MasukMalam Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Lola Ayu, Kak Eny Rahayu, Kak Pengunjung5804, Kak Aday Wijaya kk Pantura Plj1, Kak Patricia Inge, Kak Andreas Rama, dan Kak Recky Roger atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Zul Kiman atas hadiah Kuenya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih juga Kakak-Kakak Pembaca yang telah mendukung novel ini dengan Gem (◍•ᴗ•◍) Karena jumlah Koin telah tercapai, maka akan ada bab bonus hadiah hari ini (≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Ryan kini sendirian di ruangan yang sunyi.Tanpa membuang waktu, ia langsung menyelami Kuburan Pedang, melangkah ke alam tersembunyi itu dengan satu tujuan di benaknya.Mengaktifkan Nisan Pedang yang telah lama menunggunya.Andrey Xerxes, Mario Bludsword, dan Windy June sudah berdiri di sana, tatapan mereka terpaku pada Nisan Pedang yang memancarkan aura luar biasa itu dengan penuh antisipasi."Nisan ini benar-benar istimewa." Andrey Xerxes mengamatinya dari dekat, matanya bersinar seperti seorang kultivator yang menemukan permata tersembunyi. "Jika penglihatanku tidak salah, pemiliknya bahkan melampaui Venerable Immortal Frost Sword dalam hal kekuatan.""Ryan, mengapa tidak langsung diaktifkan saja?" Mata indah Windy June berkedip penuh harap, seperti anak kecil yang tidak sabar membuka hadiah. "Sudah hampir waktunya bagiku untuk pergi. Aku tidak ingin menyesal karena melewatkan pemandangan ini."Ryan mengangguk. Jari-
WUSHHH!Cahaya meledak dari telapak tangan Tetua Guard, memancar bagai bintang yang baru lahir di tengah kegelapan. Cahaya itu memadat dengan cepat, membentuk sebuah papan catur raksasa yang berpendar dengan rune-rune tak terhitung, melayang gagah di hadapannya."Permainan Catur Abadi Kuno... Buka!"BOOOM!Sepuluh sosok bijak yang tersebar di berbagai penjuru benua itu serentak memuntahkan darah segar pada saat yang bersamaan!UGH! UGH! UGH!Wajah mereka memucat seketika bagai kertas yang dicuci hujan. Di balik mata mereka yang melebar, tersimpan ketakutan yang jarang mereka rasakan sepanjang hidup mereka yang panjang."Ada seseorang yang baru saja menyegel segalanya dengan kekuatan yang meremukkan! Tingkat kultivasi macam apa yang dimiliki orang itu?! Apakah ini sebuah peringatan untuk kami?!"Tidak ada satu pun di antara mereka yang berani melangkah lebih jauh. Satu per satu, mereka dengan
Jarak antara mereka berdua begitu dekat hingga Jessica Neuro bisa merasakan kehangatan napas Ryan menyentuh kulitnya. Pipinya memanas untuk sesaat. Namun ia segera mengalihkan fokusnya. Tidak ada waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Jari-jarinya yang lentik bergerak membentuk segel yang rumit. Perlahan, sebuah peti mati batu berukuran besar muncul dari segel di dalam tubuhnya, keluar bagai sosok dari dimensi yang berbeda, menembus batas antara yang tersembunyi dan yang nyata. BOOM! Peti mati batu itu mendarat keras di lantai, mengguncang seluruh ruangan hingga dinding-dindingnya bergetar! Jessica Neuro mundur selangkah dan melemparkan kunci itu ke arah Ryan. "Ini. Karena segel sudah mengakuimu, buka sendiri." Ia melirik peti mati itu dengan tatapan yang untuk pertama kalinya mengandung rasa ingin tahu yang tulus. "Sebenarnya aku pun penasaran dengan apa yang ada di dalamnya. Benarkah benda itu yang disebut Tablet Reinkarnasi?" Ryan menangkap kunci itu. Tangannya sedikit
Namun ketika tangan Jessica Neuro bergerak hendak menutup segel, sesuatu menghentikannya. Tubuh Ryan yang berlumuran darah itu bergerak. Kedua tangannya yang gemetar menopang badannya di lantai, mencakar ubin dengan susah payah, dan perlahan ia memanjat kembali ke posisi berdiri. "Kakak Senior, jangan tutup segelnya." Suaranya keluar dengan napas yang tersengal, namun tidak ada satu pun retakan di dalamnya. "Aku bisa melakukannya." 'Jika segel ini saja tidak bisa aku hadapi, bagaimana aku bisa membangkitkan Garis Darah Reinkarnasi?' batinnya dengan tekad yang membara. 'Aku bahkan tidak akan layak menyentuh Tablet Reinkarnasi itu!' Ini bukan sekadar ujian dari Jessica Neuro. Ini adalah ujian dari Tablet Reinkarnasi itu sendiri. Jessica Neuro menatap ekspresi di wajah Ryan dan kata-kata yang sudah hampir meluncur dari bibirnya tertelan kembali. Ia hanya bisa diam saat menyaksikan pemuda itu mulai melangkah maju lagi, satu langkah, dua langkah, kakinya gemetar namun tidak berhent
Ketika kata-kata itu meluncur keluar dari bibirnya, Jessica Neuro sendiri terkejut dengan dirinya sendiri.Ia tidak mengerti mengapa ia bersedia memberi Ryan kesempatan ini. Bagaimanapun, harta yang tersegel di dalam tubuhnya adalah sesuatu yang terikat langsung dengan kelangsungan hidup Sekte Moon Flower. Dari sudut pandang tertentu, apa yang ia lakukan ini tak ubahnya mengkhianati sekte itu sendiri.Namun ada sesuatu yang aneh. Sebuah suara kecil di sudut terdalam hatinya terus berbisik, mendorongnya untuk menyetujui permintaan Ryan tanpa bisa ia jelaskan alasannya.Selama waktu yang mereka habiskan bersama, ia mengenal Ryan cukup untuk menyimpulkan satu hal. Meski pemuda itu diselimuti misteri, ia jelas bukan orang berhati busuk. Ada rasa kebenaran yang mengakar kuat di dalam dirinya, sesuatu yang tidak bisa dipalsukan.Dan justru itulah yang membuat Jessica Neuro semakin penasaran dengan adik junior yang
SYIIING!Pedang Jessica Neuro meluncur keluar dari sarungnya. Niat membunuh yang dingin meledak dari seluruh tubuhnya bagai angin kutub yang tiba-tiba menyapu ruangan, membekukan udara hingga terasa berat untuk dihirup."Ryan, siapa sebenarnya kamu?!"Sorot matanya tajam bagai mata elang yang mengunci mangsanya. "Jika kamu tidak memberi jawaban yang memuaskan, aku akan membunuhmu di sini." "Saudara junior atau bukan, itu tidak akan mengubah apa pun."Ryan merasakan tekanan itu menghujam langsung ke inti jiwanya. Namun di balik tekanan itu, satu hal kini terkonfirmasi dengan jelas dalam benaknya.Tablet Reinkarnasi memang ada padanya.Ia menatap kilau dingin pedang yang terarah ke dirinya, lalu melangkah maju. Satu langkah. Tanpa gentar, tanpa ragu."Kakak Senior Jessica Neuro." Suaranya tenang. "Ada hal yang tidak bisa kujelaskan secara rinci." "Tapi benda itu benar-benar amat penting bagiku






