MasukRyan memandang angka itu sebentar.'Jelas.'Di babak kedua ini, formatnya berbeda dari babak pertama. Tidak ada lagi pengecualian untuk sesama anggota keluarga. Dan yang paling penting, urutan tampil ditentukan oleh angka undian. Peserta dengan nomor terkecil boleh memilih siapa yang ingin mereka tantang dari seluruh daftar, bebas tanpa syarat. Peserta dengan nomor terbesar hanya bisa menunggu dan menerima tantangan yang datang.Nomor dua puluh empat adalah nomor paling pasif yang bisa ditarik.Di sisi lain arena, seseorang mengangkat lempengannya dengan senyum yang lebih lebar dari seharusnya.Yakou Zedd.Nomor satu.Beberapa peserta di sekelilingnya meliriknya dengan tatapan yang mengandung sedikit iri. Nomor satu berarti kebebasan penuh: bisa memilih siapa saja, menghadapi lawan yang paling lemah atau paling kuat sesuai keinginan."Peserta nomor satu, maju," kata lelaki tua itu.Yakou Zedd melangkah ke tengah arena dengan gaya yang ia susun agar terlihat santai, tangan diselip
Langkah Rodick Blazesky berhenti tepat di luar pintu kamar Ryan.Ia berdiri di sana cukup lama. Tidak bergerak, memandang kegelapan lorong batu di depannya tanpa benar-benar melihatnya, seperti pikiran yang masih tertinggal di dalam ruangan yang baru saja ia tinggalkan. Hembusan napasnya terdengar lebih berat dari biasanya."Anak itu memang luar biasa," gumamnya pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. "Mengalahkan Cole Shadowmist sedemikian rupa... jika bukan karena Perlindungan Darah Kuno itu, mungkin dia benar-benar bisa meraih posisi teratas."Namun ada sesuatu yang mengganjal di balik kekagumannya."Sayang sekali." Ia menggeleng. "Dengan kondisi itu ada di sana, bahkan dia pun tidak akan punya kesempatan."Ia melangkah pergi dalam sunyi, meninggalkan lorong yang kembali sepi.**Di dalam kamarnya, Ryan tidak langsung beristirahat.Ia duduk bersila di atas
Ryan melangkah turun dari panggung.Begitu kakinya menginjak tanah di luar arena, pandangannya turun ke tangan kirinya.Tangannya gemetar. Getaran halus yang hampir tidak terlihat dari luar, namun ia bisa merasakannya dengan sangat jelas dari dalam.Ia mengepalkan jari-jarinya perlahan. Nyeri yang menjalar dari pergelangan tangan ke atas mengingatkannya pada kondisi yang sebenarnya. Otot-ototnya robek dari dalam oleh kekuatannya sendiri, pembuluh qi yang tersumbat di beberapa titik, dan aliran energi yang tidak lagi semulus sebelum tebasan itu.'Itu ujian sekaligus harga yang harus dibayar.'Ryan mencatat hasilnya dengan dingin.Tebasan itu mengandung kekuatan yang bahkan melampaui level puncak Ranah Dao Integration, mendekati level awal Ranah Creation. Dan itu tanpa bantuan Pedang Iblis Darah, tanpa Mata Iblis, tanpa siapa pun dari para jiwa yang menyertainya.Hanya Immortal Divine Body dan
Cole Shadowmist tahu ia akan mati. Tidak perlu kalkulasi panjang untuk sampai ke kesimpulan itu. Kekuatan yang mengalir dari tebasan Ryan sudah mengunci seluruh dimensi geraknya bahkan sebelum bilah itu mencapai jarak setengah meter. Darah Bayangan Langit membakar pembuluh darahnya dari dalam, tribulasi langit mengalir kasar ke kultivasinya yang belum sempurna, aura Ranah Creation-nya masih goyah dan tidak stabil. Tidak ada cukup waktu untuk menstabilkan semuanya. Hanya ada satu hal yang bisa ia lakukan. "Perlindungan Bayangan Ilahi!" WUUUMM! Bayangan hitam pekat menyembur keluar dari tubuh Cole, bukan seperti cahaya yang memancar dari dalam, melainkan seperti kegelapan yang ditelan ke dalam dan dipadatkan sampai menjadi sesuatu yang bisa dipegang. Seluruh permukaan tubuhnya diselimuti oleh lapisan kegelapan yang berdenyut tidak teratur mengikuti detak jantungnya yang kacau. KRAAAAAKKK! Golok Ryan menghantam. Ledakan yang ditimbulkan bukan ledakan biasa. Gelombang teka
Kabut darah menyembur dari permukaan lengannya dalam semburan tipis yang berkilauan di bawah cahaya formasi arena. Bukan luka dalam dari luar. Ini dari dalam, otot-otot yang melewati batas yang tidak seharusnya dilampaui. Otot-ototnya yang tadinya berlapis cahaya hitam-emas kini robek dari dalam oleh kekuatan yang ia paksakan melewati kapasitas normalnya. 'Bahkan dengan Immortal Divine Body, ini masih terlalu berat untuk dikendalikan dengan sempurna.' Tanpa kilasan pemahaman hukum alam yang ia tangkap saat melawan Kraig Blazesky kemarin, tebasan ini tidak akan bisa diarahkan dengan presisi yang dibutuhkan. Kekuatan sebesar itu tanpa kendali yang cukup sama saja dengan ledakan yang tidak punya tujuan. Ia tidak mengeluarkan Pedang Iblis Darah. Bukan karena tidak mampu. Tapi senjata itu membawa terlalu banyak aura kuno yang akan menarik perhatian yang tidak ia inginkan di sini. Kecuali benar-benar tidak ada pilihan lain, simpan saja. ** Cole Shadowmist merasakan tebasan it
"Hahahahaha!" Tawa Cole Shadowmist masih bergema keras di seluruh arena. "Jangan khawatir, kau tidak akan kulempar keluar dari panggung secepat itu. Kau harus membantu aku bersenang-senang dulu!"Ryan menatap Cole yang tertawa dengan mata yang setengah menggeleng, setengah geli.Lalu ia ikut tertawa. Ringan. Pendek."Kau tahu tidak," ucapnya santai sambil mengusap ujung bibirnya dengan punggung tangan, "orang-orang yang bicara padaku dengan cara seperti itu biasanya berakhir dengan sangat menyedihkan."Tawa Cole terhenti.Sesuatu dalam kalimat itu membuatnya diam. Bukan karena ancaman. Bukan karena takut. Lebih karena ada yang tidak pas, seperti kepingan puzzle yang dipaksa masuk tapi tidak benar-benar cocok di tempatnya.Matanya turun ke tombaknya sendiri.Dan kemudian ia mengerti.Tombak itu tidak menembus dada Ryan.Serangan Kilat Bayangan Ekstrem yang ia lepaskan tadi memang meluncur denga
Yakou Zedd tidak pernah menyangka bahwa pemuda di depannya bahkan tidak tahu tentang masalah sepele seperti itu. Matanya berkedip beberapa kali, tampak bingung. "Err... Tuan tidak tahu?" tanyanya hati-hati. "Anggap saja aku baru pertama kali ke sini," jawab Ryan datar. Dia hanya bisa menjelaska
Warren Mouren terdiam, wajahnya menunjukkan ia sedang berpikir keras. Setelah beberapa saat, ia menggeleng ragu. "Tuan Ryan, memang banyak cara untuk melacak seseorang. Tapi tempat ini... ada sesuatu yang menghalangi. Seperti ada kekuatan yang menyegel dan membatasi area ini. Hampir mustahil bagi o
Gadis itu menatap Ryan, tidak berani berbicara, tetapi juga dengan paksa menyembunyikan kemarahan yang menjulang tinggi di hatinya dan tekadnya untuk membunuh Ryan! Dia ingin Ryan mati! "Kau akan menyesal," bisiknya lirih, hampir tak terdengar. "Sangat menyesal." Pupil Ryan berkilat tajam saat me
Kelompok orang ini hanya ingin bertahan hidup. Mengenai apakah mereka benar-benar bersedia membantu Ryan, itu masalah lain. Setelah menenangkan Ryan, mereka akan langsung menemui penguasa Departemen Penegak Hukum dan memberitahunya bahwa Ryan Pendragon adalah Arthur Pendragon. Tidak hanya itu, me







