로그인Sore Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Sonnie Binjamin atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima kasih Kakak-Kakak Pembaca atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Selamat Malam Minggu (◠‿・)—☆
"Adik seperguruan." Jessica Neuro menatap Ryan dengan pandangan yang berbeda dari sebelumnya, lebih dalam, lebih penuh tanda tanya yang tidak tahu dari mana harus mulai. "Sepertinya aku melewatkan banyak hal selama kau di dalam sana."Ryan tidak menjawab. Ia hanya mengusap hidung dengan canggung, satu gerakan kecil yang entah mengapa terlihat lebih jujur dari kata-kata apa pun yang bisa ia ucapkan.Jessica memandangi Tetua Nox dan Tetua Laurel yang kini berdiri diam di belakang Ryan seperti dua bayangan yang punya bobot yang tidak terlihat tapi terasa. Di matanya, ada proses penghitungan yang berlangsung diam-diam tanpa ia pamerkan ke siapa pun, seperti seseorang yang sedang merevisi banyak asumsi sekaligus dalam waktu yang sangat singkat. Fondasi keduanya terlalu dalam untuk diabaikan meski tersembunyi sangat rapi. Dan mereka memanggil seorang kultivator Primordial Chaos dengan "Tuan Muda" tanpa ada keraguan di dalamnya.'Apakah masih masuk akal mengajaknya menjadi murid biasa Sek
"Tunggu! Tunggu! Kalau kau membunuhku, Mad Demon Palace tidak akan pernah membiarkanmu hidup tenang!""Mad Demon Palace?" Ryan melangkah ke depan, berdiri di samping Tetua Nox. Matanya menatap ahli yang menggantung itu dari bawah ke atas, pelan, seperti seseorang yang sedang memeriksa sesuatu yang tidak terlalu menarik perhatiannya. "Menurutmu, kalau aku membiarkanmu hidup, Mad Demon Palace akan membiarkanku pergi begitu saja?"Tidak ada yang menjawab. Bahkan angin terasa seperti menahan dirinya sendiri."Lagipula," lanjut Ryan, nada suaranya tidak naik sedikit pun, "mengapa aku harus peduli dengan Mad Demon Palace?"Dingin. Tapi bukan dingin yang kosong atau dibuat-buat. Di baliknya ada sesuatu yang spesifik dan terukur, seperti seseorang yang sudah mengambil keputusan tentang Mad Demon Palace jauh hari lalu dan tidak pernah mempertimbangkan untuk mengubahnya.Ryan melirik Tetua Nox setengah detik.Pesan yang
"Adik seperguruan, gadis itu temanmu kan?" Jessica Neuro berjalan di sisinya, suaranya ringan seperti orang yang sedang mendiskusikan sesuatu yang tidak penting sama sekali. "Menurutmu, siapa yang lebih cantik, aku atau dia?"Ryan membuka mulutnya untuk menjawab.Tapi sebelum satu kata pun sempat keluar, dua sosok mendarat tepat di depan mereka dari ketinggian, gerakannya tidak meninggalkan suara sedikit pun, seolah gravitasi memilih untuk tidak berlaku pada keduanya.Dua pria tua berpenampilan biasa berdiri di sana, tidak ada yang istimewa dari cara mereka terlihat. Tapi aura yang menguar dari keduanya, meski tersembunyi sangat rapat, membuat udara di sekitar mereka terasa lebih berat dari seharusnya, seperti tekanan yang tidak punya warna tapi tidak bisa diabaikan oleh siapa pun yang punya kepekaan cukup untuk merasakannya.Keduanya menangkupkan tangan dan membungkuk bersamaan."Tuan Muda."Jessica Neuro berhenti mela
Ryan tidak sempat merespons dengan tenang. "Cepat bangkit, Senior. Ini tidak perlu." "Instruksi Tuan jelas." Banteng Hijau Surgawi mengangkat kepalanya, matanya serius tanpa ruang untuk ditawar. "Siapa pun yang memperoleh warisan sejati, kami wajib membantu. Tidak perlu merasa sungkan, Tuan Muda." "Dan ini bukan tempat yang baik untuk berdiri berlama-lama." Unicorn Api Berkaki Naga menambahkan, suaranya lebih ringan tapi tidak kalah tegas. "Anggota klan itu bisa berubah pikiran kapan saja." Ryan mengangguk sekali. "Kalian benar. Kita pergi." Ketiganya bergerak ke arah pintu keluar. Dua tetua itu melangkah di depan, aura mereka menekan setiap anggota Klan Spiritum Sanguis yang masih berdiri di sekitar area itu untuk tidak berpikir dua kali tentang bergerak. Tiga langkah dari pintu keluar. Dua langkah. Satu. Kaki Ryan terangkat untuk melangkah masuk ketika indra spiritualnya berteriak. BAHAYA! Sesuatu melesat dari kegelapan di atasnya, dari sudut yang tidak bisa dilihat mata
"Apa yang terjadi?!" Ketiga kultivator Dao Integration puncak Klan Spiritum Sanguis itu menatap artefak-artefak yang berputar di udara dengan kebingungan yang tidak mereka sembunyikan. Tidak satu pun dari mereka yang pernah melihat formasi seperti itu sebelumnya, dan insting yang sudah ribuan jam diasah di medan pertempuran pun tidak mampu memberikan peringatan yang berguna tentang apa yang sedang mereka hadapi. Lalu artefak itu meledak. BOOOM! Gelombang pertama menghancurkan tanah dalam radius yang tidak masuk akal, menelan area perkemahan dalam ledakan yang terasa seperti benturan dua langit sekaligus. Gelombang kedua menyapu ke segala arah seperti tangan raksasa yang tidak terlihat tapi bisa dirasakan sampai ke sumsum tulang, melempar tubuh-tubuh anggota Klan Spiritum Sanguis ke udara sebelum mereka sempat berteriak. Tanah retak dalam pola menjalar yang melintasi seluruh area perkemahan seperti jaring yang dilempar dari satu titik pusat. Di dalam kekacauan itu, Ryan sudah
Lima ratus meter.Bukan jarak yang jauh dalam kondisi normal. Tapi dengan ratusan anggota Klan Spiritum Sanguis yang mulai bergerak dari segala penjuru sekaligus, setiap meter terasa seperti sepuluh.Sepuluh detik berlalu. Dua puluh. Tiga puluh.Anggota Sekte Slaughter berlari dalam formasi yang mulai berantakan. Beberapa sudah melewati separuh jarak, beberapa lagi masih berjuang menembus kerumunan yang mengejar dari belakang dengan kecepatan yang tidak memberi banyak ruang.Ryan membalik arah."Teknik Pedang Es!"KRAAAK!Es meledak dari mata pedangnya ke segala arah, menjalar di tanah seperti retakan yang hidup dan punya tujuan sendiri, membekukan kaki-kaki yang mencoba mengejar dari belakang. Aura es yang menusuk memaksa barisan depan Klan Spiritum Sanguis mundur dua langkah, membuka celah yang cukup lebar untuk beberapa anggota Sekte Slaughter menerobos lewat.SYIIING!P
Sebelum Ryan sempat membuka mulut, Jamie Leon sudah berdiri di depannya, menghalangi pandangan penjaga. "Sepertinya pelajaran kemarin belum cukup?" desis Jamie Leon berbahaya. Matanya berkilat penuh ancaman saat melanjutkan, "Kau merusak hubungan baik kita kemarin, dan sekarang kau berani mengatak
Ketika Jamie Leon mendengar kata-kata 'Sekte Medical God', secercah keterkejutan melintas di matanya yang cerah, dan butuh beberapa waktu baginya untuk pulih dari keterkejutannya. "Sekte Medical God?" ulangnya dengan nada tidak percaya. "Sekte kecil di pinggiran Gunung Langit Biru itu?" Dia sudah
Petir ungu meluncur dari langit dengan kecepatan luar biasa, memancarkan aura kematian yang mencekam. Ryan dengan panik mengaktifkan rune kehidupan, menciptakan perisai petir keemasan di sekelilingnya. Namun, seolah menembus kertas tipis, petir ungu itu melewati perisainya tanpa hambatan. "Apa?
Ryan mengangguk dengan tegas. "Guru, masalah ini sangat penting bagi saya. Setelah semuanya beres, saya akan segera mengikuti kompetisi jenius secepatnya." Meski Xiao Yan terlihat khawatir, dia tetap menghargai tekad muridnya. Setelah kultivasi dantianya pulih, ia bisa merasakan aura berbeda yan







