ANMELDENPagi Semua ( ╹▽╹ ) ini bab pertama pagi ini. Selamat membaca (◠‿・)—☆
Alasannya sederhana dan tidak bisa dibantah.Sebagian besar dari mereka baru menyadari sesuatu yang hampir tidak mungkin, Ryan lebih kuat dari mereka.Ia menantang Chester bukan karena bodoh. Melainkan karena harga diri, dan itu adalah harga diri yang memang seharusnya ada pada seseorang yang benar-benar kuat.Yang bodoh adalah mereka sendiri. Mereka yang dari tadi tidak mampu melihat bakat dan kekuatan yang sudah berdiri tepat di depan mata mereka.Dan kini mereka berdiri di sini, menyaksikan akibat dari penilaian yang salah.Orang-orang menelan ludah, menatap gugup ke arah cahaya yang belum juga memudar.Di antara semua yang berdiri di sana, Selvia Windson menatap pusaran cahaya itu dengan mata yang sudah penuh air mata sejak tadi.Tanpa sadar, kukunya menancap ke telapak tangannya sendiri. Bekas merahnya sudah dalam, tapi dia tidak merasakannya sama sekali.Ada rasa sakit di dadanya yang bukan dari luka fisik mana pun. Ia bahkan mulai membenci dirinya sendiri.Kalau bukan karena
Ryan juga merasakannya.Tekanan dari Esensi Pedang Kuno itu nyata, cukup untuk membuat siapapun berpikir dua kali sebelum melangkah. Tapi ia tidak mundur.Immortal Divine Body-nya sudah terbukti mampu menahan serangan yang jauh lebih brutal dari ini. Bahkan jika daya ledak Esensi Pedang Kuno itu jauh melampaui dugaan, tubuhnya akan tahan.Tubuh semacam itu memang dibangun untuk menanggung hal-hal yang tidak seharusnya bisa ditanggung.Yang menjadi masalah adalah Rex.Jika pertarungan meletus sekarang dan gelombang energi besar menyapu area ini, Rex yang sudah hampir melepaskan diri dari Wibawa Ilahi Harimau punya celah untuk kabur. Memukul Chester tidak ada gunanya jika Rex lolos dari sini dengan nyawa. Dan itu tidak boleh terjadi.'Kalau Esensi Pedang Abadi-ku sudah mencapai puncak, Esensi Pedang Kuno ini tidak akan jadi masalah sama sekali.'Tapi itu bukan sekarang.Ryan menarik napas pendek. Suaranya turun menjadi bisik."Sepertinya hanya satu cara.""Teknik Membakar Darah!"Api
Rex Sallow tidak sempat bereaksi.Dua esensi darah kuno yang meledak bersamaan telah mengalirkan daya jiwa ke dalam teriakan Ryan tadi. Bukan sekadar suara.Ada tekanan di baliknya, sesuatu yang menghantam bukan telinga, melainkan jiwa.Dan jiwa Rex, dalam kondisi terluka separuh habis, tidak punya kekuatan untuk menahannya.Lututnya menghantam tanah. Keras.Rex Sallow berlutut.'Wibawa Ilahi Harimau.'Ryan menghela napas singkat. Kemampuan itu jauh lebih kuat setelah ia menyerap dua esensi darah tambahan dari Ujian Darah Roh.Melawan kultivator dengan jiwa ilahi yang terlatih, serangan jiwa semacam ini nyaris tidak berguna. Tapi Rex sudah melemah parah, dan situasinya berbeda.Tubuh Rex menggigil. Otot-ototnya menegang, wajahnya memerah, rahangnya mengunci.Ia mencoba bangkit dengan seluruh kekuatan yang tersisa. Kakinya tidak mau bergerak.Ada tekanan yang tidak kasat mata
Chester sudah mencabut pedangnya. Bilah itu hampir transparan, seperti kaca tipis yang dibentuk menjadi senjata, memantulkan cahaya sekitar menjadi berkas-berkas redup yang nyaris tidak tertangkap oleh mata biasa. Tidak ada suara dramatis saat bilah itu keluar, hanya satu desisan halus yang langsung lenyap.Rex tahu satu hal tentang Chester yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Pria itu tidak pernah mencabut pedangnya kecuali ketika menghadapi seseorang yang benar-benar ia anggap berbahaya bagi nyawanya sendiri. Bukan sebagai gertakan kosong. Bukan sebagai pertunjukan. Chester tidak punya kebiasaan seperti itu.Artinya...Apakah kultivator Ranah Primordial Chaos puncak ini benar-benar membuat Chester merasa terancam?Kekhawatiran mulai merayap masuk perlahan.Rex sebenarnya tahu, meski jarang mau mengakuinya, bahwa fondasi kultivasi Chester tidak sekuat yang terlihat.Dalam setah
Rex Sallow menyapu semua orang dengan tatapan yang menyimpan kebencian penuh. Matanya berhenti di Ryan, mengukurnya dengan sorot yang ingin mengingat wajah itu untuk dibenci seumur hidup, sebelum akhirnya ia berpaling ke Chester. "Kita pergi." Dua kata yang terasa seperti ditelan paksa. Di balik kata-kata pendek itu ada kalkulasi yang sudah Rex jalankan sejak beberapa menit lalu. Sekte Cloud Nether terlalu jauh dari wilayah Keluarga Sallow dan Sekte Silver Frost. Tidak ada bala yang bisa tiba dalam waktu yang masuk akal. Dan Ryan, yang baru keluar dari alam rahasia dalam kondisi seperti ini, jelas bukan orang dengan latar belakang biasa. Kekuatan yang ia tampilkan hari ini sudah membuktikan itu. Tidak ada kultivator seusianya yang bisa menangkis serangan Chester tanpa beban sama sekali. Kalau Chester benar-benar bentrok dengan Victor Lux, belum tentu Chester yang keluar dalam keadaan utuh. Satu pertimbangan lagi yang lebih berat, kondisi tubuhnya sendiri masih belum pulih
Henry memutar pikiran. Apakah orang tua gadis ini menyembunyikan sesuatu selama ini? Apakah ada seorang anak laki-laki yang lahir diam-diam tanpa sepengetahuannya? Tidak ada penjelasan lain yang masuk akal. Seorang gadis dalam kondisi seperti ini, setengah alam, setengah manusia, dibelenggu tanpa bisa bergerak, masih memanggil nama seseorang dengan nada seperti itu. Itu bukan panggilan biasa. Itu panggilan seseorang yang masih punya alasan untuk bertahan. Henry Celestedragon segera berbalik. "Sebelum memindahkannya," ucapnya kepada pelayan tua yang masih berdiri di belakangnya, "cari tahu dulu segala sesuatu tentang dataran bawah tempatnya berasal. Semua orang yang pernah berhubungan dengannya. Semua yang bisa kamu temukan." "Siap, Tuan." Pelayan tua itu mengangguk dan langkahnya menghilang ke dalam kegelapan koridor. Hanya Henry Celestedragon yang tersisa, dan Luna Celestedragon yang masih terbungkus bayangan naga yang tidak berhenti berputar. ** Di area formasi telepo
Siing! Sinar cahaya biru yang menyilaukan menyambar saat tombak biru es yang indah muncul di tangan Sandy Jacob. Artefak tersebut memancarkan hawa dingin yang menusuk tulang, membuat udara di sekitarnya membeku dan membentuk kristal-kristal es kecil yang beterbangan. Setelah kilatan cahaya mera
"Ketua Sekte telah memerintahkan kita untuk membunuh Ryan. Maju dan hancurkan dia!" Dalam sekejap, ratusan murid Sekte Sky Sword bergegas maju dengan senjata terhunus. Ada banyak kultivator Ranah Supreme Emperor di antara mereka, serta beberapa kultivator Ranah Demigod tahap awal yang seharusnya
Kemudian dengan gerakan gemetar, tetua Sekte Bloody Sword menundukkan kepalanya untuk melihat tubuhnya sendiri—yang kini mulai retak dengan kecepatan yang bahkan bisa dilihat oleh mata telanjang! Dia adalah kultivator Ranah Primordial Chaos tingkat kelima yang sangat kuat, dan bahkan telah mencapai
Wakil Ketua Fordo Carlos bermain-main dengan gumpalan darah di tangannya seolah-olah sedang melihat mainan yang menarik. Kemudian dia melangkah maju dengan santai dan memandang ke arah Gunung Langit Biru dengan mata yang menyipit berbahaya.Dia tersenyum lebar dan berkata denga







