Rian sang adik tiri atau mungkin saja dia pelaku utama yang sebenarnya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 50

    Candra diam. Diamnya menjadi jawaban paling menyakitkan.“Lalu, kenapa aku dijebak?” Suara William terdengar bergetar.Rian menunduk.“Karena kau adalah ahli waris sah dari harta peninggalan Arman. Selama kau masih bebas, Candra tidak bisa menguasai seluruh aset itu. Jadi, ia menciptakan kasus agar kau terlihat sebagai pelaku kejahatan.”“Dan kau menjadi saksi?”“Aku dipaksa.”William menatap Rian dengan mata memerah. “Kau bisa memberitahuku setelah aku keluar.”“Aku mencoba

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 49

    Mia menggenggam tangan William. “Berarti sudah jelas,” bisiknya.“Belum,” jawab William pelan. “Mereka masih bisa menyangkal bahwa Candra sendiri yang melakukan.”Seolah mendengar ucapan William, pengacara Candra segera berdiri.“Yang Mulia, jaringan perusahaan dapat digunakan oleh banyak orang. Bukti tersebut sama sekali tidak membuktikan bahwa klien kami ikut terlibat terlibat.”Hakim mengangguk, terlihat setuju dengan apa yang baru saja diucapkan pengacara Candra.“Pihak pembela harus menunjukkan hubungan langsung antara perangkat tersebut dan terdakwa.”

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 48

    “Semua orang yang tahu tentang masa lalu… disingkirkan.”Dada William tiba-tiba terasa sesak, begitu mendengar apa yang baru saja didengarnya “Apakah maksud Bapak, Candra juga terlibat dalam kasus yang membuat saya dipenjara?”Ayah Mia memejamkan mata. Ruangan itu mendadak terasa sunyi, kecuali suara alat pemantau yang terus berbunyi. Beberapa detik kemudian, ia membuka mata kembali.“Bukan dia… yang menyusun semuanya.”William menahan napas.“Siapa?”Bibir ayah Mia bergerak pelan.“Adiknya…”Mia mengerutkan kening.“Adik siapa, Ayah?”Namun, sebelum pria itu dapat melanjutkan, suara alat pemantau berubah cepat. Dokter dan beberapa perawat segera masuk ke dalam ruangan. Mereka meminta William dan Mia keluar agar dapat memeriksa kondisi pasien.Mia berdiri di lorong dengan wajah penuh tanda tanya.“Adik siapa yang dimaksud ayahku?”William tidak menjawab. Hanya ada satu nama yang terus terlintas dalam pikirannya.Rian.Adik tirinya yang tiba-tiba berubah menjadi begitu baik. Adik yang

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 47

    “Kita harus memeriksa isinya.” William menyimpan kartu memori itu di dalam wadah kecil yang dibawa Dimas.Mereka tidak langsung membukanya menggunakan komputer biasa. Setelah menerima ancaman, William tidak ingin mengambil risiko.“Jangan gunakan perangkat yang terhubung ke jaringan umum,” ucap William. “Kalau ada program pelacak di dalamnya, mereka bisa mengetahui lokasi kita.”Dimas mengangguk paham langsung membawa mereka ke ruang kerjanya yang berada di bagian belakang sebuah kantor lama. Ruangan itu tidak memiliki kamera pengawas, dan seluruh perangkat di dalamnya bekerja menggunakan sistem tertutup.Selama beberapa jam, Dimas memeriksa isi kartu memori tersebut. Mia terus berjalan mondar-mandir di belakangnya, sementara William berdiri di dekat jendela dengan kedua tangan terlipat di depan dada.“Sudah ada hasil?” tanya William.Dimas tidak segera menjawab. Ia memperbesar salah satu folder yang baru berhasil dibuka.“Bukan hanya satu atau dua dokumen,” sahutnya. “Di dalamnya ad

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 46

    William dan Mia tidak menunggu lebih lama. Keesokan paginya, keduanya bergegas untuk pergi ke rumah ayah Mia untuk mencari bukti yang dapat menghubungkan Candra dengan kasus yang menimpa pria itu.Dugaan saat ini saja tidak cukup. Mereka membutuhkan bukti yang jauh lebih kuat, sesuatu yang tidak dapat dibantah oleh siapa pun. Sejak ayahnya terbaring di rumah sakit, rumah itu terasa berbeda bagi Mia begitu memasukinya. “Semua dokumen penting Ayah ada di ruang kerja,” kata Mia sambil membuka pintu. “Tapi aku sudah mencarinya sebelum kau datang. Tidak ada yang terlihat mencurigakan.” sambungnya.William tidak langsung menjawab. Ia masuk perlahan, lalu mengamati seluruh ruangan. Pandangan matanya bergerak dari rak buku, meja kerja, lemari arsip, hingga kamera kecil yang terpasang di sudut ruangan. Ia tidak menyentuh apa pun. Hanya memperhatikan.“Kalau seseorang sengaja menjebak ayahmu,” ujar William akhirnya, “dia tidak akan meninggalkan bukti di tempat yang mudah ditemukan.” Mia menat

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 45

    Setelah sambungan terputus, William kembali menatap foto Raka. Namun, kali ini ia tidak hanya melihat seorang pria yang berdiri di samping Candra.William menyimpan semua dokumen tersebut ke dalam laptop, lalu mematikan layar. Saat ia hendak meninggalkan kafe, ponselnya bergetar sekali lagi.Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, William mulai membukanya.“Berhenti mencari tahu tentang Candra jika kau masih ingin Mia tetap hidup.”Untuk beberapa detik, William hanya menatap pesan itu tanpa berkedip. Lalu, sebuah foto dikirimkan.Foto Mia sedang berdiri di depan perusahaan ayahnya. Diambil dari jarak jauh. Wajahnya terlihat jelas.William merasakan amarah yang selama ini ia tahan mulai mendidih di dalam dada. Di bawah foto itu, terdapat satu kalimat tambahan.“Pertemuan berikutnya akan menentukan siapa yang kehilangan segalanya.”William mengangkat kepalanya dan menatap pantulan dirinya di kaca cafe. Wajahnya tampak tenang, tetapi sorot matanya berubah menjadi dingin dan mematikan.

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 18

    “Heh dimana sekarang? jam segini keluyuran, baru nyampe dirumah tapi tidak terdeteksi tanda-tanda kehidupan.”-Hendery.“Liam sampai kesini jam berapa? kita disuruh kumpul jam setengah sebelas.”-Bian.William membalas satu per satu pesan yang masuk dari keduanya.”Aku harus pergi sekarang Bian member

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 17

    “Mau bagaimana lagi kita harus masuk ke ruang kerja Ayahku sekarang, tidak mungkin kita menunggu mereka sampai selesai bekerja. waktu kita tidak banyak lagi pula aku lihat yang lembur orang-orang yang sudah aku kenal juga,” sahut Mia melihat masih ada beberapa karyawan yang masih bekerja.Karena ti

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 16

    Rian dengan santai menenangkan Tedi Yan agar tidak terlalu khawatir karena William bekerja di perusahaannya, dia yakin saat ini kondisi masih mampu dia kendalikan. justru dengan William bekerja di perusahaan Tedi Yan dia bisa leluasa memantaunya dengan menempatkan beberapa orang suruhannya disana.

  • Pembalasan Sang Presdir Dingin   BAB - 15

    William dan Bian pun masuk ke dalam ruangan tersebut, ruangan yang sering terlihat di film-film. Dimana sebuah ruangan yang biasa digunakan para bos-bos mafia dan para anggotanya untuk tempat dimana biasa mereka berkumpul.“Jadi ini salah satu tempat biasa mereka berkumpul, aku kira mereka tidak ak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status